Penampilanya sederhana dan rendah hati, tinggi badannya tidak merefleksikan sosok pemain bola voli yang ideal dan tangguh. Namun sosok yang terkesan serba sederhana ini pernah melukis prestasi luar biasa bagi Nias pada zamannya: menjadi pemain terbaik bola voli tingkat Sumatera Utara dan menjadi orang Nias pertama yang terjun dalam Pekan Olah Raga Nasional, memperkuat kontingen bola voli Sumut pada PON VII di Surabaya, tahun 1969.

Dialah Fransiskus T. Lase alias Ama Iwan. Ketika Yaahowu mengadakan perbincangan dengannya pada awal bulan Juli 2007, Ama Iwan dengan rendah hati namun antusias mencoba mengenang kembali masa-masa kejayaan tim bola voli Nias antara tahun 1967 – awal tahun 1970an.

Berbeda dengan keadaan sekarang. Dulu, kami terjun ke lapangan karena hobi, jadi tidak memikirkan atau mengharapkan imbalan dari permainan voli. Dan karena hobi, maka kami tidak mengenal waktu, kapan ada kesempatan, kami main”, kenang Ama Iwan yang juga adalah saudara sepupu Drs. Silvester Lase (Ama Gayusu), mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Nias.

Minat besar Ama Iwan terhadap permainan voli dimulai sejak belajar di SMP Bintang Laut, Teluk Dalam dari tahun 1964 hingga 1966. Di sana Ama Iwan mulai memperlihatkan bakat khusus dalam memukul si kulit bundar. Setamat SMP, Ama Iwan pindah ke Gunungsitoli untuk melanjutkan studi di SMA Negeri (I) Gunungsitoli. Namun berdirinya Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di Gunungsitoli pada masa itu menarik minat Ama Iwan untuk memasukinya; beliau meninggalkan bangku SMA Negeri, hanya tiga bulan setelah beliau mulai belajar di sana. Pada perkembangan selanjutnya, beliau berubah pikiran; begitu naik kelas III SPMA, Ama Iwan pindah dan kembali melanjutkan studi di SMA Negeri dan tamat pada awal tahun 1970.

Selama masa studi di SMA inilah Awan Iwan semakin memperlihatkan kepiawaian dalam bermain voli. Di SMA Negeri Ama Iwan menjadi salah seorang pemain inti klub SMA Negeri yang diberi nama “Apollo” bersama Si Anga, Otalua Halawa dan Suardin Zebua.

Di luar tim sekolah, Ama Iwan bergabung dengan klub Tunas Sport dari Tumöri. Pesaing utama klub Tunas Sport saat itu adalah klub Mutiara dari Ono Waembo, Gunungsitoli. Dalam kompetisi tahunan untuk memperebutkan Piala Residen, klub Mutiara berhasil memegang Piala ini selama dua kali berturut-turut. Klub Tunas Sport akhirnya mematahkan supremasi klub Mutiara dengan merebut Piala Residen dari klub tersebut dan memegangnya selama tiga kali berturut-turut sehingga piala ini akhirnya tetap di tangan mereka.

Di Klub Tunas Sport, Ama Iwan bertemu dengan Ka Hundra alias Ama Mbalazi yang pada pertandingan-pertandingan di tingkat Tapanuli dan Sumatera Utara selalu menjadi pasangannya di lapangan. Ka Hundra yang jauh lebih tinggi dari Ka Dehe (nama panggilan akrab Ama Iwan di masa mudanya) menjadi tukang umpan dan sekali gus tukang blok. Sementara Ka Dehe, yang hanya memiliki tinggi badan 167 cm, menjadi pemukul bola (tukang smes) yang paling paling produktif dengan ayunan tangan kirinya.

Saya kidal … jadi pihak lawan selalu mengalami kesulitan ketika berusaha memblok pukulan-pukulan saya,” kenang Ama Iwan.

Tim Bola Voli Nias “Meraja” Di Daerah Tapanuli
Tahun 1967 hingga awal 1970an merupakan masa-masa kejayaan perbolavolian Nias. Di hampir setiap desa kita bisa menemukan sebuah lapangan voli, entah lapangan berukuran standar atau lapangan seadanya tempat di mana para pemuda mengasah pukulan-pukulan bolanya. Harimbale di mana-mana hampir selalu menjadi tempat di mana satu klub menjajal kekuatan klub lainnya. Perayaan-perayaan HUT Kemerdekaan RI di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten selalu dimeriahkan dengan pertandingan voli.

Dari tahun 1967 – 1968 Ama Iwan sudah menjadi bagian dari tim inti bola voli Nias pada pertandingan-pertandingan di tingkat daerah Tapanuli dan Sumatera Utara. Pada pertandingan penyisihan tingkat daerah Tapanuli yang dilangsungkan di Sibolga pada tahun 1968, Nias menang atas lawan-lawannya, sehingga menjadi wakil daerah Tapanuli ke tingkat Sumatera Utara.

Tim inti bola voli Nias pada masa itu terdiri dari 12 orang; selain Ka Dehe, nama-nama berikut sangat dikenal di Nias selama periode tersebut: Si Bito, Si Anga, Si Anton, Ama Mbalazi alias Ka Hundra, Yasökhi Zebua dan Otalua Halawa. Bersama dengan 6 pemain lain, mereka inilah yang menjadi tim inti bola vola Nias yang mengharumkan nama Nias baik di tingkat daerah Tapanuli mau pun di tingkat Sumatera Utara pada tahun 1968 – 1969.

Tidak Pilih-pilih Bola
Ama Iwan yang berasal dari Desa Ono Namölö Talafu, Kecamatan Botomuzöi ini tidak memiliki resep khusus dalam bermain voli. “Saya tidak memilih bola. Jauh atau dekat, tinggi atau rendah, saya tetap pukul,” tuturnya kepada Yaahowu.

Dan pukulannya selalu menghasilkan poin. Paling tidak itulah yang disaksikan oleh penulis kisah ini, ketika suatu kali menyaksikan permainan indah Ama Iwan ketika beliau diundang oleh klub bola voli Pemuda Botomuzöi untuk suatu pertandingan persahabatan melawan sebuah klub dari satu desa lain pada tahun 1968.

Kunci keberhasilan pukulannya tidak terletak pada kuatnya pukulan dan tingginya melompat, tetapi pada taktik yang diterapkan ketika memukul bola itu. Ketika bola diblok oleh beberapa orang dari pihak lawan, maka Ama Iwan dengan mudah mencari “celah” sehingga bola yang diblok itu jatuh ke daerah lawan tanpa bisa diselamatkan, atau justru melempar keluar dengan trik khusus setelah menyentuhkan bola itu ke tangan para pemblok.

Menjadi Pemain Terbaik Sumatera Utara
Sebagaimana disebutkan di depan, pada pertandingan di Sibolga tahun 1968, Nias menjadi tim terkuat daerah Tapanuli dan menjadi wakil daerah Tapanuli di tingkat Sumatera Utara. Pertandingan ini juga sangat berarti bagi Nias karena, dengan munculnya Nias sebagai wakil daerah Tapanuli, Nias mendapat kesempatan menjadi tim yang ikut dalam seleksi untuk PON VII di Surabaya pada tahun 1969.

Tibalah saat yang mendebarkan itu. Pada awal tahun 1969, Tim bola voli Nias menuju Tebing Tinggi untuk bertanding di tingkat Sumatera Utara. Singkat kisah, Nias menyisihkan tim-tim daerah lain dan menjadi finalis bersama dengan Tim Kotamadya Medan. Berhadapan dengan Medan, Nias kalah dan menjadi Juara Dua (runner up).

Ada beberapa aturan baru yang tak sempat kami terapkan selama masa persiapan di Nias. Ini mempengaruhi permainan kami di lapangan. Kita hanya menjadi juara dua”, kenang Ama Iwan.

Selain menoreh sejarah sebagai tim kedua terkuat bola voli tingkat Sumatera Utara, Nias juga menoreh dua sejarah baru. Pertama, Fransiskus T. Lase menjadi Pemain Terbaik Bola Voli Sumatera Utara, dan kedua, Lase bersama Si Bito menjadi Putra Nias pertama yang ikut memperkuat kontingen boli voli Sumatera Utara di tingkat nasional, yaitu di PON VII di Surabaya. Menurut Ama Iwan, di luar mereka berdua, pemain tim bola voli Sumut untuk PON VII seluruhnya berasal dari tim Kotamadya Medan.

(Catatan: Menurut Ama Iwan, beberapa tahun kemudian, Tim Bola Nias pernah menjadi Juara I tingkat Sumatera Utara, ketika pertandingan diselenggarakan di Gunungsitoli, Nias.)

Pada PON VII di Surabaya, yang diselenggarakan dari 26 Agustus hingga 6 September 1969, Lase dan Si Bito dipasang hampir setiap kali tim Sumut berhadapan dengan tim lain, sampai akhirnya mereka gugur.

Pada PON VII Tim Voli Sumut tak dapat berbuat banyak, tidak masuk delapan besar. Di sana kami berhadapan dengan pemain-pemain kaliber nasional yang kualitas permainannya jauh di atas kami,” tutur Ama Iwan merendah.

Terjun di Bidang Pendidikan
Setamat dari SMA Negeri (I) Gunungsitoli, Ama Iwan meneruskan studinya di Akademi Pimpinan Perusahaan di Yogyakarta dan tamat pada tahun 1975. Dari Yogya, Ama Iwan ke Tanjung Balai dan mengajar di SMP Pattimura, Tanjung Balai. Selain itu, beliau juga menjadi Kepala SMA Pattimura, Tanjung Balai, selama dua tahun.

Selama di Tanjung Balai, Ama Iwan masih tetap mencintai permainan voli. Ini ditunjukkan dengan ikutnya dalam Kontingen Olah Raga Pemuda Katolik Tanjung Balai untuk memperebutkan Monsignor Cup Keuskupan Agung Medan yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1981. Meski sudah bukan pada masa puncak kejayaannya, di sana Ama Iwan masih memperlihatkan teknik permainan kualitas tinggi.

Tahun 1981 Ama Iwan kembali ke Nias dan mengajar antara lain di SMA Xaverius, SMEA dan IKIP Gunungsitoli. Pada tahun 1982 Ama Iwan diterima sebagai pegawai negeri di BKKBN Nias dan pensiun pada 1 Juli 2007 yang lalu. Beliau dikaruniai dua orang putra dan dua orang putri, dan kini tinggal Gunungsitoli.

Semoga goresan prestasi Ama Iwan dalam catatan sejarah perbolavolian Nias mengilhami generasi muda Nias untuk menciptakan prestasi-prestasi baru yang mengharumkan nama Nias. (brk)

Facebook Comments