Di salah satu ruang, di Gedung ‘Cikal’ lelaki itu duduk di dekat jendela. Salah satu peserta seleksi penerimaan mahasiswa baru itu mendengarkan kata-kata yang keluar dari seorang pemandu, Eva Manik.

Lelaki bernama Februari Laoli sedang mengerjakan soal-soal SPMB melalui panduan orang lain. Rabu (4/7), Februari menjadi satu-satunya peserta buta pada hari pertama SPMB di Medan. Dia bersaing dengan 24.217 peserta dengan dua mata utuh yang mengikuti seleksi SPMB di panitia lokal Universitas Sumatera Utara (USU).

Perjuangan
Tak ada kata menyerah dalam benak Februari. Yang ada adalah bersaing dan berjuang. Soal hasil dia tak memedulikannya. Meraih cita-cita untuk mendalami ilmu musik dia perjuangkan.

Februari sudah buta sejak usia enam tahun. Saat itu, serangan penyakit campak membuat dia tidak lagi bisa melihat terangnya dunia. Kendati begitu, Februari yang memang lahir pada bulan Februari itu tetap melanjutkan sekolahnya.

Atas pertolongan seorang suster, lelaki asal Nias ini melanjutkan sekolah menengah atas (SMA) di Medan. Dia berhasil lulus dari SMA Cahaya jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pada SPMB kali ini dia berniat kuliah di Jurusan Ethnomusicology, Fakultas Sastra, USU. Jurusan itu dia pilih bukan tanpa dasar. Sebelumnya, Februari dikenal mahir mahir memainkan piano dan keyboard. Selain suka, talenta musiknya sudah terasah sejak kecil.

“Saya belajar musik dari teman. Lama-lama bisa juga,” katanya.

Waktu pengerjaan soal kemampuan kuantitatif yang terdiri Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika hampir habis. Februari meminta kepada Eva membacakan soal yang belum selesai. Dengan penuh perhatian Februari mendengarkan penjelasan Eva.

Waktu habis. Februari pasrah. Dia mengusap dahi dengan kedua tangannya. Perjuangan sudah dia lakukan. Dari 75 soal yang ada, Februari mampu mengerjakan 55 soal. Menurut penuturan Eva, untuk menyelesaikan satu soal, Februari membutuhkan rata-rata waktu lima menit. Soal paling lama dia kerjakan adalah matematika.

“Saya susah mengerjakan soal matematika yang ada gambarnya. Maksud saya, saya sulit membayangkan gambar yang dimaksud dalam soal. Ah, sudahlah, tidak apa-apa,” katanya usai mengerjakan soal.

Sumber: Kompas, 5 Juli 2007

Facebook Comments