*Wawancara dengan M. Yusuf H. Lömbu, Ketua Yayasan Peduli Muslim Nias

Gempa dahsyat yang memporak-porandakan Nias pada bulan Maret 2005 tidak mengenal istilah SARA; ia memakan korban dari berbagai elemen masyarakat Nias: yang kaya dan yang miskin, pejabat dan rakyat biasa.

Masyarakat Muslim Nias, seperti juga masyarakat Nias yang lain, mengalami hal yang sama: menderita dan menjadi korban, kehilangan keluarga, harta benda dan tempat tinggal, mengalami goncangan jiwa dan ketidakpastian akan hari esok. Di tengah terpaan badai penderitaan itu, warga Muslim Nias yang tinggal di wilayah Jabotabek, Bandung dan sekitarnya tergerak hati untuk berbuat sesuatu bagi saudara-saudaranya di Nias. Lahirlah Yayasan Peduli Muslim Nias.

Berikut ini adalah hasil wawancara lewat email Ilham Mendröfa dan E. Halawa dari Situs Yaahowu dengan Bapak M. Yusuf Haogödödö Lömbu, Ketua Yayasan Peduli Muslim Nias tentang bedirinya Yayasan ini, tentang masyarakat Muslim Nias, tentang pembangunan dan suasana kehidupan beragama di Nias, dan hal-hal lain yang terkait.

Bisakah dijelaskan latar belakang pendirian Yayasan Peduli Muslim Nias ?

Gempa tanggal 28 Maret 2005 di Nias telah memporak-porandakan banyak bangunan, tidak terkecuali mesjid dan mushalla. Berdasarkan catatan, 50% mesjid di Nias rusak parah. Terdapat 77 mesjid dan mushalla yang rusak. Selain itu terdapat pula beberapa madrasah yang juga mengalami kerusakan. Jumlah mesjid dan Mushalla di seluruh Nias 154 buah. Berarti separoh atau 50% rusak. Dari 77 mesjid tersebut yang rusak parah dan ambruk, diketahui ada sebanyak 32 buah yang terletak di empat kota yang cukup banyak ummat Islamnya, yaitu: Gunung Sitoli, Lahewa, Teluk Dalam dan Sirombu. Dari 32 buah mesjid dan mushalla yang rusak parah itu, baru empat buah yang dibangun kembali dengan permanen. Mengapa? Beban biaya terlalu besar, sedang sumber dana yang dapat diharapkan dari ummat Islam setempat sangat sedikit.

Muslim Nias di perantauan, khusus di Jadetabek dan Bandung, terpanggil untuk bisa share dalam membantu ummat Islam di Nias, khusus dalam usaha membangun kembali mesjid, mushalla dan madrasah yang rusak. Ahad 17 September 2006, pada acara silaturrahmi warga Muslim Nias di Munjul, Jakarta Timur, disepakati membentuk sebuah Yayasan Peduli Muslim Nias, yang berusaha membantu memfasilitasi upaya mencari donatur dan dana untuk mewujudkan niat suci tersebut di atas. Didahului dengan beberapa kali pertemuan, maka pada hari Jum’at, 13 Ramadhan 1427 H bertepatan dengan 06 Oktober 2006, ditanda-tangani Akta Notaris Pendirian Yayasan Peduli Muslim Nias yang berkedudukan di Jakarta.

Hal-hal apa saya yang sudah dan akan dilakukan oleh YPMN untuk membantu masyarakat Muslim Nias yang berdomisi di Nias ?

Langkah awal adalah menginformasikan kepada masyarakat di luar Pulau Nias bahwa ada rumah ibadah di Nias yang rusak akibat gempa tangga 28 Maret 2005, sebagian besar hingga sekarang belum dapat dibangun kembali, karena ketiadaan dana.
Informasi kepada masyarakat luas tersebut dilakukan melalui, antara lain:

  • Website http://peduli.muslim-nias.org/
  • Pemasangan iklan di Koran Republika, berita di koran Utusan Malaysia dan Majalah Delik
  • Mengirim surat dan brosur ke Perusahaan dan Organisasi Sosial, seperti Bank Indonesia, Bank BNI, PT Jamsostek, PT Jasa Raharja, Dewan Dakwah, dan lain-lain
  • Ceramah langsung di mesjid / tempat pengajian, misalnya di Mesjid Baitul Ihsan Bank Indonesia dan Pengajian Az-Zikra Ustadz Arifin Ilham
  • Menjalin kerja sama Yayasan Baabus Salam di Bandung
  • Shilaturrahmi ke Yayasan Haji Sultan Hasanal Bolkiah di Brunei
  • Shilaturrahmi ke Islamic Relief Malaysia
  • Menjalin hubungan dengan Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM)

Hasilnya, sudah terkumpul sejumlah dana yang bisa dilihat di Website YPMN. Dana itu kalau sudah memadai untuk membangun satu mesjid, akan kita kirim ke Nias. Selain itu, YPMN mengharapkan ada donatur yang bersedia membangun langsung satu mesjid. Jadi, tidak menyerahkan uang kepada YPMN. Jamaah mesjid tersebut nantinya tinggal terima kunci. Ada yang sudah menyanggupi, dan saat ini masih dalam proses persiapan.

Alhamdulillah, saat ini di Desa Mudik Gunung Sitoli sedang dikerjakan pembangunan kembali Mesjid Agung Kabupaten Nias yang dilaksanakan langsung oleh Mercy Malaysia. Tapi perlu dijelaskan bahwa masuknya Mercy Malaysia adalah atas inisiatif ummat Islam di Nias, bukan usaha YPMN. Jadi memang sebenarnya, kita berharap penggerak utama adalah masyarakat yang ada di Nias itu sendiri. Fungsi kita yang di antau membantu dan mendorong usaha-usaha yang dilakukan saudara-saudara kita di Nias.

Bisakah diuraikan sedikit persepsi muslim Nias perantauan terhadap kehidupan beragama di Nias di masa lalu, saat ini dan (harapan) di masa mendatang ?

Kita lebih melihat untuk masa yang akan datang, di mana kita mengharapkan suatu kehidupan beragama yang harmonis dan damai di Nias. Untuk mewujudkan itu, penghayatan keagamaan yang benar ini perlu secara terus menerus dibina. Konsep dasarnya adalah ”rahmatan lil ’alamin”, menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Bagaimana tanggapan masyarakat Muslim Nias Jabotabek terhadap gagasan pembentukan Propinsi Tapanuli dan terhadap keputusan yang telah diambil oleh DPRD dan Pemda Nias?

YPMN tidak mau masuk dalam wilayah politik, kita lebih mengarah pada pembangunan di Nias. Yang penting kesejahteraan masyakarat Nias makin meningkat. Sungguhpun demikian, secara individual, ada yang berpendapat kalau bisa dibentuk Propinsi Nias, mengapa hal itu tidak diperjuangkan? Menarik untuk dipelajari, pernah ada sebuah buku “Prospektif dan Wacana : Pemekaran Kabupaten Nias Menuju Pembentukan Propinsi Tanِ Niha” yang disusun oleh Ir. Restu Jaya Duha, SE dan Ir Noniawati Telaumbanua. Idenya cemerlang. Alhamdulillah, berkaitan dengan prospektif dan wacana tersebut, belakangan ini sudah mau ada pengembangan wilayah. Selain Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan akan ada tambahan tiga lagi, yaitu : Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara dan Kota Gunung Sitoli. Kalau rencana tersebut disetujui dan dapat direalisasikan, maka akan ada empat Kabupaten dan satu Kota di Pulau Nias.

Bagaimana pandangan masyarakat Muslim Nias di Jabotabek terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah di nias saat ini, khususnya terkait dengan program rehabilitasi yang dilakukan oleh BRR.

Kami melihat pemerintah daerah di Nias sudah bekerja keras dalam menanggulangi berbagai masalah yang timbul akibat gempa. Kalau hasilnya belum sebagaimana diharapkan, tentu ada penyebabnya. Penyebabnya itu harus diidentifikasi dan dicarikan solusinya. Boleh jadi karena dikejar target ada program rehabilitasi yang dikerjakan secara terburu-terburu, sehingga kualitasnya menjadi rendah. Hal ini tentu bisa diatasi dengan menyusun palanning yang matang dan dikerjakan secara sungguh-sungguh serta ada pengawasan yang ketat.

Langkah-langkah bersama apa kira-kira yang perlu mendesak dilakukan oleh masyarakat Muslim Nias perantauan dan komponen nias lainnya untuk membantu proses rekonstruksi dan rehabilitasi Nias pasca gempa ?

Langkah-langkah bersama yang mendesak dilakukan adalah membangun semangat masyakat Nias agar optimis menghadapi masa depan, jangan hanyut dengan musibah yang terjadi. Untuk itu perlu digiatkan bimbingan masyarakat, pelatihan ketrampilan dan tentu saja megusahakan modal kerja dengan pinjaman lunak atau hibah.

Adakah pesan-pesan dari YPMN buat masyarakat Muslim Nias khususnya dan masyarakat Nias pada umumnya ?

Aine tahaogö mbanuada dengan menerapkan tiga K, yaitu: komunikatif, koordinatif dan kooperatif. Kita sadar bahwa menerapkan tiga K tersebut tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh karena itu perlu komitmen yang dilandasi niat ikhlas dari semua pihak untuk membangun Nias.

Terima kasih waktu yang Bapak luangkan untuk wawancara ini. Ya’ahowu.


Gambar 1: M. Yusuf (Ketua YPMN), Sultan Haji Hasanal Bolkiah dan Ust. Mirwan Batubara


Gambar 2: M. Yusuf mengikuti pelatihan di Islamic Relief, Malaysia

Facebook Comments