Nias, WASPADA Online
Rumah adat, salah satu ciri khas dan menjadi kebanggaan masyarakat. Namun kini, banyak aset bukti sejarah tersebut justru ditelantarkan, bahkan terancam punah.

Demikian halnya rumah adat Nias, khususnya bagian Utara yang semakin lama jumlahnya semakin terus berkurang karena rusak termakan usia tanpa ada upaya melestarikannya. Kerusakan rumah adat Nias yang merupakan peninggalan leluhur masyarakat Nias itu semakin dikhawatirkan kepunahannya akibat bencana gempa tektonik beberapa tahun terakhir.

Banyak para pemilik rumah adat Nias tidak dapat mempertahankan kelestarian rumah tersebut karena himpitan ekonomi sehingga tidak mampu membiayai perawatan yang membutuhkan puluhan juta setiap tahunnya. Dibeberapa daerah, para pemilik rumah adat terkesan membiarkan menjadi rusak. Mereka sebenarnya sadar rumah adat Nias mempunyai nilai sejarah sangat tinggi, namun kembali pada masalah biaya perawatan yang cukup besar, sehingga secara perlahan mengalami kerusakan.

Data Lembaga Budaya Nias tercatat, populasi rumah adat Nias sebelum bencana gempa berjumlah 320 unit, di antaranya 6 rumah adat besar atau dalam bahasa Nias disebut Omo Hada Sebua. Namun setelah Nias dilanda bencana gempa, jumlah rumah adat yang tersisa tinggal 30 unit. Sedangkan yang lainnya mengalami kerusakan cukup parah, dan sangat sulit direhabilitasi kembali.

Dengan jumlah yang tersisa 30 lagi, kekhawatiran akan punahnya salah satu bukti sejarah dan buaya Nias cukup beralasan. Bahkan sejak beberapa puluh tahun terakhir, minat masyarakat Nias membangun rumah adat mulai menghilang. Ini dikarenakan berbagai faktor antara lain, biaya pembangunan dan pemeliharaan yang cukup besar serta sulitnya mendapatkan bahan material kayu spesial untuk itu. Sementara kepedulian pemerintah mengganggarkan dana untuk pemugaran atau rehabiltasi rumah adat yang tersisa juga terkesan hampir tidak ada.

Begitupun, di tengah kekhawatiran punahnya rumah adat Nias, masih ada pihak yang peduli akan kelestarian peninggalan sejarah dan budaya leluhur masyarakat Nias. Sebutlah Yayasan Museum Pusaka Nias dikelola salah seorang warga Jerman, Pastor Johanes M Harmmele, OFM, CAP. Dia mengumpulkan benda-benda peninggalan sejarah leluhur masyarakat Nias untuk disimpan dan dilestarikan dalam museum kecil milik pribadinya saat itu. Museum ini diresmikan 18 April 2005 dengan nama Museum Pusaka Nias.

Tapi, dalam kegiatannya mengumpulkan benda-benda bersejarah, Pastor Johanes menandapat tantangan cukup banyak dari masyarakat Nias yang mengkhawatirkan benda-benda bersejarah itu akan dibawa pastor ke negaranya di Jerman.

Di museum ini tersimpan berbagai koleksi peninggalan benda bersejarah Nias seperti, batu megalith, patung dari batu serta lainnya. Di tempat ini juga dibangun beberapa jenis rumah adat baik jenis rumah adat Nias Selatan, Gomo dan Nias Utara yang berbeda bentuk satu sama lain. Selain itu, mengoleksi berbagai tumbuhan dan hewan yang termasuk sudah langka di Nias. Bothaniman J Telaumbanua (wns)

Sumber: Waspada, 10 Juli 2007