Medan, (Analisa)

Sebagai negara dan bangsa yang berbhinneka, Indonesia semestinya memiliki model pendidikan lintas kultur. Sebab di samping menjadi aset yang sangat berharga, kebhinnekaan juga bisa menjadi sumber konflik.

“Apalagi yang dikedepankan etnosentrisme, prasangka etnik, eksklusifisme, intoleransi, egoisme, hegemoni dan dominasi terhadap pihak lain,” kata Kepala Balitbang Ditjen Dikti Depdiknas RI Prof Dr Agung Purwadi saat membuka Pelatihan Pendidikan Lintas Kultur se Sumut di Kampus UMN Al Washliyah, Senin (9/7).

Agung mengatakan, ikatan-ikatan sosial yuang terbentuk di masyarakat akhir-akhir ini terlihat melemah. Bahkan ikatan kebangsaan dalam wujud perasaan senasib dan sepenanggungan serta solidaritas makin memudar.

“Begitu pula persatuan dan komitmen masyarakat untuk mempertahankan keutuhan NKRI makin goyah. Pancasila yang juga diharapkan kesadaran kolektif bagi masyarakat makin kehilangan vitalitasnya,” katanya.

Ini berarti katanya, suatu pertanda serius dan mendesak untuk dicari solusinya. Baik secara politik, ekonomi, sosial budaya maupun melalui jalur pendidikan demi kelanggengan NKRI.

“Diperlukan pemahaman dan kesadaran terhadap keanekaragaman budaya, etnik, ras dan agama yang diimplementasikan secara praktis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Disinilah letak peranan strategis pendidikan lintas kultur itu,” ujarnya.

LINTAS KULTUR

Sementara itu, salah seorang pembicara Prof Dr I Wayan Sadia MPd dari Universitas Pendidikan Singaraja Bali mengatakan, tujuan pendidikan lintas kultur terintegrasi berbasis kompetensi (PLK) adalah meningkatkan pemahaman peserta didik tentang lintas kultur.

“Kemudian kesadaran peserta didik tentang lintas kultur, meningkatkan apresiasi peserta didik tentang lintas kultur dan meningkatkan pengalaman mereka tentang lintas kultur,” ujarnya.

Pembicara lainnya Prof Dr Ida Bagus Putrayasa MPd juga dari Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja Bali mengatakan, prinsip dasar PLK harus terintegrasi, bersumber dari budaya sendiri, menghindari sikap etnosentrisme, berbasis kompetensi, berorientasi pada ranah afektif serta bersifat kontekstual.

Rektor UMN Al Washliyah Hj Sri Sulistyawati SH MSi PhD mengatakan, UMN Al Washliyah menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang ditetapkan Dirjen Dikti Depdiknas RI sebagai pembina Pendidikan Lintas Kultur di wilayah Indonesia bagian Barat.

“Untuk itu, kesempatan berharga ini harus bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh civitas akademika UMN,” katanya.

Kegiatan yang akan berlangsung selama dia hari tersebut diikuti guru SD, SLTP dan kepala-kepala sekolah. (sah)

Sumber: Analisa, 10 Juli 2007

Facebook Comments