Ungkapan Waktu Dalam Tradisi Masyarakat Nias

Wednesday, July 4, 2007
By nias

Sampai sekitar 30 tahun lalu, ketika jam dinding atau jam tangan (aralozi / tandra luo) belum begitu dikenal atau hanya dimiliki oleh sejumlah terbatas orang Nias, masyarakat Nias di desa-desa masih mengandalkan cara-cara “pragmatis” untuk menyatakan atau menaksir waktu sepanjang hari. Cara-cara “pragmatis” pembagian waktu itu tentu saja dikaitkan dengan kegiatan harian yang umum di zaman itu: bertani dan beternak serta aktivitas harian lain: memasak, makan, tidur, dan sebagainya.

Istilah Nias Bahasa Indonesia Waktu
Talu mbongi tengah malam 00.00
Aefa talu mbongi lepas tengah malam 01.00
Samuza kiarö waktu terjaga pertama 02.00
Miwo manu siföföna ayam berkokok pertama kali 02.00-02.30
Miwo manu si mendrua ayam berkokok kedua kalinya 03.00
Miwo manu si tatalu ayam berkokok – pertengahan 04.00
Miwo manu si fadoro ayam berkokok beruntun dan bersahutan 05.00
Möi zamölö penyadap aren pergi menyadap 05.00
Miwo manu safuria ayam berkokok untuk terakhir kalinya 05.15
Afusi (ne)wali pekarangan rumah mulai “putih” mulai terang 05.30
Muhede riwi “jangkrik” berbunyi 05.30 – 06.00
Tumbu luo matahari terbit 06.00
Ahulö wongi, mofanö niha ba halöwö pagi sekali, orang pergi bekerja 06.30
Aefa zi möi tou, te’anö niha ba halöwö orang pulang buang air, para pekerja sudah pada kumpul semua 07.30
Otufo namo embun pagi mengering 08.00
Aukhu zino, mombambaya gö niha udara mulai panas, makanan mulai dimasak 10.00
Mangawuli zimilo, inötö wemanga orang pulang kerja, waktu makan 11.00
Laluo tengah hari 12.00
Ahole yöu matahari “miring” ke utara 13.00
Aso’a yöu matahari “tumbang” ke utara 15.00
Alawu adogo matahari “jatuh dekat” 16.00
Mangawuli zimilo / zoroi ba danö orang pulang kerja 17.00
Mondra’u manu menangkap ayam, memasukkan ayam dalam kandang 17.30
Manuge manu ayam hinggap di kandang 17.00 – 18.00
Ogömigömi, manunu fandru gelap, lampu dihidupkan 18.30
Mondrino gö memasak makanan 18.00-19.00
Asoso gö, manga niha sahulö makanan masak, waktu makan malam dini 19.00-20.00
Manga niha sara waktu makan malam yang telat 21.00
Mörö niha orang pergi ke tempat tidur 22.00
Ahono mörö niha orang terlelap 22.30-23.00
Saraö tö mbongi (malam tinggal “sepertiga” lagi 23.00

Jam 00.00 malam atau tengah malam disebut talu mbongi. Sekitar satu jam setelah talu mbongi disebut “aefa talu mbongi” (lepas tengah malam).

Jam 2.00 disebut, “saraö tö mbongi” – malam tinggal “seperti tiga” lagi.

Antara jam 2 – 2.30 ayam jantan berkokok untuk pertama kalinya (miwo manu siföföna), sementara jam 03.00 ayam jantan biasanya berkokok untuk kedua kalinya (miwo manu si mendrua).

Bagaimana kalau tidak ada ayam di desa itu ? Di zaman dulu, salah satu bentuk “perbankan” atau cara menyimpan harta masyarakat Nias adalah memeliharan ayam atau babi. Memelihara ayam dan babi menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas bertani masyarakat Nias: berladang, membuka sawah dan berkebun ubi. Ketika panen sawah, ladang atau ubi, jumlah ternak ayam dan babi berkembang; pada musim paceklik, jumlah mereka menciut kembali.

Jam 04.00 adalah waktu ayam berkokok untuk ketiga kalinya – miwo manu si tatalu atau si medölu, sementara jam 05.00 biasanya ditandai dengan kokok ayam yang beruntun dan bersahutan (miwo manu si fadoro). Jam 05.00 pagi adalah juga waktu para penyadap aren (sogai akhe = samölö) pergi menyadap aren dan menampung nira. Sekitar lima belas menit kemudian (jam 5.15), ayam berkokok untuk terakhir kalinya (miwo manu safuria) dalam kandang sebelum keluar mancari makan.

Afusi wali – waktu di mana pekarangan rumah mulai “putih” (kelihatan “putih” bagi mata yang baru terbuka dari tidur sepanjang malam) – adalah sekitar jam 5.30 pagi.

Antara jam 5.30 – jam 6.00 pagi biasanya riwi-riwi (sejenis jangkrik, cicada – Tibicen canicularis) berbunyi – muhede riwi.

Sebagaimana terlihat dalam tabel, kita tidak menemukan kegiatan “menyadap karet” dalam perkiraan waktu yang digunakan masyarakat Nias di zaman dulu. Yang kita temukan adalah kegiatan “menyadap aren” (mogai akhe). Mengapa ? Padahal fangai gitö merupakan aktivitas ekonomi yang sempat meluas dan memberikan pengaruh besar di sejumlah daerah di Nias. Kita tidak tahu persis mengapa. Bisa jadi, fangai gitö merupakan kegiatan ekonomi yang belakangan diperkenalkan di Nias. Hal ini bisa menjadi bahan kajian yang menarik bagi yang berminat.

Jam 6.00 adalah waktu matahari terbit (tumbu luo). Jam 6.30, ahulö wongi, mofanö niha ba halöwö (pagi sekali, orang pergi bekerja).

Jam 7.30: aefa zi möi tou, te’anö niha ba halöwö (orang pulang buang air, para pekerja sudah sampai pada lokasi dan mulai bekerja). Jam 8.00 pagi: otufo namo (embun pagi mengering dari rerumputan atau daun-daunan pohon).

Pekerja (yang pergi mengambi kayu api, ke sawah, ladang atau ke kebun ubi) biasanya pulang jam 11.00 pagi untuk mempersiapkan (memasak) makanan keluarga untuk siang hari. Jadi waktu mangauwuli zimilo adalah sekitar jam 11 pagi.

Laluo adalah istilah Li Niha untuk menyatakan jam 12.00 (tengah hari). Matahari kelihatan “miring” ke utara – ahole yöu – pada sekitar jam 13.00, dan pada jam 15.00, matahari sudah kelihatan “tumbang” – aso’a yöu.

Posisi matahari jam 16.00 disebut alawu adogo (“jatuh pendek”).

Jam 17.00 adalah waktu orang pulang kerja (mangawuli zimilo / zoroi ba danö)

Ayam yang biasanya dibebaskan pada siang hari ditangkap kembali untuk dimasukkan ke dalam kandang (mondra’u manu). Ini sekitar jam 17.30.

Setelah “hingar-bingar” dalam kandang, akhirnya ayam-ayam tenang, bertengger di tempat masing-masing (manuge manu). Ini antara jam 17.00 – 18.00.

Jam 18.30 hari sudah gelap (ogömigömi) jadi lampu dinyalakan (manunu fandru).

Dulu, di desa-desa, penerangan sangat sederhana sekali. Sebelum minyak tanah dikenal di Nias, masyarakat Nias menggunakan minyak kelapa sebagai minyak bakar lampu, yang disebut ta’a-ta’a wandru (fandru nifota’a-ta’a). Fandru ini dibuat dari botol yang dipotong dua. Bagian yang dasarnya tertutup diisi sebagian besar dengan air, lalu di atasnya dituangkan minyak kelapa setinggi kurang lebih tiga jari. Sumbu lampu diapungkan di bagian yang terisi minyak tadi, sementara ujungnya yang akan dinyalakan dikaitkan dengan kawat sebagai penahannya.

Sumber cahaya yang jauh lebih sederhana adalah dögö, sulu, sandrari yang tidak memerlukan bahan bakar minyak. Sesudah minyak tanah masuk ke Nias, lampu yang lebih “modern” mulai dikenal: latera (lentera, lantern), fandru ndrindri (lampu dinding), fandru genefo, dan fandru gasi (lihat artikel: Yaahowu Wanunu Fandru).

Sekitar satu jam, antara jam 18.00 dan 19.00 adalah waktu untuk memasak makanan (mondrino gö). Ini tentu saja kalau makanan yang dimasak tidak “istimewa”. Kalau “istimewa” (memotong babi atau ayam, terlebih kalau ada tamu khusus), maka memasak bisa memakan waktu yang cukup lama, 2- 3 jam.

Antara jam 18 – 19.00, makanan dimasak (mondrino gö), sementara jam 19.00 – 20.00 makanan masak dan dilanjutkan dengan makan malam dini (manga niha sahulö). Ini terjadi kalau orang cepat pulang dari kerja pada hari itu.

Orang makan telat (manga niha sara) sekitar jam 09.00 apabila mereka telat pulang dari kerja, barangkali karena harus menyelesaikan pekerjaan tertentu di sawah, ladang atau di kebun ubi.

Karena televisi dan hiburan lain tidak ada, orang-orang desa biasanya pergi tidur cepat-cepat. Jam 22.00 adalah waktu pergi tidur (mörö niha). Karena kecapekan fisik di siang hari tadi, orang-orang kampung cepat terlelap (ahono mörö niha) – katakanlah 22.30 – 23.00.

Pada jam 23.00, orang terjaga untuk pertama kalinya (samuza kiarö).

E. Halawa*

Catatan: Artikel ini meruapakan revisi dari artikel yang muncul dalam blog Yaahowu, 18 Maret 2006, bejudul: “Hauga Bözi ? – Menyatakan / Menaksir Waktu di Nias…“. Pembagian waktu yang ada dalam tabel di atas merupakan ‘revisi’ dan gabungan dari pembagian waktu yang dicatat A. G. Moller dalam bukunya: Den Gamle Tidsregning pa Nias yang dikutip dalam buku suntingan P. Johannes Hammerle: Nidunö-dunö ba Nöri Onolalu (1999) hal. 144 dan tabel yang muncul dalam blog Yaahowu 18 Maret 2006. Revisi dan penggabungan ini berdasarkan hasil percakapan dengan sejumlah orang tua Ono Niha. Komentar dan perbaikan dapat dikirim ke Redaksi Yaahowu: nias.online@gmail.com.

Tags:

6 Responses to “Ungkapan Waktu Dalam Tradisi Masyarakat Nias”

  1. 1
    Berkat Says:

    Wah bagus sekali saya baca artiketil ini.Saya jadi teringat ba nias dan ingin merasakan kejadian2 yang pernah kita alami di nias.kecuali bagi saudara/i kita yang kelahirannnya bukan di nias atau orang nias waktu kecil langsung di bawa ke rantau orang.Jadi gak tau kejadian2 di atas.Saya bangga sebagai Suku nias dan waktu yang di tuliskan oleh Pak E.Halawa di sini mengingatkan kita kejadian2 yang dolo yang sering di alami oleh nenek moyang kita bahkan adapun sebagian yang merasakannya.Mari kita kembangkan dan lestarikan waktu ini kepada Generasi muda untuk mengingat kejadian2 dolo di nias dan yang di rasakan oleh nenek moyang kita semua.
    salam dari berkat batam
    ctt :
    Pak Halawa apa khabarnya ? semoga baik2 aja.

  2. 2
    Saro Z Says:

    Sebelum matahari “tumbang” ke utara (…emang tumbangnya ke utara, bukan ke barat ya Pak Halawa…?) pada pukul 15.00, ada lagi aktifitas harian orang Nias, yaitu “molau ö mbawi sahulö” pada pukul 14.00. Saya sih belon lahir waktu tradisi itu berlaku (atau sekarang mungkin sudah tidak demikian lagi?). Yang mencatatnya adalah Dr. Agner Møller. Dia menulis buku (yang disebutkan Pak Halawa dalam catatan di atas) pada tahun 1976, berdasarkan penyelidikannya setengah abad sebelumnya ketika dia bertugas di pulau Nias.

    Hasil karya Pak Halawa menggabungkan “fanötöi ginötö” versi Møller dan ”percakapan dengan sejumlah orang tua Ono Niha”, telah cukup detil, sempurna, dan patut diacungi jempol dua tangan.

    Selain Møller (1976) yang bercerita tentang waktu dan perbintangan berdasarkan mitos yang disebutnya ”zarawalaho”, Faogöli Harefa dalam buku ”Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias” (1939) juga berkisah tentang bintang yang memberi tanda bilamana orang Nias memulai bertanam padi. Bintang itu menurut Harefa bernama ”sara wangahalö”. Tentang bintang-gemintang, sejauh yang saya baca, agaknya ceritanya mirip-mirip di berbagai kawasan Nias.

    Sukses terus menggali tradisi Nias, Pak Halawa!
    Ya’ahowu.

  3. 3
    Ama Bram Says:

    E.E.W.Gs. Schröder (Nias, ethnographicsche, geographicsce en historische aanteekeningen en studien – h.176) th.1917 mencatat pembagian waktu di Nias Tengah (NT) & Nias Utara (NU) sbb:

    18.00: àèghu luwo (NT), – (NU)
    18.30: dra’u manu (NT), mondra’u manu (NU)
    19.00: mamèsa gö (NT), mame bawu gö niha (NU)
    19.30-20.00: màna niha (NT), mànga niha (NU)
    20.30: mörö niha (NT), mörö niha (NU)
    24.00: talu bòni (NT), talu bòni (NU)
    03.00: – (NT), miwö manu siföföna (NU)
    05.00: – (NT), miwö manu sifuria (NU)
    05.30: – (NT), àfusi wali (NU)
    06.00: tètèndrò ba hili (NT), mòluwò (NU)
    07.30: teolò sinò (NT), – (NU)
    09.00: sabòtò sinò (NT), – (NU)
    11.00: fàsöndrà àlaŵà (NT), tesöndrà àlaŵà (NU)
    12.00: laluwò (NT), laluwò (NU)
    13.00: àholè laluwò (NT), àso’a jow (NU)
    14.00: àlawu (NT), àlawu (NU)
    15.00-16.00: möj zamölö sojà (NT), möj dsamölö sàlaŵà (NU)
    17.00: möj dsamölö si lö ojàojà (NT), – (NU)

    Setelah buku Schröder (1917) tsb, catatan Møller seputar ‘nama waktu’ (saat tugas di Nias 1923-1927) dibukukan th.1975 (Den Gamle Tidsregning på Nias). Th.1999 Hämmerle mengutip Møller. Belakangan Halawa menulis artikel ini th.2007. Dari situ tampak evolusi perkembangan (tambahan & penyesuaian) ‘nama waktu’, hampir 1 abad (1917-2007). Menarik sekali!

    Namun aralozi sangat populer di abad global, nama waktu li Nono Niha hilang dah, tinggal catatan sazza. Alamak!

  4. 4
    eh Says:

    Pak Ama Bram,

    Terima kasih atas informasi tentang pembagian waktu zaman tempo doeloe ala E.W.Gs. Schröder. Dari cara penulisan beliau – dan dengan asumsi bahwa Anda tidak salah menulis ulang yang tertulis dalam catatan E.W.Gs. Schröder – saya berkeyakinan bahwa E.W.Gs. Schröder bukan seorang yang fasih berbahasa atau mengetahui cukup mendalam bahasa Nias, walau dia seorang peneliti tentang Nias.

    Soera Gamaboe’oela hasil usaha H. Sunderman (tentu dengan bantuan sejumlah orang Nias pendampingnya) yang saya miliki, dicetak 1911. Buku Eduard Fries “Nias. Amoeata Hoelo Nono Niha” ditulis beberapa tahun kemudian (1919). Kedua buku itu boleh dikatakan menjadi semacam ‘acuan’ cara penulisan kata-kata Li Niha, khususnya varietas utara, dengan sejumlah pengecualian yang muncul setelah bahasa Nias mengadopsi sebagian aturan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) pada tahun 1972.

    Kita bisa melihat perbedaan antara cara Schröder menulis kata-kata Nias dengan cara penulisan yang kita temukan dalam buku Sunderman dan E. Fries di atas. Schröder menulis ‘luwo’ atau ‘laluwo’ sementara kedua yang terakhir disebut menulis: ‘luo’ atau ‘laluo’.

    Bunyi ‘kh’ seperti dalam kata Indonesia ‘khilaf’ ditulis Schröder (gh) sementara kedua yang lain: ‘ch’ (namun setelah EYD 1972 berubah menjadi ‘kh’ – walau masih ada yang tetap mempertahankan ‘ch’).

    Bunyi ‘z’ seperti dalam kata ‘zaitun’ ditulis Schröder ‘dsa’ sementara kedua yang lain: ‘z’.

    “mòluwò” untuk penanda jam 6.00 – ditulis oleh kedua yang lain: ‘moluo’. Entah dari mana ide Schröder memasang ‘ò’ untuk melambangkan bunyi ‘o’ dalam kata itu.

    “Jow” untuk penanda jam 13.00 – ditulis oleh kedua yang lain: jõu. Menurut saya, Schröder tidak mampu mendengar dengan jelas bunyi kata itu ketika disebutkan oleh orang Nias yang menjadi informannya.

    Ya ibarat teman-teman dari suku lain yang sering salah membunyikan sejumlah kata Nias seperti: Waruwu (menjadi Waruhu), ‘khõgu’ menjadi ‘hegu’, ‘ono alawe’ menjadi ‘ono alabe’, ‘bu’ulõlõ menjadi ‘bulolo’, atau ‘bekhu’ menjadi ‘behu’. Kesalahan bukan hanya pada penulisan tetapi pada cara membunyikan kata-kata itu.

    Dalam sejumlah buku kalangan para peneliti asing tentang Nias, saya menemukan banyak kesalahan yang kelihatannya sepele tetapi menjadi petunjuk bagi kita sejauh mana mereka memahami objek atau subjek penelitiannya di Nias.

    Atau bisa jadi … hanya kesalahan tukang ketik buku itu sebelum dicetak … dan kalau itu yang terjadi, analisis di depan mohon dilupakan saja 🙂

    eh

  5. 5
    Ama Bram Says:

    Pak EH, kutipan dr buku Schröder sesuai aslinya. Sedikit ralat: “24.00: talu bòni (NT), talu bòni (NU)” seyogianya (dlm Schröder) “24.00: talu bòni (NT), talu bòngi (NU)”.

    Bila bukan tukang ketik salah, yahh barangkali Schröder kurang fasih fonetik. Orang yg merujuk dia, ikutan ‘keliru’. Salah satu contoh penulisan, ‘Börö N’adu’ oleh Schröder diikuti Peter Suzuki (The Religious System and Culture of Nias Indonesia – 1959) dan Harun Hadiwijono (Religi Suku Murba di Indonesia – 1977).

    Hal yg sama terjadi ketika seorang peneliti menulis istilah ‘mangani binu’, lalu istilah ‘yg keliru’ tsb diikuti pula oleh orang-orang yg merujuk sang peneliti itu.

    Edwin M. Loeb menilai Schröder, “This is the type of work which has enhaced the Hollanders’ reputation for anthropological work in Indonesia.” (Suzuki – h.i).

    Namun dlm ‘Beberapa Metode Anthropologi dalam Penjelidikan Masjarakat dan Kebudayaan di Indonesia” (1958), Koentjaraningrat mengomentari karya Schröder, “Dengan singkat, di belakang timbunan jang dahsjat dari bahan keterangan tentang kebudayaan penduduk Nias itu, orang Nias sendiri tidak nampak.” (h.95)

    Pendapat Koentjaraningrat tsb sy kaitkan dgn pendapat Pak EH, “… sejauh mana mereka (baca: Schröder) memahami objek atau subjek penelitiannya di Nias.”

  6. 6
    nias Says:

    Menanggapi komentar Saro Z (komen 2) soal “tumbang” ke utara, silahkan baca artikel: Ahole Yöu, Aso’a Yöu, Miyöu Lala Nidanö

    Salam,
    EH

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

July 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031