Ungkapan Waktu Dalam Tradisi Masyarakat Nias
Sampai sekitar 30 tahun lalu, ketika jam dinding atau jam tangan (aralozi / tandra luo) belum begitu dikenal atau hanya dimiliki oleh sejumlah terbatas orang Nias, masyarakat Nias di desa-desa masih mengandalkan cara-cara “pragmatis” untuk menyatakan atau menaksir waktu sepanjang hari. Cara-cara “pragmatis” pembagian waktu itu tentu saja dikaitkan dengan kegiatan harian yang umum di zaman itu: bertani dan beternak serta aktivitas harian lain: memasak, makan, tidur, dan sebagainya.
| Istilah Nias | Bahasa Indonesia | Waktu |
| Talu mbongi | tengah malam | 00.00 |
| Aefa talu mbongi | lepas tengah malam | 01.00 |
| Samuza kiarö | waktu terjaga pertama | 02.00 |
| Miwo manu siföföna | ayam berkokok pertama kali | 02.00-02.30 |
| Miwo manu si mendrua | ayam berkokok kedua kalinya | 03.00 |
| Miwo manu si tatalu | ayam berkokok – pertengahan | 04.00 |
| Miwo manu si fadoro | ayam berkokok beruntun dan bersahutan | 05.00 |
| Möi zamölö | penyadap aren pergi menyadap | 05.00 |
| Miwo manu safuria | ayam berkokok untuk terakhir kalinya | 05.15 |
| Afusi (ne)wali | pekarangan rumah mulai “putih” mulai terang | 05.30 |
| Muhede riwi | “jangkrik” berbunyi | 05.30 - 06.00 |
| Tumbu luo | matahari terbit | 06.00 |
| Ahulö wongi, mofanö niha ba halöwö | pagi sekali, orang pergi bekerja | 06.30 |
| Aefa zi möi tou, te’anö niha ba halöwö | orang pulang buang air, para pekerja sudah pada kumpul semua | 07.30 |
| Otufo namo | embun pagi mengering | 08.00 |
| Aukhu zino, mombambaya gö niha | udara mulai panas, makanan mulai dimasak | 10.00 |
| Mangawuli zimilo, inötö wemanga | orang pulang kerja, waktu makan | 11.00 |
| Laluo | tengah hari | 12.00 |
| Ahole yöu | matahari “miring” ke utara | 13.00 |
| Aso’a yöu | matahari “tumbang” ke utara | 15.00 |
| Alawu adogo | matahari “jatuh dekat” | 16.00 |
| Mangawuli zimilo / zoroi ba danö | orang pulang kerja | 17.00 |
| Mondra’u manu | menangkap ayam, memasukkan ayam dalam kandang | 17.30 |
| Manuge manu | ayam hinggap di kandang | 17.00 - 18.00 |
| Ogömigömi, manunu fandru | gelap, lampu dihidupkan | 18.30 |
| Mondrino gö | memasak makanan | 18.00-19.00 |
| Asoso gö, manga niha sahulö | makanan masak, waktu makan malam dini | 19.00-20.00 |
| Manga niha sara | waktu makan malam yang telat | 21.00 |
| Mörö niha | orang pergi ke tempat tidur | 22.00 |
| Ahono mörö niha | orang terlelap | 22.30-23.00 |
| Saraö tö mbongi | (malam tinggal “sepertiga” lagi | 23.00 |
Jam 00.00 malam atau tengah malam disebut talu mbongi. Sekitar satu jam setelah talu mbongi disebut “aefa talu mbongi” (lepas tengah malam).
Jam 2.00 disebut, “saraö tö mbongi” – malam tinggal “seperti tiga” lagi.
Antara jam 2 – 2.30 ayam jantan berkokok untuk pertama kalinya (miwo manu siföföna), sementara jam 03.00 ayam jantan biasanya berkokok untuk kedua kalinya (miwo manu si mendrua).
Bagaimana kalau tidak ada ayam di desa itu ? Di zaman dulu, salah satu bentuk “perbankan” atau cara menyimpan harta masyarakat Nias adalah memeliharan ayam atau babi. Memelihara ayam dan babi menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas bertani masyarakat Nias: berladang, membuka sawah dan berkebun ubi. Ketika panen sawah, ladang atau ubi, jumlah ternak ayam dan babi berkembang; pada musim paceklik, jumlah mereka menciut kembali.
Jam 04.00 adalah waktu ayam berkokok untuk ketiga kalinya – miwo manu si tatalu atau si medölu, sementara jam 05.00 biasanya ditandai dengan kokok ayam yang beruntun dan bersahutan (miwo manu si fadoro). Jam 05.00 pagi adalah juga waktu para penyadap aren (sogai akhe = samölö) pergi menyadap aren dan menampung nira. Sekitar lima belas menit kemudian (jam 5.15), ayam berkokok untuk terakhir kalinya (miwo manu safuria) dalam kandang sebelum keluar mancari makan.
Afusi wali – waktu di mana pekarangan rumah mulai “putih” (kelihatan “putih” bagi mata yang baru terbuka dari tidur sepanjang malam) – adalah sekitar jam 5.30 pagi.
Antara jam 5.30 - jam 6.00 pagi biasanya riwi-riwi (sejenis jangkrik, cicada - Tibicen canicularis) berbunyi - muhede riwi.
Sebagaimana terlihat dalam tabel, kita tidak menemukan kegiatan “menyadap karet” dalam perkiraan waktu yang digunakan masyarakat Nias di zaman dulu. Yang kita temukan adalah kegiatan “menyadap aren” (mogai akhe). Mengapa ? Padahal fangai gitö merupakan aktivitas ekonomi yang sempat meluas dan memberikan pengaruh besar di sejumlah daerah di Nias. Kita tidak tahu persis mengapa. Bisa jadi, fangai gitö merupakan kegiatan ekonomi yang belakangan diperkenalkan di Nias. Hal ini bisa menjadi bahan kajian yang menarik bagi yang berminat.
Jam 6.00 adalah waktu matahari terbit (tumbu luo). Jam 6.30, ahulö wongi, mofanö niha ba halöwö (pagi sekali, orang pergi bekerja).
Jam 7.30: aefa zi möi tou, te’anö niha ba halöwö (orang pulang buang air, para pekerja sudah sampai pada lokasi dan mulai bekerja). Jam 8.00 pagi: otufo namo (embun pagi mengering dari rerumputan atau daun-daunan pohon).
Pekerja (yang pergi mengambi kayu api, ke sawah, ladang atau ke kebun ubi) biasanya pulang jam 11.00 pagi untuk mempersiapkan (memasak) makanan keluarga untuk siang hari. Jadi waktu mangauwuli zimilo adalah sekitar jam 11 pagi.
Laluo adalah istilah Li Niha untuk menyatakan jam 12.00 (tengah hari). Matahari kelihatan “miring” ke utara – ahole yöu – pada sekitar jam 13.00, dan pada jam 15.00, matahari sudah kelihatan “tumbang” – aso’a yöu.
Posisi matahari jam 16.00 disebut alawu adogo (“jatuh pendek”).
Jam 17.00 adalah waktu orang pulang kerja (mangawuli zimilo / zoroi ba danö)
Ayam yang biasanya dibebaskan pada siang hari ditangkap kembali untuk dimasukkan ke dalam kandang (mondra’u manu). Ini sekitar jam 17.30.
Setelah “hingar-bingar” dalam kandang, akhirnya ayam-ayam tenang, bertengger di tempat masing-masing (manuge manu). Ini antara jam 17.00 - 18.00.
Jam 18.30 hari sudah gelap (ogömigömi) jadi lampu dinyalakan (manunu fandru).
Dulu, di desa-desa, penerangan sangat sederhana sekali. Sebelum minyak tanah dikenal di Nias, masyarakat Nias menggunakan minyak kelapa sebagai minyak bakar lampu, yang disebut ta’a-ta’a wandru (fandru nifota’a-ta’a). Fandru ini dibuat dari botol yang dipotong dua. Bagian yang dasarnya tertutup diisi sebagian besar dengan, lalu di atasnya dituangkan minyak kelapa setinggi kurang lebih tiga jari. Sumbu lampu diapungkan di bagian yang terisi minyak tadi, sementara ujungnya yang akan dinyalakan dikaitkan dengan kawat sebagai penahannya.
Sumber cahaya yang jauh lebih sederhana adalah dögö, sulu, sandrari yang tidak memerlukan bahan bakar minyak. Sesudah minyak tanah masuk ke Nias, lampu yang lebih “modern” mulai dikenal: latera (lentera, lantern), fandru ndrindri (lampu dinding), fandru genefo, dan fandru gasi (lihat artikel: Yaahowu Wanunu Fandru).
Sekitar satu jam, antara jam 18.00 dan 19.00 adalah waktu untuk memasak makanan (mondrino gö). Ini tentu saja kalau makanan yang dimasak tidak “istimewa”. Kalau “istimewa” (memotong babi atau ayam, terlebih kalau ada tamu khusus), maka memasak bisa memakan waktu yang cukup lama, 2- 3 jam.
Antara jam 18 - 19.00, makanan dimasak (mondrino gö), sementara jam 19.00 - 20.00 makanan masak dan dilanjutkan dengan makan malam dini (manga niha sahulö). Ini terjadi kalau orang cepat pulang dari kerja pada hari itu.
Orang makan telat (manga niha sara) sekitar jam 09.00 apabila mereka telat pulang dari kerja, barangkali karena harus menyelesaikan pekerjaan tertentu di sawah, ladang atau di kebun ubi.
Karena televisi dan hiburan lain tidak ada, orang-orang desa biasanya pergi tidur cepat-cepat. Jam 22.00 adalah waktu pergi tidur (mörö niha). Karena kecapekan fisik di siang hari tadi, orang-orang kampung cepat terlelap (ahono mörö niha) - katakanlah 22.30 - 23.00.
Pada jam 23.00, orang terjaga untuk pertama kalinya (samuza kiarö).
E. Halawa*
Catatan: Artikel ini meruapakan revisi dari artikel yang muncul dalam blog Yaahowu, 18 Maret 2006, bejudul: “Hauga Bözi ? - Menyatakan / Menaksir Waktu di Nias…“. Pembagian waktu yang ada dalam tabel di atas merupakan ‘revisi’ dan gabungan dari pembagian waktu yang dicatat A. G. Moller dalam bukunya: Den Gamle Tidsregning pa Nias yang dikutip dalam buku suntingan P. Johannes Hammerle: Nidunö-dunö ba Nöri Onolalu (1999) hal. 144 dan tabel yang muncul dalam blog Yaahowu 18 Maret 2006. Revisi dan penggabungan ini berdasarkan hasil percakapan dengan sejumlah orang tua Ono Niha. Komentar dan perbaikan dapat dikirim ke Redaksi Yaahowu: nias.online@gmail.com.
July 4th, 2007 at 10:20 am
Wah bagus sekali saya baca artiketil ini.Saya jadi teringat ba nias dan ingin merasakan kejadian2 yang pernah kita alami di nias.kecuali bagi saudara/i kita yang kelahirannnya bukan di nias atau orang nias waktu kecil langsung di bawa ke rantau orang.Jadi gak tau kejadian2 di atas.Saya bangga sebagai Suku nias dan waktu yang di tuliskan oleh Pak E.Halawa di sini mengingatkan kita kejadian2 yang dolo yang sering di alami oleh nenek moyang kita bahkan adapun sebagian yang merasakannya.Mari kita kembangkan dan lestarikan waktu ini kepada Generasi muda untuk mengingat kejadian2 dolo di nias dan yang di rasakan oleh nenek moyang kita semua.
salam dari berkat batam
ctt :
Pak Halawa apa khabarnya ? semoga baik2 aja.
August 4th, 2007 at 6:47 am
Sebelum matahari “tumbang” ke utara (…emang tumbangnya ke utara, bukan ke barat ya Pak Halawa…?) pada pukul 15.00, ada lagi aktifitas harian orang Nias, yaitu “molau ö mbawi sahulö” pada pukul 14.00. Saya sih belon lahir waktu tradisi itu berlaku (atau sekarang mungkin sudah tidak demikian lagi?). Yang mencatatnya adalah Dr. Agner Møller. Dia menulis buku (yang disebutkan Pak Halawa dalam catatan di atas) pada tahun 1976, berdasarkan penyelidikannya setengah abad sebelumnya ketika dia bertugas di pulau Nias.
Hasil karya Pak Halawa menggabungkan “fanötöi ginötö” versi Møller dan ”percakapan dengan sejumlah orang tua Ono Niha”, telah cukup detil, sempurna, dan patut diacungi jempol dua tangan.
Selain Møller (1976) yang bercerita tentang waktu dan perbintangan berdasarkan mitos yang disebutnya ”zarawalaho”, Faogöli Harefa dalam buku ”Hikajat dan Tjeritera Bangsa serta Adat Nias” (1939) juga berkisah tentang bintang yang memberi tanda bilamana orang Nias memulai bertanam padi. Bintang itu menurut Harefa bernama ”sara wangahalö”. Tentang bintang-gemintang, sejauh yang saya baca, agaknya ceritanya mirip-mirip di berbagai kawasan Nias.
Sukses terus menggali tradisi Nias, Pak Halawa!
Ya’ahowu.