Pakar: Jalur Gempa Sumatera Barat Belum Terpetakan

Wednesday, July 4, 2007
By nias

Sejak gempa yang terjadi di Sumatera Barat 6 Maret lalu hingga kini belum ada kegiatan pemetaan jalur gempa dilakukan pemerintah daerah.

Padahal, pemetaan jalur gempa yang merupakan bagian dari sumber gempa tektonik di Patahan Sumatera itu, sangat perlu dilakukan untuk merelokasi bangunan publik dan rumah penduduk agar tidak tidak terulang kejadian yang sama di masa datang.

“Pemerintah daerah masih wacana-wacana, tapi belum ada kerja konkret ke arah itu,” kata pakar geologi dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, hari ini.

Menurut Danny, retakan-retakan di permukaan tanah, seperti sawah, kebun, rumah, jalan, dan bangunan lain yang diakibatkan gempa 6 Maret lalu merupakan tanda yang membuktikan bahwa jalur gempa melewati daerah itu.

Gempa di masa depan yang bersumber di patahan itu akan tetap melewati jalur itu dan tetap merusak bangunan yang berdiri di sana. Karena itu, mestinya pemerintah daerah secepatnya membuat program penandaan jalur tersebut.

“Jika kegiatan ini tidak cepat dilakukan, maka kita tidak bisa lagi mencatatnya, sebab tanah yang retak bila terkena hujan akan hilang. Rumah yang roboh dan jalan yang retak begitu diperbaiki tidak akan kelihatan lagi retakannya. Sekarang setelah sebulan kejadian gempa, sudah banyak tanda-tanda itu yang hilang,” ujar Danny yang telah lama meneliti sejarah dan potensi gempa tektonik di Sumatera Barat.

Gempa 6 Maret dekat Danau Singkarak hanya bermagnitudo 6,3 skala Richter, namun menimbulkan kerusakan dan korban jiwa yang cukup banyak. “Sebelumnya gempa di patahan Semangko di Sumatera Barat pernah terjadi pada 1926, 1942, dan 2004. Lokasinya sebenarnya di situ juga. Banyak bangunan yung roboh sekarang juga perbaikan setelah roboh akibat gempa sebelumnya, karena itu seharusnya bangunan tersebut dipindahkan,” kata Danny.

Patahan Sumatera yang membelah Pulau Sumatera menjadi dua membentang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, mulai dari Teluk Semangko di Selat Sunda sampai ke wilayah Aceh di utara. Dalam 100 tahun terakhir, sudah sekitar 20 gempa besar dan merusak terjadi di patahan ini.

Danny mengatakan, meski gempa di patahan ini berkekuatan magnitude di bawah 7,7 skala Richter, tapi kejadiannya rata-rata 5 tahun sekali dan akibatnya berbahaya karena sumbernya lebih dekat dengan populasi penduduk.

Danny bersama timnya melakukan sendiri pemetaan jalur gempa akibat gempa besar 6 Maret lalu di Sumatera Barat. Hingga kini timnya masih berada di lokasi untuk merekam retakan-retakan yang terlihat di permukaan dari Kabupaten Solok hingga Koto Gadang, Kebupaten Agam.

Namun, Danny mengaku kegiatannya hanya sebatas keperluan penelitian ilmiah dan bukan program pemerintah. “Kalau pendataan untuk keperluan masyarakat mesti diteliti dalam skala besar, bikin tiap daerah, dan lokasinya diberi tanda,” ujarnya.

Penulis: Febrianti
Sumber: TEMPO Interaktif (19 Juni 2007)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Kalender Berita

July 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

User Login