Pemeringkatan Maskapai Penerbangan, SMAC Dibekukan

Friday, June 29, 2007
By susuwongi

JAKARTA —  Pemerintah kembali melakukan pemeringkatan tingkat pemenuhan maskapai penerbangan di Indonesia terhadap aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Pemeringkatan kali ini untuk mengetahui respons operator penerbangan atas hasil pemeringkatan pertama pada bulan Maret lalu. Hasilnya, salah satunya, maskapai SMAC dibekukan. 

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Budhi Muliawan Sutyitno menjelaskan, pemeringkatan dilakukan baik kepada operator penerbangan yang beroperasi berdasarkan Civil Aviation Safety Regulation (CASR) 121 (Air Operator Certificate[AOC] 121/sering juga disebut sebagai Lisensi Terbang) maupun kepada operator yang beroperasi berdasarkan CASR 135 (AOC 135), dalam hal kepatuhan mereka terhadap peraturan perundang-undangan dan prosedur keselamatan penerbangan dalam menjalankan kegiatannya. 
 
Pada pemeringkatan kali ini, untuk perusahaan penerbangan dengan AOC 121 (berpenumpang 30 ke atas) yang jumlah keseluruhannya 21 perusahaan, hasil pemeringkatan menunjukkan 1 (satu) perusahaan penerbangan yaitu PT Garuda Indonesia berada pada kategori I, sedangkan 19 (sembilan belas) perusahaan lainnya berada pada kategori II (18 perusahaan lama dan 1 perusahaan baru yaitu PT Megantara) sementara itu 1 (satu) perusahaan yaitu PT Jatayu Gelang Sejahtera dicabut AOC-nya.

Untuk perusahaan penerbangan dengan AOC 135 (berpenumpang 30 ke bawah atau carteran) yang jumlah keseluruhannya ada 34 perusahaan, hasil pemeringkatan menunjukkan 23 perusahaan berada pada kategori II dan 11 perusahaan berada pada kategori III.

Dari 11 perusahaan yang termasuk dalam kategori III ini, 3 perusahaan diantaranya yang telah dicabut AOC-nya dan 8 perusahaan dibekukan AOC-nya.

Perusahaan yang dicabut AOC-nya adalah Prodexim, Alfa Trans Dirgantara dan Aviaso Upataraksa Indonesia pada bulan Mei 2007 lalu, sedangkan perusahaan yang dibekukan AOC-nya adalah Survey Udara Penas, Atlas Deltasatya, Kura-Kura Aviation, SMAC, Germania Trisila Air, Air Transport Services, Sayap Garuda Indah dan Helizona.

Perusahaan penerbangan yang dibekukan AOC-nya merupakan perusahaan yang tidak mampu mempertahankan atau meningkatkan kategorinya atau karena tidak memenuhi syarat untuk pengkategoriaan. Ketidakmampuan mempertahankan atau meningkatkan kategori disebabkan karena kurangnya respon terhadap terhadap temuan audit keselamatan atau berkurangnya jumlah personil kunci.

Bila AOC dibekukan, maka seluruh pesawat pada maskapai bersangkutan tidak boleh beroperasi sampai bisa memenuhi seluruh persyaratan keselamatan yang telah ditetapkan (Ada 20 item). Sedangkan bila AOCnya dicabut, selaian seluruh pesawatnya tidak boleh terbang, untuk bisa terbang kembali mengurus ulang izin terbangnya, seperti halnya ketika baru membuka maskapai baru. 

Dibandingkan dengan hasil pemeringkatan pertama yang diumumkan pada bulan Maret 2007 lalu, hasil pemeringkatan kedua yang diumumkan pada bulan Juni 2007 ini secara umum cukup menunjukkan adanya kemajuan yang dilakukan para perusahaan penerbangan dalam hal memenuhi kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan prosedur keselamatan penerbangan. Pada pemeringkatan pertama bulan Maret 2007 lalu tidak ada satupun dari 20 perusahaan penerbangan pemegang AOC 121 yang masuk kategori I.

Sebanyak 13 perusahaan berada pada kategori II dan 7 perusahaan berada pada kategori II. Sementara itu dari 34 perusahaan penerbangan pemegang AOC 135, terdapat 20 perusahaan pada kategori II dan 14 perusahaan pada kategori III.

Kebijakan pengkategorian perusahaan penerbangan ini dilakukan Departemen Perhubungan c.q Ditjen Perhubungan Udara dilatarbelakangi dengan adanya sejumlah kejadian berupa incident, serious incident maupun accident pada moda transportasi udara beberapa waktu lalu. Kejadian-kejadian tersebut ditengarai disebabkan oleh aktifnya sejumlah latent failure yang terdapat di dalam komponen-komponen sistem keselamatan penerbangan nasional yang meliputi implementasi peraturan perundangan, prosedur, sarana, prasarana dan SDM.

Kebijakan pengkategorian perusahaan penerbangan merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah untuk mengurangi tingkat kejadian tersebut dengan mendorong para perusahaan penerbangan untuk mematuhi peraturan perundangan dan prosedur keselamatan penerbangan dalam operasional kegiatannya.

Parameter yang digunakan dalam penilaian katergorisasi ini adalah :

1. Tindak lanjut hasil audit (audit follow up)
2. Pengawasan dan pemeriksaan ramp check (surveillance dan ramp check follow up)
3. Manajemen personil (key personil)
4. Unit kerja keselamatan (Departement safety)
5. Kecelakaan (accident)
6. Kejadian serius (serious incident)
7. Daftar penundaan perbaikan (hold item list (HIL)/deferred maintenance item (DMI) serta kerusakan berulang (repetitife trouble)
8. Penegakan hukum (law enforcement)
9. Pemenuhan dokumen prosedur perusahaan (compliance company procedure manual)
10. Sumber daya manusia/personil
11. Kondisi pesawat udara
12. Penghargaan keselamatan dari organisasi independent (safety award from independent and renowed organization)
13. Pusat fasilitas perawatan (maintenance base)
14. Cabang tempat perawatan (out stations
15. Pemantauan penerbangan (flight following)
16. Unit kerja pengendalian mutu (quality control department)
17. Personil perawatan (maintenance engineering)
18. Pelatihan (training) operasi
19. Pelatihan (training) teknik
20. Sistem pencatatan (recording system)

Hasil penilaian berdasarkan parameter tersebut diatas diakumulasikan untuk menentukan kategori penilaian sebagai berikut :

Kategori I : 162 – 200 (telah melebihi pemenuhan peraturan-peraturan penerbangan sipil yang berlaku)

Kategori II : 120 – 161 (telah memenuhi peraturan-peraturan penerbangan sipil yang berlaku)

Kategori III : <120 (telah memenuhi minimal peraturan-peraturan penerbangan sipil yang berlaku, tetapi didapati adanya ketidak konsistenan dalam pelaksanaan prosedur yang sudah disetujui)

Dengan adanya ketagorisasi perusahaan penerbangan ini maka Pemerintah dalam hal ini Departemen Perhubungan c.q Ditjen Perhubungan Udara telah menentukan bahwa tidak akan ada lagi perusahaan penerbangan yang berada pada kategori III. Jika tidak dapat mencapai kategori III maka perusahaan yang sedang beroperasi akan dibekukan. Hal ini berlaku juga pada pemohon AOC baru dimana mereka harus mampu mencapai minimal kategori II, dan apabila tidak mampu maka permohonan AOC-nya akan ditolak (Brd)

3 Responses to “Pemeringkatan Maskapai Penerbangan, SMAC Dibekukan”

  1. 1
    Etis Nehe Says:

    Ya’ahowu…

    Seingat saya, maskapai SMAC juga sering terbang ke Nias. Apakah hingga saat ini, pesawat-pesawat SMAC masih beroperasi? Sebab, berdasarkan aturan pembekuan seperti pada berita di atas, seharusnya tidak beroperasi. Terima kasih atas informasinya.

    Terima kasih

  2. 2
    Redaksi Says:

    Baru saja Redaksi menghubungi Kantor SMAC di Gunungsitoli, tetapi tidak ada yang menjawab telepon.

    Sementara itu jadwal penerbangan Merpati Gunungsitoli – Medan (dan sebaliknya) telah mengalami perubahan sejak 11 Juni 2007. Demikian informasi dari kantor Merpati Gunungsitoli. Informasi Penerbangan di Situs Yaahowu akan segera dimutakhirkan.

  3. 3
    Yanti Says:

    Mohon informasi transportasi udara yang jalan saat ini route Medan – Sibolga lengkap dengan jadwal dan detail info lainnya.

    Tks,
    Yanti

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

June 2007
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930