Pengetahuan kita akan ciri-ciri orang yang memiliki daya irasional akan menjadi modal utama kita untuk menghadapinya. Berikut adalah beberapa ciri orang pemilik daya hasil pengamatan langsung / tak langsung penulis terhadap sejumlah kasus.

  1. Wajah berbinar-binar, kelihatan lebih tampan (pria), lebih cantik atau manis (perempuan) dan lebih menarik, wajah lebih ‘penuh’, tiada tanda-tanda kekurusan, tiada segi-segi yang menonjol; segala tulang terbungkus rapi oleh kulit yang licin dan berminyak.
  2. Volume tubuhnya lebih besar, lebih tinggi, kelihatan lebih berwibawa sehingga lebih dihargai oleh yang berhadapan dengannya.
  3. Sangat percaya diri. Orang yang sebelumnya kurang percaya diri, rendah diri, takut berhadapan dengan orang lain yang lebih tinggi dalam status sosial, kepangkatan, dan sebagainya tiba-tiba mengalami perubahan yang sangat mencolok. Ia menjadi sangat percaya diri, bahkan terkadang berlebihan, ditunjukkan antara lain oleh: (a) keberaniannya berada di tengah-tengah keramaian, hal yang sebelumnya dihindarinya, (b) keberaniannya berada di tengah-tengah orang-orang besar atau orang yang sangat disegani atau ditakutinya sebelumnya (misalnya memberanikan diri menyalami seorang pejabat tinggi yang sedang berkunjung ke daerahnya), (c) makin bertambah ‘pintar’ dan beraninya ia berbicara, sehingga orang lain tertarik mendengarnya, (d) beraninya ia menghadapi dan bahkan membuat kagum lawan jenisnya. Kata pintar di depan sengaja dimasukkan dalam tanda kutip, karena ternyata dalam berbagai pengamatan ‘kepintaran berbicara’ itu tidak jarang diselingi oleh pernyataan-pernyataan yang mengejutkan, yang sebenarnya menunjukkan betapa ia jauh dari intelektualitas, yang lantas diberi label sebagai pernyataan kontroversial.
  4. Sangat ceria Orang yang tadinya agak pemurung, mudah marah, mudah tersinggung, tiba-tiba bisa menjadi orang yang ceria, mudah diajak bergaul, bisa menghangatkan suasana dengan cerita-cerita yang selalu menarik, dan bahkan mengarang cerita lucu yang mebuat pendengarnya tertawa terbahak-bahak dan keras.
  5. Sangat simpatik Karena keempat faktor di atas, teman atau bahkan orang yang baru dikenalnya atau mengenalnya mudah menaruh simpati kepadanya. Permintaannya umumnya dituruti, berbagai ide atau gagasannya (yang ‘konyol’ sekalipun) dengan mudah diterima, ia mudah mendapat bantuan dalam berbagai bentuk seperti materi, perlindungan, pinjaman, nilai yang baik dari guru atau dosen, dan servis lain yang ‘istimewa’ (misalnya secara terus-menerus dalam waktu yang relatif cukup lama mendapat traktir makan dari teman-temannya, tanpa alasan yang rasional).
  6. Karena faktor (4) dan (5), ditambah dengan medan energi irasional yang selalu mengelilinginya’ orang lain (teman atau orang asing yang baru dikenalnya sekalipun) ‘tergila-gila’ atas penampilannya.
  7. Penampilan fisik berubah-ubah. Penampilan fisik yang berwibawa, simpatik dan mempesona sebagaimana dikemukakan di atas ternyata tidak langgeng. Ada saat-saat di mana ‘medan energi rasionalnya’ menghilang dan ini mempengaruhi penampilan fisiknya, sehingga cahaya wajahnya hilang, mukanya jauh lebih kurus, jauh lebih kecil, jauh lebih tua, tidak enak dipandang, serta muncul ciri-ciri khas (asli) mukanya yang membuatnya kelihatan kurang menarik. Dalam saat-saat tetentu bahkan ia kelihatan seperti sangat kelaparan atau seperti baru mencret sehingga kelihatan kurus sekali. Apabila keadaan ini secara tiba-tiba ketahuan oleh orang lain (teman misalnya), maka teman tersebut bisa sangat terkejut karena perubahan yang sangat cepat itu. Apabila hal ini disampaikan kepada yang bersangkutan, ia biasanya membantahnya, dan tidak lama kemudian mukanya bersinar kembali, dan berbagai ‘kekurangan’ yang dilukiskan di depan menghilang. Saat–saat di mana kita bisa melihat perubahan itu adalah: saat dia sedang sibuk sendiri (tanpa kehadiran orang lain), saat sedang tidur, istirahat atau termanggu, saat ia tidak menyadari kehadiran si pengamat.
  8. Tanpa sadar suka membeberkan atau membuka rahasia, terutama aib pribadi, keluarga atau kelompoknya Misalnya, ada yang tanpa alasan atau di luar konteks pembicaraan mengungkapkan bahwa salah seorang dari orang tuanya gila, atau anaknya suka mencuri, atau temannya suka mengadu domba orang, dan sebagainya.
  9. Di tengah keramaian, misalnya dalam suatu pesta yang dihadirinya, ia menjadi pusat perhatian yang menyolok: orang lain selalu mengarahkan perhatian kepadanya, ingin mendekatinya dan berbicara dengannya, orang-orang akan mengerumuninya.
  10. Tanpa diduga bisa secara tiba-tiba ‘melecehkan’ orang lain dengan pernyataan-pernyataan yang ‘sangat tidak manusiawi’, misanya menanyakan: ‘apakah masih punya uang di kantong ?’ kepada teman di hadapan orang banyak, meremehkan kemampuan seseorang di depan orang lain (‘dia tidak tahu apa-apa’) atau membuat guyonan yang sangat menyinggung orang. Bila ia seorang pemimpin agama, ia bisa mengeluarkan kata-kata yang tak pantas dia ucapkan, yang membuat orang terkesima tetapi tidak dapat berbuat apa-apa.
  11. Sebagai lanjutan butir (10), ia tidak peka terhadap perasaan orang lain, ia tidak merasa bahwa ucapan atau perbuatannya menyinggung orang lain.
  12. Bertingkah aneh-aneh dikaitkan dengan posisi sosialnya, misalnya bertingkah seperti anak muda pada hal ia seorang tua yang seharusnya tidak berlaku demikian. Atau ia menunjukkan kelucuan-kelucuan melalui gerakan-gerakan fisiknya yang janggal, yang sama sekali ‘tidak pas’ karena posisinya yang seharusnya menjauhkannya dari tingkah seperti itu.
  13. Tindakan atau pernyataanya sulit diduga, apa yang diucapkannya hari ini tentang sesuatu hal bisa sangat berbeda dengan apa yang dinyatakannya pada kesempatan lain. Singkatnya, inkonsistensinya sangat kental. Apabila ia seorang yang memiliki posisi pengambil keputusan, ia bisa secara tiba-tiba membuat keputusan yang mengejutkan semua pihak, karena mereka tidak siap menerima kenyataan itu.
  14. Hal yang dikemukakan pada butir (13) bisa terjadi berulang-ulang sehingga dapat juga disimpulkan bahwa ia tidak pernah belajar dari masa pengalaman lalu.
  15. Suka berbohong atau menjawab pertanyaan secara ngawur atau di luar konteks. Anehnya, orang yang berada di bawah pengaruh ‘daya irasional’ tidak menyadari hal ini (atau tidak ‘membesar-bearkan’ hal ini) sehingga tidak menganggapnya sebagai masalah.
  16. Tidak ragu-ragu untuk menyebut nama Tuhan atau bersumpah untuk menutupi kebohongannya. Hal ini dilakukannya dengan sangat meyakinkan. Ia juga sangat lihai mengemukakan argumen-argumen pemberlaan diri agar bisa lepas dari berbagai ‘dakwaan’ atau ‘tuduhan’ yang dituduhkan kepadanya, meskipun hal itu benar-benar dilakukannya. Kelihaian ini seringkali membuat frustrasi pihak yang ingin mencari kebenaran.
  17. Sangat keras kepala (bukan keras pendirian, karena ternyata ia inkonsisten), tidak mau menerima pendapat orang lain, baik nasehat, apalagi kritik.
  18. Bila berbicara di depan umum, terutama di depan para penyanjungnya (baca: orang-orang yang berada di bawah pengaruh daya irasionalnya), penampilannya sangat memukau, mengundang banyak pujian dan tepuk tangan yang seakan tiada habis-habisnya. Tetapi pada saat yang sama, orang lain yang di luar jangkauan energi gaibnya, apalagi musuhnya, menyaksikaannya dengan pandangan yang sangat berlawanan: membencinya.
  19. Tidak jarang mengeluarkan gagasan yang tak masuk akal (irasional), sehingga memang tidak jarang menjadi kontroversi. Misalnya ia membuat gagasan yang menurut perhitungan orang lain tak mungkin dapat direalisasikannya. Misalnya, bila ia orang desa terpencil, bisa saja ia menggagas masuknya listrik di desanya, pada hal ia bukan kepala desa, dan juga tidak punya kaitan apa-apa dengan masalah itu. Atau ia membuat usaha yang ‘aneh’ menurut pandangan orang lain, misalnya membikin pabrik kopi di daerah yang tak memiliki lahan kopi. Penulis pernah bertemu dengan seseorang yang menggagas pembelian seekor kuda sebagai pengangkut bahan makanan ternak dari suatu tempat yang cukup jauh dari lokasi peternakannya. Setelah melalui diskusi yang sangat ramah, akhirnya terungkap bahwa harga seekor kuda jauh melebihi keuntungannya selama setahun dari peternakan itu, juga jauh lebih mahal daripada biaya pembukaan lahan di lokasi peternakan itu. Di tingkat nasional misalnya, gagasan pembentukan pakta pertahanan negara-negara kecil untuk “menghadang” sebuah negara adidaya termasuk ke dalam ciri-ciri irasional seperti ini.
  20. Secara implisit atau eksplisit selalu membicarakan atau memuji kehebatan atau prestasi diri sendiri dan terkadang di luar kewajaran sehingga pendengarnya (yang berada di luar pengaruh medan energi irasionalnya) risih mendengarnya. Misalnya, seorang kepala desa yang baru menghadap seorang camat menceritakan bagaimana ia diterima dengan sangat istimewa di kantor camat, jauh melebihi penyambutan yang diberikan camat tersebut kepada kepala-kepala desa lain. Hal ini disertai dengan cerita yang lebih banyak bumbunya dari pada ‘isinya’.
  21. Terkadang mengeluarkan pernyataan yang melawan ‘kodrat’ seperti: ‘tak mungkin salah, semua telah diperhitungkan secara cermat …’, ‘hanya Tuhan yang dapat menggagalkan rencana ini …’, ‘hal ini pasti akan terlaksana …’. Untuk mendukung sebuah rencananya, yang tak rasional menurut orang lain sehingga mendapat tantangan hebat, tidak jarang ia menghadirkan pembenaran ‘ilahi’ seperti: ‘hal ini telah diperlihatkan lewat mimpi kepada saya …, jadi tak mungkin gagal …” dan sebagainya.
  22. Suaranya berwibawa, dalam atau keras, lantang dan sangat tajam, bahkan tidak jarang ‘menusuk’ pendengarnya. Hal ini akan sangat kentara pada saat yang bersangkutan berpidato, berkhotbah atau menyampaikan gagasan dalam pertemuan formal, sementara di waktu-waktu biasa, suaranya kembali ‘normal’.
  23. Kalangan yang berada di bawah pengaruh ‘daya gaibnya’ sangat fanatik, tidak segan-segan berkorban secara materi, mengorbankan diri atau bahkan menjadi penjahat sekalipun untuk membela dan ‘menjaga’ nama baiknya. Di pihak lain, musuh-musuhnya (yang teprovokasi oleh ‘daya gaibnya’) sangat membencinya.
  24. Ketika ‘daya gaibnya’ menghilang baik untuk sementara (lihat butir 7) atau secara permanen karena paksaan dari pihak luar (musuh), ia kelihatan amat gelisah, takut, kuatir, uring-uringan.
  25. Ia cemburu akan prestasi orang lain. Apabila di depannya diungkapkan prestasi seseorang, ia akan mudah bereaksi untuk ‘mengecilkannya’ atau langsung pergi. Hal ini berkaitan dengan sifatnya ingin menjadi yang terhebat, tak tersaingi, tak tertandingi.
  26. Ia suka mengumbar konfrontasi dengan orang atau kelompok lain di depan umum, sehingga musuh-musuhnya semakin benci kepadanya, tetapi sekaligus mengetahui segala kelemahannya. Inilah awal dari kejatuhannya.

Perlu kiranya ditekankan bahwa tidak semua ciri-ciri di atas dimiliki oleh seorang yang terpapar dengan daya-daya gaib itu. Perubahan penampilan fisik sebagaimana disajikan pada butir (7) di atas merupakan ciri penting dari pemilik daya irasional. Apabila Anda berhasil menyaksikan ciri khas ini, maka hampir dapat dipastikan orang yang Anda amati memiliki daya irasional. Begitu Anda telah yakin dengan hal ini, Anda bisa mengamati munculnya sejumlah ciri-ciri lain sebagaimana dikemukakan di atas. Pengamatan dapat dilakukan secara langsung (secara diam-diam) atau secara tak langsung (misalnya terhadap pejabat yang muncul di layar televisi). Cara terakhir ini memakan waktu relatif lebih lama, sampai Anda yakin bahwa Anda pernah menyaksikan perubahan penampilan fisiknya.

Secara umum dapat diakatakan bahwa kehadiran daya gaib itu membawa seseorang kepada ekstrim dari sifat-sifatnya. Apabila seseorang misalnya memang bersifat ceria, maka kehadiran daya gaib itu akan mengaugmentasikan sifat ceria itu. Seseorang yang memang pintar berbicara di depan umum, akan semakin lincah berbicara di depan umum. Sebaliknya, seseorang yang tadinya berkarakter pendiam, akan semakin menjadi pendiam.

Kemampuan kita mengamati ciri-ciri di atas menjadi modal utama kita untuk menghadapi orang yang memiliki daya irasional itu. (Akan dibahas dalam tulisan lain).

E. Halawa

Sumber: Situs Nias Portal, 24 Juli 2004

Facebook Comments