Hak Paten Atas DNA Milik Siapa ?

Monday, June 25, 2007
By nias

Oleh: M. J. Daeli

Kesediaan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht untuk wawancara dengan Redaksi Situs Yaahowu patut disambut gembira dan dihargai. Memang penelitian yang dilakukan oleh Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht “dalam upaya menelusuri asal usul orang Nias dan penyebarannya berdasarkan penelitian genotip (penelitian sampel DNA atau deoxiribonucleic acid ) dan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan”, masih mengandung beberapa pertanyaan seperti yang tersurat maupun yang tersirat dari komentar teman-teman penanggap.

Misalnya: mengenai legalitas melakukan penelitian serta dampak yang terkait dengannya, metode penelitian, dan pemilihan sample penelitian. Menurut saya, pada kesempatan wawancara kali ini, adalah baik apabila Redaksi mengingatkan kembali pada hal-hal itu.

Sedangkan mengenai hasil penelitian yang sampai sekarang belum kita ketahui, meskipun waktu penelitian sudah hampir 5 tahun (mulai September 2002), mungkin terkait dengan pembiayaan. Kata para ahli peneliti di bidang DNA, dengan menggunakan teknik PCR (polymerase chain reaction) atau reaksi rantai polimerase oleh Kary B. Mullis, proses fotokopi DNA hanya memerlukan waktu beberapa jam.

Artinya: Masalah utama dalam analisis gen, untuk mendapatkan molekul DNA spesifik yang menjadi target, dalam jumlah yang memadai untuk dideteksi atau dikuantisasi, atau untuk memperbanyak (memfotokopi) molekul DNA (sebelum ditemukannya PCR), para peneliti harus menunggu hasil kloning selama berhari-hari. Sekarang dengan teknik PCR hanya memerlukan waktu dalam beberapa jam. Jadi dengan waktu yang relatif panjang itu, kita percaya bahwa hasil penelitian telah ada.

Yang tidak kurang penting dalam hubungan penelitian DNA suku Nias ini adalah mengenai hak paten atas hasil yang diperoleh. Seperti kita ketahui, gen adalah rangkaian DNA yang mengkode protein, penunjang segala proses kehidupan dalam tubuh. Untuk itu genom yang merupakan kumpulan seluruh gen sering disebut sebagai blue print tubuh kita. Dengan demikian, seluruh jaringan tubuh kita sampai dengan sel termasuk di dalamnya adalah seluruh isi sel, DNA, dan sebagainya adalah milik kita. Akan tetapi, asumsi sederhana ini mungkin sudah tidak cocok lagi di zaman kemajuan bioteknologi, dengan kemampuan mengutak-atik DNA-nya, bertemu dengan industri yang bertujuan mencari keuntungan.

Kemajuan teknologi dalam pembacaan genom, telah mempersengit pertarungan di bidang bioteknologi dan diramalkan bakal menjadi “new economy” setelah teknologi informatika. Ini bukan hanya isapan jempol belaka. Mengenai hal ini, beberapa peristiwa dibawah baik untuk disimak.

Sampai sekarang negara kita bergumul dengan penyakit “flu burung”. Pada tanggal 16 Februari 2007 terjadi perdebatan antara Dr David Haymann dari WHO dengan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. WHO minta agar Indonesia segera mengirim virus flu burung yang dikenal virus H5NI ke WHO. Menteri Kesehatan menolak karena merasa mekanisme WHO tidak adil. Alasan Menteri Kesehatan adalah: virus flu burung strain Indonesia yang dikirim ke laboratorium WHO sejak 2005 telah dikembangkan menjadi vaksin di Australia pada awal Februari 2007. Australia menjelaskan bahwa, virus didapat dari WHO. Oleh Menteri Kesehatan menegaskan bahwa pembuatan vaksin itu di luar pengetahuan Indonesia. Indonesia mengirim virus H5NI ke WHO untuk kepentingan kemanusiaan, tetapi oleh Australia dijadikan lahan komersial. Jelas tidak adil. Cara WHO seperti itu harus diakhiri.

Peristiwa lain terjadi di pulau Tristan da Cunha, kepunyaan Inggris yang terletak di tengah Samudera Atlantik, yang 1/10 penduduknya (jumlah penduduknya 248 orang) menderita penyakit pernapasan asma. Hampir 10 kali lebih besar dari rata-rata jumlah penderita asma di kota metropolitan yang tingkat polusi udaranya tinggi. Hal ini mendorong tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Toronto University di Kanada yang dipimpin oleh Professor Noe Zamel untuk melakukan penelitian di Pulau Tristan tahun 1992. Mereka berhasil menemukan gen yang menyebabkan penyakit asma di kromosom nomor 17 dan disebut asth1.

Toronto University mengalihkan kepemilikan hak paten itu pada perusahaan bioteknologi Amerika, Axys Pharmaceuticals, yang memberikan dana penelitian tak kurang dari 20 juta dollar AS. Paten atas gen ini diperoleh di Amerika pada tanggal 11 Juli 2000 dengan judul Asthma Related Genes.

Selanjutnya Axys berhasil menjual lisensi penggunaan paten itu kepada perusahaan farmasi multinasional yang berbasis di Jerman, Boehringer Ingelheim, sebesar 32 juta dollar untuk pengembangan obat dan hak untuk mendapatkan tambahan 32 juta dollar lagi bila obat itu berhasil dipasarkan.

Masalah kemudian timbul ketika terungkap bahwa penduduk pulau Tristan tidak mendapatkan pemberitahuan sama sekali mengenai tujuan dan kemungkinan aspek bisnis penelitian itu, kecuali sekadar pemeriksaan kesehatan. Jadi dari genom penduduk Tristan da Cunha telah lahir bisnis jutaan dollar. Diakui oleh mantan Wakil Presiden Axys, Jeff Hall, para investor yang memberikan dana untuk jalannya bisnis perusahaan ini tidak peduli dengan apa bentuk penelitian, kecuali bagaimana mendapatkan keuntungan.

Kisah berikutnya terjadi pada Suku Guaymi salah satu suku Indian yang tinggal di pedalaman hutan Panama sejak terusir oleh penjajah Spanyol abad ke-15. Dengan dalih pemeriksaan kesehatan, lembaga penelitian Pemerintah Amerika Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mendatangi suku ini dan mengambi darah. Ternyata, dari hasil penelitian diketahui suku ini tahan terdapat satu jenis penyakit sel darah putih yang disebabkan oleh virus bernama HTLV. Dan dengan meneliti genom suku terisolir ini bisa ditemukan gen yang menyebabkan kekebalan tubuh itu.

Sama dengan dengan penduduk Tristan, suku Guaymi tidak mendapatkan penjelasan lebih dari dalih pemeriksaan kesehatan itu. Kemudian tahun 1993, sebuah LSM Kanada menemukan data bahwa Departemen Keuangan Amerika sedang mengajukan paten berkenaan dengan hasil penelitian tersebut. Menurut Profesor Michael Lairmore di Ohio State University, salah satu anggota tim, pemerintah berusaha mendapatkan paten agar bisa mendapatkan keuntungan dari penjualan lisensi, pajak, dan sebagainya yang pada akhirnya dikembalikan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Tetapi yang jelas bukan rakyat Guaymi. Berkat tuntutan suku Guaymi, pengajuan paten yang kontroversial itu akhirnya ditarik kembali oleh Departemen Keuangan Amerika.

Peristiwa lain terjadi di Amerika, negara maju puncak bioteknologi di mana kesadaran hukum masyarakat tinggi. Di antara bangsa Yahudi keturunan Eropa, diketahui banyak yang menderita penyakit canavan, yaitu penyakit keturunan yang disebabkan oleh kelainan otak sehingga otak penderita menjadi berlubang-lubang seperti spon.

Tahun 1987 keluarga penderita penyakit itu melakukan penelitian yang dipimpin ahli otak terkemuka di Amerika, Profesor Reuben Matalon. Tujuh tahun kemudian, berhasil ditemukan gen yang menyebabkan penyakit canavan, yaitu kelainan pada gen aspartoacylase. Berkat penemuan itu, dimungkinkan deteksi dini penyakit ini bahkan sejak dalam kandungan.

Masalah timbul ketika tanpa sepengetahuan para keluarga penderita, penemuan ini dipatenkan tahun 1997 oleh Miami’s Children Hospital Research Institute yang telah mengeluarkan dana penelitian. Sejak itu, pemilik paten memungut uang untuk setiap tes penyakit ini. Walaupun pihak pemilik paten tidak mengakui tindakan ini bermotif bisnis, karena tes semacam ini hanya dilakukan orang sekali seumur hidup, tapi para keluarga pasien merasa telah dikhianati niat baiknya.

Sehubungan dengan penelitian DNA/gen suku Nias “dalam upaya menelusuri asal usul orang Nias dan penyebarannya berdasarkan penelitian genotip (penelitian sampel DNA atau deoxiribonucleic acid) dan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan” oleh Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht, kita percaya bahwa tidak terjadi seperti pada peristiwa yang diceritakan diatas.

Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht mengatakan (dalam wawancara dengan Nias Portal) bahwa “…direncanakan untuk menyerahkan segala hasil penyelidikan ini nantinya kepada Yayasan Pusaka Nias. Hal yang sama berlaku juga untuk hasil penelitian tentang penyakit bawaan. Data-data ini akan dikomunikasikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias”.

Namun, meskipun demikian, perlu kejelasan dan penegasan bahwa hasil penelitian (kalau sudah ada) pemanfaatannya untuk suku Nias khususnya, bangsa Indonesia, dan kemanusiaan.
Semoga bermanfaat.

Yaahowu

Tags: ,

4 Responses to “Hak Paten Atas DNA Milik Siapa ?”

  1. 1
    Noniawati Telaumbanua Says:

    Ya’ahowu Amagu M.J. Daeli,
    Ya’ahowu fefu,

    terima kasih untuk artikel di atas, sesuatu yang memang mengusik pemikiran ketika mengetahui adanya penelitian ini.
    Belakangan ini banyak sekali sikap kritis yang ditujukan pada penelitian-penelitian, termasuk penelitian yang telah dilakukan pada jaman dahulu kala, dimana banyak penelitian yang bersifat mengekspos bahkan mengeksploitasi atau “mengangkut habis-habisan” melalui berbagai transaksi yang tidak diketahui atau tidak disadari oleh penduduk asli (obyek penelitian).
    Moralitas penelitian marak dikibarkan, tentu saja oleh pihak yang menyadari kerugian akibat sikap tidak etis para peneliti. Pertanyaan seperti:apakah daerah penelitian berikut manusia di dalamnya adalah subyek atau obyek peneliti? Apakah hasil penelitian ini akan dikembalikan ke tempat asal atau dipatenkan untuk kepentingan pribadi? Dan berbagai pertanyaan yang mengusik titik hak azasi manusia.
    Disinilah letaknya rasa sensitif sebuah penelitian.

    Saya mengunjungi sebuah studi Asia yang dilakukan oleh seorang profesor ternama di Jerman. Beliau ini telah berpuluh tahun belajar mengenai Cina. Karena begitu menguasai ilmu ini, beliau bahkan telah mempatenkan beberapa kaligrafi bahasa Cina. Luarbiasa! Namun, di sisi lain ini menggelikan.

    Demikian pula sikap salut saya sampaikan pada Prof. Ingo Kennerknecht, dimana dalam satu percakapan dia mengakui bahwa penelitian ini berbiaya tinggi. Bagaimana pun Tanö Niha dan Ono Niha juga menjadi semakin terkenal dengan karya-karyanya, kelak apabila penelitian ini telah memberikan hasil yang diharapkan. Terlepas dari benar-tidaknya “masalah” berbiaya tinggi, penting sekali Ono Niha untuk memiliki posisi tawar, dimana tentunya dan sudah selayaknya peneliti-peneliti muda dari Tanö Niha dilibatkan dalam program atau proyek semacam ini. Selama Ono Niha tidak turut berkecimpung di situ, selama itu juga Ono Niha tidak akan pernah dihargai dan menunjukkan kompetensinya.
    Masyarakat di negara maju saja malah tidak suka dijadikan obyek penelitian oleh pelajar atau mahasiswa asing.

    Sebagai masukan khusus bagi generasi muda Ono Niha, Anda tidak dapat berbuat apa-apa apabila Anda tidak menguasai bahasa asing apa pun. Dengan mengenal bahasa asing, terutama bahasa Jerman (karena kaitan sejarah), itu berarti Anda mengenal watak dan karakter sebuah bangsa. Bangsa Eropa tidak segan-segan melakukannya dan mau berburu sampai ke ujung dunia mana pun untuk mendapat pengetahuan.
    Hal ini juga tidak untuk memprovokasi Ono Niha, tetapi sebagai “cubitan” kecil untuk kritis tetapi mau ambil sikap untuk belajar mencapai pengetahuan dan berbesar hati untuk berdamai dengan sejarah yang sudah terlanjur (hampir sebagian besar) tidak diketahui oleh generasi muda Ono Niha sejak kelahiran 70-an dan segera mengambil sikap untuk menghargai jati diri Ono Niha.
    Tidak ada kata terlambat untuk mulai mengenal jatidiri Ono Niha. Rahasia asal-usul kita hanyalah kita sendiri yang mengetahui dan di dalam diri kita sendiri sudah ada jawabannya. Hanya Ono Niha sendiri yang masih belum mau membuka tabir penghalang itu.
    Berbesar hati dengan apa yang sudah dicapai orang lain untuk menilai diri kita, tidak berarti menyurutkan keinginan Ono Niha untuk berpacu mengejar ketertinggalan.

    Semoga melalui tulisan Bapak M.J. Daeli di atas memberi semangat lebih besar lagi bagi generasi muda Ono Niha untuk berkecimpung di berbagai bidang ilmu pengetahuan jauh lebih luas lagi.

    Salam dari Karlsruhe,
    Noniawati Telaumbanua

  2. 2
    Saro Z Says:

    Menarik sekali tulisan Pak M.J. Daeli tentang hak paten atas (penelitian) DNA di Nias. Agaknya, bila aspek legalitas penelitian DNA ini tidak dipatuhi, maka “hak paten”-nya kelak menjadi sebuah “bola liar”. Karena, tidak sesuai dengan Prinsip Dasar dalam Kerjasama Penelitian. Mari kita cermati informasi di bawah ini.

    Dalam artikel “Aspek-aspek Hak Kekayaan Intelektal dalam Penyusunan Perjanjian Penelitian dengan Pihak Asing di Bidang Biologi”, M. Ahkam Subroto dan Suprapedi menulis tentang ”empat prinsip dasar dalam kerjasama penelitian”. Salah satu prinsip (yaitu prinsip keempat) adalah: ”akses ke sumberdaya genetik Indonesia harus mendapatkan izin tertulis terlebih dahulu dari Kepala LIPI”. (sumber: http://www.jaist.ac.jp/~witarto/paper/peneliti_asing.pdf.)

    Prinsip keempat itu memuat sepuluh butir perjanjian penelitian. Butir yang ketujuh adalah tentang Kekayaan Intelektual. Butir ini menjadi isu yang sangat penting karena menyangkut konsekuensi ekonomi bila hasil penelitian dalam kerjasama tersebut berhasil dikomersialkan. Hal-hal yang perlu dicermati antara lain mengenai bentuk-bentuk kekayaan intelektual apa saja yang mungkin dihasilkan, bagaimana bentuk kepemilikannya (kepemilikan bersama, tunggal dll.), bagaimana sistem pembagian royaltinya dan pihak mana yang akan menanggung biaya pendaftarannya. Kepemilikan KI ini sangat terkait dengan kontribusi dari masing-masing pihak dalam kerjasama penelitian tersebut dan sumber pendanaannya.

    Di bagian lain dari artikel tersebut ditulistentang ”Aspek Kepemilikan Kekayaan Intelektual” (kutipan langsung di bawah ini):

    Seluruh hasil penelitian yang akan diperoleh merupakan kekayaan intelektual yang sebagian mempunyai potensi komersial. Di bidang biologi bentuk kekayaan intelektual sangat beragam, mencakup semua bentuk materi maupun informasi yang diperoleh dalam penelitian. Tercakup di dalamnya adalah: paten, aplikasi paten, sertifikat PVT, hak cipta, dan semua invensi, perbaikan suatu proses, temuan yang dapat dilindungi oleh hukum formal maupun tidak, termasuk di dalamnya adalah seluruh know-how, rahasia dagang, rencana dan prioritas penelitian, hasil-hasil penelitian dan laporan, model komputer dan simulasi terkait, plasma nutfah, kultur, galur sel, tanaman, bagian tanaman, biji, polen, protein, peptida, senyawa metabolit, sekuens DNA dan RNA, gen, probe, plasmid dan informasi yang berkaitan dengan itu. Aspek kepemilikan KI ini dalam surat perjanjian penelitian perlu untuk dijabarkan secara rinci didasarkan atas kontribusi dari masing-masing pihak yang bekerjasama dengan pedoman umum sebagai berikut:

    Kekayaan intelektual mencakup semua bentuk materi maupun informasi yang diperoleh dalam penelitian, baik yang dapat dilindungi melalui hukum formal (paten, PVT, rahasia dagang, hak cipta, merek) maupun yang tidak dapat dilindungi oleh hukum formal (know-how, informasi rahasia, dan lain-lain).

    • Bila invensi baru dalam penelitian tersebut dihasilkan melalui kontribusi dari kedua belah pihak, maka kedua belah pihak harus sepakat sebagai pemilik bersama KI tersebut, sedangkan para peneliti yang terlibat sebagai inventornya. Bila dalam KI yang baru tersebut terdapat KI lainnya yang berasal dari salah satu pihak (yang digunakan sebagai prior art), maka KI tersebut tetap menjadi milik pihak yang bersangkutan.

    • Bila invensi baru dalam penelitian tersebut dihasilkan melalui kontribusi dari hanya salah satu pihak, maka KI tersebut menjadi milik pihak yang bersangkutan. Bila pihak yang lain ingin menggunakan invensi tersebut, maka pihak tersebut dapat diberikan hak lisensi dengan membayar sejumlah royalti untuk membuat, menggunakan atau menjual invensi tersebut, namun tidak boleh melisensikannya ke pihak ketiga.

    • Dalam kaitannya dengan kepemilikan KI dari materi yang dihasilkan dalam penelitian yang dikembangkan dari plasma nutfah asal Indonesia (misalnya varietas, hibrida, kultivar dan galur, termasuk seluruh materi propagasi), maka hak kepemilikan dari materi tersebut tetap berada di pihak Indonesia. Sedangkan pihak luar negeri mempunyai hak kepemilikan KI yang terkandung di dalam materi tersebut sesuai dengan kontribusinya dalam pengembangan materi tersebut (bila ada). Komersialisasi dari materi hasil pengembangan tersebut harus dilakukan melalui negosiasi antara pihak Indonesia sebagai pemilik plasma nutfah dengan pihak luar negeri sebagai pemilik KI dalam pengembangan materi tersebut.

    Demikianlah tentang kepemilikan KI ini Pak Daeli. Akan halnya niat ”direncanakan untuk menyerahkan segala hasil hasil penyelidikan ini nantinya kepada Yayasan Pusaka Nias”, sejauh aspek legalitas belum berjalan, belumlah dapat dijamin bahwa yang diserahkan itu adalah kepemilikan KI. Seperti ilustrasi Pak Daeli di atas, kita tampaknya harus belajar banyak pada sikap Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang tegas itu.

  3. 3
    Redaksi Says:

    Beberapa minggu lalu, Redaksi telah mengirim 9 pertanyaan kepada Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht dalam rangka wawancara lanjutan tentang projek “DNA Nias”. Mari kita menunggu jawaban beliau.

    Redaksi

  4. 4
    andraha Says:

    Kita-kita masih terus setia menyimak tentang proses proyek penelitian “DNA Nias” ini (dari aspek material, manajemen riset, legal, KI, etik medik, dll), dan menunggu dengan sabar lanjutan wawancara dengan Prof. Dr.med. Ingo Kennerknecht. Semoga lancar-lancar ajah…!

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

June 2007
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930