Oleh: M. J. Daeli

Kesediaan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht untuk wawancara dengan Redaksi Situs Yaahowu patut disambut gembira dan dihargai. Memang penelitian yang dilakukan oleh Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht “dalam upaya menelusuri asal usul orang Nias dan penyebarannya berdasarkan penelitian genotip (penelitian sampel DNA atau deoxiribonucleic acid ) dan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan”, masih mengandung beberapa pertanyaan seperti yang tersurat maupun yang tersirat dari komentar teman-teman penanggap.

Misalnya: mengenai legalitas melakukan penelitian serta dampak yang terkait dengannya, metode penelitian, dan pemilihan sample penelitian. Menurut saya, pada kesempatan wawancara kali ini, adalah baik apabila Redaksi mengingatkan kembali pada hal-hal itu.

Sedangkan mengenai hasil penelitian yang sampai sekarang belum kita ketahui, meskipun waktu penelitian sudah hampir 5 tahun (mulai September 2002), mungkin terkait dengan pembiayaan. Kata para ahli peneliti di bidang DNA, dengan menggunakan teknik PCR (polymerase chain reaction) atau reaksi rantai polimerase oleh Kary B. Mullis, proses fotokopi DNA hanya memerlukan waktu beberapa jam.

Artinya: Masalah utama dalam analisis gen, untuk mendapatkan molekul DNA spesifik yang menjadi target, dalam jumlah yang memadai untuk dideteksi atau dikuantisasi, atau untuk memperbanyak (memfotokopi) molekul DNA (sebelum ditemukannya PCR), para peneliti harus menunggu hasil kloning selama berhari-hari. Sekarang dengan teknik PCR hanya memerlukan waktu dalam beberapa jam. Jadi dengan waktu yang relatif panjang itu, kita percaya bahwa hasil penelitian telah ada.

Yang tidak kurang penting dalam hubungan penelitian DNA suku Nias ini adalah mengenai hak paten atas hasil yang diperoleh. Seperti kita ketahui, gen adalah rangkaian DNA yang mengkode protein, penunjang segala proses kehidupan dalam tubuh. Untuk itu genom yang merupakan kumpulan seluruh gen sering disebut sebagai blue print tubuh kita. Dengan demikian, seluruh jaringan tubuh kita sampai dengan sel termasuk di dalamnya adalah seluruh isi sel, DNA, dan sebagainya adalah milik kita. Akan tetapi, asumsi sederhana ini mungkin sudah tidak cocok lagi di zaman kemajuan bioteknologi, dengan kemampuan mengutak-atik DNA-nya, bertemu dengan industri yang bertujuan mencari keuntungan.

Kemajuan teknologi dalam pembacaan genom, telah mempersengit pertarungan di bidang bioteknologi dan diramalkan bakal menjadi “new economy” setelah teknologi informatika. Ini bukan hanya isapan jempol belaka. Mengenai hal ini, beberapa peristiwa dibawah baik untuk disimak.

Sampai sekarang negara kita bergumul dengan penyakit “flu burung”. Pada tanggal 16 Februari 2007 terjadi perdebatan antara Dr David Haymann dari WHO dengan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. WHO minta agar Indonesia segera mengirim virus flu burung yang dikenal virus H5NI ke WHO. Menteri Kesehatan menolak karena merasa mekanisme WHO tidak adil. Alasan Menteri Kesehatan adalah: virus flu burung strain Indonesia yang dikirim ke laboratorium WHO sejak 2005 telah dikembangkan menjadi vaksin di Australia pada awal Februari 2007. Australia menjelaskan bahwa, virus didapat dari WHO. Oleh Menteri Kesehatan menegaskan bahwa pembuatan vaksin itu di luar pengetahuan Indonesia. Indonesia mengirim virus H5NI ke WHO untuk kepentingan kemanusiaan, tetapi oleh Australia dijadikan lahan komersial. Jelas tidak adil. Cara WHO seperti itu harus diakhiri.

Peristiwa lain terjadi di pulau Tristan da Cunha, kepunyaan Inggris yang terletak di tengah Samudera Atlantik, yang 1/10 penduduknya (jumlah penduduknya 248 orang) menderita penyakit pernapasan asma. Hampir 10 kali lebih besar dari rata-rata jumlah penderita asma di kota metropolitan yang tingkat polusi udaranya tinggi. Hal ini mendorong tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Toronto University di Kanada yang dipimpin oleh Professor Noe Zamel untuk melakukan penelitian di Pulau Tristan tahun 1992. Mereka berhasil menemukan gen yang menyebabkan penyakit asma di kromosom nomor 17 dan disebut asth1.

Toronto University mengalihkan kepemilikan hak paten itu pada perusahaan bioteknologi Amerika, Axys Pharmaceuticals, yang memberikan dana penelitian tak kurang dari 20 juta dollar AS. Paten atas gen ini diperoleh di Amerika pada tanggal 11 Juli 2000 dengan judul Asthma Related Genes.

Selanjutnya Axys berhasil menjual lisensi penggunaan paten itu kepada perusahaan farmasi multinasional yang berbasis di Jerman, Boehringer Ingelheim, sebesar 32 juta dollar untuk pengembangan obat dan hak untuk mendapatkan tambahan 32 juta dollar lagi bila obat itu berhasil dipasarkan.

Masalah kemudian timbul ketika terungkap bahwa penduduk pulau Tristan tidak mendapatkan pemberitahuan sama sekali mengenai tujuan dan kemungkinan aspek bisnis penelitian itu, kecuali sekadar pemeriksaan kesehatan. Jadi dari genom penduduk Tristan da Cunha telah lahir bisnis jutaan dollar. Diakui oleh mantan Wakil Presiden Axys, Jeff Hall, para investor yang memberikan dana untuk jalannya bisnis perusahaan ini tidak peduli dengan apa bentuk penelitian, kecuali bagaimana mendapatkan keuntungan.

Kisah berikutnya terjadi pada Suku Guaymi salah satu suku Indian yang tinggal di pedalaman hutan Panama sejak terusir oleh penjajah Spanyol abad ke-15. Dengan dalih pemeriksaan kesehatan, lembaga penelitian Pemerintah Amerika Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mendatangi suku ini dan mengambi darah. Ternyata, dari hasil penelitian diketahui suku ini tahan terdapat satu jenis penyakit sel darah putih yang disebabkan oleh virus bernama HTLV. Dan dengan meneliti genom suku terisolir ini bisa ditemukan gen yang menyebabkan kekebalan tubuh itu.

Sama dengan dengan penduduk Tristan, suku Guaymi tidak mendapatkan penjelasan lebih dari dalih pemeriksaan kesehatan itu. Kemudian tahun 1993, sebuah LSM Kanada menemukan data bahwa Departemen Keuangan Amerika sedang mengajukan paten berkenaan dengan hasil penelitian tersebut. Menurut Profesor Michael Lairmore di Ohio State University, salah satu anggota tim, pemerintah berusaha mendapatkan paten agar bisa mendapatkan keuntungan dari penjualan lisensi, pajak, dan sebagainya yang pada akhirnya dikembalikan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Tetapi yang jelas bukan rakyat Guaymi. Berkat tuntutan suku Guaymi, pengajuan paten yang kontroversial itu akhirnya ditarik kembali oleh Departemen Keuangan Amerika.

Peristiwa lain terjadi di Amerika, negara maju puncak bioteknologi di mana kesadaran hukum masyarakat tinggi. Di antara bangsa Yahudi keturunan Eropa, diketahui banyak yang menderita penyakit canavan, yaitu penyakit keturunan yang disebabkan oleh kelainan otak sehingga otak penderita menjadi berlubang-lubang seperti spon.

Tahun 1987 keluarga penderita penyakit itu melakukan penelitian yang dipimpin ahli otak terkemuka di Amerika, Profesor Reuben Matalon. Tujuh tahun kemudian, berhasil ditemukan gen yang menyebabkan penyakit canavan, yaitu kelainan pada gen aspartoacylase. Berkat penemuan itu, dimungkinkan deteksi dini penyakit ini bahkan sejak dalam kandungan.

Masalah timbul ketika tanpa sepengetahuan para keluarga penderita, penemuan ini dipatenkan tahun 1997 oleh Miami’s Children Hospital Research Institute yang telah mengeluarkan dana penelitian. Sejak itu, pemilik paten memungut uang untuk setiap tes penyakit ini. Walaupun pihak pemilik paten tidak mengakui tindakan ini bermotif bisnis, karena tes semacam ini hanya dilakukan orang sekali seumur hidup, tapi para keluarga pasien merasa telah dikhianati niat baiknya.

Sehubungan dengan penelitian DNA/gen suku Nias “dalam upaya menelusuri asal usul orang Nias dan penyebarannya berdasarkan penelitian genotip (penelitian sampel DNA atau deoxiribonucleic acid) dan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan” oleh Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht, kita percaya bahwa tidak terjadi seperti pada peristiwa yang diceritakan diatas.

Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht mengatakan (dalam wawancara dengan Nias Portal) bahwa “…direncanakan untuk menyerahkan segala hasil penyelidikan ini nantinya kepada Yayasan Pusaka Nias. Hal yang sama berlaku juga untuk hasil penelitian tentang penyakit bawaan. Data-data ini akan dikomunikasikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias”.

Namun, meskipun demikian, perlu kejelasan dan penegasan bahwa hasil penelitian (kalau sudah ada) pemanfaatannya untuk suku Nias khususnya, bangsa Indonesia, dan kemanusiaan.
Semoga bermanfaat.

Yaahowu

Facebook Comments