Tidak Ada (Seorangpun) Yang Benar

Saturday, June 23, 2007
By nias

Oleh: Tety Telaumbanua

Mudah sekali untuk menunjukkan bahwa seseorang sudah bersalah. Bahkan sesudah waktu berlalu dan orang itu telah berubah; kita masih tetap mengingat kesalahannya. Tetapi bagaimana dengan diri kita sendiri? Saya melihat hal ini sebagai satu kenyataan dalam kehidupan kita sebagai orang Nias. Latar belakang dan pola pendidikan / pengasuhan membuat kita membuat jarak dengan orang lain; dan seringkali merasa lebih benar, lebih baik, lebih berharga, dan sebagainya. Saya tidak sedang mengajar/menghakimi kita. Saya sendiri sebagai ornag Nias menyadari hal ini dalam diri saya; dan bersyukur untuk pengalaman hidup yang Tuhan ijinkan saya alami.

Apakah ada seorang pun di antara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan? Yang benar sepanjang hidupnya? Apakah saya salah seorang di muka bumi ini yang sangat baik; sehingga sangat layak untuk menjadi anak Tuhan; bahkan mungkin Tuhan ’rugi/nyesel’ kalau tidak memiliki anak seperti saya???

Untuk menjawab hal ini; saya mengajak kita untuk melihat pernyataan Alkitab tentang kehidupan kita sebelum bertemu Yesus. Bagian ini merupakan lanjutan dari renungan sebelumnya ’pertemuan pertama’.

Perhatikan :

a. Yesaya 53:6
Isa 53:6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Teologi ‘domba’. Setelah belajar bagian ini, saya cukup senang dengan domba, termasuk lihat boneka domba. Suka tersenyum melihat ‘gambaran diri’.

Domba: binatang yang lemah. Lucu, tetapi ternyata cukup menyebalkan. Domba tidak sama dengan kambing. Kambing lebih ‘mandiri’. Domba di Negara manapun, saya sudah tanyakan kepada para peternak di Majalaya (Jawa Barat) dan bandingkan dengan kisah di Alkitab dan para peternak di negara-negara lain. Hasilnya domba dimana-mana sama ‘sifatnya’.

Yang pertama, domba tidak dapat mencari makan sendiri. Domba tidak tau/tidak memilih makanan yang tepat untuknya. Artinya seandainya pun dia sudah ada di dekat rumput yang benar, bisa saja dia tidak makan karena tidak tau…akibatnya bisa kelaparan, sakit dan mati. Atau sebaliknya, dia bertemu ilalang atau rumput yang berbahaya, tetapi karena tidak tau, dia makan; hasilnya sakit dan mati. Karena itu gembala harus selalu menuntun domba ke rumput hijau, makanan yang tepat dan ke sungai, air yang segar yang dibutuhkannya. Tetapi kalau mencari makan sendiri….hasilnya kerusakan, kacau dan mati!!!

Kehidupan kita seperti domba. Kita tidak bisa mencari dan memenuhi ’kelaparan’ rohani yang ada, kalau bukan Kristus yang tuntun kita. Usaha manusia memenuhi ’rasa lapar rohani’ atau kekosongan jiwa justru membawa pada kehancuran. Ada yang memenuhi dengan pesta pora, atau semedi, juga mengunjungi berbagai rumah ibadat…tapi tidak dapat memenuhi kekosongan/kelaparan itu. Lama-kelamaan, ada yang lapar, haus, sakit dan mati.

Kedua, domba tidak dapat mencari jalannya sendiri. Karena itu, ada beberapa perumpamaan tentang domba yang hilang. Tetapi uniknya, domba ini sangat nakal. Kalau gembala lengah, atau memperhatikan yang lain, maka segera cari jalan lain. Mungkin bosan dengan jalan berliku-liku yang dilalui bersama sang gembala. Merasa lebih tau jalan yang pintas dan baik. Hasil akhirnya hilang/sesat. Lalu digambarkan domba ada di ujung jurang, atau tersangkut, bahkan jatuh ke dalam jurang. Saya hanya membayangkan. Sebelum jatuh, sebenarnya domba bisa balik. Tetapi domba tidak tahu/tidak sadar bahaya itu. Jurang yang di depan tetap dimasuki. Saya memikirkan ketika ada di mulut jurang, mengapa tidak kembali menuruni bukit, kembali ke gembala dan kawanan? Tetapi domba tidak mampu, dia terus ke arah yang salah.

Bagaimana pengalaman hidup kita? Bukankah tidak mudah bagi kita untuk memilih hal yang benar? Bahkan ketika sudah salah, sulit untuk kembali dan terus ke arah yang salah, terjatuh ke dalam jurang. Mengapa tidak panggil gembala? Bahkan untuk itu pun tidak mampu.

Ketiga, domba tidak mampu mengenali musuh yang mengancam dan tidak mampu membebaskan diri. Karena itu Yesus digambarkan seperti ’seekor anak domba yang dibawa ke pembantaian’. Domba tidak mengeluh, tidak memberontak ketika pengguntingan bulu; juga waktu disembelih. Saya bayangkan, kalau dihadapannya ada binatang buas yang akan menerkam, domba tidak lari menyelamatkan diri. Kalau pun ia melarikan diri, itu sia-sia. Kakinya kecil, dan ia tidak dapat berlari kencang. Dia lemah, tidak punya senjata untuk mempertahankan diri.

Bagaimana gambaran hidup kita? Bukankah kita seperti domba? Bahaya apa yang mengancam kita? Pergaulan, gaya hidup, cara kerja yang tidak benar, dsb…seberapa kuatnya kita untuk membela/mempertahankan diri? Bukankah yang lebih sering terjadi kita ’kalah’, takluk pada ’pencobaan’? Lalu bagaimana/mengapa kita bisa lepas?

Saya ingat lagu Sekolah Minggu:

Domba kecil, domba kecil…hilang diatas bukit, datanglah gembala, angkat domba kecil.

Apa yang terjadi? Domba kecil yang nakal, ketakutan di atas bukit, di dekatnya ada jurang…dia bingung. Dia juga kelaparan, dan di depannya ada bahaya binatang buas yang mengancam.

Tetapi kemudian, gembala datang dengan kasih. Ia tau ada domba kecil yang hilang/melarikan diri darinya dan kawanan. Ia datang mencari. Dari jauh ia memanggil nama domba ini. Perhatikan bahwa gembala selalu membawa gada dan tongkat. Selain untuk melawan musuh/binatang buas; tongkat berfungsi mengarahkan domba atau menariknya ke arah yang benar. Memukul domba? Saya pikir tidak seperti itu. Dalam kondisi domba yang sudah sesat, bingung dan lapar; gembala datang justru merangkulnya, dan membawanya pulang dalam gendongannya.

Inti dari kehidupan domba: ia tidak dapat hidup tanpa gembala dan kawanannya. Gembala kita adalah Kristus. Ia tau kita lelah, lapar, salah jalan dan terancam binasa. Syukur bahwa Ia datang cari kita. Kita tidak pernah cari dan temukan Dia. Dialah yang menemukan kita dan dalam kasihNya membawa kita kembali dekat kepadaNya.

b. Roma 3:1O
Rom 3:10 seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.

Seorang yang paling benar pun setidaknya melakukan dosa 3 kali sehari. Dosa bukan hanya melanggar perintah Tuhan. Dosa= tidak mencapai sasaran. Termasuk juga saya tau yang baik, tapi saya tidak melakukannya. Kalau dalam pemahaman ini, berapa banyak dosa yang tiap hari saya lakukan? Kalau seandainya sehari 3 kali. Sebulan 90 kali. Setahun 1080, anggap 1000. Kalau saya hidup sampai umur 70 tahun, setidaknya saya sebagai ’orang baik’ hanya melakukan dosa 70000. Bagaimana kenyataan sebenarnya? Berapa banyak hal yang tidak mencapai sasaran seharusnya dalam hidup saya? Sebenarnya Tuhan beri saya talenta untuk mendapat A, lalu saya lakukan dan mendapat B. Berapa banyak perintah Tuhan tidak saya lakukan/langgar? Berapa banyak perbuatan baik yang harusnya saya lakukan, tapi tidak saya lakukan?

Dosa bukan milik kalangan atau usia tertentu. Dosa dilakukan semua kalangan dan usia, jenis kelamin dan segala latar belakang.

Inilah kenyataan tentang kita. Manusia, tercemar, tidak layak. Baca Mazmur 8. Tetapi Allah berkenan menyelamatkan. Baca Yoh.3:16 dan Yes.53:6b.

c. Roma 3:23

Rom 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

Semua orang = tanpa kecuali. Tidak ada satu orang pun di muka bumi yang luput dari dosa. Kehilangan kemuliaan Allah = gambar Allah yang ada dalam diri manusia, khususnya kesucian/kekudusan dan kekekalan rusak total. Manusia tidak lagi memancarkan kemuliaan Allah, melainkan dosa yang merasuki dan mengontrol kehidupannya.

d. Roma 5:12

Rom 5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

Sebagai ‘keturunan Adam’ kita semua berdosa. Tapi bukankah Adam yang berdosa? Mengapa dosa Adam ditimpakan kepada kita? Kata ’Adam’ sebenarnya menunjukkan bukan nama/tetapi wakil dari manusia. Artinya, siapa pun manusia yang ada pada saat itu tindakan/hasilnya sama, jatuh dalam dosa. Bagaimana mungkin? Kita tidak dapat mengujinya pada masa dulu. Tetapi bandingkan dengan keadaan sekarang. Adam yang dulu belum mengenal Kristus, belum ada kisah seperti sekarang. Tetapi mengapa kita yang hidup pada jaman ini terus memberontak kepada Kristus? Kejatuhan dalam Kej.3 bukan tentang makan buah. Tetapi lebih pada pemberontakan manusia, tidak ingin diatur oleh Allah. Merasa lebih tau yang baik tentang dirinya. Ingin menjadi Allah/mengatur dan berkuasa atas hidupnya sendiri. Bukankah setiap manusia seperti itu? Akibatnya maut, kematian; hukuman kekal.

Kalau keadaan kita seperti itu, bagaimana kita dapat selamat; dibebaskan dari hukuman kekal?

Apa yang datang di antara kita dan Allah? KRISTUS

Belajar tentang siapa dan seperti apa saya di hadapan Tuhan, yang kenyataannya adalah ‘berdosa’, bukan untuk membuat saya rendah diri. Tetapi justru untuk menolong saya mengenal diri dan mensyukuri kasih Tuhan yang tetap menerima saya. Renungkan Mazmur 8, perhatikan kata ’bukan siapakah manusia, tetapi ”apakah anak manusia”…

Sering sekali saya terlalu bangga dengan diri saya, dengan apa yang saya punya dan peroleh. Tetapi menyadari siapa/apa saya sebenarnya, membuat saya merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Ini juga sekali lagi menolong saya untuk menerima/mengasihi saudara saya yang mungkin saat ini masih sebagai ’domba yang sesat’. Ketika saya merasa ’benar’ tentu sulit menerima orang lain, saya cenderung menghakiminya; bahkan mungkin semakin menambah penderitaannya. Tetapi sekarang saya tahu; ternyata kami sama-sama ’orang berdosa’. Masih ada waktu dan mungkin Tuhan ingin saya juga menolong saudara saya yang lain.

Ya’ahowu !

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

June 2007
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930