Tenga, Tenga Da’ö

Wednesday, June 13, 2007
By nias

Kata-kata dalam judul di atas adalah bahasa Nias, yang artinya: BUKAN, BUKAN ITU. Saya tertarik pada makna kata-kata itu dalam upaya mencoba memahami istilah “suprarasional” atau “supranatural” Thomas Aquinas yang disinggung dalam artikel “Dilema Usaha Manusia Rasional” di Situs Ya’ahowu ini.

Sedikit cerita pengalaman saya peribadi seperti berikut. Ketika saya berumur (sekitar) 6 tahun. Saya ingat betul waktu itu sore hari. Saya tanya kepada Ayah : Apakah “belahogugeu” bersayap seperti burung ? Ayah menjawab cepat : tenga, tenga da’õ (bahasa Nias). Artinya : bukan, bukan itu. Apakah seperti monyet bisa melompat dari pohon ke pohon ? Ayah menjawab : tenga, tenga da’õ. Setiap kali saya bertanya kepada ayah yang menyerupai (analog) “belahogugeu” itu, jawaban Ayah selalu tenga, tenga. Akhirnya ayah mengatakan mau istirahat dulu (karena baru pulang mengajar) dan menyuruh saya bermain dengan teman-teman di halaman.

“Belahogugeu” dalam kepercayaan animisme masyarakat Nias adalah semacam makhluk halus yang menguasai hutan dan binatang buruan. Dipercaya juga bahwa “belahogugeu” ini dapat menculik manusia. Karena itu orang tua dikampung selalu menasihati (lebih bersifat : menakut-nakuti) anak-anak bahwa akan diculik belahogugeu kalau bermain sendirian dihutan.

Pengalaman puluhan tahun yang lalu itu saya hubungkan dengan istilah ”suprarasional” yang digunakan Thomas Aquinas untuk menegaskan bahwa kepercayaan mengenai kebenaran religius tak bisa disebut irasional. “Ketika kita tidak dapat mengetahui apakah Tuhan itu, tetapi hanya mengetahui apa yang bukan Tuhan, kita tidak dapat membicarakan bagaimana Tuhan itu, tetapi kita hanya dapat membicarakan bagaimana yang bukan Tuhan itu”. Ini bukan pendapat saya, akan tetapi kata-kata Thomas Aquinas dalam kata pengantar bukunya Summa Theologica, yang saya kutip dan terjemahkan bebas dari buku Anthony de Mello – Awareness , The Perils and Opportunities of Reality, Image Books Doubleday 1990, halaman 127.

Kata-kata Thomas Aquinas saya hubungkan dengan pengalaman saya tersebut diatas, maka saya baru sadar bahwa: karena Ayah tidak memiliki kata-kata untuk menjelaskan (secara konkret) makhluk halus belahogugeu, yang mampu dicerna rasio (akal budi) saya untuk memahami hakekat belahogugeu itu, maka Ayah hanya dapat mengatakan “yang bukan belahogugeu”.

“Kata” hanyalah sebuah konsep dan tidak pernah dapat mengungkapkan realitas. Konsep mengungkapkan sesuatu tetapi tidak pernah seluruhnya akurat, konsep tidak dapat menangkap keunikan “realitas”. Konsep bersifat universal. Pernah dalam diskusi Situs Yaahowu ini, disinggung mengenai kata “hijau”. “Hijau” dapat diterapkan pada setiap yang berwarna hijau, misalnya : daun, belalang, kursi, lukisan, hijau tua, hijau muda, dan sebagainya. Seandainya saya mengatakan “hijau daun”, itupun dapat diterapkan pada semua daun yang ada di semua pohon: daun besar, daun kecil dan sebagainya. Jadi anda tidak memiliki gambaran apa pun juga mengenai “hijau” yang saya tunjuk itu.

Memang konsep merupakan sesuatu yang sangat membantu untuk menuntun kita menuju “realitas”, tetapi pada saat kita berhadapan dengan realitas, kita harus memahami atau mengalami realitas itu secara langsung. Jadi, untuk memahami realitas harus mengetahui melampaui pengetahuan. Mungkin itu yang dimaksud oleh orang-orang bijak bahwa : bahwa kita tidak dapat mengetahui apa pun mengenai Tuhan bahkan pertanyaan kita mengenai Tuhan pun tidak masuk akal. Sebatas pengetahuan yang saya miliki – berpendapat bahwa, pendapat demikian muncul karena pengetahuan kita mengenai Tuhan tidak mungkin melampaui pengetahuan yang kita miliki.

Sedangkan manusia terbatas baik akal budi mau pun inderanya. Manusia sendiri, sepengetahuan saya, masih misteri bagi dirinya sendiri. Jadi kemisterian Tuhan tidak mungkin terungkap bagi rasio-logika manusia yang terbatas. Saya ingat cerita Sdr. E. Halawa mengenai komunikasi yang terjadi antara Agustinus dengan seorang anak kecil yang mengisi air laut dalam satu lobang di pantai (Niasilsnad.com). Yang kesimpulannya: usaha yang sia-sia mengisi air samudera dalam lobang itu. Sama dengan usaha manusia yang “sia-sia” untuk mengetahui mengenai Tuhan dan menjelaskan dengan kata-kata. Saya harap para pemikir dan ahli dapat menjelaskan sampai di mana kebenaran mengenai pernyataan orang-orang bijak ini.

Mari kita berandai-andai (dapat juga benar-benar terjadi): Seorang yang buta sejak lahir bertanya kepada anda: Apakah warna hijau itu panas atau dingin ? Bukan, bukan, bukan itu ! “ Apakah warna hijau itu panjang atau pendek ? Bukan itu ! Apakah warna hijau itu manis atau asam ? Bukan, bukan, bukan itu !! Bagi yang rasionalisme macam pertanyaan yang diajukan orang buta itu bisa dicap irasional. Apa hubungan “hijau” dengan panas atau dingin, panjang atau pendek, manis atau asam. Tetapi “realitas objektif” demikian adanya. Orang buta tidak mempunyai kata-kata, tidak mempunyai konsep mengenai warna. Orang buta tidak mempunai ide, tidak mempunyai intuisi, tidak mempunyai pengalaman mengenai warna. Anda hanya dapat berbicara kepada mereka dalam bentuk analogi. Apa pun yang mereka katakan anda hanya dapat menjawab: Bukan itu, bukan itu atau tenga, tenga, tenga da’õ seperti cerita saya mengenai belahogugeu tadi.

Rasio, logika, falsafah hidup dan perwujudannya dalam kenyataan hidup mengacu kepada kebenaran. Apa itu kebenaran ?(Pilatus). Apakah manusia sungguh (telah) menyadari berhadapan dengan kebenaran realitas Tuhan ? Berpikir dan berfilsafat bukanlah suatu permainan dengan konsep-konsep, melainkan menjadi suatu orientasi yang sungguh, artinya : menuntut agar manusia sebagai peribadi menentukan sikapnya. Tetapi masalahnya adalah apakah manusia sudah berada ditengah-tengah kenyataan. Setelah berhadapan kenyataan barulah ia menanyakan: apakah dengan berpikir itu dapat menyentuh kenyataan. Ini yang dibahas oleh realisme dan idealisme dalam teori ilmu pengetahuan. Saya tidak pasti apakah ini yang dimaksud oleh Saudara Sinumana, pengkomentar nomor 2 dalam artkel “Dilema Usaha Manusia Rasional” dalam Situs ini.

Saudara Ndraha (pengkomentar nomor 3 artkel “Dilema Usaha Manusia Rasional”) benar bahwa, Pascal mengatakan bahwa “le coer a ses raisons que la raison ne connait point” atau hati mempunyai pertimbangan yang tak dikenal oleh akal budi. Pendapat Pascal ini diilhami oleh Agustinus (pujangga yang sama dengan yang diceritakan oleh Saudara E. Halawa tersebut diatas) yang mengatakan bahwa “manusia tak dapat memasuki atau meraih kebenaran selain cinta kasih”. Bagi Pascal, hanya pertimbangan hati inilah yang dapat meyakinkan sesama, apabila penalaran logis tidak memadai.

Kemudian kata-kata Pascal ini yang ditegaskan oleh Scheler bahwa Pascal bukanlah semacam pengetahuan yang bersumber pada perasaan yang irasional. Scheler melanjutkan bahwa ucapan Pascal itu menunjukkan sifat khas dalam “ordo amoris”, pengetahuan dalam tahap cinta kasih.

Sedikitnya dari uraian diatas terdapat gambaran bahwa filsafat bersentuhan dengan pandangan hidup atau kepercayaan dan hendaklah menjadi sadar mengenai titik pangkal religiusnya. Semua dalam usaha mencari kebenaran. Cerita belahogugeu dan orang buta di atas hanya dalam usaha untuk pemahaman pengertian “suprasional” atau “supernatural”. Saya percaya banyak cara dan cerita lain oleh para pemikir yang lebih ahli yang lebih dapat menjelaskan makna istilah itu. Secara jujur saya mengakui belum pernah sekolah khusus filsafat atau pun teologi. Jadi sangat berharap teman-teman dapat mengembangkan dalam diskusi.

Semoga bermanfaat.

Mathias J. Daeli

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Kalender Berita

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930