Oleh Pdt. BAMBANG PRATOMO

“Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” (Filipi 2 : 2, 3)

LAZIMLAH dalam kehidupan ini bahwa seseorang mengupayakan agar kepentingan pribadinya selalu terwujud. Jika ia memiliki keluarga, ia pun ingin agar kepentingan anggota-anggota keluarganya terwujud. Demikian pula jika ia berada dalam lingkungan dan golongan tertentu. Tak berhenti pada lingkungan dan golongannya sendiri, meliputi kepentingan bangsanya pun akan diupayakan untuk terwujud.

Begitulah pemikiran kita bahwa kepentingan manusia itu laksana lingkaran-lingkaran yang lebih luas hingga akhirnya ke lingkaran yang paling luas. Oleh karena itu adalah bijaksana jika kita mengupayakan kepentingan pribadi dalam kerangka kepentingan bersama yang lebih luas itu. Itulah pesan kedua ayat firman Tuhan di atas, bahwa kepentingan bersama kita usahakan meski kepentingan sendiri tak mungkin kita elakkan.

Bagaimana kenyataannya dalam praktik hidup manusia pada umumnya? Berita-berita yang disajikan lewat pelbagai media menunjukkan bahwa manusia cenderung berbuat “semau gue” dalam memanfaatkan bumi ciptaan Tuhan ini. Terbukti, manusia memanfaatkan kekayaan bumi habis-habisan, mulai dari penggundulan hutan dengan pembalakan liarnya, penggalian sewenang-wenang benda-benda tambangnya, pengurasan secara sembarangan kekayaan lautnya, bahkan lebih dari lima puluh jenis serangga, hewan dan tumbuhan kini telah punah. Semua tindakan manusia itu berangkat dari pemikiran demi kepentingan manusia sendiri dan tidak memedulikan makhluk-makhluk lain. Hidup bersama dengan makhluk-makhluk lain dan memerhatikan kepentingan mereka, praktis telah diabaikan oleh manusia.

Berikutnya kita perhatikan kehidupan dan kepentingan bersama antarmanusia sendiri. Harian umum Pikiran Rakyat terbitan hari Sabtu tanggal 2 Juni 2007 menyajikan pada halaman pertama foto lautan sampah di Sungai Citarum, tepat di bawah Jembatan Batujajar. Dari mana sampah-sampah itu berasal? Jelas dari manusia sendiri, misalnya dari dapur-dapur rumah penduduk, pasar-pasar tradisional dan swalayan, terminal-terminal bus dan angkot, pabrik-pabrik yang jumlahnya tidak sedikit, dll. Meskipun tak semua sampahnya dibuang ke sungai, semuanya telah menghasilkan sampah dalam jumlah banyak dengan bau yang menyengat. Pasti tidak sehat dan berpotensi membawa bermacam-macam penyakit.

Akibatnya, kehidupan dan kepentingan orang pun terganggu. Memang ada manfaatnya sebagaimana disebutkan dalam teks gambar di bawahnya bahwa para pemulung mengais rezeki mereka dengan memunguti sampah plastik hingga dua kuintal per hari dan dijual dengan harga Rp 250,00 per kg. Kendati hal itu merupakan rezeki bagi para pemulung, tentu tak boleh dijadikan alasan pembenaran untuk membuang sampah ke sungai-sungai.

Kita telusuri asal-muasal pelbagai benda yang ada pada manusia. Asal-muasalnya adalah ciptaan Tuhan, diperuntukkan sebagai makanan bagi manusia agar manusia dapat hidup. Namun sayang, bahwa sarana dan sisanya dibuang tanpa memikirkan akibatnya bagi kepentingan bersama. Pertanggungjawaban manusia yang satu semestinya dinampakkan dalam hubungannya dengan manusia yang lain. Dengan demikian amat diharapkan bahwa kelestarian lingkungan hidup dengan menjunjung tinggi kepentingan bersama dapat diwujudkan.

Amanat itulah yang seyogyanya menjadi perhatian dan acuan manusia untuk mewujudkan kepentingan bersama. Sering amanat ini diabaikan karena meskipun sejak bertahun-tahun yang lalu perkara ini telah disadari, namun tak pernah tercapai upaya untuk mengatasinya, misalnya menjaga kebersihan demi kesehatan bersama, menanggulangi kendala agar kita semua dapat sehati sepikir demi keselamatan lingkungan kita, dan menyadarkan orang untuk memerhatikan kepentingan bersama di atas kepentingan sendiri. Tanggal 5 Juni 2007 yang lalu, kita baru saja memperingati Hari Peduli Lingkungan. Sejauh mana kita juga peduli terhadap lingkungan tempat tinggal kita? Sungguh sebuah ajakan yang simpatik agar kita benar-benar tanggap untuk memelihara lingkungan demi kenyamanan hidup kita bersama.

Selaku orang beriman, kita hendak menghubungkan masalah lingkungan hidup dengan penciptaan alam semesta ini pada awalnya. Pada mulanya Tuhan Allah menghadirkan Taman Eden atau Firdaus yang asri sebagai tempat hunian manusia. Kita memang tak mungkin mengembalikan suasana keasrian masa lalu. Namun, kita menyadari bahwa Tuhan Allah menghendaki agar kita menghayati makna keasrian itu pada masa kini. Tegasnya, kita jangan membiarkan kerusakan lingkungan itu menjadi-jadi, sebaliknya pikirkanlah kepentingan bersama di atas kepentingan sendiri. Dari mana kita dapat belajar untuk memperoleh cara berpikir demikian?

Dalam ayat-ayat selanjutnya, ternyata kita diantar kepada berita tindakan Tuhan Yesus, yang mengosongkan diri-Nya sendiri, dengan cara mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia, lalu merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2 : 7, 8). Nyata, bahwa tindakan-Nya adalah demi kepentingan umat manusia dan menempatkannya di atas kepentingan-Nya sendiri. Oleh karena itu, keteladanan-Nyalah yang hendak kita ikuti agar tercapai maksud mengupayakan kepentingan bersama di atas kepentingan sendiri.

Tidak mudah mewujudkan pola hidup semacam ini dan itulah makna sebuah pengorbanan. Tuhan Yesus telah berkorban demi kepentingan umat manusia. Pola hidup semacam ini tidak populer, alih-alih orang bersedia berkorban, justru mengorbankan orang lain yang lebih sering terjadi di dalam dunia ini. Akibatnya, karakter individualistik itulah yang makin berkembang dalam kehidupan banyak orang. Tentu slogannya akan berbunyi demikian “Kepentingan bersama no, kepentingan sendiri yes!”. Lalu kita jumpai pola hidup yang mengutamakan kepentingan sendiri merajalela di mana-mana. Padahal seharusnya, inilah yang terjadi: Pikirkan kepentingan bersama di atas kepentingan sendiri. Untuk maksud tersebut, kita memang harus berani memulainya dari diri kita sendiri dahulu, baru kemudian kita mengajak orang-orang lain di sekitar kita. Mudah-mudahan pada masa yang akan datang, suasana kepentingan bersama lebih nyata dalam kehidupan umat manusia di dunia ini. Amin.***

*Penulis, pendeta Gereja Kristen Jawa Kiaracondong Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, Bandung, 9 Juni 2007

Facebook Comments