Dalam artikel “Sejarah Batak“ dalam blog: Parapat tertulis:

Padanan kata horas adalah Mejuah-juah (Batak Karo, Batak Pakpak), Yahobu dari daerah Nias. Sedangkan Ahoiii! adalah salam khas daerah pesisir Melayu di Sumatera Utara.

Dalam sebuah blog lain, tertulis:

Horas adalah kata salam orang Batak yang berasal dari daerah Sumatra Utara. Khususnya “Tapanuli” yang senantiasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain kata Horas salam khas yang lain, yaitu Menjuah-juah dari daerah Karo, Yahobu dari daerah Nias.

Dalam artikel “Horas” berbahasa Inggris, yang tiada lain merupakan terjemahan kutipan di atas, Paian Simbolon menulis:

Horas is a greeting frequently said in everyday life by Batak People from North Sumatra especially the “Tapanuli”. In addition to Horas, other unique greeting words are Menjuah-juah from Karo and Yahobu from Nias.

Dalam sebuah maling list, seseorang menulis ucapan selamat sebagai berikut:

Selamat! Horas! Mejuah-juah! Yahobu buat Pak Sandi A Siregar atas pengangkatannya sebagai seorang Profesor.

Beberapa kutipan di atas sebenarnya baru segelintir dari sekian artikel yang “mempopulerkan” salam khas kita, Ono Niha: Ya’ahowu. Sayangnya, disadari atau tidak, disengaja atau tidak, para penulis artikel itu telah “mencederai” sapaan khas Ono Niha itu, dan boleh juga kita katakan: mencederai budaya Nias. Dengan mencantumkan sapaan khas Ono Niha yang ditulis secara salah dalam artikel mereka, para penulis artikel itu telah melakukan kekeliruan yang sebenarnya tidak harus terjadi. Rasa-rasanya mereka tidak mungkin tak pernah mendengar salam kesayangan Ono Niha itu terucap dari mulut Ono Niha sendiri.

Barangkali bisa dimaklumi kalau mereka mengalami kesulitan mengucapkan kata yang mengandung huruf “w” dengan bunyi khasnya dalam bahasa Nias seperti dalam kata: “waruwaru”, “wurawura”. Akan tetapi sebenarnya dalam bahasa-bahasa lain ada juga bunyi yang mirip (walau tidak persis). Barangkali, bunyi “w” dalam dalam nama diri “Wulan” dan bunyi “w” dalam kata “woman/women” cukup mendekati bunyi yang khas Li Niha itu.

Kita mungkin masih bisa memaklumi kekurangtepatan pengucapan huruf “w” dengan bunyi khas Li Niha itu oleh teman-teman yang bukan Ono Niha. Akan tetapi kita tidak bisa memahami apabila menulis secara benar saja tidak mereka perhatikan.

Lalu mengapa sampai terjadi kesalahan yang terkesan “konsisten” dan “sistematis” itu ? Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, usaha untuk melurus-luruskan merupakan “pekerjaan rumah” kita semua, yang menamakan diri Ono Niha.

***
Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Nias menghadiri perayaan Natal Bersama Masyarakat Nias pada hari Minggu 25 Desember 2005, beliau mengawali pesan Natalnya sebagai berikut: “Salam damai dan sejahtera bagi kita semua, Yahobu!

Apakah Presiden SBY sungguh-sungguh mengucapkan “Yahobu” atau mengucapkan “Ya’ahowu“, tidak dapat kita pastikan. Kutipan ucapan Presiden itu diambil dari Situs Kepresidenan.

Kita tak menyalahkan Bapak Presiden Yudhoyono seandainya beliau benar-benar mengucapkan “Yahobu” dan bukan “Ya’ahowu” atau “Yahowu“. Kedatangan beliau ke Nias saja kita sudah syukuri, belum lagi perhatiannya yang khusus buat Nias. Kita hanya berharap, semoga para penasehatnya bisa lebih teliti dalam hal-hal yang berkaitan dengan budaya, mulai dari hal-hal “sepele” seperti penulisan sapaan khas Ono Niha ini.

***
Minggu lalu, Situs ini melaporkan adanya informasi yang miring tentang Ono Niha di Situs Taman Mini. Sampai saat pembuatan artikel ini, informasi “miring” itu masih belum dikoreksi oleh pengelola situs yang bersangkutan.

Apakah kita, Ono Niha, menganggap hal-hal seperti ini “sepele” sehingga tidak merasa berkewajiban meluruskannya ? Semuanya berpulang kepada kita. (brk).

Facebook Comments