“Yahobu !”, kata Bapak Presiden

Tuesday, June 5, 2007
By nias

Dalam artikel “Sejarah Batak“ dalam blog: Parapat tertulis:

Padanan kata horas adalah Mejuah-juah (Batak Karo, Batak Pakpak), Yahobu dari daerah Nias. Sedangkan Ahoiii! adalah salam khas daerah pesisir Melayu di Sumatera Utara.

Dalam sebuah blog lain, tertulis:

Horas adalah kata salam orang Batak yang berasal dari daerah Sumatra Utara. Khususnya “Tapanuli” yang senantiasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain kata Horas salam khas yang lain, yaitu Menjuah-juah dari daerah Karo, Yahobu dari daerah Nias.

Dalam artikel “Horas” berbahasa Inggris, yang tiada lain merupakan terjemahan kutipan di atas, Paian Simbolon menulis:

Horas is a greeting frequently said in everyday life by Batak People from North Sumatra especially the “Tapanuli”. In addition to Horas, other unique greeting words are Menjuah-juah from Karo and Yahobu from Nias.

Dalam sebuah maling list, seseorang menulis ucapan selamat sebagai berikut:

Selamat! Horas! Mejuah-juah! Yahobu buat Pak Sandi A Siregar atas pengangkatannya sebagai seorang Profesor.

Beberapa kutipan di atas sebenarnya baru segelintir dari sekian artikel yang “mempopulerkan” salam khas kita, Ono Niha: Ya’ahowu. Sayangnya, disadari atau tidak, disengaja atau tidak, para penulis artikel itu telah “mencederai” sapaan khas Ono Niha itu, dan boleh juga kita katakan: mencederai budaya Nias. Dengan mencantumkan sapaan khas Ono Niha yang ditulis secara salah dalam artikel mereka, para penulis artikel itu telah melakukan kekeliruan yang sebenarnya tidak harus terjadi. Rasa-rasanya mereka tidak mungkin tak pernah mendengar salam kesayangan Ono Niha itu terucap dari mulut Ono Niha sendiri.

Barangkali bisa dimaklumi kalau mereka mengalami kesulitan mengucapkan kata yang mengandung huruf “w” dengan bunyi khasnya dalam bahasa Nias seperti dalam kata: “waruwaru”, “wurawura”. Akan tetapi sebenarnya dalam bahasa-bahasa lain ada juga bunyi yang mirip (walau tidak persis). Barangkali, bunyi “w” dalam dalam nama diri “Wulan” dan bunyi “w” dalam kata “woman/women” cukup mendekati bunyi yang khas Li Niha itu.

Kita mungkin masih bisa memaklumi kekurangtepatan pengucapan huruf “w” dengan bunyi khas Li Niha itu oleh teman-teman yang bukan Ono Niha. Akan tetapi kita tidak bisa memahami apabila menulis secara benar saja tidak mereka perhatikan.

Lalu mengapa sampai terjadi kesalahan yang terkesan “konsisten” dan “sistematis” itu ? Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, usaha untuk melurus-luruskan merupakan “pekerjaan rumah” kita semua, yang menamakan diri Ono Niha.

***
Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Nias menghadiri perayaan Natal Bersama Masyarakat Nias pada hari Minggu 25 Desember 2005, beliau mengawali pesan Natalnya sebagai berikut: “Salam damai dan sejahtera bagi kita semua, Yahobu!

Apakah Presiden SBY sungguh-sungguh mengucapkan “Yahobu” atau mengucapkan “Ya’ahowu“, tidak dapat kita pastikan. Kutipan ucapan Presiden itu diambil dari Situs Kepresidenan.

Kita tak menyalahkan Bapak Presiden Yudhoyono seandainya beliau benar-benar mengucapkan “Yahobu” dan bukan “Ya’ahowu” atau “Yahowu“. Kedatangan beliau ke Nias saja kita sudah syukuri, belum lagi perhatiannya yang khusus buat Nias. Kita hanya berharap, semoga para penasehatnya bisa lebih teliti dalam hal-hal yang berkaitan dengan budaya, mulai dari hal-hal “sepele” seperti penulisan sapaan khas Ono Niha ini.

***
Minggu lalu, Situs ini melaporkan adanya informasi yang miring tentang Ono Niha di Situs Taman Mini. Sampai saat pembuatan artikel ini, informasi “miring” itu masih belum dikoreksi oleh pengelola situs yang bersangkutan.

Apakah kita, Ono Niha, menganggap hal-hal seperti ini “sepele” sehingga tidak merasa berkewajiban meluruskannya ? Semuanya berpulang kepada kita. (brk).

6 Responses to ““Yahobu !”, kata Bapak Presiden”

  1. 1
    M. J. Daeli Says:

    Redaksi Yth,

    Pertama-tama menyampaikan “Selamat Bekerja dan Berjuang”.

    Surat saya ini adalah untuk menyampaikan koreksi atas hasil TRANSKRIPSI
    PESAN NATAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PERAYAAN NATAL BERSAMA MASYARAKAT NIAS , 25 DESEMBER 2005, khususnya yang terkait dengan kekeliruan penulisan ucapan Salam “Yahobu” yang seharusnya “Ya’ahowu”.

    Pidato Pesan Presiden itu, satu setengah tahun telah lewat. Akan tetapi sesuai dengan falsafah (negara bangsa – kita) Pancasila, menyampaikan kebenaran tidak ada kata terlambat.

    Saya bukan bertujuan mencari kesalahan : transkripsi yang salah atau cara mengucapkan oleh Bapak Presiden yang salah. Tujuan saya adalah untuk menyampaikan apa yang seharusnya sehingga kita memiliki yang benar. Saya sebagai warga Indonesia dari Suku Nias, merasa berkewajiban untuk menyampaikan hal tersebut. Ini sangat penting, karena Pidato Presiden menjadi bahan referensi resmi, sehingga tidak terulang kekeliruan oleh yang mengutip guna penggunaan ucapan “Salam” suku Nias tersebut

    Dalam budaya Ono Niha terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Mangandung makna “Saya mengenalnya dan mengontak diri saya dengannya dari dalam inti diri saya, bukan dari batas luar diri saya”.

    Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.

    Demikian tulisan saya ini, saya sampaikan untuk menjadi bahan Redaksi mengoreksi kata “Yahobu” dalam tnaskripsi tersebut diatas menjadi “Ya’ahowu”. Atas kesediaannya, saya ucapkan terima ksih.

    Sekali lagi Selamat bekerja dn Berjuang.

    Mathias J. Daeli

    (Surat ini dikirim kepada Situs Kepresidenan. Saya sampaikan juga kepada Situs Ya’ahowu dengan harapan, kalau sempat menyampaikan catatan koreksi)

  2. 2
    Etis Nehe Says:

    Ya’ahowu….

    Pak M. J. Daeli, bagaimana kabar? Semoga dalam keadaan sehat.

    Saya sangat salut dengan tulisan Bapak di atas. Bukan hanya karena isinya (jujur, saya kok gak kepikir sebelumnya ya untuk menyampaikan koreksi langsung ke situs kepresidenan), tapi juga pada warning akan banyaknya kesalahpahaman mengenai sebuah hal yang baik (seperti makna yang terkandung dalam kata “Ya’ahowu” tersebut) bila tidak ada sebuah upaya memperbaiki ‘banyak kesalahan lazim’ seperti itu selama ini.

    Saya sebut ‘banyak kesalahan lazim’ karena realitasnya, banyak info kesalahapahaman terkait Pulau Nias dan masyarakatnya terjadi karena ‘kompromi’ dan ‘pembiaran’ serta juga karena ketidaksengajaan atau karena untuk ‘keren-kerenan’.

    Yang saya maksudkan dengan kesalahan lazim dalam bentuk kompromi dan pembiaran adalah, sebuah sikap ‘mentolerir’ kesalahan penyebutan atau pun pengertian oleh orang bukan Nias tentang kata atau cerita tertentu. Mungkin karena tidak mau ribet mengajari bagaimana penyebutan dan arti yang sebenarnya, penyebutan atau pengertian yang salah atas sebuah kata dan cerita dalam bahasa Nias tidak lagi dipusingkan.

    Berikut ini, beberapa saja contoh dari pengalaman saya. Misalnya, tentang penggunaan huruf õ. Beberapa kali saya harus meluruskan penyebutan marga “Gulõ” yang dibaca Gulo (dalam bahasa Indonesia berarti “gula”). Bahkan saya pernah menemukan ada yang memperkenalkan atau menuliskan marganya sendiri sebagai Gulo dan bukan Gulõ dengan alasan biar gak ribet. Demikian juga dengan penggunaan huruf õ pada nama. Misalnya, bila ada nama mengandung kata “Dõdõ”. Ada yang dengan enteng memperkenalkan diri dengan nama/kata “Dodo”. Alasannya sama, biar gampang. (Mohon maaf bagi yang bermarga Gulõ dan bernama Dõdõ, ini hanya contoh untuk pembelajaran kita semua.)

    Tidak masalah bila perubahan cara penyebutan itu tidak mengarah pada perubahan arti seperti penulisan marga Daely menjadi Daeli atau sebaliknya (Pak MJ Daeli, yang benar pake I atau Y, tks). Tapi, ceritanya jadi lain kalau kesalahan itu mengarah pada perubahan arti dan pemahaman (seperti Gulõ menjadi Gulo atau antara Dõdõ dengan Dodo).

    Contoh lainnya, pemahaman umum tentang tradisi lompat batu yang semata-mata dikaitkan dengan kelayakan menikah bagi seorang pemuda Nias. Sampai saat ini, belum satu pun orang bukan Nias yang saya temui yang memiliki pemahaman berbeda dari pengertian di atas yang sepertinya ‘telah mendarah daging.’

    Saya berasal dari Bawomataluo dimana tradisi lompat batu yang tergolong tertua berada dan banyak dikenal. Sewaktu masih di sana, saya sempat banyak bertanya kepada orang-orang tua, yang sebagiannya telah meninggal sekarang terkait trandisi lompat batu itu. Ternyata tradisi itu begitu kaya dan tidak sesederhana pengkaitannya dengan pernikahan. Dengan pengkaitan langsung dan semata-mata dengan kelayakan seseorang untuk menikah, bukan hanya mereduksi kebesaran dan nilai-nilai luhur dalam tradisi itu, tetapi sekaligus agak ‘melecehkan’.

    Hal yang sama terjadi dengan pemahaman tentang pernikahan di Nias. Banyak orang bukan Nias cuma tahu kalau tradisi pernikahan di Nias dicirikan dengan adanya ratusan ekor babi dan hal-hal lainnya yang terkesan ‘mahal-mahal’. Mereka tidak bisa membedakan antara dulu dan sekarang, termasuk apakah memang tradisi pernikahan di Nias seluruhnya sama, seperti itu. Atau, apakah aturan itu, kalau pun ada dan pernah terjadi, apakah berlaku sama terhadap setiap orang. Kesannya, menurut mereka, tradisi pernikahan di Nias itu semata-mata susah sekali. Apa iya hanya seperti itu saja? Saya pikir tidak sepenuhnya benar.

    Ini semua memberi pesan yang salah kepada orang-orang luar tentang Nias. Karena itu ada beberapa tips, menurut saya: pertama, ungkapkan kata dan bahasa Nias secara tepat ketika memberitahukan atau menjelaskan nama atau sebuah cerita tradisi Nias kepada orang lain, terutama saat berkenalan. Masalah dia kemudian salah menyebut atau memahami itu hal lain. Syukur-syukur kalau sempat mengajari yang sebenarnya.

    Kedua, kuasai setidaknya garis besar (walau tidak harus detail) latar belakang beberapa tradisi Nias sehingga selain tidak salah menjelaskan, juga bisa memberitahukan orang lain dimana kesalahpahamannya terkait tradisi tertentu.

    Ketiga, referensikan orang Nias lainnya yang ‘lebih tahu detail’, terutama tentang tradisi Nias, untuk mencegah kesalahpahaman yang lebih jauh.

    Semoga berguna. God Bless Nias Island

    Etis Nehe

  3. 3
    M. J. Daeli Says:

    Pak Etis Nehe
    ,
    Terima kasih atas perhatiannya.

    Memang pada saat seperti ini, selayaknya Ono Niha menunjukkan identitas, ciri, atau kekhasan Ono Niha itu. Kesadaran seperti itu , akan menimbulkan tekad, menumbuhkan kekuatan, dan menjadi pedoman menghadapi masalah dilingkungan sendiri maupun nasional.

    Kita harus menyadari pula bahwa, tak ada seorang pun yang seorang diri, akan mencakupi seluruh permasalahan Tanõ Niha, dan memberi solusi yang tepat. Perlu diskusi untuk menguji, mengoreksi, dan memperkembangkan ide-ide yang timbul demi kristalisasi pemikiran yang nanti menjadi pangkal untuk langkah berikutnya. Pencarian jawaban-jawaban masalah-masalah terkait Ono Niha, mau tak mau harus merupakan suatu proses kolektif ”.

    Para intelektual “banuada” harus berpikir bahwa tidak ada kata terlambat memulai berusaha mencari jalan keluar (solusi) permasalahan Tano Niha.

    Melalui dunia maya ini, sangat baik dan relatif murah (bagi netters), kesempatan para intelektual melakukan komunikasi. Dengan komunikasi dialog yang saling menyilang , prospeknya sangat bermanfaat bagi pembinaan semacam kerjasama pada setiap taraf kehidupan masyarakat yang memerlukan mobilisasi kekuatan-kekuatan yang dibutuhkan guna mengatasi permasalahan-permasalahan dan menggerakkan pembangunan.

    Namun hendaknya para netters bijak sehingga dialog menyilang tidak diturunkan nilainya dan hanya tinggal menjadi suatu polemik di antra pribadi. Kalau terjadi demikian, bukan solusi yang diperoleh, melainkan menjadi bagian dari masalah atau malah menambah masalah baru.

    Selamat bekerja dan berjuang.

    Yaahowu

    Mathias J. Daeli

  4. 4
    Redaksi Says:

    Terima kasih, Bapak Ama Ugi, atas usaha pelurusan yang Bapak berikan.

    Tadinya Redaksi Yaahowu juga ingin mengirim “pelurusan” pada saat membaca pertama kalinya teks itu, seperti ketika mengirim pelurusan ke Situs Taman Mini. Namun saat itu Redaksi Yaahowu tidak menemukan alamat email Redaksi situs Kepresidenan.

    Dan … sampai sekarang Redaksi Yaahowu belum menemukan alamat email situs tersebut.

    Sekali lagi, terima kasih. Semoga usaha-usaha pelurusan yang kita lakukan tenpa henti berbuah.

    Yaahowu

  5. 5
    M. J. Daeli Says:

    Pak E. Halawa,

    Saohagõlõ. Dan secara khusus pada kesempatan ini saya menyampaikan “SAOHAGÕLÕ” wa’amaraseu ba ya’ami fefu Redaksi ba wolola Situs Yaahowu da’a. Folau si sõkhi, tenga zaya-zaya gõlõ.

    Juga saya tadinya mencari-cari Situs Kepresidenan ketika selesai membaca artikel ini. Kemudian saya baru sadar bahwa di dalam artikel ini tercantum SITUS KEPRESIDENAN alinea ke-4 dari bawah.

    Itulah yang dapat kita lakukan.

    Ya’ahowu

    Ama Ugi

  6. 6
    Etis Nehe Says:

    Pak Ama Ugi dan Pak Edward,

    Situs presiden SBY itu adalah http://www.presidensby.info

    tks.

    Etis Nehe

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

June 2007
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930