Makassar ( Berita ) : Pakar budaya dan bahasa Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Zainuddin Taha mengatakan, pada abad ke-21 ini, diperkirakan 50 persen dari kurang lebih 5.000 bahasa di dunia terancam punah atau setiap dua pekan akan hilang satu bahasa.

“Kepunahan yang dialami bahasa-bahasa ibu tersebut bukan karena bahasa itu hilang atau lenyap dari lingkungan peradaban melainkan para penuturnya meninggalkannya dan bergeser ke penggunaan bahasa lain yang dianggap lebih menguntungkan baik segi ekonomi, sosial, politik maupun psikologis,” katanya kepada pers di Makassar, Rabu (30/05).

Keprihatinan akan terjadinya kepunahan bahasa-bahasa ibu pada abad ke-21 ini diungkapkannya berkaitan akan diselenggarakannya Kongres I Bahasa-Bahasa Daerah Sulsel yang bertaraf internasional di Makassar, 22 – 25 Juli 2007.

Di Indonesia sendiri, katanya, keadaan pergeseran bahasa yang mengarah kepada kepunahan ini semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari terutama di kalangan keluarga yang tinggal di kota.

Pergeseran ini tidak hanya dialami bahasa-bahasa daerah yang jumlah penuturnya sudah sangat kurang (bahasa minor), tetapi juga pada bahasa yang jumlah penuturnya tergolong besar (bahasa mayor) seperti bahasa Jawa, Bali, Banjar dan Lampung, termasuk bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan seperti Bugis, Makassar, Toraja, Massenrempulu.

Pergeseran penutur bahasa-bahasa itu tampak pada penggunaan bahasa sehari-hari baik karena pengaruh bahasa Indonesia (nasional) maupun bahasa asing seperti bahasa Inggris.

“Apakah keadaan seperti itu akan kita biarkan begitu saja sejalan dengan derasnya arus kesejagatan yang terus berlangsung dengan semakin cepat atau adakah upaya-upaya lain untuk pemertahanan terencana dan sistematis dari masyarakat penuturnya sehingga tetap bertahan,” katanya.

Salah satu kiat untuk mempertahankan bahasa daerah Sulsel, kata guru besar UNM tersebut, adalah melalui pertemuan dengan para pakar bahasa dan budaya baik dalam maupun luar negeri.

Kegiatan empat hari tersebut untuk memantapkan jati diri masyarakat Sulsel melalui upaya pelestarian dan mempertahankan bahasa daerah sebagai penguatan jati diri bangsa Indonesia serta pengayaan bahasa nasional.

Topik bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari yang dibahas dalam kongres tersebut antara lain nilai etika dan kesantunan dalam berbahasa daerah, bahasa daerah sebagai sarana komunikasi dalam keluarga dan kehidupan sosial, sebagai perwujudan jati diri etnis serta bahasa daerah dalam pelayanan publik.

Ketua panitia kongres bahasa tersebut, Amiruddin Maula mengatakan, kegiatan ini terlaksana atas kerjasama pemerintah Provinsi Sulsel dengan lembaga bahasa Jakarta, untuk memperkuat identitas peradaban masyarakat bangsa khususnya di provinsi ini.

Karena itu, pemerintah berkomitmen bahwa bahasa daerah jangan sampai punah atau hilang akibat perkembangan yang mengglobal dewasa ini.

“Seperti sejarah I Lagaligo yang semula pakai bahasa lontara kemudian di Indonesiakan, tiba-tiba dibukukan dalam bahasa asing (Inggris) sehingga jika kita yang menyaksikan pementasan dramanya di luar negeri kita tidak bisa mengerti,” ujarnya seraya berharap agar kongres bahasa daerah Sulsel ini mampu ‘membumikan’ bahasa Bugis, Makassar, Tanatoraja dan Massenrempulu di lingkungan masyarakat. (ant)

Sumber: Berita, 30 Mei 2007

Facebook Comments