Menurut Thomas Aquinas, sebagaimana ditulis Bapak M.J. Daeli dalam tulisannya berjudul “Dilema Usaha Manusia Rasional“, kepercayaan mengenai kebenaran religius bersifat suprarasional dan supernatural, namun tak bisa disebut irasional.

Saya pribadi tidak bisa menerima sepenuhnya pernyataan Thomas Aquinas ini. Kepercayaan orang Israel akan “lembu emas” ketika mereka meninggalkan Yahwe merupakan salah satu contoh dari irasionalitas. Mengapa ? Karena ini jelas-jelas bertentangan dengan akal sehat: barang mati buatan tangan sendiri “dituhankan” dan disembah oleh pembuatnya sendiri. Adu Zatua buatan tangan Ono Niha di zaman dulu yang diberi makan (lafadukhu ba “mbawania” gö) dipercaya mendatangkan berbagai macam rejeki dan perlindungan. Masih banyak contoh-contoh lain yang berkaitan dengan kepercayaan yang boleh kita masukkan dalam dunia irasional. Kedua contoh ini, dalam tulisan ini saya golongkan dalam Dunia III: Dunia Anatural atau Dunia Irasional.

Kita bisa membagi dunia manusia ke dalam tiga tingkat: (1) Dunia I: Dunia Spiritual atau Dunia Supranatural, (2) Dunia II: Dunia Realitas, dan (3) Dunia III: Dunia Anatural atau Irasional.

  1. Dunia I: Dunia Spiritual, atau Dunia Suprarasional atau Dunia Supranatural (menurut istilah Thomas Aquinas) adalah dunia bagian “atas” yang menarik dan mengarahkan pikiran manusia ke hal-hal luhur, ke yang “atas”. Ia berada di luar jangkauan rasionalitas manusia, mengatasi rasionalitas tetapi tidak bertentangan dengannya. Dunia spiritual menjadi pembersih dan pencerah pikiran dan kesadaran manusia. Ia memurnikan akal budi dan rasionalitas manusia. Perdamaian, pengharapan, cinta murni, kehidupan, pengampunan, optimisme, penyembuhan, sikap positif adalah buah-buah pengaruh Dunia Spiritual terhadap Dunia Realitas.
  2. Dunia II: Dunia realitas, dunia yang mewujud dalam kehidupan manusia sebagai individu atau sebagai kelompok. Dalam dunia realitas manusia bergumul dalam kehidupannya: bekerja, bermalas-malasan, berkreatifitas, berdoa, merenungkan tentang kehidupan, menyelidiki gejala-gejala alam, pergi ke dukun dan sebagainya. Dalam dunia realitas, manusia menggunakan akal budinya. Segala hal atau gejala di luar dirinya dicoba diterangkan secara rasional, karena hanya melalui itu ia bisa menangkapnya secara jelas. Dalam usahanya itu, ia menemukan bahwa sejumlah gejala tak dapat diterangkan secara rasional. Kualitas dari dunia realitas yang mewujud ditentukan oleh sejauh mana kedua pengaruh dua dunia yang lain (dunia spiritual dan dunia irasional) terhadap dunia realitas.
  3. Dunia III: Dunia anatural atau dunia irasional merupakan sumber irasionalitas, pembawa segala hal yang bersifat negatif, jahat, tak berkualitas. Ia selalu berusaha merongrong dunia realitas, ia menariknya ke bawah, mengacaukannya, merusakkannya. Rongrongan ini dunia irasional terhadap dunia realitas berlangsung dalam berbagai cara, mulai dari cara yang sangat halus, tidak kentara sampai pada cara kasar dan terang-terangan, tergantung dari subjek yang dirongrong. Perang, keputusaan, kebencian, kematian, pesimisme, kesombongan, iri hati, dendam, pembunuhan, penghancuran, adalah buah-buah dari pengaruh dunia irasional terhadap dunia realitas. Ia suka menyamar sebagai bagian dari Dunia I atau Dunia Spiritual melalui gejala-gejala yang seakan-akan “supranarural” pada hal merupakan gejala irasional. Orang yang telah terhisap oleh dunia irasional ini akan sangat sulit bersikap dan bertindak dengan nalar sehat.

Dalam rangkaian tulisan ini, istilah atau gejala “supranatural” dipertentangkan dengan istilah “paranormal”. Dunia supranatural merujuk pada Dunia I (yang mengatasi rasionalitas kita tapi tidak bertentangan dengannya – Thomas Aquinas) sementara dunia paranormal merujuk pada Dunia III yang berusaha mengepung, menohok dan menghancurkan kesadaran kita.

Para skeptik seperti James Randy tidak percaya akan eksistensi dunia supranatural (Dunia I) dan Dunia III. Mereka juga tidak membedakan kedua dunia itu, dengan kata lain istilah Dunia/Gejala Supranatural dan Dunia/Gejala Paranormal dianggap sama, yaitu gejala yang hanya ada dalam pikiran orang-orang yang mempercayai eksistensinya. Posisi para skeptik seakan dikuatkan melalui kenyataan bahwa hingga saat ini belum seorang pun yang mengklaim memiliki kemampuan paranormal berhasil memperlihatkan secara meyakinkan kemampuan itu di hadapan para skeptis, terutama James Randy. (Nanti, dalam tulisan lain, akan dijelaskan mengapa gejala-gejala itu tak mampu didemonstrasikan di depan para peragunya).

Sikap ekstrim (jadi sebuah irasionalitas juga) para skeptik ini – yang tidak mengakui eksistensi baik gejala supranatural maupun gejala paranormal – “dikoreksi” oleh disiplin ilmu baru: parapsikologi, yaitu studi “ilmiah” tentang gejala yang diduga paranormal (“scientific study of [alleged] paranormal phenomena”). Dalam parapiskologi, agaknya dunia supranatural (dunia I) dan dunia paranormal (dunia III) sebagaimana diberikan dalam klasifikasi di atas tidak dibedakan.

Yang membedakan para skeptik dengan para peneliti parapsikologi tidak lain adalah sikap mereka yang bertentangan: yang pertama menyangkal eksistensi dunia I dan III sementara yang terakhir berhipotesis: gejala itu ada dan (mungkin) bisa dijelaskan secara ilmiah.

Kesalahan terbesar dari parapsikologi (dan barangkali sumber utama kegagalan mereka membuktikan hipotesis tentang gejala non-natural) adalah ketidakmampuan atau kealpaan disiplin ilmu ini dari awal untuk membedakan kedua dunia itu – dunia supranatural dan dunia irasional.

Para praktisi dunia paranormal selalu mengklaim diri identik dengan dunia supranatural atau dunia spiritual; dan pada saat yang sama mereka tidak malu-malu (bahkan dengan bangga) mengakui diri sebagai bagian dari dunia irasional.

Tidak mudah membedakan Dunia I dan Dunia III, dan karenanya banyak orang yang mencampuradukkannya dalam Dunia II: Dunia Realita.

E. Halawa*

* Tulisan ini dimuat pertama kali di Nias Portal pada tanggal 14 Agustus 2004, dan ditayangkan kembali di sini dengan revisi kecil.

Facebook Comments