(Janto Marzuki-Stockholm)*

Zev yang baik, Adakah sekolah yang ’gratis’ di dunia ini? Mungkin ada, mungkin tidak. Terbayang kalau saya membaca biaya yang diperlukan oleh orang tua di Indonesia untuk dapat menyekolahkan anaknya. Untuk TK perlu berapa juta, SD yang top berapa juta, belum nanti SMP-nya dan kemudian SMA-nya demikian juga, terus belum kalau ingin melanjutkan ke PT … minta ampun.

Adakah alternatif bagi orang tua yang menginginkan anaknya untuk dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi? Saya mencoba kali ini untuk menulis dan berbagi cerita tentang keadaan sekolah di Swedia. Mungkin
dapat ini dijadikan sebagai tambahan wawasan.

Banyak yang mengeluh, sekolah mahal di Indonesia. Semakin tinggi tingkatannya, semakin besar biaya yang perlu diadakan. Beberapa pencinta KoKi ada yang ingin tahu, dan antara lain juga lewat japri menanyakan ke saya bagaimana untuk dapat belajar/sekolah di LN, terutama cara mendapatkan beasiswa.

Tentunya setiap PT dan negara mempunyai aturan sendiri-sendiri. Saya berusaha menulis yang saya ketahui keadaan di Swedia, dan sebisa saya. Untuk kebenaran 100%-nya, dan yang ‘up to date’, tentunya silahkan anda re-check atau hubungi ke/dengan instansi yang bersangkutan.

Biaya hidup sehari-hari termasuk mahal tinggal di Swedia. Dibalik itu, prinsipnya sampai hari ini sekolah mulai dari SD sampai SMA ‘gratis’ tanpa dipungut biaya disini. Malahan buku dipinjami, buku tulis serta pensil dikasih. Banyak sekolah yang menawarkan makan siang gratis, ini tergantung kecamatan mana kita sekolah. Lunch gratis, biasanya tergantung politik dari daerahnya, jadi tidak tergantung daerahnya kaya atau miskin. Masih belum habis disini, anak yang sekolah mendapatkan tunjangan sekolah sebesar sekitar 900 Skr (120 USD)/bulan. Tunjangan tentunya hanya dikasihkan ke mereka yang mempunyai ijin tinggal (Permanent Resident) saja, atau memiliki Person Number (nr induk tunggal) Swedia. Bukan maksud saya ‘iming-iming’, kenyataannya memang begitu.

Sedangkan sebagai mahasiswa di PT, sampai hari ini juga ‘gratis’, dalam arti tidak ada biaya pendaftaran tidak ada uang bangku maupun uang semester. Ini berlaku secara umum semua PT di Swedia. Yang ada adalah iuran kesejahteraan mahasiswa, yang biasanya diurus oleh persatuan/dewan mahasiswa dan uangnya digunakan untuk informasi ke/dari mahasiswa, biaya ujian, pesta yang ada kaitannya dengan sekolahan, dan yang besarnya iurannya relatif murah, kurang dari 500 SKr(65 USD)/semester. PT di Swedia mendapatkan biaya pendidikan yang diperlukan dari negara, dan besar biaya yang didapat sesuai dengan jumlah murid yang mengikuti program/jurusan tsb. Jadi kalau program disalah satu PT dihapus atau ditutup, bukan oleh karena tidak ada biaya untuk mengadakan programnya, tetapi oleh karena program di PT tsb terlalu sedikit peminatnya, atau kekurangan murid.

Yang menjadi masalah untuk student asing, untuk dapat memulai kuliah di tingkatan S1 atau tingkatan Diploma, diharuskan lulus bhs Swedianya untuk tingkatan SMA. Bahasa Swedia menurut saya lebih susah daripada bahasa Inggris. Kecuali bagi mereka yang pernah belajar atau dapat berbahasa Jerman atau Belanda sebelumnya, oleh karena bahasa-bahasa tersebut masih satu keluarga. Kemampuan Bahasa Swedia ada bermacam tingkatan, kalau anaknya kurang ‘senang’ belajar bahasa, untuk dapat lulus tingkatan SMA perlu waktu antara 2-3 th!

Jadi memang bhs Swedia relatif susah. Sedangkan di kehidupan sehari-hari tidak masalah dengan memakai bahasa Inggris, orang Swedia rata rata bagus bhs Inggrisnya. Kebanyakan penduduk Swedia dapat menggunakan bahasa Inggris dengan baik, apalagi anak sekolah. Sopir bus, sopir taxi, polisi, tukang parkir, pak pos, tukang sampah atau kasir di supermarket dapat berbahasa Inggris di Swedia. Kemampuan berbahasa Inggris bagi pelajar di Swedia lulusan SMA atau mahasiswa relatif bagus sehingga bagi mereka tidak diperlukan lagi nilai Toefl kalau mereka ingin belajar ke LN atau mengikuti program exchange.

Untuk tingkatan S2, lain lagi di Swedia, banyak program yang kuliahnya diberikan dalam bhs Inggris dan biasanya program tsb ada kaitannya dengan negara berkembang. Jadi untuk itu kemampuan bhs Swedia tidak menjadi persyaratan.

Banyak mahasiswa Indonesia yang mengambil program ini. Beasiswa dapat diperoleh langsung lewat sitenya PT di Swedia atau dapat dicari antara lain di links terlampir, dapat juga minta atau tanya ke Kedutaan Swedia di Jakarta. Saya yakin mereka dapat membantunya. Alternatif lain, beberapa PT di Indonesia mempunyai kerja sama dengan PT di Swedia, misalnya saja yang saya tahu UGM (terutama teknik) di Yogya mempunyai kerja sama dengan Chalmers University (juga hanya teknik) di Gothenburg, Swedia.

Sedangkan kalau ikut ’program exchange’, dari luar negeri dan ingin ke Swedia lain lagi. Biasanya dimana anak belajar disalah satu PT, setelah masuk minimum semester ke 5 dapat mengajukan untuk belajar di LN antara lain di Swedia. Tentunya kalau PT tsb memiliki kerja sama dengan PT di Swedia. Setahu saya, cara ini tidak ada kerjasama dengan PT di Indonesia. Untuk mahasiswa Indonesia, biasanya harus lulus S1-nya. Kalau dengan negara lain ada, mis. dengan Australia.

Pendidikan tingkat ‘Kandidat’ di Swedia, setaraf S1 di Indonesia memerlukan 120 points, sudah termasuk menulis thesis (10 p) sekitar 3 th. Untuk tingkatan ‘Magister’ di Swedia, setaraf S2 di Indonesia perlu 60 atau 80 points lagi setelah ‘Kandidat’, juga termasuk thesis (20 p) dan perlu waktu sekitar 1,5 – 2 th. Mulai th 2007, PT di Swedia akan mengikuti aturan EU, sehingga seperti KTH (Royal Institute Technology) untuk mendapatkan ‘Master Engineering’ perlu total 200 points (sebelumnya 180 p) atau 5 th. Untuk mengambil S3 atau ‘Doktor’-examen biasa 4 th lagi setelah ‘Magister’.

Di Swedia mengambil S3, biasanya sponsor dari industri atau perusahaan dan judul atau titel nya juga yang ada kaitannya dengan yang diperlukan oleh industri/perusahaan yang mengkasih sponsor tsb. Biaya untuk hidup sebagai mahasiswa di Swedia, sebagai patokan yaitu sesuai dengan beasiswa yang didapat oleh setiap anak Swedia yang mengajukannya sekitar 7300 Skr/bulannya (USD 1000) dari negara. Dari jumlah tsb 60% hutang, dan harus dikembalikan nanti kalau sudah bekerja dan yang 40% berupa sumbangan/tunjangan dari negara. Ukuran yang sebesar itu biasanya yang ditanyakan oleh pemerintah Swedia (imigrasi via Kedutaan) sebagai ukuran dan pertanggungan jawab untuk mahasiswa asing dapat belajar dan tinggal di Swedia. Setahu saya, mahasiswa asing tidak harus membuka account khusus dan yang harus ditunjukkan setiap bulannya, tapi biasanya cukup sekali saja sewaktu mengajukan visa atau perpanjangan visa nanti. Sedangkan secara kenyataan, bagi kita orang Indonesia, dapat kita tekan pengeluaran se minimal mungkin.

Jumlah biaya di atas, pemerintah Swedia menghitung dari biaya yang diperlukan bagi seorang mahasiswa Swedia untuk beli buku, makan standard, tiket transport bulanan, tiket teater, biaya tilpun, langganan koran, TV, kadang pesta, sekali-kali makan diluar. Saya tebak, bagi mahasiswa Indonesia, dengan 4000-4500 Swkr/bulan dapat hidup, ini sudah termasuk biaya tempat tinggal dan hidup sehari-hari termasuk uang kesejahteraan mahasiswa.

Kalau mau belajar dari orang kita yang sudah lama tinggal dikota/daerah tsb, akan lebih gampang untuk dapat belanja di toko alternatif/murah. Tambahan biaya yang diperlukan, dapat ditutupi dengan misalnya bekerja part time sewaktu weekend atau liburan.

Kedengarannya mahal hidup dan belajar di Swedia, tapi banyak mahasiswa kita yang pernah membandingkan dengan kalau belajar di negara lain spt Jerman, ternyata jatuhnya ya tidak terpaut banyak. Kebanyakan mahasiswa kita yang berada di Stockholm, belajar di KTH Kungliga Tekniska Högskolan (Royal Institute of Technology) atau di Karolinska Institute (Medicine) atau Stockholm University. Banyak dari mereka apply langsung ke PT-nya lewat internet dan begitu pula untuk mendapatkan beasiswanya. Mahasiswa Indonesia di Swedia, paling banyak belajar di Gothenburg (University dan yang teknik di Chalmers), kota nr 2 terbesar di Swedia setelah Stockholm.

Setahu saya, mahasiswa Indonesia di Gothenburg sering saling ketemu satu dengan yang lain. Mereka juga relatif dekat dengan masyarakat Indonesia yang telah lama menetap di Gothenburg. Kota lain di Swedia yang PT-nya cukup terkenal disamping Stockholm dan Gothenburg adalah Uppsala, Lund, Linköping, Umeå dan di samping itu masih banyak PT lainnya yang tersebar di seluruh Swedia tergantung dari program atau jurusan yang ditawarkan.

Ini ada situs ‘resmi’ dalam bhs Inggris yang dapat dipelajari tentang seluk beluk belajar di Swedia. Banyak informasi yang bermanfaat didalamnya, antara lain daftar PT di Swedia juga beasiswa yang ada serta persyaratannya;
http://www.sweden.se/templates/cs/SISFrontPage____4908.aspx http://www.sweden.se/templates/cs/CommonPage____5092.aspx

Situs Kedutaan Swedia di Jakarta;
http://www.swedenabroad.com/pages/start____16562.asp

Situs KBRI di Stockholm, Swedia;
http://www.indonesiskaambassaden.se/

Kalau anda ingin tahu lebih lanjut pengalaman dari mahasiswa Indonesia di LN dan antara lain di Swedia dapat juga anda mencari informasi dari beberapa sumber antara lain dari beberapa milis yang membahas tentang mis. beasiswa.

Pakai search engine mis. Google, tulis ‘beasiswa’ dan tekan klik, anda akan menemukan milis beasiswa dan dapat anda pelajari dengan seksama di situ. Kalau ingin membaca yang lebih specifik mis. tentang Swedia, cari di antara Messages di milis tsb, Search = Swedia dan klik Search (kalau milisnya Yahoo Groups). Tentunya harus sedikit telaten dan perlu waktu.

Ma’af mungkin kedengarannya agak teknis, tapi gampang kok, silahkan coba. Semoga bermanfa’at.

Sebetulnya, di Swedia tidak ada yang ‘gratis’, termasuk untuk sekolah. Pendidikan perlu biaya yang besar. Negara memerlukan biaya tsb dan berhasil mendapatkannya dari penarikan pajak dari penduduknya yang bekerja, termasuk dari saya. Hanya saja, uang yang terkumpul kembali lagi ke masyarakat berupa service dari pemerintah kependuduknya, tanpa terjadi banyak ‘kebocoran’ di jalan.

Anak India, Pakistan dan China banyak sekali yang memanfaatkan kesempatan sekolah ‘gratis’ di Swedia ini. Akhir-akhir ini ada suara dari banyak kalangan di Swedia yang menginginkan untuk tidak meng-‘gratis’-kan lagi
belajar terutama di PT bagi mahasiswa asing (yang tidak mempunyai Person Number atau ijin tinggal dan tidak ikut
membayar pajak) di Swedia. Ada juga benarnya, terutama bagi kami yang telah membayar pajak ke negara yang cukup tinggi dan menyumbang untuk kesejahteraan rakyat dan negara Swedia.

Ini kalau kita mau egois loh…

Salam hangat:
Janto Marzuki (merasa masih terlalu banyak yang belum tahu) Stockholm – Swedia

*Artikel ini dari Kompas, dikirim ke Redaksi Situs Yaahowu oleh Autha Z. (Trier) dengan harapan: “semoga bisa memotivasi anak Nias”.

Facebook Comments