Cipt. Waty Lase – Grup Onogauko

Me ohalö gangetula ha sambalö fabali*
öröido tuho dödö
Owaö so niha bö’ö si tebai fabali khöu
Me no moroi ba mböröta

(Koor)
Fitu fakhe no numalö me fabali ita
No taya ba dödögu
Lö udönadöna öfuli ndra’ugö
Ba lö manö sa’ae ba dödögu

(Solo) O’öndrasido ötutunö ngarö dödö
(Koor) Owaö: faniasa
(Solo) Fa’ohahau dödö lö ösöndra ba mbö’ö
(Koor) Sagötö fabali
(Solo) He ö’andrö khögu: öfuli ndra’ugö
(Koor) Ba lö manö sa’ae ba dödögu

(Koor)
Du .. du .. du … du .. du ..
Lö sa’ae ba dödö
Du .. du .. du … du .. du ..
Böi angarö ba khögu

***
Lagu-lagu Nias yang dikarang hingga sekitar akhir tahun 1970an masih dibayang-bayangi oleh pengaruh adat Nias yang kuat. Setiap kata yang menyangkut faomasi (cinta) antara dua insan yang bebeda jenis harus dibungkus dalam kata-kata kiasan, tidak boleh “to the point“.

Mowengu-wengu dalangö
Mege’ege gifökifö
Hewisa wangai ya’ugö
Ba gotalua ndra inamö

Talangö” (kepinding, kutu busuk) dan “kifökifö” (kutu buku ? – semacam ulat yang kulitnya berwarna ke”perak”an, bunyinya khas, terdapat di lipatan buku-buku tua – mohon koreksi kalau saya salah) adalah panggilan kepada sang kekasih … terkesan lucu tetapi begitulah keadaan hingga sekitar akhir tahun 1970an.

Sesudahnya, sejalan dengan terbukanya Nias dari berbagai bentuk keterisoliran, syair lagu-lagu Nias pun mengalami transformasi: menyesuaikan diri dengan “trend” syair lagu-lagu pop nasional.

Itulah yang kita baca dari baris demi baris syair lagu ciptaan Waty Lase yang ditulis si depan.

Ketika engkau putuskan: “kita harus berpisah”
Engkau meninggalkanku, kekasih
Kau katakan, ada yang lain yang tak terpisahkan darimu
Sudah sejak dari awal

Pembicaraan bukan lagi soal kesan ketika melihat atau memandang sang kekasih dari jauh seperti:
Ba hiza sitou nakhida – lihatlah adinda
Ba luaha moro’ö – di muara Sungai Moro’ö
Awai fönö sahani – seperti “fönö” yang hanyut**
Gayania ba wofanö – gayanya berjalan

Apa yang terungkap dalam syair lagu saat itu merupakan cerminan dari keadaan nyata pada waktu itu. Kalau engkau jatuh hati pada seseorang, engkau tidak bisa begitu saja menyapa sang kekasih ketika bertemu di jalan. Kalau juga engkau paksakan, “gokhö” (genggaman tinju) akan melayang di mukamu kapan-kapan, ketika engkau sedang asyik-asyiknya melenggang di harimbale, misalnya.

Kini, syair-syair “kiasan” itu semakin menghilang dari perbendaharaan kata para pengarang lagu Nias. Para orang tua dan pihak keluarga juga tidak terlalu keras membatasi pergaulan anak-anak perempuan. Akan tetapi satu ekstrim seakan selalu saja melahirkan esktrim yang lain. Kalau dulu “kungkungan” terhadap anak-anak gadis Nias begitu ketat dan irasional, kini, ada juga kecenderungan lain yang agak ekstrim: norma-norma budaya Nias itu dilupakan begitu saja, dan digantikan dengan apa saja yang datang dari luar. Hal ini menjadi sangat aktual ketika Nias sedang sangat terbuka terhadap dunia luar, terutama semenjak segala yang berbau “dunia luar” memasuki Nias dalam rangka program Rekonstruksi dan Rehabilitasi.

***
Dalam lagu “Lö sa’ae ba dödö” di depan, kita bisa melihat “percakapan langsung” antara seorang kekasih dengan kekasihnya yang sudah 7 tahun meninggalkannya. “Isi” lagu ini barangkali masih “terlalu maju” untuk zaman kini, terutama di daerah Nias, yang masih menabukan “perpisahan” atau “perceraian”. Lagu ini seakan mempersiapkan “psikologi” masyarakat Nias akan keniscayaan datangnya budaya itu kelak di Nias.

* Pencipta lupa menggunakan mutasi awal pada kata “angetula” -> gangetula.
** Ketika banjir besar datang, ranting-ranting atau batang kayu ringan dari hasil pembukaan hutan di hulu sungai hanyut dan terkadang membentuk “tumpukan” yang mengapung di permukaan air dan hanyut bersama banjir. Inilah yang disebut “fönö“.

e. halawa*

Facebook Comments