Oleh Pdt. Em. BUDHIADI HENOCH

Karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Roma 5:3b – 4)

BARU-baru ini telah dicanangkan oleh Yayasan Indonesia Forum sebuah tekad yang mencengangkan : Tahun 2030 Indonesia termasuk dalam kelompok negeri lima besar di dunia sesudah Cina, AS, India, dan Uni Eropa, secara ekonomi, dengan pendapatan/kapita 18.000 dolar AS. Bukan main! Kita tahu, bahwa negeri kita telah lama terpuruk dan rakyatnya hingga kini berada dalam kesengsaraan yang berkepanjangan. Namun karena dikemukakan oleh lembaga resmi, kita menerimanya sebagai suatu perkara yang menggembirakan.

Banyak orang menilai negatif dan pesimistis terhadap pencanangan itu. Kendati demikian, jika negeri dan bangsa kita telah “siuman” dari kesengsaraan yang telah berabad-abad itu, bukankah sudah tiba waktunya negeri kita bangkit? Bahkan sebelumnya ada yang menyatakan, bahwa pada tahun 2015 atau tahun 2020 pun negeri kita mampu berada pada posisi itu, karena tersedianya sumber daya alam yang berlimpah.

Tentu ada sejumlah persyaratan ketat yang harus kita penuhi, agar pencanangan itu tidak sebatas slogan belaka, namun benar-benar dapat kita wujudkan. Untuk maksud tersebut, kita dapat mengemukakan beberapa syaratnya sebagai berikut :

Pertama, seluruh anak bangsa, mulai dari para pejabatnya, tokoh-tokoh masyarakatnya, para pelaku bisnisnya, hingga segenap rakyatnya, mencintai negeri Indonesia dengan penuh kesungguhan. Tegasnya, nasionalisme dan patriotisme kita hayati sepenuhnya dari Sabang sampai Merauke dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kedua, kita perlu memiliki konsensus nasional untuk mewujudkan niat dan tekad bersama, sehingga pada tahun 2030 benar-benar negeri kita tampil sebagai “the big five”, lima besar dunia. Jangan sampai hanya segelintir orang yang berusaha untuk mewujudkannya, sedang orang-orang lain tidak ikut berperan, atau bahkan menjegalnya.

Ketiga, kita usahakan terwujudnya negeri kita sebagai negeri “bebas koruptor”, dan bukan negeri “koruptor bebas” dalam kaitannya dengan tindak korupsi. Maklum ramai-ramai melakukan tindak korupsi lebih mudah, ketimbang meniadakannya.

Keempat, kita budayakan seluruh anak negeri memiliki semangat untuk bekerja keras membangun negeri demi kejayaan bangsa Indonesia. Karenanya, etos kerja para anak bangsa harus benar-benar dapat kita perbaiki dan kita tingkatkan.

Kelima, kita upayakan pemerintah, birokrat, lembaga hukum di semua tingkatan, para wakil rakyat di pusat dan daerah, dunia asuransi, untuk dapat membangun kejujuran, agar semua pihak yang mengadakan relasi dengan kita mempercayai kinerja kita masing-masing. Sindiran “Jangan ada dusta di antara kita”, cukup mengena hati kita.

Keenam, kita hadirkan tata krama, sopan santun, dan sikap yang benar, dalam hubungan antarmanusia di tengah masyarakat umum. Lantas kita jumpai suasana hidup yang baik dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kita. Tak perlu ada demo, karena pihak yang didemo tahu mengurus semua perkara dengan adil dan bijaksana.

Sekiranya perkara-perkara di atas benar-benar dapat kita usahakan dengan berhasil, niscaya kita punya keyakinan, bahwa tekad untuk menjadi negeri lima besar dunia pada tahun 2030 akan tercapai. Namun jika tidak dengan gigih kita usahakan, jangan heran jika negeri dan bangsa-bangsa lain akan mencemooh kita. Mereka akan berucap, bahwa negeri dan bangsa Indonesia sedang menegakkan benang basah. Atau, omong besar dan punya obsesi yang mengawang-awang, sehingga tak kunjung menjadi kenyataan.

Ayat-ayat firman Tuhan di atas berbicara tentang proses dari kesengsaraan menuju ketekunan, dari ketekunan ke tahan uji, dan dari tahan uji ke pengharapan. Proses tersebut menyakitkan, namun begitulah sejarah telah mencatat, betapa selama berabad-abad kita menderita sengsara dengan upah sebenggol sehari. Juga saat sebagian bangsa kita mengalami penderitaan sebagai romusha dengan kerja paksa dan penyakit malaria yang menyertainya.

Termasuk masalah jugun ianfu yang merendahkan martabat perempuan bangsa kita. Kemudian berlanjut dengan “penjajahan” terhadap rakyat kita oleh para penguasa yang berasal dari bangsa kita sendiri. Semuanya membuat kita bertekun dalam menanggung beban kehidupan dan tahan uji dalam ketabahan yang luar biasa, bahkan keadaan itu berlangsung hingga dewasa ini dengan mengencangkan ikat pinggang, kendati kita dikenal telah hidup di sebuah negeri yang merdeka. Kendati demikian, kita tetap berpengharapan menatap masa depan. Buktinya? Visi tahun 2030 bagi negeri kita!

Setelah kita telusuri masa lalu bangsa kita, memang amat menyedihkan. Namun kita jangan berhenti pada tindakan meratapi keadaan masa lalu kita. Karena itu, wajar jika kita bangkit dan melejit untuk mencapai cita-cita pada tahun 2030 itu. Untuk maksud tersebut, kita perlu mawas diri dan bertanya secara jujur: “Di mana posisi kita dalam percaturan dunia pada masa kini?” Dapatkah kita bangkit, entah dari ketertinggalan kita, atau ketidak-mampuan kita, sehingga tekad untuk menjadi bangsa yang berhasil dalam kelompok lima besar dunia menjadi kenyataan? Jarak waktu 23 tahun cukup berat, kecuali jika kita bekerja keras untuk mengupayakannya. Ibarat kita sedang berlomba lari, ketertinggalan kita begitu jauh dari bangsa-bangsa lain.

Masihkah kita mampu mengejarnya? Dengan pencanangan tekad tersebut, nama baik Indonesia sedang dipertaruhkan, dan dunia sedang menantikan keberhasilan atau kegagalan negeri kita. Jika kita berhasil, dunia akan mengagumi kita, namun jika kita gagal, jangan tanya betapa mereka mengejek kita. Konon, penggundulan hutan di negeri kita terjadi 2% setahun. Bandingkan dengan Brazil yang hanya 0,6 % per tahun. Konon kontrak penggalian tambang Freeport di Timika (Papua) baru berakhir pada tahun 2041. Masih adakah benda-benda tambang yang kita wariskan kepada anak cucu kita?

Marilah kita bersatu padu mewujudkan tekad kita itu, demi nama baik negeri dan bangsa kita. Atau, kita biarkan saja negeri kita merana dan dicemooh oleh orang dan bangsa yang lain? Sungguh, tahun-tahun mendatang adalah tahun-tahun yang berat untuk kita lalui. Dasawarsa-dasawarsa lalu telah kita lewatkan dengan banyak kerugian dan masa yang panjang itu tak mungkin kembali. Karenanya, masa yang akan datang hendaknya kita gunakan dengan penuh sikap tanggung jawab. Siapa dari antara kita yang peduli terhadap permasalahan tersebut? Amin.***

*Penulis, pendeta emeritus Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 19 Mei 2007

Facebook Comments