Catatan Redaksi:
Diskusi tentang (i)rasionalitas di Situs Yaahowu ternyata tidak luput dari perhatian Bapak M. J. Daeli, yang sering mengisi Situs Yaahowu dengan tulisan-tulisannya. Semoga tulisan Bapak M.J. Daeli berikut ini memancing para penulis lain untuk mengirim tulisan untuk menyemarakkan diskusi ini. (Redaksi).

Oleh M. J. Daeli

Apa itu kebenaran
Sungguh menarik dan menggugah, Situs Ya’ahowu menurunkan artikel “Irasionalitas Dalam Keseharian Kita”. Artikel telah menarik banyak pemikir – pecinta ilmu dan filsafat dan menjadikan bahan olah pikir (diskusi). Sungguh menggembirakan. Tanggap menanggap buah pikir terjadi secara terbuka dan dalam batas diskusi bijak. Bersikap kritis tetapi tidak negatif. Pendapat yang disampaikan lebih bersifat “bersumbang-sadap-saran” dari “mau menang sendiri”. Suatu hal yang positif. Memperkaya baik akal budi mau pun kecerdasan semua pihak yang serius mengikuti olah pikir ini. Sekali gus merupakan nilai tambah bagi Situs Ya’ahowu. Begitu serius olah pikir yang dilakukan sehingga tanggapan yang disampaikan diberi judul “Dentuman Kesalahkaprahan”.

Apa benar ada “Kesalahkaprahan” ? Kalau memang ada : Apakah Kesalahkaprahan itu demikan “hebat” sehingga dapat diumpamakan sebagai suatu “Dentuman” ? “Kesalahkaprahan” dalam hidup sehari-hari bermakna “ringan”. Atau lebih bersifat kesalahan prosedur. Mendapatkan solusinya tidak terlalu sulit, karena kesalahan yang timbul disebabkan penggunaan alur pikir yang kurang tepat. Dalam peribahasa Nias ada dikenal : “Tenga hole wiga, ha hole lae”, yang maknanya : suatu kesalahan kecil karena kekhilafan dan bukan kesalahan karena kesengajaan. Sedangkan pengertian “dentuman” mengandung makna, kalau boleh dikatakan, “istimewa”. Kita tidak asing pada makna : dentuman meriam, dentuman bom, dentuman gunung berapi, dan sebagainya. Mengapa “Kesalahkaprahan” itu demikian hebat seperti dentuman ?

Sedangkan mengenai substansinya sendiri yaitu tentang “rasional dan irasional” bukanlah suatu yang mudah ditangkap apa yang dimaksud dengan kata itu. Pun seandainya diketahui artinya, apakah ia sesuatu yang bisa dicapai manusia ? Rasio, logika, falsafah hidup dan perwujudannya dalam kenyataan hidup mengacu kepada kebenaran. Apa itu kebenaran (Pilatus) ? Menambah masalah yang memerlukan penjelasan makna. Kini, manusia (misalnya : di Indonesia) lebih suka dinilai pintar daripada dinilai benar. Pintar milik beberapa orang, sedangkan benar milik semua orang, karena pintar lebih berdimensi pikiran dan kecerdasan, sedangkan benar bertitik berat pada dimensi nurani.

Setiap orang, saya kira, memandang dirinya rasional. Dan seorang rasional, saya kira juga, pastilah seseorang yang menginginkan agar orang lain bersikap rasional. Bisakah manusia rasional ? Pertanyaan terakhir ini diutarakan oleh banyak pemikir, diantaranya Bertrand Russel. Juga Russell mengingatkan betapa, pragmatisme yang menekankan irasionalitas pendapat dan psikoanalisis yang menekankan irasionalitas perilaku, telah membawa banyak orang pada pandangan bahwa sesungguhnya tidak ada citra rasionalitas yang bermanfaat untuk dijadikan patokan pendapat dan perilaku ( Pergolakan Pemikiran, Yayasan Obor Indonesia dan Gramedia , Jakarta 1988) .

Pemikir lain Horkheimer berusaha memberi pengertian rasional baru dalam teori kritisnya, yang pada hematnya bakal bisa memberi kesadaran untuk membebaskan masyarakat dari keadaannya yang irasional. Tetapi Horkheimer sendiri pesimis dan berkesimpulan bahwa keirasionalan masyarakat jaman ini sudah terlanjur. Hal ini disebabkan masyarakat modern merupakan suatu sistem tetutup dan total. Artinya orang dalam setiap situasi dan hal apa pun, suka atau tidak suka, harus mengikuti aturan main dalam sistem itu yang ditentukan oleh masyarakat sendiri. Sehingga, menurut Horkheimer , dilema usaha rasional manusia itu adalah terbenamnya akal budi objektif dan digantikan akal budi yang melulu instrumentalis.

Manusia tidak hanya mampu berpikir, melainkan sekaligus sadar tentang pemikirannya. Kesadaran pada diri merupakan perbedaan manusia dengan hewan dan adalah suatu kekuatan yang potensinya tak terbatas. Dengan kesadaran, manusia mampu dan bebas berusaha mengelola ruang dan waktu demi terpenuhi hasyrat-hasyratnya, sesuai tujuan-tujuannya sendiri. Akan tetapi dengan sistem tertutup dan total dari masyarakat modern, menjadikan manusia modern telah menutup semua realitas eksistensi manusiawinya dan menggantinya dengan gambaran realitas artifisial yang dipercantik, demikian menurut Erich Fromm. Selanjutnya oleh Erich Fromm dikatakan bahwa dengan berkembangnya akal budi (rasionalitas) instrumentalis, maka kalau masalah yang mencuat pada abad ke-XIX adalah Allah telah mati tetapi pada abad ke – XX (dan sampai sekarang) Manusia telah mati . Bahaya masa silam adalah manusia menjadi budak, sedangkan bahaya masa depan ialah manusia menjadi robot atau irasional. Peribadi jadi teralienasi dari realitas.

Menurut hemat penulis, terkait dengan uraian diatas, perlu kita bedakan tiga pengertian berikut. Kalau saya mengatakan kepada anda : “Saya memiliki sakit mata, karena itu saya harus mengurangi kerja di komputer” suatu pernyataan rasional. Bila saya mengatakan : “Saya senang warna hijau” suatu pernyataan selera. Kalau seorang guru yang sedang mengawas ujian nasional berkata : ” Saya harus membantu murid saya untuk menjawab soal-soal ujian supaya lulus” suatu pernyataan irasional.

“Selera” tidak melanggar aturan logika, dan tidak bisa diperdebatkan. Para ahli psikoananalisis berpendapat bahwa tidak mungkin kita bersikap rasional dalam soal kepercayaan, dan ini bukan termasuk “irasional”. Kepercayaan mengenai kebenaran religius bersifat suprarasional dan supernatural, namun tak bisa disebut irasional (Thomas Aquinas).

Dalam hubungan diskusi ini pula, penulis menyampaikan sebatas pengetahuan yang dimiliki tentang teori Freud maupun Husserl. Tujuan penulis adalah para peserta diskusi mengembangkan lebih lanjut.

Sebatas pengetahuan penulis , Freud sebagai seorang psikoanalisis, melukiskan mekanisme yang dilewati nafsu-nafsu (libido, nafsu kematian) dalam diri manusia. Dalam analisanya, yang penting bukannya apakah nafsu atau naluri itu analog atau identik dengan nafsu dalam hewan, melainkan cara nafsu itu disalurkan. Bagaimana cara nafsu itu disalurkan, orientasi yang khas itu, itulah yang membedakan kehidupan manusia dari kehidupan hewan-hewan.

Sedangkan Husserl, sebagai seorang fenomolog, bermaksud untuk meneliti data menurut bentuk penampakannya. Salah satu semboyan dasar fenomologinya diarahkan pada idealisme yang diketahuinya, yaitu : Kembali pada benda-benda itu sendiri . Menurut Husserl, setiap fenomena (gejala yang nampak) menunjukkan kepada sesuatu diluarnya. Bukan asosiasi sesudahnya maupun penalaran, melainkan struktur intern dalam gejala yang diketahui itu, mengangkat kita di atas taraf hanya pengalaman belaka. Selanjutnya dikatakan bahwa kalau tidak meneliti kesadaran manusia tentang sesuatu, berarti kurang memperhatikan intensionalitas (keterarahan) kesadaran dan pengetahuan pada dunia luar. Filsafat tidak bermaksud mempelajari dunia luar itu sendiri, melainkan apa yang menjadi dasar dalam diri subjek pengetahuan yang terbuka dan rindu akan hasil pengetahuannya. Untuk mencapai hal itu, ia mengembangkan cara kerja berdasarkan panangguhan dan penundaan (Epoche) terhadap penegasan, serta mengajak para fenomolog untuk mengurung atau menahan keputusan tentang ciri-ciri eksistensi objek yang bersangkutan. Semuanya itu untuk mencapai hakekat (Eidos) dari gejala-gejala yang sedang disoroti. Metode ini disebutnya reduksi, artinya jalan melangkah mundur dari gejala-gejala itu sampai pada intinya yang diharapkan menampakkan diri. Jadi, metode ini seolah-olah berdayung ke arah hulu perjumpaan subjek-objek dalam kesadaran subjek itu sendiri.

Karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis, tidak membahas substansi ini lebih jauh. Penulis juga tidak bermaksud membahas mengenai peristilahan “Dentuman Kesalahkaprahan” dan pendapat yang timbul dari tanggap-menanggap di antara para peserta diskusi. Penulis hanya bermaksud menyampaikan pengetahuan yang saya miliki sehubungan dengan yang didiskusikan. Dengan harapan, semoga bermanfaat dalam mengembangkan olah pikir.

Selamat berdiskusi.

Jakarta, 15 Mei 2007

Facebook Comments