Saya membuka Alkitab Bahasa Nias, Soera Gamaboe’oela Li Sibohou Edisi 1911 susunan H. Sundermann yang dicetak ulang Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) tahun 1984. Saya membukanya bersama-sama dengan Alkitab Bahasa Indenesia terbitan LAI-Jakarta Edisi 1987.

Dalam Injil menurut Matius (Mataio) Pasal 1:3 saya menemukan kekurangcermatan terjemahan yang cukup ‘serius’. Untuk menjelaskan kekurangcermatan itu saya mengutip Matius 1: 1 – 3 dalam Alkitab Bahasa Nias dan Alkitab Bahasa Indonesia.

Pasal 1:
Soera mbõrõta Jesoe Keriso, ma’oewoe Dawido andrõ, ma’oewoe Gaberahamo.
Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.

Pasal 1:2
Iza’aki nono Gaberahamo, Jakobo nono Giza’aki, Joeda nono Yakobo ba talifoesõnia andrõ.
Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,

Pasal 1:3
Feresi nono Joeda ba Sera, ononia khõ Damara andrõ. Eseromo nono weresi. Aramo nono Geseromo.
Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Perez memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, …

Kekurangcermatan itu terdapat pada kalimat: Feresi nono Joeda ba Sera, ononia khõ Damara andrõ. Kalimat ini, apabila dialihkan ke dalam Bahsa Indonesia, menghasilkan: Peres anak Joeda dan Sera, anaknya dari Tamar. Padahal, sebagaimana terbaca dari Mat. 1:3 Alkitab Bahasa Indonesia di atas, Peres dan Zerah adalah anak Joeda(Yehuda): “Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar”. Pengertian yang keliru adalah: Feresi (Peres) anak Sera (Zerah), sedangkan pengertian yang seharusnya adalah: Feresi (Peres) dan Sera (Zerah) bersaudara, dua-duanya anak Joeda (Yehuda) dari Tamar.

Kekurangcermatan itu barangkali secara tak sengaja muncul dari ‘teknik’ penerjemah (H. Sundermann) untuk menghindari penerjemahan “memperanakkan” yang memang agak “susah” dicari padanannya dalam Bahasa Nias. Maka, H. Sundermann mulai dari Mat. 1:2 menyebutkan “anak” lebih dahulu dari “yang memperanakkan”: Iza’aki nono Gaberahamo – Ishak anak Abraham (bandingkan dengan: Abraham meperanakkan Ishak versi Alkitab LAI).

H. Sunderman tentu saja tidak mengambil Alkitab edisi Bahasa Indonesia, yang muncul kemudian, sebagai pedomannya, melainkan tentulah Alkitab Bahasa Jerman atau edisi Bahasa Eropa lainnya.

Terjemahan yang lebih tepat kiranya adalah:
Ono Joeda moroi khõ Damara ya’ia Weresi ba Sera, mo’ono Weresi ya’ia Geseromo … dst.

Rasa-rasanya istilah “mo’ono” tidak hanya dipakai untuk perempuan tetapi juga untuk laki-laki. “No mo’ono’õ ba ?” (Apakah Anda sudah punya anak ?) adalah kalimat yang biasa kita dengar dalam percakapan Bahasa Nias.

Kekurangcermatan lain misalnya terdapat dalam Mat. 1:22-23
22: Ena’õ itõrõ niwa’õ Zoa’aya andrõ, ni’ombakha’õ zama’ele’õ, andrõ si manõ da’õ fefu; imane sama’ele’õ andrõ: 23 “Hiza so dania nono alawe sanabina, ba madono onomatoea, ba labe’e tõi nono andrõ “Emanuoe’eli”, “awõda Lowalangi” geluahania, na la’ali [ba li niha]”.

Aliran kalimat di atas agak kaku, dan dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan kurang lebih:
22: Agar firman Tuhan itu yang disampaikan oleh nabi digenapi, maka terjadilah itu semua; nabi berkata: 23 “Akan ada anak dara yang mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan dia Imanuel – yang berarti Allah menyertai kita.

Alkitab Bahasa Indonesia:
22: Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: 23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita.

Kekakuan dan “kekaburan” penerjemahan terjadi pada ayat 22 di atas. Bandingkanlah terjemahan (saya) di atas dari teks Nias susunan Sundermann dengan ayat 22 dari Alkitab berbahasa Indonesia. “Kelebihan” terjemahan H. Sundermann adalah penggalan kalimat: “imane samaele’ö andö” atau “nabi berkata”.

Kiranya, terjemahan yang lebih pas Mat. 1:22-23 dalam Bahasa Nias adalah:
22: Alua da’ö ena’ö itörö niwa’ö Zoa’ya nifa’ema zama’ele’ö 23:”Sindruhu, ono alawe andrö manabina ba madono ia onomatua, ba labe’e töi nono andrö Emanueli – eluahania “fao khöda Lowalangi”.

Sebenarnya, kalau kita agak rajin membanding-bandingkan Soera Gamaboeoela Li Sibohou dengan Alkitab berbahasa Indonesia, masih banyak “kekakuan” lain dalam Alkitab terjemahan H. Sundermann itu. Saya tidak percaya bahwa itu mencerminkan “suasana bahasa Nias tempo dulu”, melainkan keterbatasan H. Sundermann dalam mengungkapkan istilah asing, apalagi istilah alkitabiah ke dalam Bahasa Nias.

Barangkali sudah waktunya pihak Gereja (Katolik dan Protestan) di Nias secara bersama-sama mengusahakan terjemahan baru Alkitab ke dalam Bahasa Nias.

Terlepas dari berbagai kekurangcermatan itu, Alkibab Bahasa Nias merupakan karya monumental kebahasaan, khususnya Li Nono Niha.

E. Halawa*

*Atrikel ini disiapkan untuk Nias Portal 31 Oktober 2002 tetapi tidak jadi ditayangkan.

Facebook Comments