Bola Panas Serambi Yerusalem

Friday, May 11, 2007
By katitira

Tentang Draf Perda Agama

(Gatra Online)
Aceh di ujung barat berjuluk Serambi Mekkah. Kini Kabupaten Manokwari, Irian Jaya Barat, di ujung timur tak mau ketinggalan. Kawasan berpenduduk mayoritas Protestan ini mendeklarasikan sebagai Serambi Yerusalem. Jika Serambi Mekkah mendapat otonomi khusus menerapkan syariat Islam, Serambi Yerusalem meneguhkan diri sebagai kota Injil.

Manokwari berlakangan ini mulai berkemas merancang peraturan daerah (perda) berbasis Injil. Seorang tokoh agama Papua kepada Gatra menyebut geliat di kabupaten penghasil buah itu sebagai reaksi perkembangan di Aceh. Maka, dua kawasan itu terkesan bersahutan.

Awal Maret lalu, seberkas rancangan Perda tentang Pembinaan Mental Spritual beredar luas di Manokwari, yang kini menjadi ibu kota Provinsi Irian Jaya Barat (IJB). Berkas itu dilengkapi pengantar Dewan Gereja setempat. Semula beredar di kalangan terbatas, lantas menyebar luas.

Ada pasal yang menyiratkan, pembinaan mental harus berbasis nilai Kristiani yang dianut mayoritas warga. Implementasinya, antara lain, dengan pemasangan simbol dan aksesori Kristen di kantor-kantor pemerintahan. Di daerah yang sudah berdiri gereja tidak boleh dibangun tempat ibadah agama lain.

Warga tidak dibenarkan menggunakan busana yang menonjolkan simbol agama di tempat umum. Buntutnya, ada orang Islam yang menilai pasal itu sebagai larangan berjilbab. Ada juga umat Katolik menganggapnya larangan suster mengenakan kerudung khasnya. Bukan hanya orang Islam yang tersodok.

Kontan saja draf regulasi itu menyulut reaksi luas. Tidak hanya di Papua, melainkan juga di kalangan tokoh lintas agama dan elite politik Jakarta. Mirip reaksi luas pada maraknya perda bernuansa syariat. Rancangan perda itu memang belum resmi jadi usulan pemerintah kabupaten ke DPRD.

Tidak jelas siapa penyusunnya. Tapi itu bagian rangkaian panjang mengentalnya sentimen keagamaan di Manokwari. Sebulan menjelang beredar draf tersebut, awal Februari 2007, dilangsungkan semiloka dua hari bertajuk “Manokwari Kota Injil”.

Acara itu dihadiri sejumlah akademisi dari Universitas Negeri Papua dan Universitas Cenderawasih, Jayapura, serta tokoh agama dari sejumlah Gereja Kristen Papua dan birokrat Pemkab Manokwari. Koordinator acara itu adalah seorang birokrat: Benny Boneftar, Kepala Badan Kepegawaian Daerah Manokwari.

Semiloka ini bertujuan melestarikan Manokwari sebagai kota injil. Menurut Benny, peneguhan kota Injil itu hasil rekomendasi Majelis Rakyat Papua (MRP). Majelis ini juga menyarankan Kabupaten Fakfak menjadi kota religius Islam dan Kabupaten Merauke sebagai pusat situs keagaaman Katolik.

Konsekuensi sebagai kota Injil, kata Benny, semiloka itu mendukung larangan peredaran minuman keras di Manokwari. Semua orang yang mengaku Kristen harus diinjili. Biar mereka yang malas beribadah jadi lebih rajin. Sejarah masuknya Injil ke Papua juga perlu masuk kurikulum pendidikan sebagai muatan lokal sekolah se-Manokwari.

Bila dirunut ke belakang, perda dan semiloka itu sudah setahun lebih jadi tuntutan masyarakat Kristen Manokwari. Pada 17 November 2005, ribuan warga berdemonstrasi ke kantor DPRD Provinsi IJB. Mereka berangkat dari Gereja Maranatha, dipimpin Pendeta Herman Awom, Wakil Ketua Sinode GKI Papua.

Demonstran diterima pimpinan DPRD IJB, yang didampingi Bupati Manokwari, kapolres, dan dandim setempat. Warga mendesak DPRD membentuk Perda Manokwari Kota Injil. Mereka juga menyerukan segera dibentuk dialog antarumat beragama untuk membangun persepsi yang sama tentang konsep kota Injil.

Tema utama demo itu sebenarnya menolak pembangunan Masjid Raya dan Islamic Center di Manokwari. Akibat desakan itu, Bupati Manokwari, Domingus Mandacan, menolak izin pendirian masjid. Keberadaan Masjid Raya dinilai mengganggu identitas Manokwari sebagai kota suci kaum Nasrani Papua.

Bagi masyarakat Kristen Papua, Manokwari memiliki sejarah istimewa. Kabupaten di bagian tempurung peta bumi Cendewawasih ini jadi gerbang pertama penginjilan ke Papua. Agama Kristen masuk ke kawasan itu sekitar satu setangah abad silam. Penginjil asal Jerman, Carl W. Ottow dan Johann Gottlob Geissler, mendarat di Pulau Mansinam, tiga kilometer dari Pelabuhan Manokwari, pada 5 Februari 1855.

“Itu tonggak sejarah dimulainya peradaban baru di Papua,” tulis pernyataan Badan Kerja Sama Antar-Gereja (BKAG) Manokwari, Oktober 2005, saat menolak pembangunan Masjid Raya. “Pembangunan dan kemajuan menyeluruh di tanah Papua tidak bisa dipisahkan dari peran gereja/Injil yang sangat besar.”

Adapun Katolik masuk Papua pada 1892, sekitar 40 tahun setelah Protestan. Ditandai dengan kehadiran Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, SJ, di Desa Sekeru, kini bagian Keuskupan Manokwari-Sorong. “Bagi umat Kristen di tanah Papua, Manokwari adalah kota suci, serambi Yerusalem, dan jantung iman yang harus dijaga kekudusannya,” tulis Pendeta Hofni Simbiak, Ketua Umum GKAG Manokwari.

“Jati diri Manokwari harus dijaga dan dihargai oleh semua komunitas agama, suku, dan etnis yang ada di tanah Papua,” tulis Pendeta Hofni dalam suratnya. Nuansa surat penolakan Masjid Raya itu terkesan panas. Karena dilampiri catatan fantastis tentang daftar gereja yang ditutup, dirusak, dan dibakar sepanjang serarah Indonesia merdeka. Entahlah akurasinya.

Dipaparkan, zaman Soekarno (1945-1967) ada dua gereja dirusak. Masa Soeharto (1967-1998) ada 456 gereja (1,19 per bulan). Era Habibie (1998-1999) ada 156 gereja (9,18 per bulan). Periode Abdurrahman Wahid (1999-2001) ada 232 gereja (11,05 per bulan). Dan zaman Megawati (2001-2004) ada 114 gereja (2,92 per bulan). Siapa tak marah membaca data macam ini.

Ketua MUI Papua, Zubeir Hussein, mengkhawatirtan dampak penonjolan identitas keagamaan di Manokwari ini. Karena lokasi kabupaten bagian barat Papua itu berdampingan dengan kabupaten lain yang jadi basis muslim. Misalnya Sorong dan Fakfak. “Di bagian barat Papua, jumlah muslim dan Kristen seimbang,” kata Zubeir.

“Karakter daerah seperti itu rentan konflik, seperti di Maluku dan Poso,” Zubeir menegaskan. Di kawasan barat itu, menurut Zubeir, Islam masuk sejak 1486, empat abad sebelum Kristen datang. Saat itu, Papua Barat jadi wilayah Kesultanan Tidore (kini Maluku Utara).

Penonjolan agama tertentu sebagai tonggak awal peradaban Papua, menurut Zubeir, hanya memicu debat tak perlu. Toh, Zubeir tak keberatan dengan sebutan Manokwari sebagai Serambi Yerusalem. “Karena Yerusalem itu kota suci tiga agama, Yahudi, Kristen, dan Islam. Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama orang Islam, juga di Yerusalem,” katanya.

Hanya saja, Zubeir mengingatkan, kawasan Papua Barat yang rentan itu jangan sampai ditulari sentimen konflik dari Maluku. Mengingat banyak pengungsi korban konflik Maluku yang hijrah ke Papua.

Zubeir justru memuji pola hubungan lintas agama di kawasan timur-utara (sekitar Jayapura), yang banyak dihuni penganut Protestan dan kawasan selatan yang banyak dihuni penganut Katolik. Di atas kertas, kawasan itu tak rawan konflik, agama dominan tidak menonjolkan formalitas keagamaannya.

“Justru itulah karakter asli orang Papua yang saya kenal. Saya khawatir kasus Manokwari itu akibat provokasi orang luar,” kata Zubeir. “Jangan sampai Manokwari, setelah bergelar Serambi Yerusalem, hanya menjiplak sisi konflik akut di Yerusalem sana,” ujarnya. Jiplaklah sisi damainya, sebagai tempat berdampingan beberapa situs agama besar.

Asrori S. Karni
[Nasional, Gatra Nomor 25 Beredar Kamis, 3 Mei 2007]
Sumber:http://gatra.com/artikel.php?id=104380, tgl. 07 Mei 2007
(Situs Ya’ahowu/Katitira)

5 Responses to “Bola Panas Serambi Yerusalem”

  1. 1
    Marthin D. Laia Says:

    Kaum Paranoid memang alergi mendengar kata ‘Kristen’ dan ‘Injil’. Kenapa hal ini jadi dipermasalahkan? Selama tujuan tersebut demi kebaikan untuk kemuliaan Tuhan, ya sah sah saja? Manokwari jadi kota Injil atau serambinya Yerusalem itu baik. Kenapa mesti diributkan? Atau cuma cari alasan untuk gontok gontokan? Buat konflik baru? Jika kita (agama apapun) dapat mendefinisikan hal tersebut dengan hati yang benar dan pikiran jernih, saya rasa gak bakal menimbulkan masalah. Tetapi jika pola pengartianya berdasarkan kepentingan sendiri, egoisme, atau mau menang sendiri, mungkin bisa menjadi suatu konflik. Yang membuat konflik kan manusianya sendiri yang mempunyai pola pikir yang berbeda dalam memahami hal tersebut (kota injil). Ajaran Kristen adalah cinta damai dan kasih terhadap sesama manusia, tidak ada premanisme atau pemaksaan kehendak sendiri kepada orang (kaum) lain, apalagi mau perang. Tidak sama sekali.
    Terima kasih.

  2. 2
    Postinus Gulo Says:

    Bangsa ini sudah muak dan jenuh dengan konflik agama. Konflik Poso sebenarnya dilatarbelakangi oleh agama (walau anggapan ini telah lama dikubur). Begitu halnya pengemboman yang terjadi dimasa silam, selau diklaim atas dasar agama. Bagi saya, sah-sah saja, kita menunjukkan identitas agama kita, entah itu Serambi Mekkah, entah Serambi Yerusalem. Tetapi tujuannya harus jelas: peacemaker, agen rekonsiliasi!. Seorang teolog, Hans Kung pernah berseloroh: jika tidak ada kedamaian di antara agama-agama, maka jangan harapkan adanya kedamaian di antara masyarakat. Agama Kristen sebagai agama Cinta Kasih, sebenarnya tidak perlu jatuh pada legalisasi duniawi yang cenderung arogan itu. Pengaruh dan identitas kita, seharusnya kita tunjukkan lewat kualitas dan akhlak yang kita miliki, lewat aktualisasi dan bukan hanya pada institusi atau slogan-slogan yang cenderung kosong. Semoga!

  3. 3
    Pemerhati Says:

    Postinus Gulö: “Agama Kristen sebagai agama Cinta Kasih, sebenarnya tidak perlu jatuh pada legalisasi duniawi yang cenderung arogan itu.”

    Saya setuju sekali dengan pendapat ini. Sekali kita jatuh ke dalam “legalisasi duniawi” semacam itu, kekristenan justru melorot menjadi kekristenan kulit, kekristenan kosmetis, bukan lagi kekristenan substansi. Di permukaan memang kelihatan “ideal”: pemerintah daerah Papua menjadi institusi moral untuk menjadikan Papua “surga”, bebas dari berbagai “penyakit masyarakat”. Benarkah ? Barangkali ini hanya utopia.

    Penyembuhan berbagai macam penyakit masyarakat tidak dapat dilakukan dengan strategi “tambal sulam” (dan cenderung latah) macam ini, melainkan melalui cara yang lebih mendasar: keadilan bagi semua, contoh perilaku yang baik dan konsisten dari para tokoh formal dan informal, dan tentu saja strategi pembangunan yang visioner dan berkeadilan.

    Semoga konsep “Serambi Injil” itu dan serambi-serambi bentuk lain ditinjau ulang oleh para pengambil kebijakan di tingkat daerah dan terlebih di tingkat pusat. Saya kuatir, “Serambi-serambi” itu justru menjadi “dinding-dinding” segregasi yang semakin manjauhkan dan memisahkan anak-anak bangsa dari lingkungan saudara-saudaranya sendiri.

    Pemerhati

  4. 4
    Randy Says:

    Sebenarnya tidak masalah adanya perda seperti itu,karena diatas kertas Aceh bisa kenapa Papua tidak bisa??,harusnya kalau negara tegas aceh tidak boleh semua tidak boleh,ingat walaupun indonesia mayoritas islam bukan berarti kehendak mayoritas yang di utamakan,kita semua sama tapi kita sendiri memperlakukan satu sama lain beda ingat,indonesia didirikan bukan didirikan oleh orang muslim saja tapi semua agama,tolong ingat sejarah,walaupun secara jumlah memang ada perbedaan tapi hak semua agama,suku,ras di indonesia adalah sama,tisak ada warga negara kelas 2 Ingat itu!!!!!untuk masalah konflik di poso itu masalah politik yang di bawa ke isu agama,dimana orang yang mengaku beragama semakin radikal akibat pengajaran kekerasan yang semakin menjadi pada era itu,jadi ingat kita bukan Iran,bukan Arab saudi atau Vatikan yang didirikan atas keseragaman identitas

  5. 5
    OPM Says:

    ternyata Kristenphobia itu makin menjalar kemana – mana.
    kalau ada statement Islam lebih dulu masuk PApua lewat kesultanan Tidore itukan dulu kenyataanya, sekarang mayoritas orang papua asli Kristen, terus mereka mau apa? kalo gitu Papu merdeka aja dari Indonesia dari dulu, gak ada gunanya jadi orang indonesia transmigran jawa aja tch hasilnya melimpah ruah, eh bikin REPOT lagi…

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Kalender Berita

May 2007
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031