Gunungsitoli, (Analisa)

Selama rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung di Kabupaten Nias, Bupati Binahati B Baeha, SH menilai, pihak BRR mempunyai kesalahan dalam sisi pengawasan di lapangan dalam berbagai hal.

Sementara rekanan yang melaksanakan pekerjaan tidak punya hati nurani, hanya mau mendapatkan untung besar semata tanpa memikirkan kualitas bangunannya, kata Bupati Binahati B Baeha, SH saat dihubungi Analisa di kantornya Jalan Pancasila, Gunungsitoli, beberapa waktu lalu setelah melakukan tinjauan ke lapangan untuk melihat kondisi kemajuan dan perekembangan rehabilitasi dan rekonstruksi di Kabuputen Nias

Dikatakannya, tujuan dari peninjaun itu untuk melihat secara riil kondisi di lapangan apa yang sudah dan sedang dilakukan BRR perwakilan Nias, pihaknya juga ingin mengklarifikasi pengaduan-pengaduan masyarakat yang selama ini disampaikan kepada pemerintah daerah, banyak pekerjaan BRR yang tidak sesuai dengan semestinya.

Menjawab pertanyaan terkait wacana yang berkembang tentang RR diserahkan ke pemerintah daerah, Bupati Nias mengatakan, pemerintah daerah berharap menyelesaikan tugasnya hingga April 2009.

Namun dari pihak pemerintah daerah sendiri sedang mempersiapkan diri agar seluruh institusi dan kelembagaan yang ada di Kabupaten Nias memiliki kemampuan dan SDM, mana kala BRR Perwakilan Nias meninggalkan Nias dan Pemkab Nias harus siap untuk itu.

Sebab itu, ungkap bupati dalam waktu dekat pihaknya akan merekrut para sarjana-sarjana seperti, sarjana teknik, akuntansi dan sarjana bidang kelautan, hal itu bertujuan untuk mendukung roda pemerintahan serta mampu mengantisipasi dan mengambil alih kegiatan-kegiatan yang pada saatnya ditinggal BRR.

HARUS MAMPU

Pada saatnya BRR akan meninggalkan Nias, dengan sisa waktu itu, pihak Pemkab Nias harus mampu bekerjasama dan mendukung program BRR, tetapi dengan pemerintah daerah mendukung bukan berarati mengiyakan seluruh yang direncanakan BRR.

Pemerintah melalui Sekbernya maupun elemen masyarakat juga harus mampu mengkritisi BRR secara konstruksif dan membangun, bukan mengkritisi secara membabi buta karena mempunyai kepentingan,ujar bupati.

Sementara untuk BRR sendiri, bupati mengharapkan untuk dapat melakukan pekerjaan hingga tuntas jangan separuh hati, hingga setiap pekerjaan yang dialkukan dapat dirasakan masyarakat manfaatnya, semua perencanaan dan dana anggaran harus dapat dilihat, hingga pekerjaan tidak setengah-setengah.

Jika perlu pekerjaan yang lain dipending, hingga skala prioritas dapat dilaksanakan secara tuntas, seperti pembangunan irigasi yang hingga saat ini belum dapat difungsikan.

ULTIMATUM

Sehari sebelumnya, saat peninjauan di lapangan Bupati Nias bersama Ketua DPRD M Ingati Nazara AMd, Wakil Bupati dan Temazaro Harefa memberikan ultimatum kepada Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Perwakilan Nias untuk segera membongkar proyek drinase, di Desa Muzoi Kecamatan Lahewa Timur sepanjang 4 kilometer dan proyek drinase di Desa Lawira Satua Kecamatan Lotu.

Hal itu dikatakan Bupati Nias, setelah melihat kondisi bangunan fisik bangunan-bangunan drinase itu, pada pembangunan proyek banyak mengalami kesalahan dalam pelaksanaannya, juga dalam hal bahan material, seperti penggunaan pasir yang bercampur lumpur, batu kapur dan campuran semen yang tidak seimbang.

Setelah melakukan beberapa peninjauan di beberapa lokasi pembangunan BRR di Kecamatan Lotu dan Kecamatan Lahewa Timur, bupati juga meninjau pembangunan di Keca

Facebook Comments