Martin Lukito Sinaga: Penemuan ”Makam” Yesus Masih Spekulatif

Saturday, May 5, 2007
By nias

Nah, semua temuan itu adalah gejala-gejala yang mestinya membuat kita lebih arif untuk mengatakan bahwa “penemuan-penemuan” tentang Yesus itu adalah spekulatif. Injil memang bukan tulisan sejarah. Karena itu, ketika orang akan menembus di belakang Injil, maka akan terjadi loncatan-loncatan hipotetis. Nah, hipotesis-hipotesis itu bercorak sangat kontekstual.

Kontroversi penemuan ”makam” Yesus telah mengusik perayaan Paskah umat Kristiani tahun ini. Berikut tanggapan Pdt. Martin Lukito Sinaga, dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, kepada Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) Kamis lalu (12/4), di Kantor Berita Radio (KBR) 68H Jakarta.

Bung Martin, apa makna Paskah dalam kekristenan?

Martin SinagaPaskah itu dari bahasa Ibrani, dari kata pesakh, yaitu Tuhan melewati rumah-rumah kita dan menyelamatkan kita. Lalu ini menjadi ”pesta” Yesus dan murid-murid-Nya. Lalu diubah lagi menjadi pesta akan kematian dan kebangkitan Yesus. Seperti Allah melewati rumah kita dan menyelamatkan kita, maka Paskah juga berarti kematian dan kebangkitan Yesus; membuat yang mati bangkit.

Pada Paskah tahun ini, umat Kristen dihebohkan oleh kontroversi penemuan “makam Yesus” lewat terbitnya buku James D. Tabor berjudul The Jesus Dynasty. Seorang pendeta bernama Ioanes Rakhmat pun sudah mengulas soal itu di harian Kompas beberapa waktu lalu. Apa komentar Anda?

Ini soal yang tidak mudah. Tapi saya ingin sedikit mundur ke belakang. Setahun terakhir, kekristenan sudah dirundung rasa bingung oleh The Da Vinci Code—novel yang sangat laku dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sekarang, menjelang Paskah, kita dikejutkan lagi oleh buku James D. Tabor, Ketua jurusan keagamaan Universitas North Carolina di Charlotte, AS, dan tulisan Pdt. Ioanes Rakhmat mengenai kontroversi penemuan makam keluarga Yesus itu. Di kotak makam Talpiot itu dikatakan terdapat tulang-belulang yang menurut penulisnya menunjuk ke tulang Yesus dan trahnya.

Di lingkungan jemaat Kristen, kontroversi ini tentu menimbulkan kebingungan dan pertanyaan. Ini tercermin dengan banyaknya pesan pendek (SMS) yang saya terima dari GPIB, GKI, dan gereja saya sendiri. Mereka bertanya: apa maksudnya? Mana yang benar? Setiap Minggu, kita di gereja mengatakan “aku percaya pada kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, dan aku percaya pada kebangkitan daging”.

Jadi bukan hanya kebangkitan rohani, tapi ragawi juga?

Ya, bukan sekadar roh, tapi Credo in Carnis Resurectionem (doktrin kebangkitan daging). Jadi, buku dan tulisan itu menohok dan mengagetkan. Mengagetkan, karena memang jemaat sama sekali tak mengerti, baik duduk perkara tulisan Ioanes Rakhmat itu, maupun temuan para ahli yang sebenarnya masih kontroversial itu.

Ketika jemaat ingin lebih spiritualistis menghayati Paskah, tiba-tiba mereka menerima data-data kontroversial. Dan lembaga STT (Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta) tempat saya mengajar, dipertanyakan; masak mendidik mahasiswanya dengan dosen yang mengajarkan hal seperti ini. Bahkan ada yang mengatakan, ”Sudahlah, tidak usah menyekolahkan anak ke situ lagi!”

Apakah umat Kristen tak bisa menghayati Paskah dengan paham bahwa yang bangkit itu hanya rohnya Yesus, bukan sekaligus daging-Nya?

Mengenai Yesus sendiri, dalam Alkitab dikatakan bahwa ketika bangkit, Ia justru menampakkan diri-Nya kepada orang-orang. Bahkan Ia meminta Thomas untuk memasukkan tangannya di lobang bekas paku yang dialaminya ketika disalib. Lalu Yesus makan bersama mereka setelah Dia bangkit. Jadi, ada momen yang lebih dari sekadar hal subjektif. Ada momen penampakan. Dan penampakan ini lebih dari sekadar soal spiritualitas. Ini sesuatu yang total. Ini terkait dengan kehadiran.

Tapi kalangan peneliti Yesus sejarah ingin merasionalisasi makna kebangkitan itu. Temuan mereka ini, kalau terbukti benar, mengkonfirmasi bahwa kebangkitan itu bersifat metaforis saja. Tanggapan Anda?

Ya, itu memang pendapat para scholar atau para sarjana Yesus sejarah. Tapi kalau kita amati perjalanan keilmuan Yesus sejarah, kita tahu bahwa buku Tabor ini justru memberi ucapan selamat kepada Albert Schweitzer (1875-1965), seorang ahli Yesus sejarah. Nah, selama ratusan tahun mereka sudah berupaya menemukan siapa Yesus sebenarnya.

Bagi para ahli pencerahan, Yesus itu tak mungkin punya mukjizat. Bagi para ahli teologi pembebasan, Yesus itu adalah Che Guevara; Yesus seorang Marxis. Ketika penelitinya seorang Amerika yang berangkat dari kelas menengah borjuis, ia menyimpulkan bahwa Sang Yesus adalah sang bijak sebagaimana Buddha yang senantiasa memberi ceramah-ceramah pencerahan batin.

Anda ingin mengatakan bahwa para peneliti itu sembrono menjustifikasi hipotesis mereka?

Kalau kita lihat sejarah hampir dua ratus tahun penelitian Yesus sejarah, tampaknya seperti itu. Para ahli pencerahan yang tidak percaya mukjizat membuktikan bahwa memang benar mukjizat itu tidak ada. Lalu, orang Amerika yang borjuis mengatakan bahwa Yesus adalah seorang bijak seperti Sang Buddha. Itu karena kebetulan mereka lagi gandrung dengan Buddhisme.

Nah, temuan itu semua adalah gejala-gejala yang mestinya membuat kita harus lebih arif untuk mengatakan bahwa “penemuan-penemuan” tentang Yesus itu adalah spekulatif. Injil memang bukan tulisan sejarah. Karena itu, ketika orang akan menembus di belakang Injil, maka akan terjadi loncatan-loncatan hipotetis. Nah, hipotesis-hipotesis itu bercorak sangat kontekstual. Jadi, hipotesa itu terkait dengan latar belakang budaya dan sebagainya.

Bukankah yang memahami Yesus bangkit secara faktual ke langit yang justru memaksakan literalisme kitab suci dan menjadikannya sebagai fakta sejarah, berkebalikan dengan para peneliti Yesus sejarah itu?

Saya kira, argumen Anda ada benarnya. Tapi seharusnya para arkeolog itu juga mesti lebih rendah hati dengan mengatakan ”tidak tahu” daripada menambah spekulasi dengan mengatakan bahwa Yesus adalah orang yang ingin mendirikan kerajaan seperti Daud. Kan begitu alur buku Tabor! Menurutnya, Yesus adalah orang yang ingin mendirikan dinasti dan punya istri. Dari mana data itu ia dapat selain hipotesa?

Misalnya, dalam buku Tabor dikatakan telah ditemukan kotak kuburan bernama Yesus; lalu ada Yakobus. Lalu ada kotak lain lagi yang berisi kain kafan. Lalu ada Maria. Kemudian, kata Tabor, itu semua dicuri. Harusnya, semua ada dalam satu kotak. Lho, tahu dari mana dia kalau itu harusnya satu kotak? Jadi itu hipotesa saja.

Dan masalah ini sempat masuk ke pengadilan Israel. Yang punya kotak adalah pedagang barang antik yang memalsukan tulisan dan divonis bersalah. Lalu dia naik banding dan menganjurkan perlunya tes DNA. Wah, sekarang tes DNA kasus Munir saja kesulitan, apalagi kasus Yesus. Karena itu, baiklah ini menjadi percakapan para akademisi di ruang terbatas para spesialis; tidak perlu dijadikan konsumsi publik. Untuk sampai pada kesimpulan seperti ini, publik gereja membutuhkan perjalanan keilmuan yang panjang sekali.

Apakah mengisolasi pandangan baru itu dimungkinkan di abad teknologi informasi ini? Mengapa mereka tak boleh mengumumkan “penemuannya”?

Masalahnya, ketika koran mengutarakan tema-tema spesial akademisi yang kontroversial dan debatable, pembacanya yang sebagian adalah warga gereja itu maunya headline saja. Akibatnya, mereka langsung pada kesimpulan: what’s wrong with our faith? what’s wrong with STT, sebuah institusi yang mendidik orang seperti itu?!

Apa dampak penemuan yang memang belum pasti kebenarannya itu terhadap doktrin kekristenan selama ini?

Daripada kita berspekulasi, mungkin mendingan saya meminjam istilah seorang pemikir besar, Rudolf Bultmann. Ia orang yang konsisten menemukan Yesus, dan mengatakan bahwa ia tak menemukan apa-apa dari orang ini selain soal orang yang disalibkan, lalu mengajarkan kerajaan Allah. Dia mengatakan, orang akan sampai kepada iman bukan karena sesuatu yang historis. Dan Tabor pun sebetulnya ingin mengatakan bahwa kita harus membedakan antara studi historis dengan studi teologis. Dengan itu, masalah penemuan historis ini tak terlalu perlu dipusingkan walau kadang ada kaitannya ketika iman Kristiani ingin didefinisikan.

Tapi manusia modern kan juga ingin klaim-klaim teologisnya berdasarkan sesuatu yang historis agar tidak dikatakan percaya buta?

Di sini persoalannya memang rumit. Ini ketegangan lama antara ilmu pengetahuan dan iman. Sejauh mana ilmu pengetahuan bisa membuat orang beriman. Posisi saya dalam hal ini: ilmu pengetahuan itu semacam jejak-jejak atau sinyal-sinyal yang bisa mengarahkan seseorang pada loncatan pada keyakinan iman. Karena itu, iman tidak boleh berdasarkan kepada sejarah. Sebab kalau iman itu berdasarkan sejarah, maka kita sama dengan tidak beriman, tapi hanya menjadi seorang sejarawan.

Memang sudah lama orang ingin menjadikan Yesus seturut dengan dirinya sendiri. Kelompok tertentu mengatakan Dia sampai berkelana ke India. Lalu kelompok tertentu mengatakan Yesus juga sempat memimpin perang Salib. Lalu kalangan cendekiawan mengatakan bahwa Yesus itu lebih baik sesuai dengan kami yang percaya pada yang faktual saja.

Dalam konteks kekristenan, mungkinkah kebangkitan Yesus dipahami sebagai metafora, atau hanya rohani, tidak jasmani?

Menurut saya, semua ini membuat kita berpikir bahwa kita tidak tahu apa yang terjadi dengan kebangkitan. Orang Kristen tidak mungkin berpikir bahwa yang bangkit adalah jiwanya saja. Sebab itu adalah paham aliran sesat yang dilawan orang Kristen, yaitu gnostisisme. Jadi yang bangkit mestilah utuh. Dalam bahasa Paulus, yang bangkit itu tubuh rohani. Jadi, Paulus pun tidak mampu mendefinisikan apa yang terjadi.

Lebih baik kita terbuka dengan apa yang terjadi dengan kebangkitan daripada kita mengklaim semacam sikap ilmiah dengan mengatakan tidak ada lagi itu semua yang berbentuk daging. Atau kita katakan itu semua adalah khayalan. Ini titik to be or not to be. Apa yang kita lihat: apakah kebangkitan juga berarti kita yang sekarang ada di sana atau tidak ada sama sekali.

Memang, pengalaman jemaat pertama kali yang merekam dan menjadi saksi, tentang peristiwa ini. Itu kemudian dimaknai dengan bagaimana kami berubah, ditransformasikan oleh-Nya. Mereka menyebut transformasi diri itu sebagai kebangkitan. Nah, apakah kita mau mengatakan itu subjektif dan tidak obyektif? Kita tidak tahu apa yang mereka temui.

Apakah yang mereka temui sebuah berita atau Yesus dalam sosok yang baru? Artinya, pengalaman ini begitu luar biasa. Sehingga, hampir semua orang mengalami Injil sebagai sebuah kebangkitan. Sehingga, kalau ada yang mengatakan kebangkitan itu rohani saja, itu dianggap kesimpulan yang tergesa-gesa. Apalagi temuan ini masih bersifat hipotetis. Janganlah kita bersandar pada hipotesis untuk sesuatu yang bersifat sakral.

Ada banyak orang Kristen tetap percaya Yesus bangkit secara jasmani. Mereka berpesan, ”Janganlah menjadi Thomas yang tidak percaya sebelum melihat!” Apa maksudnya?

Maksudnya, ada 12 murid Yesus. Salah satunya adalah Thomas yang tidak percaya pada kebangkitan itu. Lalu suatu hari, Yesus menampakkan diri kepada Thomas dan mengatakan kepada Thomas: “Silahkan kamu masukkan jarimu ke bekas paku di tanganku!” Lalu Thomas betul-betul terpukul. Karena itu, Yesus mengatakan: “Percayalah walau Engkau tidak melihat!” Jadi, berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat.

Soal iman dan kebangkitan ini, saya juga pernah mendengar nasehat dari seorang Jesuit bernama J. Madigan SJ. Dia mengatakan: “Memang, kabar kebangkitan itu seperti kabar angin. Ada yang mengatakan Dia bangkit, ada yang mengatakan kubur-Nya kosong, dan ada yang mengatakan Dia menampakkan diri padaku. Lalu para ahli mengatakan ini dan itu.”

Madigan mengatakan, karena jenis cerita itu awalnya dikisahkan perempuan—dan kalau perempuan yang bercerita katanya ramai. Tapi Madigan menambahkan, justru karena cerita kebangkitan itu sedemikian rumornya, maka jalan satu-satunya ketika mendengar cerita tentang kebangkitan, kita harus memasuki sendiri jalan kebangkitan itu.

Seperti apa jalan kebangkitan itu?

Yaitu adanya momen iman yang terjadi. Ada momen perubahan, ada momen percaya walau tidak melihat. Jadi, cerita kebangkitan itu adalah cerita yang eksistensial sekali sifatnya. Ini menyangkut apakah engkau percaya dan menemukan pembaharuan di dalam dirimu.

Tidakkah Anda melihat usaha Tabor sebagai upaya yang wajar saja dalam menyingkap hal-hal yang misterius dalam keberagamaan?

Itu wajar dalam lingkungan para akademisi yang selalu membangun hipotesa. Kita pun selalu membangun hipotesa. Soal nama di kuburan itu, sudah puluhan bahkan ratusan orang di zaman Yesus yang juga memakai nama Yesus, Yakobus, maupun Maria. Itu berarti, yang ditemukan belum tentu Yesus yang dimaksud.

Bahkan menurut seorang profesor statistik, kemungkinan pastinya itu kuburan Yesus yang di Alkitab hanya satu banding enam ratus. Lalu, ada revisi lagi; satu berbanding enam ratus itu hanya dalam cluster terbatas. Kalau dibuka kuburan-kuburan lain lagi, akan bermunculan lebih banyak nama Yesus, Yakobus, dan Maria. Sehingga, “penemuan” ini memang belum fix. Dan menurut saya, itu hampir tidak mungkin fix.

Kalau begitu kebangkitan Yesus tetap harus dimaknai sebagai kebangkitan daging?

Kebanyakan agama-agama memang menekankan pentingnya jiwa, lalu menganggap daging sebagai yang jahat. Tapi itu justru melahirkan kerohanian yang hirarkis. Jadi yang makin rohani dinggap makin tinggi jabatannya. Itu yang mau dilawan dalam peristiwa kebangkitan Yesus. Dalam gerakan feminisme, karena yang rohani itu dianggap maskulin dan yang jasmani itu feminin, maka kita harus hati-hati dengan tubuh perempuan.

Nah, justru kekristenan ingin mengatakan: tubuhmu ini sama pentingnya dengan jiwamu. Kita adalah jiwa yang bertubuh sekaligus tubuh yang berjiwa. Sehingga soal kebangkitan itu adalah soal rahasia. Nah, ketika keyakinan iman masuk ke dalamnya, maka kita mau mengatakan bahwa nama Novriantoni yang sekarang adalah nama yang juga akan disebut di surga. Berarti di situ ada kesinambungan di dalam apa yang ada sekarang dan yang nanti.

Bagaimana umat Kristen menyikapi terbitnya edisi Indonesia buku Tabor ini?

Tidak perlu mensomasi. Menurut saya, kalau saudara-saudara merelakan diri untuk masuk dalam labirin studi Alkitab, maka yang ditemukan di sini adalah hipotesis yang dibuktikan dengan cara tertentu dan dibatalkan pula dengan cara tertentu. Jadi ini perdebatan khas para ahli Biblika yang mencoba mengotak-atik dan menemukan apa yang mereka anggap historis. Nantinya, ilmu pula yang akan membatalkannya. Dan kalau Anda mau masuk ke sana, Anda bisa baca banyak buku, juga melihat website Yesus Seminar.

Tapi ingat, ketika ahli statistik diminta membuktikan apakah kuburan yang ditemukan itu kuburan Yesus, apakah jasad itu adalah jasad Yesus, dia bilang, ”Saya tak bisa membuktikannya. Kalau saya membuktikan, hasilnya malah tidak ilmiah.” Itu pertama. Kedua, ketika tulisan Iones Rahmat mengambil sebuah kesimpulan teologis, di situ masalahnya muncul. Saat dia mengatakan kebangkitan itu hanya metafor, ada sesuatu yang berlebih-lebihan. Artinya, dia mendefinisikan sesuatu yang kita tidak tahu sebagai metafor. Mungkin nanti Allah pun dibilang metafor juga.

Sumber: Situs JIL, 23/04/2007

One Response to “Martin Lukito Sinaga: Penemuan ”Makam” Yesus Masih Spekulatif”

  1. 1
    Soegana Gandakoesoema Says:

    Yang terpenting yang wajib dipersoalkan untuk dibahas adalah:

    Hal-hal yang akan datang dari Allah Bapa, wajib ditunggu-tunggu dan tidak boleh dilupakan ialah:

    Kisah para rasul 1:9-11: Datangnya Yesus kristus untuk kedua kalinya.

    Yohanes 16:12-15: Datangnya Roh Kebenaran.

    Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datangnya Hari Takwil Kebenaran kitab.

    Al MUjaadilah (58) ayat 6,18,22: Datangnya kebangkitan manusia oleh ilmu pengetahuana agama.

    Wasalam,

    Soegana Gandakoesoema
    Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

May 2007
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031