*Oleh Pdt. BAMBANG PRATOMO

“Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1 : 26)

HARI Bumi kita peringati setiap tanggal 22 April sebagai hari untuk mengingat kembali kehadiran kita di bumi dan perlakuan kita terhadap bumi. Banyak pihak menggugat perlakuan manusia terhadap bumi kita, karena ternyata manusia salah dalam memperlakukannya. Betapa tidak, hutan-hutan yang gundul karena ditebangi, tanah longsor dan banjir yang membawa kesengsaraan, udara yang semakin panas dan kotor membawa kepengapan, semuanya itu membuat bumi kita semakin rusak.

Masalah-masalah yang lain di antaranya ekosistem dari tatanan bumi kita kacau, lalu terjadi bencana-bencana alam akibat ulah manusia dengan segala macam kerumitannya. Sekiranya makhluk-makhluk lain dapat berbicara, pasti mereka pun menyalahkan manusia yang rakus mengeksploitasi kekayaan alam tanpa batas, sehingga makin gersanglah bumi kita itu. Memang begitulah manusia yang telah salah dalam memperlakukan bumi dari dahulu hingga kini.

Ayat firman Tuhan di atas menyiratkan maksud tujuan Allah menciptakan manusia khususnya dan alam semesta pada umumnya. Ia menciptakan semuanya itu baik adanya, bahkan manusia diciptakan amat baik, karena menurut gambar dan rupa-Nya. Berikutnya, Allah menugaskan manusia untuk menguasai semua makhluk ciptaan-Nya, baik ikan di laut, burung di udara, ternak dan binatang melata di darat. Dengan demikian, posisi manusia benar-benar sebagai pemegang mandat Allah untuk menjadikan semua ciptaan-Nya memenuhi azas manfaat. Itulah makna “baik” dan “amat baik”, agar dengan cara ini Allah pun dimuliakan.

Mengingat manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, serta diserahi tugas untuk menguasai makhluk-makhluk lain, maka manusia dituntut pertanggungjawabannya. Sudahkah manusia melaksanakan tugas sesuai dengan perintah Allah? Sejauh mana penguasaannya atas makhluk-makhluk lain berlaku secara benar? Jika kita secara jujur menilai apa yang telah dilakukan manusia, tahulah kita bahwa manusia telah berbuat salah dengan mandatnya. Manusia telah sewenang-wenang memperlakukan bumi kita, seolah-olah bumi ini milik manusia sendiri.

Padahal bumi adalah milik Allah dan manusia hanya sebagai pelaksana penguasaan atas nama Allah. Kita ikut bersyukur bahwa ada WALHI dan lain-lain selaku para pecinta alam, yang mengampanyekan upaya-upaya menyayangi bumi kita. Juga kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha penanaman sejuta pohon pada hari-hari tertentu, mendorong dan mengingatkan kita semua untuk melestarikan bumi kita. Beberapa waktu yang lalu berkumpullah para sesepuh masyarakat Jawa Barat di Situ Ciburuy untuk mengagendakan rencana penyelamatan lingkungan yang rusak.

Demikian pula beberapa hari yang lalu, ada seorang anak berumur sembilan tahun, yang bersama ayahnya berenang dan menyelam mengelilingi pulau Bali. Anak tersebut berkomentar bahwa lautnya kotor karena di dalam dan di dasar laut terdapat banyak sampah berserakan. Komentar ini mendorong kita semua untuk tidak hanya membersihkan sampah di laut, tetapi juga mencanangkan budaya bersih dengan membuang sampah di tempatnya.

Bukankah perkara ini ada di depan mata kita? Saat musim hujan banyak got mampet, sehingga air selokan melimpah ke jalan-jalan, akibatnya jalan-jalan pun menjadi rusak dan berlubang. Sungguh, tak akan kunjung selesai kalau kita harus membereskan semua perilaku kita sehari-hari, agar bumi kita nyaman untuk dihuni.

Nyata melalui “Hari Bumi” kita diingatkan kembali, bahwa bumi kita adalah milik Allah dan kita bertanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik. Jika kita tidak mengelola dengan baik, maka salahlah kita kepada Allah. Selaku orang beriman, kita dipanggil untuk membereskan penggunaan mandat kita sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah kepada kita.

Jangan seperti yang dikatakan dalam kitab nabi Yesaya 1 : 3 “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya”. Kiranya kita mengenal Tuhan Allah sebagai Pemilik kita dan Pemilik bumi kita, Dialah yang mempercayakan mandat kepada kita untuk kita pergunakan sesuai dengan perintah-Nya.

Kita baru saja memeringati Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei yang lalu. Dengan tema “Dengan Semangat Hardiknas Kita Sukseskan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Tentu tak terkecuali untuk mendidik kita tentang bagaimana kita mengelola bumi kita. Secara konkret, kita mendidik siapa saja yang terlibat dalam masalah pengelolaan sampah yang baik. Mengolah sampah itu menjadi kompos, maupun didaur ulang; melakukan penghijauan dengan menggalakkan reboisasi; menghemat energi, air dan bahan bakar, dll. Pendek kata, pada waktu ini, tepat momentumnya untuk menghayati pentingnya mengelola bumi kita secara baik dan bertanggung jawab.

Tak ada istilah “terlambat” untuk memulai, namun jika kita tak pernah memulainya, bersalahlah kita terhadap Tuhan Allah, Sang Pemberi mandat itu. Segeralah kita melaksanakan tugas mengelola bumi kita sebagaimana dikehendaki Allah, agar bumi kita tidak menjadi lebih rusak lagi, melainkan dapat kita lestarikan dengan baik. Sumbangsih kita dinantikan demi perbaikan terhadap kerusakan itu, sehinggga kita pun akan mewariskan kepada anak cucu kita, bumi yang lebih lestari. Tidakkah perkara ini juga menjadi pemikiran kita? Jangan sampai anak cucu kita menderita akibat kelalaian kita, yang meremehkan pengelolaan bumi kita.

Hari-hari yang akan datang akan membuktikan kesungguhan hati kita dalam mengelola bumi kita, mengingat bumi kita adalah milik Allah dan kita bertanggung jawab kepada-Nya. Mudah-mudahan kita semakin bijaksana dalam sikap kita terhadap kehidupan kita masing-masing, sehingga kita tidak sembarangan menempuh kehidupan kita di dunia ini. Amin.***

Penulis, pendeta Gereja Kristen Jawa
Kiaracondong Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 5 Mei 2007

Facebook Comments