Dentuman Dahsyat Itu

Monday, April 30, 2007
By nias

*Tanggapan Atas Tulisan Bung Ollyanus Yarman Zb: “Irasionalitas – Dentuman Kesalahkaprahan”

Untuk memahami “irasiolitas”, Bung Yarman mengajukan dua kerangka: (1) kerangka berpikir dan (2) distansi. Pada kerangka pertama (cara berpikir), Bung Yarman mengingatkan agar hati-hati menggunakan frame karena “kerap menutup segala kemungkinan yang ada”.

Bagi saya, kerangka berpikir justru mematok masalah yang saya hadapi. Dalam penelitian ilmiah pembatasan masalah harus dilakukan, kalau tidak penelitian itu mengambang, ngawur, tak berpola, dan akhirnya tak mencapai tujuannya. Hal-hal ini dibahas panjang lebar dalan buku-buku mengenai metodologi penelitian. Ketika saya berbicara tentang “irasionalitas”, pertama-tama saya memberikan pengertian, bukan pengertian yang serba baru, tetapi dari referensi yang sudah ada: kamus.

Bung Yarman memberikan label pendekatan saya sebagai frame “kamus dan kata kamus”. Singkatnya Bung Yarman kurang menerima karena saya menggunakan definisi irasional ala kamus. Pertanyaan saya: lantas, saya harus menggunakan pengertian yang mana ? Dalam tulisan terakhir Bung Yarman, memang ada pengertian baru “irasionalitas”, sebagaimana akan saya uraikan di akhir tanggapan ini. Namun, sebagaimana akan saya jelaskan, pengertian baru tawaran bung Yarman memang tak bisa saya terima.

Sementara itu, saya juga ingin bertanya apakah Bung Yarman menolak atau menerima pengertian irasional(itas) Kamus Filsafat yang disusun Lorens Bagus ? Bagi saya pribadi, pengertian irasionalitas dalam Kamus Filsafat Lorens Bagus sejajar dengan pengertian irasionalitas yang saya sajikan dalam rangkain tulisan saya.

Bung Yarman menulis: “Saya bukan berkata bahwa kata kamus ini salah. Tapi pada cara kita berpikir untuk melahirkan sesuatu yang baru.”. Dalam tulisan saya terdahulu, saya tidak bermaksud melahirkan definisi baru tentang irasionalitas; yang ingin saya sajikan adalah kiat-kiat menghindari gempuran irasionalitas, dan menurut saya ini adalah hal yang baru.

Ada kesan Bung Yarman ingin mencari definisi baru irasionalitas di luar definisi baku ala kamus, entah itu The Cambridge Dictionary of Philosophy atau Kamus Filsafat Lorens Bagus. Hal itu sah-sah saja, sejauh Bung Yarman memiliki alasan yang kuat. Sebagaimana akan terlihat, pendekatan Bung Yarman ini justru melahirkan dentuman dahsyat kesalahkaprahan.

Penggunaan rujukan seperti kamus dalam setiap topik bahasan (diskusi) berfungsi sebagai “pendamai”, “penjelas”, “pencerah” dan sekali gus “wasit” apabila ada pertentangan atau perbedaan pendapat yang lumrah terjadi. Tanpa rujukan baku semacam itu, setiap orang akan melahirkan definisinya sendiri menurut kepentingan atau seleranya. Bahwa kamus merupakan koleksi dari pengertian-pengertian atau pemahaman-pemahaman yang ditemukan jauh sebelum pengertian atau pemahaman itu dimasukkan dalam kamus adalah benar. Itu makanya kamus secara berkala diperbaharui, direvisi, disesuaikan dengan kondisi terkini. Namun “time lag” ini tidak boleh membuat kita alergi terhadap penggunaan pengertian-pengertian yang ada dalam kamus atau referensi semacamnya.

“This is really good“, “I’ll buy it”, “I know that’s Irrational”
Bung Yarman dengan jitu menjelaskan keberatannya tentang kerangka berpikir saya. Ada dua orang yang sedang “tawar-menawar”, yang satu bilang: “this is really good” dan yang lain bilang: “I’ll buy it”. Lantas orang ketiga yang sedang “memperhatikan” mengatakan: “I know that is irrational …”.

Analogi itu meleset. Saya tidak sedang berbicara tentang hal yang khusus (saya tidak sedang menebak isi pikiran kedua orang yang sedang “tawar menawar” itu) melainkan pembicaraan tentang hal-hal yang bersifat umum dari hasil-hasil pengamatan yang bersifat khusus, proses induksi yang biasa dipakai dalam proses penelitian ilmiah. (Jangan-jangan yang sedang “tawar-menawar” itu adalah: Bung Yarman dengan seorang temannya yang sedang bersandiwara: Bung Yarman berperan sebagai salesman HP dan temannya berperan sebagai seorang calon pembeli HP. Harapan mereka, saya (penulis tentang (i)rasionalitas yang sedang lewat di dekat lokasi sandiwara mereka) akan melakukan penilaian atas “sandirwara” yang sedang mereka lakonkan.)

Metodologi penelitian yang menjadi salah satu topik bahasan filsafat ilmu menyajikan berbagai metode penelitian yang memungkinkan pengamatan yang sahih terhadap objek yang diteliti. Sebelum penelitian dilakukan, penlitian itu harus didisain sehingga hasil amatan terhadap objek juga sahih. Dengan merancang penelitian secara baik, pengamatan objek lebih meyakinkan, unsur “sandiwara” objek penelitian akan tersisihkan, dsb.

Distansi dan “hijau”nya Husserl

Bung Yarman menyinggung tentang distansi “jarak [interval] dua hal, subyek-obyek, atau lebih”. Dalam penelitian ilmiah, distansi antara subjek – objek memang menjadi masalah tersendiri. Sebagai contoh, kehadiran sensor (pengindera) dalam aliran fluida yang sedang diukur kecepatannya bisa mengganggu aliran fluida itu sendiri, termasuk kecepatan fluida yang akan diukur. Akibatnya, ketelitian pengukuran menjadi terganggu. Karena itulah dalam penelitian ada juga estimasi kesalahan. Namun kesalahan ini diminimumkan melalui disain penlitian yang baik sehingga efeknya terhadap pengatamatan secara keseluruhan minimal.

Masalah “distansi” lebih rumit dalam ilmu-ilmu kemanusian karena “subjek” sekaligus adalah “objek” (baca: manusia meneliti dirinya sendiri). Saya ingin menegaskan juga bahwa tidak ada pertentangan antara peringatan Husserl dengan suatu pengamatan ilmiah. Yang ingin dikatakan Husserl adalah: hati-hati, jangan terjebak, jangan mudah menyimpulkan.

Penelitian ilmiah hanya bisa maju (melangkah ke depan) kalau keluar dari patokan-patokan ideal para pengkritik ilmu pengetahuan, dalam hal ini sejumlah cabang filsafat. Tanpa penelitian ilmiah, kita bahkan tidak tahu bahwa warna “hijau” yang dipakai Husserl untuk menjelaskan fenomenologinya memiliki karakteristik fisis tertentu.

“Irasional” Loren Bagus
Tentang “irasional” yang saya sebutkan sebagai kata sifat dalam tulisan terdahulu, saya berpedoman kepada aturan pembentukan kata. Dalam bahasa Inggris, sejauh kamus-kamus yang saya pernah lihat, “irrational” adalah kata sifat dan kata benda dari “irrational” adalah “irrationality”. Saya belum pernah menemukan “irrational” berfungsi sebagai kata benda dalam bahasa Inggris. Dan dalam bahasa Indonesia, dua artikel yang ada dalam topik “Rasionalitas” (Muji Sutrisno dan Andi Suruji) merujuk “irasional” sebagai kata sifat dan “irasionalitas” sebagai kata benda. Saya sendiri belum pernah menemukan pemakaian kata “irasional” sebagai kata benda dalam tulisan-tulisan berbahasa Indonesia, selain dari dalam tulisan Bung Yarman dan dari entri dalam kamus Filsafat Lorens Bagus yang ditulis di depan.

Saya beranggapan bahwa “irrational” dan (“irrationality”) tentulah lebih duluan dipakai dalam bahasa Inggris dari pada dalam Bahasa Indonesia. Atas dasar ini, saya lebih cenderung menerima aturan pemakaiannya dalam Bahasa Inggris. Namun pengertian “iraionalitas” Lorens Bagus sejalan dengan pengertian yang ada dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya. Ternyata, pada akhir tulisannya yang sedang saya tanggapi ini, Bung Yarman malah meninggalkan secara total pengertian ini dan mengajukan pengertian baru, yang – sebagaimana akan saya tunjukkan – justru melahirkan dentuman dahsyat kesalahkaprahan.

“Memikirkan sesuatu yang tidak terpikirkan”
Bung Yarman mempertanyankan kembali pertanyaan saya yang berbunyi: “Bagaimana mungkin anda memikirkan sesuatu tetapi pada saat yang sama sesuatu itu tidak terpikirkan?” dengan memberikan sebuah contoh dalam bentuk kalimat tanya berikut:

Pernahkah anda melihat seseorang yang sepertinya pernah anda temui sebelumnya? Tapi pada saat itu anda tidak bisa mengingat lagi, kapan, di mana itu terjadi? Jika anda pernah mengalami hal ini atau ada orang lain yang mengalami hal ini, itulah jawabannya.

Contoh Bung Yarman belum menjawab pertanyaan saya. Ketika saya “melihat seseorang yang pernah temui sebelumnya, namun tidak ingat lagi kapan dan di mana”, saya tidak akan berkata kepadanya: “saya tidak pernah ketemu dengan Anda karena saya lupa kapan dan di mana kita bertemu”. Kalau saya bertemu dengan orang itu saya akan bilang: “Ya .. saya pernah ketemu dengan Anda, tapi kapan dan di mana ya ?”. Catatan: saya menegaskan “Saya pernah ketemu dengan Anda” Artinya, tidak ada lagi keraguan bahwa saya “mengenal” orang itu, terlepas dari apakah saya masih ingat di mana atau kapan kami bertemu atau berkenalan.

Dalam hal ini: yang masuk dalam pikiran saya adalah “saya pernah bertemu dengan orang itu”, sementara yang tak terjangkau oleh pikiran saya saat itu adalah: “di mana atau kapan kami bertemu”. Jadi, terdapat dua hal yang berbeda: (1) kepastian bahwa saya pernah bertemu dengan orang itu, dan (2) keraguan-raguan atau ketidak pastian di mana kami bertemu.

Dalam kasus calon pembeli HP, salesman berusaha “mengganggu” rasionalitas sang calon pembeli dengan mengemukakan hal-hal yangs serba “wah”, “hebat”, “positif” tentang HP dan memiliki HP. Dia menggiring calon pembeli ke arah pikiran macam itu agar pertimbangan kritis sang calon pembeli menjadi tidak balans lagi: dia lupa hal-hal lain yang berseberangan, hal-hal yang berpotensi negatif tentang HP dan kepemilikan HP. Orang yang cenderung irasional, mudah kehilangan keseimbangan berpikirnya dan melupakan sisi-sisi yang berseberangan tadi, karena itulah dia mudah terbujuk dan menerima “keputusan” yang disodorkan dalam pikirannya oleh salesman sebagai keputusannya sendiri.

Yarman kurang lebih berpendapat: ketika salesman membujuk sang calon pembeli, ia (calon pembeli) sebenarnya memikirkan hal-hal itu (sisi-sisi negatif: biaya pulsa HP, dsb) tetapi tidak terpikirkan pada saat yang sama. Dan karenanya tidak masuk dalam irasionalitas.

Sebenarnya yang terjadi dalam diri orang irasional adalah: daya bujuk sang salesman mudah menghilangkan keseimbangan berpikirnya. (Bisa saja dia bilang kelak, seperti juga Bung Yarman: Aku memang ingin memikirkan juga soal biaya pulsa itu, tetapi pada waktu itu tidak teringat sih…). Melalui rangkaian tulisan-tulisan dalam topik rasionalitas ini, saya ingin menunjukkan bahwa kita bisa keluar dari jebakan-jebakan irasional itu, dan bisa meningkatkan kewaspadaan kita menghadapi situasi-situasi irasional itu.

Dengan melatih kesadaran, keseimbangan pikiran kita ketika mengalami “gangguan dari luar” bisa kita jaga, sehingga tidak tergelincir oleh serangan daya-daya irasional.

Irasionalitas dan Kesadaran
Bung Yarman “begitu terkejut sekali”, saat penulis langsung mengaitkan irasionalitas dengan kesadaran, sebab menurut Bung Yarman: “Pada hal ini adalah dua hal yang sangat berbeda.

Perbedaan yang ada antara dua, tiga atau lebih hal tidak membuat mereka tidak bisa kita kaitkan; jadi saya agak terkejut mengapa Bung Yarman harus “begitu terkejut sekali” ketika saya berusaha mengaitkan irasionalitas dan kesadaran. Mengaitkan bukan menyamakan atau mengidentikkan.

Bung Yarman mengatakan bahwa “kesadaran merupakan kompleksitas [keutuhan] manusia “. Kalau Bung Yarman mengaitkan “keutuhan” manusia dengan kesadaran, barangkali istilah yang lebih mendekati “keutuhan” adalah “totalitas”. Sebaliknya, kalau yang dimaksudkan memang kompleksitas, maka kita harus akui, kesadaran adalah hal yang kompleks, rumit; sampai saat ini, misteri kesadaran masih sedikit yang sudah diungkap dan dapat kita fahami (lihat misalnya buku “The Mistery of Consciousness” John Searle .

Terkesan, Bung Yarman belum memahami pengertian kesadaran dalam tulisan saya. Beberapa pengertian kesadaran yang saya ambil dari beberapa buku teks / kamus dapat dibaca dalam artikel: “Kesadaran“.

Bung Yarman mengambil contoh yang cukup relevan dengan irasionalitas: teori Heliosentris Galilei Galileo yang diteriaki oleh orang sezamannya sebagai: “”irasional, gila, tidak mungkin”, sehingga pada akhirnya dia dihukum. Bung Yarman menerangkan sebagai berikut:

Maka, dalam hal ini, irasional bukanlah yang dimasukkan tapi yang dimasuki oleh Galilei.

Kalimat di atas (bahkan keseluruhan paragraf yang mengandung kalimat itu) agak membingungkan, kurang jelas, saya tak dapat menangkap maksudnya. Bang Yarman tentu tidak bermaksud mengatakan bahwa Galilei Galileo irasional dengan teori heliosentrisnya. Galileo, seperti halnya Copernicus, rasional dalam membuat mengembangkan teorinya. Yang bisa kita anggap irasional adalah orang-orang (atau lebih tepat pihak Gereja pada saat itu) yang histeris dan cepat bereaksi secara berlebihan dengan mengutuk teori baru itu. Orang-orang macam itu termasuk irasional dalam pengertian dari Kamus Filsafat Lorens Bagus di depan: ada “sesuatu yang tidak diketahui karena kegelapan sesuatu yang tidak dapatdimasuki akalbudi….

Definisi Kamus Yang Akhirnya Di-iya-kan dan Dentuman Dahsyat Itu
Pada bagian akhir tulisannya, Bung Yarman terkesan bersikap mendua. Pada satu pihak, ia menerima definisi kamus yang saya pakai dalam rangkaian tulisan saya (ini terlihat dari nada kalimat pertama Bung Yarman yang saya kutip berikut):

Irasionalitas pun bukan hanya dalam konteks ketidakmampuan atau ketidakmauan bertindak, bersikap dengan nalar. Tetapi juga merupakan loncatan-loncatan, pemikiran-pemikiran, yang ”dahsyat” yang tidak dimengerti orang. Karena orang-orang yang biasa itu pastinya akan berkata irasional, karena mereka memang tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Reaksi saya yang pertama adalah “lega”. Pengertian saya (baca: pengertian kamus) tentang “irasionalitas” dalam tulisan terdahulu ternyata juga berterima pada Bung Yarman: “Irasionalitas pun bukan hanya dalam konteks ketidakmampuan atau ketidakmauan bertindak, bersikap dengan nalar.

Tentu saja saya tidak mengharapkan bahwa pemahaman Bung Yarman tentang “irasionalitas” persis sama dengan pengertian saya. Itu mustahil. Bukankah Husserl berkata: ”saat kita melihat rumput dan mengatakan bahwa warnanya hijau, sebenarnya apa yang kita katakan itu tidak sama persis dengan aslinya” ? Bukankah “hijau” saja masih kita perdebatkan “hijaunya” ? Akan tetapi bukan ini yang terpenting; yang terpenting adalah: kita memiliki pengertian yang (berterima secara) umum tentang hijau itu: ia bukan warna daun pisang yang sudah kering, ia adalah warna baju kesukaanku (misalnya), ia adalah warna daun-daun segar dari pohon di sekitar rumahku. Dalam keseharian kita, pengertian-pengertian pragmatis semacam itulah yang kita butuhkan.

Namun saya harus mengatakan “tidak !” terhadap pemahaman “irasionalias” pada kalimat Bung Yarman sesudahnya:

Tetapi juga merupakan loncatan-loncatan, pemikiran-pemikiran, yang ”dahsyat” yang tidak dimengerti orang. Karena orang-orang yang biasa itu pastinya akan berkata irasional, karena mereka memang tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Jadi, menurut Bung Yarman, irasionalitas “… merupakan loncatan-loncatan, pemikiran-pemikiran, yang ”dahsyat” yang tidak dimengerti orang. Karena orang-orang yang biasa itu pastinya akan berkata irasional, karena mereka memang tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Semoga saya salah memahami tulisan Bung Yarman, khususnya kedua kalimat di atas. Inilah pemahaman saya (dan lagi-lagi saya berharap semoga saya salah): Eisntein, Galilei Galieo, Copernicus itu menurut Bung Yarman irasional karena mengeluarkan teori yang “merupakan loncatan-loncatan, pemikiran-pemikiran, yang ”dahsyat” yang tidak dimengerti orang. Karena orang-orang yang biasa itu pastinya akan berkata irasional, karena mereka memang tidak memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Kalau pemahaman saya benar akan pemahaman atau pengertian baru irasionalitas suguhan Bung Yarman, maka kesalahkaprahan itu telah berdentum dengan dahsyatnya. Meminjam istilah Lorens Bagus, Bung Yarman sepertinya sedang bergumul dengan “sesuatu yang tidak diketahui karena kegelapan sesuatu yang tidak dapat dimasuki akalbudi….“.

E. Halawa
Catatan: Dialog saya dengan Bung Yarman sungguh-sungguh memperkaya saya dalam projek “(i)rasionalitas” yang sedang saya garap ini.

Tags:

2 Responses to “Dentuman Dahsyat Itu”

  1. 1
    Deivine Signor Says:

    Bagus..dan terimakasih

  2. 2
    sinumana Says:

    E. Halawa mengutip Ollyanus Yarman Zb tentang Husserl: “saat kita melihat rumput dan mengatakan bahwa warnanya hijau, sebenarnya apa yang kita katakan itu tidak sama persis dengan aslinya”.

    Yarman bicara soal “pengetahuan tentang hijau”, sedangkan Halawa mengutarakan antara lain tentang “warna baju kesukaannya”. Tentu yang dimaksud kedua penulis (E. Halawa dan Ollyanus Yarman Zb) maupun Husserl sendiri perihal “tidak sama persis dengan aslinya” dalam kalimat Husserl di atas adalah “warna hijau”, bukan tentang “rumput” atau “rumput yang sedang bergoyang”.

    Sesungguhnya, tidak ada yang asli menyangkut warna hijau. Tentang rumput, tentu ada yang asli, karena rumput adalah realitas alam yang menurut Husserl dapat direduksi ke dalam pemikiran atau refleksi. Sedangkan warna hijau (juga warna pada umumnya, suara, temperatur, rasa, aroma) yang dialami secara subjektif, tidak terdapat dalam realitas alam (materi), tetapi dia terdapat dalam “pemikiran”. Jadi, mana mungkin ada aslinya warna hijau itu. Dia pun tidak dapat direduksi menurut perspektif Husserl.

    🙂 Tampaknya telah terjadi salah kaprah pula nih! He-he-he…

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30