Pernak-Pernik: Pernikahan dan Pariwisata

Friday, April 20, 2007
By susuwongi

Berikut ini adalah dua pembahasan mengenai topik unik. Pertama, masalah hukum pernikahan. Kedua, masalah klasik tentang pengembangan kepariwisataan Nias yang terpuruk. Keduanya sempat menyita porsi pembahasan pada acara Penyampaian Pokok-Pokok Pikiran Terhadap Blueprint BRR Nias dan Pemekaran Kabupaten Nias Utara, Nias Barat dan Kota Gunungsitoli di Hotel Sahid Jakarta, Sabtu (14/04).

Dalam paparannya mengenai lima pilar yang akan menjadi kerangka blueprint pembangunan Nias 30 tahun ke depan, Bupati Nias Binahati B. Baeha memberikan penjelasan mendalam mengenai pilar sosial budaya, khususnya adat pernikahan. ”Yang baik dari budaya Nias harus dilestarikan. Sedangkan yang tidak baik harus direformasi, misalnya adat pernikahan,” ujarnya. Menurut dia, banyak hal dalam adat pernikahan tidak dapat diterapkan pada zaman sekarang. Dia mengatakan, hukum pernikahan itu berbau animisme sebab ditetapkan sebelum masyarakat Nias mengenal agama. ”Masyarakat Nias sudah mengenal agama. Dan harus diakui banyak hal dalam hukum pernikahan itu bertentangan dengan agama yang dianut saat ini,” jelasnya.

Bupati Nias memprihatinkan hukum pernikahan yang masih kental diberlakukan saat ini. Dia mengatakan, banyak orang Nias akhirnya kerjanya hanya membayar hutung pernikahan. ”Bagaimana nanti dengan masa depan anak-anaknya kalau akhirnya terpaku pada hal itu saja (pembayaran hutang, red),” tukasnya.

Sebagai langkah awal untuk mengatasi masalah itu, Bupati Nias mengungkapkan bahwa dikampungnya sudah meminta agar pejabat terkait di sana membantu mereka yang mengalami kesulitan untuk menikah karena tersandung hukum pernikahan yang tidak bisa dipenuhi. ”Biar saja mereka menikah di catatan sipil. Urusan adat belakangan dibicarakan,” ujarnya mencontohkan.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Yasonna Laoly. Dia mengatakan, banyak orang di Nias bekerja mati-matian untuk mengumpulkan uang, bukan untuk investasi tetapi untuk membiayai pernikahan. ”Jadi uangnya ’mati’,” katanya. Kemudian, tambah dia, anak-anaknya mati-matian bekerja mengumpulkan uang banyak hanya untuk membayar utang pernikahan orang tuanya. ”Jadi, lagi-lagi uangnya ’mati’,” tandasnya. Karena itu, menurut Yasonna, perlu upaya perbaikan tata berpikir mengenai hukum pernikahan.

Kepariwisataan

Mengenai rencana pengembangan potensi kepariwisataan dalam kaitan dengan penyusunan blueprint pembangunan Nias 30 tahun yang akan datang, Yasonna Laoly dan Daniel Tanjung menganjurkan adanya sinergi dengan kabupaten Nias Selatan. ”Pemda harus memikirkan alternatif tujuan wisata selain surfing. Misalnya membuat semacam kawasan berburu yang sangat diminati turis asing. Jadi tidak tergantung pada surfing season yang hanya sekali setahun setelah itu tidak ada kegiatan lain,” jelasnya. Intinya, kata dia, harus tersedia banyak alternatif wisata ketika para pelancong merencanakan akan ke Nias.

Sementara Daniel Tanjung mengajak ada upaya memikirkan secara serius hal-hal sederhana tentang kepariwisataan di Nias.”Ada dua pertanyaan ketika seseorang akan berkunjung ke Nias. Pertama, apa makanan khas Nias dan kedua, bila saya mau pulang dari Nias, oleh-oleh ciri khas Nias apa yang bisa saya bawa,” jelasnya. Menurut dia, pertanyaan sederhana ini sampai sekarang belum bisa dijawab tuntas padahal itu terkait erat dengan kepariwisataan.

Untuk cenderamata yang mencirikan keunikan Nias yang dapat dibawa pulang para turis sebagai tanda pernah melancong di Nias, Daniel mengusulkan dibuatkan miniatur dari ciri-ciri atau keunikan Nias. ”Misalnya, miniatur perisai Nias yang benar-benar unik dan berbeda dengan perisai dari daerah-daerah lain di Indonesia,” usulnya. (tr2)

3 Responses to “Pernak-Pernik: Pernikahan dan Pariwisata”

  1. 1
    maharani pande Says:

    Ya’ahowu

    Platform pembangunan pariwisata Nias tidak saja terbatas pada makanan dan cinderamata khas Nias. Untuk dapat menjadikan Nias sebagai daerah tujuan wisata (DTW), kiranya terdapat hal-hal yang sangat krusial untuk dijadikan bahan pemikiran kita, diantaranya adalah akses transportasi keluar masuk Nias, infrastruktur, sarana akomodasi dan hospitality yang tersedia, serta ragam atraksi pariwisata dan atribut budaya yang ingin “dijual” dalam pariwisata Nias. Sehubungan dengan berakhirnya masa tugas BRR Nias kelak, pembangunan dan pengembangan pariwisata Nias merupakan pekerjaan rumah bagi kita semua, bukan saja pemerintah daerah tetapi masyarakat pelaku perekonomian pada umumnya.

    Mengingat potensi sumber daya alam dan budaya yang dimiliki Kepulauan Nias, sektor pariwisata merupakan sektor yang sangat menjanjikan di masa mendatang. Melalui industri pariwisata, maka multiplier effect peningkatan kesejahteraan masyarakat akan sangat luas karena banyak sekali peluang dan kesempatan masyarakat untuk berwirausaha dalam berbagai komponen usaha penunjang pariwisata, misalnya usaha home industry dalam memproduksi cinderamata khas Nias seperti pada artikel ini.

    Kita hidup dalam sebuah “low trust society” (umumnya hampir di seluruh Indonesia), sehingga agar peran pemerintah daerah sebagai motor penggerak industri mutlak diperlukan.

    Saohagolo

  2. 2
    ali Says:

    pada pertengahan bulan februari ini saya bernat meliput
    hal-hal menarik Nias untuk Majalah Pelanagi. salah satu
    yang menarik bagi saya adalagh kehidupan masyarakat muslim,
    bisakah saya diberikan petunjuk atrau guide untuk menghimpu
    n berbagai informasi muslim nias, terima kasih.

    Ali AmriSyam
    Journalist
    (021)98636685
    ali@dsign79.com
    ali@yahoo.co.id

  3. 3
    Redaksi Says:

    Pak Ali,

    Silahkan melihat di situs Yayasan Peduli Muslim Nias yang tautannya ada di halaman sebelah kiri halaman situs ini.

    Redaksi

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30