Mengurai Lingkaran Setan Kemiskinan di Nias

Wednesday, April 18, 2007
By nias

*Suatu refleksi pribadi

Oleh: A. WAruwu

I. Apa itu Kemiskinan?
Kata kemiskinan sendiri merupakan bentukan kata dasar miskin. Menurut WJS Poerwadaminta (Kamus Besar Bahasa Indonesia) miskin artinya tidak berharta benda; serba kurang. Jadi, kemiskinan adalah perihal kemelaratan, kepapaan, perihal miskin.

Meminjam istilah Moderator Niasbarat.wordpress.com, kemiskinan di Nias telah terjadi di Nias secara kontiniu bagaikan ‘lingkaran setan’ yang susah menemukan ujung pangkalnya. Kemiskinan yang saya maksudkan disini adalah suatu keadaan susah, menderita yang dialami masyarakat Nias karena tidak memiliki harta benda atau penderitaan yang disebabkan oleh kurangnya harta benda (baca: barang-barang, uang yang menjadi kekayaan). Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika seseorang berada dalam lingkaran setan itu. Kebutuhan pangan tidak tersedia, gizi buruk, penyakitan, dan tidak sehat. Kebutuhan sandang pun terbengkalai, tak memimiliki pakaian yang layak untuk melindungi tubuhnya, bahkan banyak saudara-saudara kita yang malu pergi kemana-mana karena tidak memiliki pakaian yang layak. Kebutuhan papan pun semakin amburadul, rumah tidak sehat, sanitasi buruk, masih berjubel saudara kita yang tinggal di rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan. Intinya, mereka mengalami penderitaan karena tak memiliki kemampuan financial yang baik. Menyedihkan sekali bukan?

II. Apa penyebabnya?
Ada beberapa factor yang membatasi ruang gerak untuk maju. Kita tahu hampir tujuh puluh persen masyarakat Nias bahkan lebih hidup di bawah garis kemiskinan.

a. Lahan pertanian semakin sempit dan kesuburan tanah berkurang
Pulu Nias dulu boleh dikatakan subur sekali untuk jenis tanaman tertentu seperti padi (sawah dan ladang), karet, kelapa, jenis umbi-umbian. Malahan dulu hasil pertanian Nias luar biasa, kelapa menjadi primadona, sekarang karet dan coklat mulai tumbuh. Daging babi dari Nias pernah diekspor ke Singapore dalam periode tertentu. Tapi apa yang tejadi sekarang? Lahan pertanian semakin sempit sementara hasil dari lahan yang ada semakin merosot karena tidak ada intensifikasi pertanian. Sedangkan pada saat yang sama jumlah penduduk (konsumen) bertambah terus.

Kesuburan tanah berkurang dan belum ada usaha yang maksimal untuk menambah kesuburan tanah. Coba kita bandingkan dengan pengelolahan tanah pertanian di tempat lain yang kiranya jauh lebih maju menggarap lahan yang sama kerena mereka mengembangkan tehnik bertani mereka.

Bukankah sebagian besar masyarakat Nias adalah petani? Sudah sampai dimana kemajuan pertanian di Nias? Penggunaan teknologi tepat guna dan metode bertani masih tesendat-sendat.

b. Sosial-antropologis:
Masyarakat Nias menganut system tertentu yang menjadi patokan hidup sehari-hari. Sistem nilai yang dianut memperngaruhi juga cara hidup memandang dirinya sendiri sebagai bagian dari masyarakat, pandangan kosmologis (menempatkan diri sebagai induvidu dalam ruang alam semesta). Tata nilai ini juga tercermin dalam adat istiadat. Maka budaya Nias terpola dengan sendiri. Pantaslah kita banggakan budaya baik itu.

Tetapi ada juga akibat buruk dari system kemasyarakatan itu yang membuat belitan kemiskinan semakin mungakar. Beberapa hal saya sebutkan:

  1. Strata sosial. Ada empat pengelompokan masyarakat Nias: Balugu-Si’ila-Ere-Niha sato (ono mbanua biasa dan sawuyu). Pengelompokan ini tidak setajam dulu tetapi cara hidup berdasarkan pengelompokan ini masih saja dipraktekkan. Cat. Tolong dikoreksi kalau tidak pas. Kelompok Balugu-Si’ila- Era jumlahnya mungkin hanya 10-15 persen dari jumlah Niha sato (rakyat biasa). Tetapi ketiga kelompok tersebut di atas memiliki ‘power’ yang luar biasa sehingga mereka mampu menentukan nasib yang lebih banyak Mereka memiliki fasilitas, modal, dan peluang lebih banyak. Misalnya, kepemilikan tanah produktif pertanian, ketiga kelompok tadi memiliki sebagian besar tanah sedangkan kelompok terakhir banyak yang menggantungkan diri dari hasil tanahnya yang sempit atau hanya menggantungkan diri dari mengolah tanah ketiga kelompok tadi. Persoalannya, apakah mudah bagi rakyat biasa memperoleh tanah pertanian? Jangankan menambah luas, yang sudah ada saja berkurang luasnya karena terjerat utang. Apakah ada system menghibahkan tanah kepada rakyat yang tidak memiliki lahan pertanian? Apa langkah yang diambil Tuhenori (pemimpin pemerintahan dulu) agar masyakat meiliki tanah garapan? Akibatnya, banyak masyarakat biasa pergi merantau di tempat lain untuk mendapatkan lahan garapan mereka. Di kampung sudah tidak memiliki tanah lagi.
  2. Julo-julo versus Rentenir. Ada satu kebiasaan di Nias yang bagus sekali, yaitu membantu saudaranya dengan memberikan bantuan pada saat perkwinan, kematian, membangun rumah. Bantuan itu yang disebut Julo-julo, dimana akan dibayarkan kembali pada saat orang memberi bantuan tadi mengalami hal yang sama juga. Bantuan itu diberikan secara sukarela, tanpa bunga. Tetapi nilai persaudaraan ini digeser oleh sikap jahat. Sekarang ada orang yang siap sedia meminjamkan uang (dalih menolong yang sedang membutuhkan bantuan) asalkan membayar bunga 10 persen tiap bulan. Itulah rentenir. Bayangkan jika anda meminjam sejumlah uang dalam sepuluh bulan aja sudah menjadi dua kali lipat modal awal. Maka tidak heran bahwa banyak orang nias lebih cepat jatuh miskin karena tak mampu membayar utang. Dalam setahun ke depan kebun, rumah yang menjdi anggunan ….bahkan anak gadisnya menjadi milik sang rentenir. Hitunglah berapa orang di kampong saudara yang menjadi rentenir.
  3. Tokoh Adat dan mahar perkawinan (böwö). Mahar perkawinan di Nias terkenal mahal. Secara ekonomis mahar perkawinan telah melilit hidp ekonomi di Nias. Bowo adalah buah kasih, fa’obowo, fa’omasi. Bowo terjadi karena pihak keluarga laki-laki menyatakan kasihnya kepada pihak keluarga calon istrinya. Hal ini berlangsung terus-menerus sehingga dianggap baik dan akhirnya dilembangakan dalam adat-istiadat. Tokoh adat memegang peran penting karena akhirnya mereka menjadikan bowo sebagai syarat perkwianan. Sesuai perkembangan zaman, rupanya bowo itu tak mudah lagi memenuhinya. Apa jadinya? Orang kan harus menikah tetapi ‘dipaksa’ membayar sejumlah mas kawin walaupun yang bersangkutan tidak mampu. Bowo bergeser nilainya, itulah masalahnya. Mestinya böwö datang dari ketulusan hati seseorang bukan karena dipakasa, menjadi syarat perkawinana. Banyak orang jatuh miskin setelah menikah karena mereka berkutat membayar pinjaman waktu menikah dulu. Böwö menjadi momok yang menakutkan, yand dulunya beruapa ungkapan kasih menjadi semacam transaksi dagang. Mana yang lebih utama kasih yang membebaskan (memudahkan orang menikah dan tidak terjerat rentenir) atau menikahkan orang dan tanpa sadar membunuhnya dengan mahar perkawinan yang jelas-jelas tak mampu disanggupi? Para tokoh adapt Nias yang bijaksana, maukah bapak-bapak melepaskan jerat di leher kami dengan membuat aturan baru? Beranikah bapak-bapak tokoh adat menikahkan anak perempuanmu tanpa meminta uang besar yang melebihi kemampuan ekonomi sang calon menantu anda? Bowo sendiri justru mengeratkan tali persaudaraan jika dilakukan dengan tulus dari kedua belah pihak. Apakah kasih hanya bisa diungkapkan dengan pemberian mahar dalam jumlah besar? Kalau kita mengusung nilai tertentu pasta banyak cara untuk mengungkapkannya.

c.Identifikasi diri dan pola pikir yang usang
Susah sekali merumuskan secara tepat bagaimana masyarakat Nias mengidentifikasikan dirinya dalam tatanan kosmologis dan tatanan masyarakat global. Agar lebih relevan dengan topic ini saya kemukakan beberapa pandangan hidup dan persepsi yang ada di tengah masyarakat.

  1. Praktek Keagamaan yang keliru: sudah lama sebelum agama-agama Semit dianut masyarakat Nias telah mengenal kepercayaan animisme. Ada beberapa tingkat dunia : Dunia Atas sebagai tempat Dewa tertinggi (baca: Tuhan/Allah dalam agama Semit), siapa namanya ga penting dalam pembahasan ini), dunia tengah (dihuni oleh arwah orang mati dan dewa-dewa lain), dunia bawah (tempat manusia tinggal sekarang), ada juga dunia bawah tanah (aro nasi/aro dano). Dunia Atas terlalu jauh untuk dijangkau tetapi dunai tengah (terutama arwah orang meninggal) sering kali mempengaruhi langsung hidup manusia sehari-hari. Akibatnya, orang lebih takut pada arwah orang mati daripada kepada Tuhan . Misalkan saja, kalau ada kegagalan panen kerena banyak dimakan tikus dan ‘mangawola’ (walang sangit, ga tahu namanya dalam bahasa indonesia, hehehe!) mereka menganggapnya sebagai kemarahan ‘bechu zi lo nga’oto’ daripada mengakui keteledoran menyiangi padi mereka. Setelah agama Semit dan agama lain masuk di Niaspun praktek keagamaan yang dangkal juga terjadi. Contoh: ada orang yang pagi hari minggu duduk di bangku paling depan di gerejanya tapi siang atau sorenya menjadi rentenir dengan bunga 10 persen per bulan. Yang lebih parah lagi, ada orang-orang tertentu yang meng’amin’i, mengakui, menerima dengan lapang dada kondisi kemiskinan itu sendiri. Sudah nasibku miskin. Ada juga yang berpasrah dan berputus asa: saya serahkan semuanya pada kehendak Tuhan. Benarkah demikian nasib kita ? bukankah kita memiliki kemampuan, tenaga,dan kesempatan menciptakan peluang untuk merubah keadaan kita? Kehendak Tuhan jelas: ingin manusia bebas dari penderitaan. Tetapi, mengapa menutup diri untuk berubah dengan mempersempit kebebasan kita sendiri yang telah diberikan Tuhan? Nasib kita bisa kita ubah dan itu dikehendaki Tuhan.
  2. Mengusung harga diri, gengsi secara berlebihan. Sökhi mate moroi aila, sering kita dengarkan. Prinsip ini sangat tidak tepat bila dipakai untuk membenarkan tindakan kita yang keliru dan mendatangkan kelaratan. Contoh : daripada malu tidak juga kunjung menikah, lebih baik menutup mata (baca:mati) menjadi budak rentenir. Daripada malu menjadi peternak kepiting yang nilai ekonomisnya sangat tinggi, daripada menjadi petenak babi (tangannya nanti bau ‘lomo’) lebih baik kerja biasa aja walaupun hasilnya kecil bahkan tak cukup untuk makan sehari-hari. Saya kan seorang ONO ZATUA atau ONO Zofaka atau Ono Niha Sotoi, malu dong kalau saya disindir sebagai pekerja kasar/peternak. Uang bisa dicari tapi harga diri ditaruh dimana? Akibatnya, sering sekali peluang mendapatkan penghasilan lebih besar lewat begitu saja.
  3. Inferior: merasa tak mampu di banding orang lain. Tinggal dalam keterbatasan ruang dan informasi. Tidak berani membandingkan diri dengan orang-orang yang sudah maju, yang telah berhasil membebaskan diri dari kemiskinan. Mematahkan semangat sendiri, tidak berani mimpi untuk maju. Syukur sudah ada beberapa saudara kita kita yang berhasil muncul di tingkat nasional maupun internasional kerena prestasi mereka dalam hal kebaikan di dalam profesi mereka masing-masing.

c. Pendidikan
Sudah bisa ditebak apa jadinya kalau pendidikan rendah. Cara berpikir terbatas, , mencari alternatif pemecahan masalah sempit, informasi pun menjadi sedikit, pengalaman menjadi kerdil. Bisalah kita buat perbandingan rasio jumlah penduduk, berapa persen yang buta huruf, mengenyam sekolah Dasar, Sekolah menengah, dan Perguruan tinggi. Belum lagi berapa persen dari yang sudah mengeyam pendidikan berhasil mempraktekkan ilmu yang didapat?

d. Kebijakan Pemerintah Belum Terfokus
Secara structural pemerintah daerah mempunyai otoritas yang luar biasa untuk mengadakan perubahan di Nias, terutama dalam bidang ekonomi. Saya akan tunjukan berapa hal dalam bentuk pertenayaan reflektif.

  1. Apa yang belum dilakukan Dinas Pertanian di daerah untuk meningkatkan hasil sawah di daerah Gidö, mandehe di daerah tepi Sungai Oyo, Teluk Dalam dan derah lainya yang ada sawah tapi tidak mempunyai irigasi yang baik, perawatan yang baik? Bagamana meremajakan kelapa di daerah Nias barat dan Lahewa? Bagaimana meremajakan pohon karet yang sudah berusia 40 tahun lebih di daerah Nias tengah? Bagaimana meningkatkan nilai ekonomis dan meremajakan durian di daerah Nias tengah dan kueni (mangga) di daerah Teluk Dalam? Bagaimana dengan hasil coklat, nilam, pinang yang sudah mulai tumbuh dimana-mana?
  2. Dinas Peternakan: apa yang belum dilakukan untuk peternak babi di Nias agar hasilnya baik ? bagiamana membantu peternak mendapatkan vaksin babi dengan mudah, bibit unggul, dll setelah Nias dilanda wabah pes babi sejak tahun 1995? Bagaimana dengan para peternak ayam, itik, sapi?
  3. Dinas Kelautan dan Perikanan : Berapa persen orang Nias yang jadi pelaut padahal Nias dikelilingi laut yang banyak hasilnya? Bagaimana mencegah kapal Taiwan dan pukat harimau dari daerah tetangga yang mengeruk kekayaan laut di Nias sementara penduduk asli hanya bisa melihat dari darat? Bagaimana membantu para nelayan membudidayakan lobster yang terkenal di P. Tello dan Hinako? Bagaimana membudidayakan kepeting (hambae nago) agar bisa di jual ke tempat lain, ekspor?Bagaimana membudidayakan udang yang bisa ditemukan di sungai mana aja di Nias tetapi sekarang hilang karena diracun?
  4. Dinas Perdagangan: silahkan tambah pertanyaanya.
  5. Dinas Koperasi: apa yang belum dilakukan untuk membebaskan masyarakat Nias dari jeratan rentenir? Sudahkah mengajak masyarakat t menabung dan mengelolah hasil nilam mereka pada tahun 1998? Dan apa lagi ya?
  6. Dinas pendidikan: apakah sudah maksimal output yang didapat dari sekolah-sekolah pertanian di Nias?
  7. Dinas atau apa lagi yang berkaitan langsung dengan ekonomi rakyat?

III. Kita buat apa sekarang?
Take Action… Bertindaklah sekarang!
Mencermati beberapa faktor diatas dan masih banyak factor lain yang belum terungkap karena keterbatasan saya, rasanya ada dua jalur yang bisa kita tempuh.

  1. Jalur otoritas pribadi, lebih mudah digapai, bisa kita kontrol langsung, dan kita bisa ciptakan peluang sendiri. Bertindaklah sekarang untuk membebaskan diri sendiri dulu dari lingkaran setan kemiskinan. Cari peluang baru, gali dan maksimalkan potensi yang ada, berhenti mengeluh, dan ajaklah orang yang mempunyai semangat sama dengan Anda mengadakan perubahan. Beranailah bermimpi ….HIDUP yang lebih baik….dan susunlah strategi matang, terukur kemajuanna, dan mudah melakukannya tahap demi tahap.
  2. Jalur otoritas public. Ambillah keputusan atau minimal pengaruhilah keputusan public agar kebijakan yang diambil memihak kaum lemah, memberi peluang kepada banyak orang meningkatkan pendapatannya, serta mempersempit ruang gerak para KKN-er.

Tentu saja kita harus meng-upgrade spirit kita memberantas kemiskinan agar lebih fresh, terfokus, up to date melalui diskusi-diskusi, refleksi sendiri dan bersama, menambah informasi dan study yang intens serta input-input lain yang relevan.

IV. Penutup
Konfusius pernah berkata demikian: Jika semua halaman rumah di suatu kota disapu dengan baik setiap hari maka seluruh kota itu akan bebas dari sampah.

Maka, apabila setiap orang Nias berani dan mampu membebaskan diri dari lingkaran setan kemiskinan, maka suatu saat masyarakat Nias berhasil memotong dan mengurai lingkaran setan kemiskinan itu sendiri.

Rupa-rupanya, keberhasilan pribadi kita menjadi tiang pokok keberhasilan bersama jika kita lakukan secara serentak dalam semangat yang sama: BEBASKAN DIRI DARI KEMISKINAN. Let us do it now……Take action.

Yaahowu.

Bandung, 15 April 2007.

* Tulisan ini, yang juga dimuat di http://niasbarat.wordpress.com, dikirim oleh penulis ke Redaksi Situs Yaahowu.

4 Responses to “Mengurai Lingkaran Setan Kemiskinan di Nias”

  1. 1
    Niha Khöda Says:

    Pak Waruwu yth,

    Saya senang membaca tulisan Bapak mengenai kemiskinan ini. Namun saya masih bimbang: adakah hubungan antara kemiskinan dan dosa-dosa kita masyarakat Nias ? Jangan-jangan Tuhan sedang menghukum kita karena jalan kita selalu jauh dari Tuhan: kedengkian dan iri hati, penghisapan antara sesama, konflik antar keluarga/banua, perpecahan di tingkat atas di antara para pemimpin Nias, dst. Apakah gempa bumi yang lalu merupakan hukuman Tuhan bagi Nias ? Mohon pencerahan.

    Yaahowu,

    Niha Khöda

  2. 2
    Deivine Signor Says:

    Sdr. NK, ada orang berkata, ada dua faktor dalam kehidupan manusia, yakni faktor ilahi dan manusiawi. Jangan menunggu Allah mengerjakan segala hal yang sebenarnya bisa lakukan. Lakukanlah apa yang bisa anda kerjakan dan Allah akan berkarya atasnya.

    Yang terjadi kerapkali adalah kita melakukan perkara [atau mungkin tidak tahu harus berbuat apa] yang sangat tidak terpuji, namun kita berharap Allah berbuat sesuatu yang terbaik buat kita. Bukankah ini sama dengan memotong nadi sendiri dan mengharapkan ada orang lain membantu?

    Ada seseorang yang begitu percaya kepada Tuhan dan memiliki seorang anak. Ketika hujan deras dan banjir mulai meluap, sang anak masih tertidur lelap di kamar, tetapi ibunya sibuk memberesin peralatan-peralatan rumah. Air sudah sangat tinggi dan masuk ke rumah. Tiba-tiba, ibu itu teringat akan bayinya dan berlari ke kamar. Namun, ia begitu histeris tatkala melihat bayi itu telah terbenam banjir. Ia berteriak sambil berkata: “Tuhan mengapa ini harus terjadi?” Menurut anda siapa yang akan anda salahkan?

    Maksud saya hanyalah menyatakan bahwa manusia mencambuki dirinya sendiri dengan ketidak-benaran. Manusia itu sendiri yang sengaja masuk dalam kehancuran, mungkin pertama-tama tidak mengetahui apa akibat dari semuanya. Mungkin Tuhan sendiri menangis tatkala manusia melakukan itu. Ia bukan tidak berkuasa untuk mengubah semuanya. Ia menanti manusia menemukan mutiara untuk dirinya sendiri.

    Deivine Signor

  3. 3
    A. Waruwu Says:

    Untuk Niha Khoda:
    Yaahowu talifuso:

    saya sangat memahami pendapat anda. memang kita selalu ditakut-takuti bahwa sering kali kita hancur, rusak, atau apapun disebabkan oleh dosa. Dalam budaya kita sendiri juga sangat kuat kepercayaan itu, bahwa orang yang bersalah pasti ‘dikutuk’, entah oleh arwah nenek moyang, bencana alam, atau berbagai macam jenis penyakit, dan terakhir adalah kemiskinan/kemelaratan, tak ada rejeki….dan masih banyak lagi.

    Pendapat saya:
    1. Memang benar, Allah menegur manusia yang berdosa supaya manusia itu bertobat. Tetapi, Allah menegur manusia dengan CARA Allah itu sendiri, BUKAN dengan cara manusia. Cara Allah menegur manusia ialah dengan memberi kelimpahan KASIH (Agape) sampai manusia itu menyadari bahwa Allah begitu berbelas kasih. Jadi, Allah tidak menghukum manusia setimpal dengan dosanya.

    2. Rasa sesal manusia, termasuk masyarakat kita sendiri, dilandasi oleh KETAKUTAN, bukan pilihan bebas. Liat aja di kampung kita, hari ini bertobat karena takut anaknya sakit keras, sehari setelah anaknya sembuh ia berbuat lebih kejam lagi. Pertobatan sesaat aja. Hehehe. Hal ini terjadi karena, salah satunya, ada ‘kesalahan’ katekisasi dalam pemahaman isi Alkitab. Dari dulu kita selalu dihantui oleh pelajaran agama bahwa Allah MENGHUKUM orang berdosa. Padahal Alkitab bukan berbicara tentang hukuman saja tetapi lebih banyak menyampaikan bagaimana Allah menyelamatkan orang yang berdosa. Artinya, Allah itu bukan hakim yang kejam, tetapi Bapa yang penuah belas kasih, sampai AnakNya sendiri menjadi tebusan orang-orang yang berdosa. Allah itu menyelamatkan, bukan membinasakan. Kalau benar Allah menghukum orang berdosa dengan hukuman seperti kita berikan kepada sesama kita yang bersalah, lalu dimana kita temukan ALLAH MAHA PENGAMPUN ITU?

    3. Bencana dan derita kita sebetulnya bukanlah kehendak Allah, tetapi sering kali datang dari kekeliruan manusia mempergunakan kebebasannya. Bukankah manusia mampu memilih tindakan yang akan diambil? sikap iri hati, dengki, dan sikap negatif lain di dalam masyarakat justru muncul dari orang-orang yang mau merendahkan martabatnya sebagai makhluk mulia di bumi ini. Contoh: siapa yang meminjamkan uang dengan bunga 10% per bulan? bukankah orang yang mempunyai ekonomi kuat? Padahal kalau dia bersikap sebagai makhluk mulia, dia akan mempergunakan limpahan berkat dari Tuhan itu untuk membantu orang yang lebih buruk ekonominya. Tapi sayang, orang itu tidak bersyukur atas kelebihan rejekinya . malah justru rejeki dari Tuhan dipakai untuk menambah beban orang lain yang sangat membutuhkan bantuan. maka, orang yang meminjam uang mengalami ‘sudah jatuh tertimpa tangga pula’, sudah miskin diperdaya juga oleh rentenir. Sedih bukan? Akibatnya, semakin banyak orang yang miskin.

    4. Saya juga meyakini ada yang disebut dengan dosa pribadi (kesalahan yang dibuat sendiri) dan dosa komunal (kesalahan yang kita buat bersama-sama sehingga bersama-sama juga kita tidak merasa berdosa; mis. sistem yang kita anut, keyakinan bersama yang merugikan orang lain). Maka, tidak heran orang lain yang melakukan kesalahan kita yang menderita.

    salam dari Bandung

  4. 4
    Rufinus Nainggolan Says:

    Saudara A. Waruwu yth, saya pikir jalan pikir anda sangat bijak dan mulia demi kemajuan dan perubahan yang anda harapkan tentunya dengan saudara-saudara kita masyarakat Nias, dan saya senang dengan hati nurani anda untuk mengetuk hati saudara-saudara kita itu agar mau berubah dan saling menolong demi kemajuan masyarakat Nias. Kalau Nias mau maju maka harus kembali kepada sikap Julo-Julo…saling mengasihi… dan menjauhi sikap egois dan merasa yang paling hebat. Sikap gampang melakukan permusuhan harus dihilangkan dari masyarakat Nias…Majulah Nias dengan bermartabat, bermoral, dan berbakti kepada TYME pencipta…rufinusnainggolan.wordpress.com (Politeknik Negeri Medan)

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30