Fokus kali ini mengambil tema “Gunungsitoli, Nias Utara dan Nias Barat” dengan alasan: ketiga daerah ini sedang dalam proses perjuangan untuk menjadi kabupaten-kabupaten baru. Kita sambut proses ini, karena kita yakini pembentukan kabupaten-kabupaten baru di Nias akan membawa peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah itu, mungkin bukan dalam jangka pendek, tetapi katakanlah mulai dari 10 tahun sejak pembentukannya.

Memperjuangkan sebuah kabupaten baru untuk Nias bukanlah hal yang mudah, apalagi memperjuangkan 3 sekaligus (dua kabupaten plus satu kotamadya). Selain harus memenuhi persyaratan administratif minimal yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat, perjuangan pemekaran juga harus melalui suatu proses politik yang panjang dan berliku. Proses itu telah dimulai, melalui berbagai kegiatan para tokoh masyarakat Nias, baik secara bersama-sama maupun melalui jalur-jalur khusus yang ditempuh secara individual. Memang, perjuangan semacam itu haruslah dilancarkan dari sejumlah “front” dengan strategi yang dinamis, disesuaikan dengan kondisi terkini dan proyeksi-proyeksi ke depan.

Perjuangan pemekaran kali ini bukanlah hal yang tak mungkin. Nias Selatan telah menjadi contoh nyata bagi kita semua. Kini Nias sedang “bermimpi” lagi, dan harapan kita: semoga mimpi itu cepat-cepat menjadi kenyataan

Melegakan, bahwa para tokoh masyarakat Nias dari hampir segenap spektrum menyadari bahwa perjuangan kali ini merupakan perjuangan yang harus ditangani bersama. Mereka sadar bahwa tanpa sinergi, perjuangan ini bakal kandas di tengah jalan. Meski mereka datang dari garis atau warna politik yang berbea-beda, mereka toh menunjukkan bahwa mereka adalah Ono Niha. Ke-Ono-Niha-an mereka mempersatukan mereka semua dalam perjuangan besar kali ini. Kita, masyarakat Nias, menyambut baik usaha-usaha yang telah dan sedang dirintis oleh para tokoh kita itu.

Apa yang pertama-tama kita harapkan dari pemekaran Nias ? Jawabannya sama dengan jargon pemekaran di mana-mana: “peningkatan kesejahteraan rakyat” (aspek ekonomi), walau sebenarnya pemekaran diharapkan juga berdampak positif terhadap aspek-aspek lain: ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan (baca:Prospek Otonomi Daerah di Masa Mendatang).

Kita berharap para tokoh masyarakat Nias memahami betul harapan masyarakat Nias itu. Dan kita yakin mereka telah dan sedang berjuang karena didorong oleh amanat masyarakat Nias itu. Dengan kata lain, kita berharap mereka berjuang pertama-tama karena dorongan amanat masyarakat Nias, sedangkan pamrih lain (yang memang amat manusiawi) seperti jabatan dan kekuasaan pasca berhasilnya pemekaran, biarlah mereka menempatkan itu sebagai prioritas terakhir.

Kita, masyarakat Nias tidak boleh hanya berharap. Kita juga harus berpikir dan bekerja keras membantu dan mendukung perjuangan yang telah dimulai oleh para tokoh kita, melalui kontribusi kita masing-masing. Minimal, kita coba berusaha menciptakan suasana sejuk.

Kita tidak boleh larut dalam euforia prematur, di saat-saat kita masih sedang berusaha merealisasikan mimpi menjadi kenyataan. Kita harus “menahan diri” dalam segala hal. Kita sebaiknya menahan diri menyebut “nama”, “mengelus jago”, dan sekali gus “menghajar” pihak-pihak yang kita anggap berseberangan dengan kita. Kita juga sebaiknya tidak terlalu antusias membeberkan berbagai jurus-jurus yang sedang ditempuh dalam proses perjuangan ini. Dalam perjuangan, apalagi dalam perjuangan politik, “transparansi” bukanlah segala-galanya. Bukankah ada waktunya kelak masyarakat Nias meminta “laporan pertanggunjawaban” perjuangan para tokoh itu ? Waktu itu belum tiba. Maka yang sebaiknya kita lakukan sekarang adalah: mendukung, menciptakan suasana sejuk, menahan diri, sambil tetap mengingat-ingatkan mereka yang berada di baris terdepan.

Euphoria prematur itu bisa muncul apabila sinergi tidak dapat diciptakan, terutama di antara mereka yang dipercaya berada di garis depan, di antara para tokoh kita tadi. Arak-arakan perjuangan ini haruslah rapih: setiap orang harus menjaga agar kehadirannya di dalam suatu garis barisan membuat arak-arakan itu semakin mantap hentakan langkahnya ke depan: tidak mendahului, tidak menyeberang ke garis lain, dan tidak berhenti di tengah jalan.

Penting sekali menjaga agar ‘vektor’ perjuangan selalu searah, sejajar, agar resultannya maksimal. Minimal, jangan sampai ada “vektor” yang berlawanan arah sehingga memperlemah daya dorong ke depan.

Euforia prematur bisa menjadi bumerang; yang paling tragis adalah apabila ia menjadi faktor utama pengganjal kesuksesan perjuangan itu sendiri. Kalau itu terjadi, kita semua patut dipersalahkan. (eh)

Semoga masyarakat Nias tetap menjunjung tinggi kearifan.

Facebook Comments