Modo Mbawara

Tuesday, April 10, 2007
By nias

Dari perbincangan dengan sumber Yaahowu di Gunungsitoli, Nias, Minggu sore (9 April 2007), Redaksi mendapat “kabar gembira” bahwa sekarang kehidupan sebagian masyarakat Nias sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan saat-saat awal bencana gempa tahun 2005. Projek-projek BRR sedikit banyaknya membawa lapangan kerja baru bagi sebagian masyarakat Nias.

Bagaimana mengukur perbaikan “tingkat kesejahteraan” masyarakat yang terkena “percikan” projek-projek BRR itu ?

“Tidak terlalu sulit. Wajah orang-orang yang dulu saya lihat pucat, kini lebih memerah. Modo mbawara. Artinya, minimal, kebutuhan pangan mereka lebih terjamin sekarang,” jelas sumber Yaahowu.

“Ukuran lainnya apa ?” yang dijawabnya dengan sedikit jenaka: “Saya naik sepeda motor dan mengamat-amati: sambil mereka mendorong gerobak pasir, mereka juga menekan tombol-tombol telefon genggam (HP) untuk mengirim pesan entah kepada siapa”. Sebagai catatan, sinyal telefon genggam di Nias sudah menjangkau daerah-daerah yang cukup jauh dari Gunungsitoli.

“Masih ada ukuran lain ?”, desak Yaahowu.

“Jumlah pemilikan sepeda motor yang makin banyak … dan bersamaan dengan itu … kecelakaan lalu lintas yang juga semakin sering terjadi”.

“Inilah geliat ekonomi baru sesudah geliat ekonomi nilam pertengahan tahun 1990an”, komentar Yaahowu.

“Benar … geliat ekonomi baru ….”, katanya.

“Adakah tanda-tanda orang belajar dari ekonomi nilam* ?”, tanya Yaahowu.

“Belum ada. Mereka tidak sadar bahwa kenikmatan yang mereka rasakan ini tidak akan berlangsung lama. Seharusnya Pemda di kedua Kabupaten memasyarakatkan gerakan menabung di bank atau gerakan koperasi. Ini selagi masih ada yang bisa ditabung.”, katanya berharap. Ditambahkannya, sangat wajar bahwa tingkat konsumsi masyarakat sedikit menaik, tetapi keberlangsungan kondisi ini masih tetap merupakan tanda tanya besar.

“Apakah gejala di atas merupakan bukti keberhasilan proses Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias ?”, tanya yaahowu.

“Itu sulit menjawabnya. Jalan-jalan memang jauh lebih mulus dari tahun-tahun sebelumnya. Berbagai sarana dan prasarana lain juga sudah banyak yang dibangun. Persoalannya adalah: apakah masyarakat Nias sendiri yang pada akhirnya yang akan menikmati efek jangka panjang atau fihak lain .. kita tidak tahu. Sekali lagi, keberlanjutan kondisi ini ke depan masih tanya tanya besar,” jelasnya mengakhiri percakapan.

*”Ekonomi nilam” adalah kondisi perekonomian masyarakat Nias yang diciptakan oleh melambungnya harga minyak nilam yang disusul dengan kejatuhan harga (yang berlangsung antara tahun 1998 – 1999)

Tags:

2 Responses to “Modo Mbawara”

  1. 1
    Etis Nehe Says:

    Menarik sekali….

    Jawaban-jawaban yang hampir mirip saya temukan dari banyak saudara kita yang kebetulan sedang berkunjung di Jakarta.

    Dua hal yang menonjol dari jawaban-jawaban yang saya temukan, selain banyaknya ‘orang kaya baru’ (OKB) karena ‘percikan’ proyek BRR, juga meningkatnya jumlah kematian karena kecelakaan sepeda motor. Saat yang sama, sampai saat ini masih banyak yang berstatus pengungsi.

    Sungguh sebuah kondisi yang ‘tidak biasa.’ Semoga ada kesadaran dan akhirnya tidak lagi terjebak pada fenomena ‘ekonomi nilam’ atau fenomena ekonomi lainnya, namun dengan pola yang sama dengan ‘ekonomi nilam.’

    GBU

  2. 2
    Memo Zebua Says:

    Sorry kalo bernada pesimis, tapi fenomena diatas belum menjadi tolok ukur yang tepat untuk mengatakan kalo terjadi perbaikan ekonomi penduduk di Nias. Masih harus dicermati, sudah adakah pertumbuhan disektor produksi di sana? Adakah peluang kerja yang tercipta? Seberapa besar progresitas pembangunan dan severapa banyak tenaga kerja yang terserap? Jangan hanya tertipu gaya hidup konsumeris yang dengan cepat diasumsikan sebagai bukti terjadinya peningkatan penghasilan penduduk.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30