Masyarakat Nias Harap-Harap Cemas

Tuesday, April 3, 2007
By nias

* Rangkuman sementara Diskusi Online II Situs Yaahowu

5 tahun saja tidak cukup untuk membangun kembali ‘Nias Baru’ yang lebih baik …” Emanuel Migo.

Malam yang mengerikan itu dan hari-hari mencekam yang mengikutinya telah berlalu. Akan tetapi kalau Anda meminta seorang Ono Niha yang mengalami langsung dahsyatnya gempa Nias 2005 mengisahkan kembali kejadian yang dialaminya, Anda akan terkejut: detailnya kisahnya begitu melekat di dalam ingatan. Saya pernah merekam kisah beberapa orang dalam selang waktu tiga minggu. Lalu saya memperbandingkan kisah versi pertama dengan kisah versi kedua. Detailnya (kronologinya, perasaaannya, tindakannya, … luar biasa …. sama). Yang agak berbeda hanyalah ungkapan untuk menggambarkan pengalaman yang sangat mengerikan itu; tidak ada kesan dramatisasi, semuanya “isi”.

Ada juga kisah nyata lain. Pada malam yang mengerikan itu, seseorang diberitahu oleh teman-temannya tentang kehancuran kota Gunungsitoli. “Tidak ada lagi bangunan X yang tinggi itu …!” kata teman-temannya. “Kalian bohong …”, protesnya. Lalu mereka membawanya ke lokasi yang mengerikan itu. “Lihat …. tiada lagi bangunan itu …” , kata teman-temannya sambil menunjukkan reruntuhan bangunan itu. “Itu masih ada ! .. Kalian bohong !”, protesnya dengan keras. Beberapa saat kemudian, dia akhirnya tersadar, bangunan itu memang telah rata dengan tanah. Yang “dilihatnya” adalah “yang ingin dia lihat”, bukan kenyataan yang mengerikan itu. Sesudahnya, dia terkulai lemas …

Ketika isu “Pulau Nias akan tenggelam” merebak ke seluruh pelosok Nias, siksaan psikologis semakin bertambah: kapan, mengapa, dan bagaimana kelak. Siksaan psikologis terakhir itu luar biasa. Ibui-ibu di desa yang saya dengar ceritanya mencoba mengungkapkan siksaan itu dengan mengisahkan apa yang mereka “pikirkan” ketika isu itu merebak. Yang berikut hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah itu.

Anakku, waktu itu … ketika diisukan bahwa Pulau Nias akan tenggelam, tulang-tulang ini rasanya bukan tulang lagi … kami tak berdaya untuk berdiri lama-lama, lemas semua persendian kami. Dalam pikiran kami, orang bodoh ini, timbul berbagai macam pertanyaan. Bagaimana kelak kami menghadapi kematian seperti itu ? Apakah air secara pelan-pelan akan menenggelamkan kami, mulai dari kaki lalu akhirnya melewati hidung kami sehingga kami tak bisa bernafas lagi ? Ataukah … tanah tempat kami berpijak tiba-tiba saja masuk ke dalam air … dalam sekali … sehingga kaki kami lepas dari tanah dan kami mengambang dalam air ? Kami tidak bisa berenang … Setiap orang memang akan mati, anakku, tetapi kalau isu itu benar, kematian yang bagaimana itu ? Terkadang kami berpikir, mengapa kami tidak jadi korban pada malam terjadinya gempa itu, mengapa harus kami melewati hari-hari yang sangat mengerikan itu ? Dan siksaan itu makin terasa ketika sebagian orang meninggalkan pulau ini. Kami, yang ditinggalkan, yang tak mampu keluar dari pulau ini, seakan ditinggalkan menjadi tumbal …

***

Sejak Diskusi Online II dimulai tanggal 13 November 2006 hingga saat ini, Redaksi baru menerima dan menayangkan sebanyak 22 artikel: 8 dari Redaksi, 8 dari peserta dan 6 dari pihak BRR Nias yang diwakili oleh PIC BRR Nias (5 berupa press release dan 1 artikel khusus untuk DO II).

Ada kesan yang sangat kental bahwa mendiksusikan atau membicarakan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias yang sedang berlangsung ini tidak lagi menarik antusias masyarakat Nias, khususnya yang memiliki akses ke internet.

Beberapa bulan sebelumnya, mahasiwa dan para wakil rakyat terkesan begitu gencar menyorot berbagai “masalah”, “penyimpangan” atau “ketidakberesan” dalam pelaksanaan program Rekonstruksi dan Rehabilitasi yang sedang berlangsung di Nias (lihat arsip berita dalam topik: Rekonstruksi).

Mari kita coba menduga-duga alasan mengapa sorotan atau perhatian masyarakat Nias makin surut terhadap pelaksanaan RR Nias. Alasan pertama yang kiranya masuk akal ialah karena perhatian masyarakat tersedot oleh wacana Pembentukan Propinsi Tapanuli. Hingga deklarasi “kebulatan tekad” masyarakat Tapanuli (plus Nisel) di Tarutung, dan Penolakan DPRD Nias menolak Nias bergabung dengan bakal Protap, berita-berita tentang Protap mendominasi halaman-halaman surat kabar, baik cetak maupun online.

Alasan kedua yang juga masuk akal ialah masyarakat Nias sudah sampai pada kondisi “lelah” untuk mengeluh; masyarakat Nias tidak lagi “percaya” bahwa keluhan mereka akan ditanggapi secara positif oleh pihak-pihak terkait, khususnya BRR.

Hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada pertengahan Desember 2006 memperlihatkan bahwa persepsi masyarakat Nias terhadap perbaikan kinerja BRR jauh lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat Aceh. Terhadap penilaian kinerja BRR secara umum (“Secara umum BRR telah bekerja dengan baik”), hanya 34% masyarakat Nias yang mengiyakan (bandingkan dengan 60% sample di Aceh yang mengiyakan). Terhadap penilaian apakah BRR bekerja dengan cepat, hanga 15% dari sample di Nias yang mengiyakan (di Aceh: 35%). Terhadap transparansi pengelolaan BRR, hanya 10% sampel di Nias yang mengatakan “ya” (di Aceh 31%).

Angka-angka dari LSI ini mengindikasikan kepada kita bahwa BRR Nias masih jauh kalah dibanding dengan BRR Aceh dalam kinerjanya, dalam membawa kabar gembira kepada masyarakat, dalam melayani masyarakat, dalam memenuhi janji-janji kepada masyarakat, dalam merealisasikan impian-impian masyarakat untuk segera bangkit dari keterpurukan akibat bencana.

***

Dalam tulisan pertamanya berjudul “Membayangkan Kecemasan”, Bapak Mathias J. Daeli secara cukup keras mengkritik BRR yang – berdasarkan kondisi nyata di lapangan – terkesan telah “menyimpang dari visi dan misi kemanusiaannya”. Dari melihat kelambanan kerja, korupsi yang terus menggerogoti dana BRR, kualitas pekerjaan yang di bawah standar, dan sebagainya, tidak heran bahwa Pak Daeli “membayangkan kecemasan” wajah Nias Pasca Program BRR. Dalam tulisan kedua, Pak Daeli coba menganalogikan penderitaan rakyat Nias dengan “tungku panas” Einstein sementara di pihak lain, suasana para pejabat BRR yang seakan-akan sedang duduk berduaan dengan “gadis cantik” projek-projek BRR. Pihak pertama (masyarakat Nias) sudah tak tahan lagi berlama-lama duduk di atas “tungku panas” penderitaan akibat gempa; sementara pihak kedua (para pelaksana – pelaku rekonstruksi) “pengin” secara terus menerus “berduaan” dengan “gadis cantik” projek-projek BRR yang melimpah dengan dana. Bahkan, 5 tahun rasanya tak cukup; maka BRR Nias ingin memperpanjang kemesraan dengan gadis cantik projek-projek BRR (baca artikel: BRR seeks extension of mission in Nias yang diambil dari The Jakarta Post).

Toh, Pak Daeli masih berharap terjadinya perubahan positif dalam tubuh BRR: “Waktu bagi BRR masih ada untuk memperbaiki citra. Janji-janji yang telah disampaikan kepada masyarakat untuk melakukan perbaikan kinerja supaya ditepati“.

Sejalan dengan Pak Daeli, Pak Fidelis Harefa melihat banyak sisi yang mencemaskan dalam pelaksanaan program rekonstruksi dan rehabilitasi Nias. Kehadiran Pak Fidelis secara fisik selama beberapa waktu di Nias yang memberinya cukup waktu untuk mengetahui “liku-liku” proses RR Nias sampai ke tingkat desa telah menorehkan kesan kecemasan yang mendalam di hatinya. Kecemasan ini seakan diperkuat oleh pernyataan P. Servasius Dange, SVD seorang imam katolik yang sempat diwawancarai Pak Harefa: “Masyarakat Nias tidak akan keluar dari krisis berkepanjangan dalam kurun waktu 10 tahun mendatang. Alasannya adalah 75% penduduk Nias adalah tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk membela haknya dan juga untuk melaksanakan kewajibannya dalam bidang apa pun”.

Apakah pembersihan dalam tubuh BRR Nias beberapa waktu lalu (dan hingga kini) merupakan bukti ampuhnya “Konsep BBR Menuju Prinsip Transparansi dan Akuntabilitas” yang dicanangkan sendiri oleh BRR Nias tak lama setelah lembaga itu dibentuk, ataukah justru sebaliknya: merupakan bukti bahwa konsep itu hanya “macam kertas” ? Itulah yang dipertanyakan E. Halawa yang secara tak langsung dijawab oleh Pak Eliaki Gulö: “BRR Nias secara kelembagaan masih terus mencari jati diri, masih mencari sistem yang efektif dan efesien, belum menemukan strategi yang tepat mencegah dan mendeteksi dini penyelewengan, dan komunikasi dengan masyarakat masih tidak lancar“. Beranjak dari kenyataan di lapangan sejauh ini, Pak Gulö juga tidak melihat prospek yang cerah bagi Nias pasca program BRR; walau tetap masih memiliki rasa optimisme karena “BRR dibentuk atas niat baik memperbaiki kondisi Nias pasca bencana“.

Pengamatan dari dekat Pak Ilham Mendröfa ketika pulang ke Nias dalam rangka Lebaran 2006 memberikan gambaran yang cukup memberikan harapan. Menurut pengamatan Pak Ilham, kegiatan ekonomi masyarakat Nias pascagemapa setelah adanya program RR Nias melalui BRR menunjukkan grafik yang menaik. Pak Ilham mengamati kegiatan ekonomi pada berbagai lokasi yang representatif: pelabuhan dan pasar-pasar di Gunungsitoli. Singkat kata, Pak Ilham melihat ekonomi masyarakat Nias yang mulai menggeliat, mulai bangkit dari keterpurukan akibat bencana gempa. BRR Nias dalam pandangan masyarakat Nias merupakan institusi pembawa harapan, pembawa kebangkitan kembali dan kemajuan masyarakat Nias. Betapa besar harapan masyarakat Nias pada lembaga BRR ! Itulah sebabnya, ketika BRR Nias tidak menepati janji-janjinya, masyarakat Nias terkesan “terlalu peka” dan langsung melancarkan protes. Akan tetapi ini sangat wajar, karena BRR memang bertugas untuk merealisasikan harapan itu, dengan segala wewenang, dan dengan dana yang “melimpah” menurut ukuran Nias.

Pak Agus P. Sarumaha menyampaikan konsep pemulihan ekonomi melalui pendekatan microfinace. Menurut Pak Agus, Koperasi sebagai suatu Lembaga Keuangan Mikro haruslah memiliki sistem pemantauan yang handal dan terpercaya.

Bu Noni Telaumbanua mengamati berbagai perubahan dalam masyarakat Nias sebagai akibat bencana yang disusul oleh program RR. Perubahan itu bukan perubahan biasa, tetapi perubahan yang berlangsung dengan sangat cepat. Mengalirnya dana yang cukup besar melahirkan banyak “proyek” yang menghadirkan ruas-ruas jalan yang mulus, sarana dan prasarana baru di berbagai lokasi, orang kaya baru, peluang bisnis baru, dan juga berbagai persoalan baru dalam masyarakat, antara lain: kecelakaan lalu lintas yang meningkat, “termarjinalkannya” para pejalan kaki dari ruas-ruas jalan mulus tadi, dan … pengaruh yang besar terhadap budaya masyarakat Nias, baik yang positif maupun yang negatif. Bu Noni menekankan dalam akhir tulisannya bahwa BRR Nias memiliki peran yang sangat penting untuk meletakkan landasan yang pembangunan Nias di masa mendatang. Maka perencanaan yang matang sangat dituntut dari BRR Nias.

Apa yang disampaikan oleh Pak Duman Wa’u ketika mengomentari tulisan Bu Noni Telaumbanua kiranya patut mendapat catatan khusus. Menurut pengamatan Pak Duman, RR Nias tenyata hanya terbatas pada daerah-daerah tertentu (khususnya yang dekat dengan perkotaan). Di luar itu, masyarakat hanya gigit jari mendengar berita-berikat RR tanpa pernah merasakan apa namanya RR Nias yang sengaja dirancang pemerintah pusat untuk membuat Nias berwajah lebih baik. Komentar Pak Duman juga secara tak langsung mempertanyakan minimnya pelibatan masyarakat oleh BRR Nias dalam proses RR Nias. Proses RR Nias yang tak terencana dengan matang dikuatirkan Pak Duman akan melahirkan berbagai dampak negatif pasca program BRR: kecemburuan sosial, meningkatnya kriminalitas, serta berbagai persoalan ekonomi, sosial dan budaya lainnya.

Bu Esther Telaumbanua mempertanyakan dampak RR Nias terhadap “peradaban” masyarakat Nias pasca program BRR. Bu Esther juga mempertanyakan partisipasi Pemda di kedua kabupaten Nias dalam program RR. Memang, berdasarkan kewenangan yang diterimanya, BRR-lah yang secara penuh bertanggungjawab mengelola berbagai proyek yang terkait dengan RR Nias. Sejauh yang dapat kita amati, keterlibatan Pemda di kedua Kabupaten sampai saat ini hanya sebatas “memfasilitasi” sehingga proses RR Nias menjadi lebih lancar. Padahal sebenarnya, keterlibatan Pemda secara lebih aktif sangat diperlukan mengingat, seperti yang dikemukakan Bu Esther, pasca program BRR, Pemda di kedua Kabupatenlah yang mewarisi dan melanjutkan pembangunan hasil kerja BRR. Koordinasi yang baik dari sekarang bertujuan untuk menempatkan Pemda di kedua Kabupaten pada posisi yang baik dan strategis untuk melanjutkan proses pembangunan Nias pasca program BRR.

Kita patut bergembira karena pada akhirnya BRR Nias ikut ambil bagian dalam diskusi ini. Selain bahan-bahan dari Siaran Pers BRR Nias, Bapak Emanuel Migo selaku Manajer Komunikasi dan Informasi Publik BRR Perwakilan Nias menyiapkan tulisan khusus Diskusi berjudul: “Kemajuan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nias Tahun 2005-2006”. Sebagaimana dapat dibaca di situs ini, tulisan khusus BRR Nias dan sejumlah siaran-siaran persnya menyampaikan berbagai kemajuan pelaksanaan projek RR yang diselenggarakan oleh BRR Nias. Kita patut bergembira setiap kali melihat ada kemajuan dalam pekerjaan besar BRR Nias. Akan tetapi, kita boleh secara agak “sinis” mengatakan bahwa: berbagai kemajuan yang dilaporkan BRR Nias adalah hal yang wajar saja, karena memang BBR Nias dibentuk untuk membawa berbagai kemajuan di Nias.

Tulisan khusus dari PIC BRR Nias dan sejumlah Siaran Pers yang ditayangkan dalam situs ini terkesan hanya mengedepankan hal-hal “positif” yang telah dicapai oleh BRR Nias, tanpa mau menyinggung berbagai kelemahan atau kendala-kendala yang dihadapi di lapangan. Laporan semacam itu tentu saja bisa mengundang komentar: BRR Nias belum siap secara psikologis mengakui berbagai kelemahan yang ada di dalam tubuhnya sendiri. Padahal pengakuan semacam itu bukanlah “aib”. Mengapa ? Karena mana mungkin ada yang sempurna ? Pengakuan resmi akan kelemahan semacam itu menjadi momentum yang baik untuk memperbaiki berbagai kelemahan itu.

Kalau hingga saat ini BRR Nias masih terus mendapat kecaman berbagai pihak, alasannya barangkali adalah karena BRR Nias belum menambahkan dan menegakkan salah satu pilar penting di luar keempat pilar yang telah dicanangkan oleh BBR Nias. Itulah “Pilar Hati” yang dikemukakan oleh Pak Etis Nehe dalam tulisannya berjudul: Luruskan Hati, Tegakkan Pilar.

Yang segelintir itu …
Sehari sesudah peringatan dua tahun Gempa Nias, seorang sahabat dekat “nyeletuk” lewat SMS, “kalau RR Nias gagal, maka kita orang Nias juga patut dipersalahkan“. Kok bisa ? Bukankah orang Nias sedang menderita, masih trauma akibat gempa, masih hidup di bawah tenda-tenda … lantas kenapa kok dipersalahkan ? “Ya gak semuanya, yang segelintir itu lho …” katanya menjelaskan ketika saya memprotes tuduhannya. Benar juga, “yang segelintir itu” … , yang menari di atas penderitaan saudara – saudarinya yang lain. Semoga kehadiran dan penegakan “pilar hati” mengubah suasana hati mereka.

Publikasi Kegiatan BRR Nias
Kita bisa melihat berbagai kegiatan BRR Nias di hampir setiap surat kabar lokal (Sumut) maupun nasional. BRR Nias sendiri memiliki sejumlah “blog” yang berisi himpunan berbagai liputan pers berbagi kegiatan BRR Nias. Hal ini kita sambut baik. Namun, ada tiga hal yang perlu kita soroti terkait dengan hal ini. Pertama, sebagai suatu badan yang mengelola dana yang “melimpah”, rasa-rasanya BRR Nias tidaklah terlalu “miskin” untuk memiliki suatu website yang dikelola secara profesional, dan tidak hanya mengandalkan ruang gratis dari penyedia blog seperti “blogger“.

Hal kedua, isi dari blog-blog BRR Nias itu juga bukan sesuatu yang baru; sebagaimana disebutkan di depan, isi dari blog-blog BRR Nias itu merupakan himpunan dari berbagai liputan pers lokal dan nasional. Kita hampir tidak menemukan hal yang baru di sana; berita-berita kegiatan itu sudah dibaca orang melalui berbagai media massa lain baik cetak mau pun online. Bukankah jauh lebih baik seandainya BRR Nias menampilkan berbagai kegiatan program yang sedang dilakukan di setiap desa atau lokasi dengan menyertakan gambar-gambar kemajuan projek ? Bukankah jauh lebih baik apabila dalam website yang dikelola secara profesinal itu, BRR Nias menghimpun berbagai dokumen yang terkait dengan projek-projek yang dikelola BRR Nias seperti sumber pendanaan, alokasi dana, lokasi berbagai kegiatan, dan sebagainya, dan menyediakan fasilitas download agar para pengunjung bisa mengakses dokumen-dokumen itu ?

Hal ketiga, ternyata kehadiran blog-blog BRR Nias tadi tidak menarik banyak pengunjung. Sepi … Yang lebih menyeihkan lagi, mailing list BRR Nias, sejak “kelahirannya” tgl 24 November 2006 sebagaimana tercantum di sebelah kiri halaman utamanya, baru memiliki 3 orang anggota, dan 3 buah berita. Kasihan sekali, padahal wajah Pak Kuntoro (Kepala BRR Aceh-Nias) terpampang di sana … Kegiatan RR Nias yang menguras begitu banyak dana ini seharusnya menjadi incaran para pemburu berita. Ternyata BRR Nias belum secara maksimal bisa memanfaatkan media online untuk menyebarluaskan berbagai capaian di lapangan. Atau, apakah ini bukti bahwa BRR Nias memang tak mau “pamer” secara “terbuka” di depan publik ?

Waktu 5 tahun saja tidak cukup untuk membangun kembali ‘Nias Baru’ yang lebih baik
Dalam menanggapi pemberitaan di harian Waspada yang ditayangkan di situs ini (baca: Pengungsi Kecamatan Bawölato Belum Dapatkan Rumah Bantuan) Pak Emanuel Migo antara lain mengatakan:
BRR belum genap 2 tahun bekerja di lapangan. Adalah tidak mungkin dan mengada-ada mengharapkan semua hal dapat diselesaikan pada 1 tahun pertama, dimana waktu 5 tahun saja tidak cukup untuk membangun kembali ‘Nias Baru’ yang lebih baik.”

Kita bisa menerima argumen yang diungkapkan dalam kalimat pertama itu. Skala persoalan yang dihadapi BRR Nias pada tahun pertama adalah “skala raksasa”, belum ada contoh persoalan yang sebanding sebelumnya. Maka, wajar bahwa BRR Nias kita beri kesempatan untuk “belajar” sambil “berbuat” selama tahun pertama. Akan tetapi memasuki tahun kedua, BRR seharusnya sudah bisa memetakan berbagai persoalan dan sekaligus menemukan berbagai solusi yang lebih jitu, lebih berterima, lebih meyakinkan, bukan lagi solusi-solusi “coba-coba” (trial and error). Masalahnya adalah, masa kerja BRR Nias tidaklah terlalu lama, hanya 5 tahun. Dan karena ketidak-efisienan yang terjadi pada tahun pertama, masa efektif pelaksanaan berbagi program BRR Nias itu menjadi kurang dari 5 tahun.

Maka, agak mengejutkan juga, bahwa kita mendapat pengakuan langsung dari pihak BRR Nias melalui Pak Migo bahwa: “… waktu 5 tahun saja tidak cukup untuk membangun kembali ‘Nias Baru’ yang lebih baik.”

Pernyataan ini terkesan defensif, dan bisa menimbulkan tafsiran yang negatif: jangan-jangan BRR Nias telah kehilangan kepercayaan diri untuk bisa “membangun Nias lebih baik” dalam waktu yang ditetapkan semula: 5 tahun. (lihat lagi artikel: BRR seeks extension of mission in Nias). Kalau tafsiran ini benar, BRR Nias seharusnya secara resmi menyampaikan hal ini kepada pemerintah, sehingga pemerintah bisa mencari jalan keluarnya: entah memperpanjang kehadiran BRR di Nias, menambah dana projek berdasarkan perkiraan terkini, atau bahkan merevisi program-program BRR Nias secara menyeluruh sehingga menjadi lebih realistis.

Hal di atas sangat penting mengingat BRR Nias telah diberikan kepercayaan penuh oleh pemerintah untuk membangun Nias lebih baik dalam kurun waktu lima tahun. Pernyataan Pak Migo ini tidak boleh menjadi alasan kelak bagi BRR Nias untuk meninggalkan Nias pada akhir masa kerjanya dalam keadaan “tidak jauh lebih baik dari sebelumnya”.

Masyarakat Nias Berharap BRR Nias Berhasil Mewujudkan Visi dan Misinya
Diskusi ini tidak dimaksudkan untuk menjadi ajang “penelanjangan” BRR Nias; sebaliknya, diskusi ini menjadi forum mengedepankan berbagai keluhan, kekuatiran, rasa was-was, kekesalan, tetapi sekaligus merupakan forum menyumbangkan pikiran, gagasan, saran dan sebagainya, yang mudah-mudahan bermanfaat bagi pelaksanaan RR Nias selanjutnya. Masyarakat Nias sangat mengharapkan bahwa BRR Nias akan berhasil dalam mewujudkan visi dan misinya. Para peserta Diskusi Online II ini adalah bagian dari masyarakat Nias itu, dan karenanya mereka juga mengharapkan hal yang sama. (Memang harus diakui bahwa masyarakat Nias “harap-harap cemas” akan hal ini).

Semoga saja menjadi lebih baik …

E. Halawa

Catatan: Redaksi memutuskan untuk tetap membuka Ruang Diskusi II tentang “Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias – Membayangkan Wajah Nias Pasca Program BRR” untuk waktu yang tak terbatas. Hal ini mengingat bahwa RR Nias masih berlangsung hingga tahun 2009; dengan demikian masukan, saran dan kritik terhadap pelaksanaan RR Nias masih tetap relevan.

4 Responses to “Masyarakat Nias Harap-Harap Cemas”

  1. 1
    Ranesi Says:

    Ikuti liputan radio Nederland tentang Nias:
    http://www.ranesi.nl/tema/jendelaantarbangsa/yahowu_nias/

  2. 2
    Restu Jaya Duha Says:

    Yth. Redaksi

    Sangat bagus dan tajam kajian ini, “Rangkuman sementara Diskusi Online II Situs Yaahowu”. Dengan rangkuman ini dapat kita mengerti dengan cepat ide masing-masing dari yang berdiskusi dan juga keterkaitan topik satu dengan lainnya.

    Menurut hemat saya, sangat relevan Redaksi memutuskan untuk tetap membuka Ruang Diskusi II tentang “Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias – Membayangkan Wajah Nias Pasca Program BRR” untuk waktu yang tak terbatas.

    Sebab sangat diperlukan kontrol yang ketat untuk RR Nias. Dengan kontrol yang ketat akan ditemukan kelemahan, hambatan dan bahkan penyimpangan/pelanggaran. Selanjutnya akan ada masukan, saran dan kritik untuk perbaikan pelaksanaan RR Nias.

    Semoga diskusi sebelumnya, sekarang dan seterusnya dapat bermanfaat.

    Bagi saya pribadi, bahwa saya “Bertambah Pengetahuan” tentang Nias dengan adanya diskusi di situs ini. Sangat tajam, elegan, terpercaya dan aktual kajian-kajiannya.

    Ya’ahowu

    Salam dari Karlsruhe

    Restu Jaya Duha

  3. 3
    Laso Says:

    E. Halawa: “Mari kita coba menduga-duga alasan mengapa sorotan atau perhatian masyarakat Nias makin surut terhadap pelaksanaan RR Nias. Alasan pertama yang kiranya masuk akal ialah karena perhatian masyarakat tersedot oleh wacana Pembentukan Propinsi Tapanuli. Hingga deklarasi “kebulatan tekad” masyarakat Tapanuli (plus Nisel) di Tarutung, dan Penolakan DPRD Nias menolak Nias bergabung dengan bakal Protap, berita-berita tentang Protap mendominasi halaman-halaman surat kabar, baik cetak maupun online…”

    Sekarang, “sorotan atau perhatian masyarakat Nias terhadap pelaksanaan RR Nias” potensial menukik surut, karena eskalasi hasrat masyarakat terhadap pemekaran (Kabupaten Nias Barat, Nias Utara, Kota Gunungsitoli). Tentu ini menguras perhatian dan tenaga pula. Atau kah ini ini merupakan sebuah “grand-strategy” untuk sebuah pengalihan perhatian atas sebuah potensi kegagalan?

    Di tubuh BRR-Nias sendiri potensial terjadi keterpecahan konsentrasi pelaksanaan tugas. Contohnya: Bapak Yupiter Gulö (Kepala Distrik BRR-Nias), saat ini menjabat Sekretaris Badan Panitia Pemekaran (BPP) Nias Barat di Jakarta (lihat http://niasbarat.wordpress.com/naso-dodou-waedona-wangahaogo-banuada-hana-walo-owao-chogu/). Keduanya tugas mulia, namun bagaimana beliau dapat berkonsentasi secara profesional melaksanakan dua tugas yang relatif berat itu? Sebaiknya Ama Sinthia memilih salah satu saja, agar cintanya tak terbagi dua. 🙂

  4. 4
    Niha Khöda Says:

    Kita harapkan Bang Ama Sinthia bisa arif dalam melangkah sehingga pelaksanaan kedua tugas mulia itu bisa dilakukan secara bersinergi.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

April 2007
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30