Medan (SIB)

Sedikitnya dua ribu lebih massa mahasiswa dari berbagai kampus di Medan dan pemuda dari sebelas elemen yang tergabung dalam GMPT (Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Tapanuli) ‘menyerbu’ gedung DPRD Sumut, Rabu (29/3) menuntut segera dikeluarkan rekomendasi persetujuan pembentukan Propinsi Tapanuli dan bubarkan Pansus, karena dianggap hanya akal-akalan untuk menghempang pemekaran serta membuang-buang uang rakyat.

Kesebelas elemen mahasiswa dan pemuda Tapanuli terdiri dari Forum GAMPPN (Gerakan Anti Manipulasi dan Penyelewengan Pajak Negara) yang dikordinir David Purba, AMPTS (Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Toba Samosir) dikordinir Bangun Manurung, FKPPS (Forum Komunikasi Pemuda/Pemudi Silindung) dikordinir Merwald Sinaga, Gema Karya Tapanuli Utara dikoordinir Rico Tambunan.

LP3SU (Lembaga Pemantauan dan Pengawasan Pembangunan Sumatera Utara) dikordinir Sahala Saragih, HMMI (Himpunan Mahasiswa Manajemen Indonesia) dikordinir Immanuel Damanik, Laskar Tapanuli, FGM-SU (Forum Gerakan Mahasiswa Sumatera Utara) dikordinir Mangiring Tampubolon, Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Kabupaten Nias dikordinir Cristian Telaumbanua, GMD (Gerakan Masyarakat Demokrat) dikordinir Drs Tahan Manahan Panggabean dan mahasiswa dari STMIK Sisingamangaraja XII dikoordinir Parsaoran Malau yang membawa 400 mahasiswa. Hebohnya, kaum Ibu-ibu pun ikut bergabung dalam aksi demo ini).

Dengan mengumandangkan lagu ‘O Tano Batak’ massa dengan penuh semangat meneriakkan yel..yel.. Hidup Propinsi Tapanuli, Bubarkan Pansus sembari mengusung sejumlah spanduk dan poster yang bunyinya, “Hai Pembohong Kampanye di Tapanuli, Mana Janjimu, ‘Hei Pak Wahab, Segera Ketuk Palu Pengesahan Pembentukan Propinsi Tapanuli’, ‘Bersama Propinsi Tapanuli Kita Maju’. Susana sempat agak memanas, apalagi permintaan pengunjuk rasa agar aspirasinya diterima langsung Ketua DPRD Sumut H Abdul Wahab Dalimunthe SH dan Ketua Pansus Propinsi Tapanuli Drs H Banuaran Ritonga, tidak dipenuhi. Malah Ketua Dewan mengutus Wakil Ketua DPRD Sumut Japorman Saragih, Jhon Eron Lumbangaol, SE, Drs Toga Sianturi, Drs Burhanudin Rajagukguk, Aliozisokhi Fau, SPd mewakili ketua dewan.

Melihat tidak sertanya Ketua Dewan dan Ketua Pansus, massa berteriak-teriak dan menolak kehadiran para wakil rakyat. Maka diadakan negoisasi dan disanggupi Wahab Dalimunthe yang saat itu memimpin rapat paripurna pengesahan APBD Sumut TA 2007 ‘turun mimbar’ didampingi Ketua Pansus Drs H Banuaran Ritonga, Kamaluddin Harahap dan Drs Pangihutan Siagian.

Di hadapan massa Mahasiswa dan Pemuda Tapanuli, Wahab menyatakan, dirinya sangat mendukung Propinsi Tapanuli. Pembahasannya saat ini di tangan Pansus dan keputusannya nantinya akan digelar melalui rapat paripurna, sesuai dengan prosedur yang telah baku di lembaga legislatif.

“Secara pribadi saya mendukung dan tetap akan menepati janji saya terhadap Propinsi Tapanuli, tapi lembaga dewan ini ada prosedurnya. Sekarang sedang dibahas Pansus, sehingga perlu desakan agar Pansus segera menyelesaikan tugasnya,” ujar Wahab dan disambut protes massa yang tidak merasa puas mendengar penjelasan Wahab, sehingga suasana menjadi riuh dan terjadi aksi dorong-dorongan.

Wahab Dalimunthe dan sejumlah anggota dewan nyaris terjatuh dan terpaksa ‘dievakuasi’ Security Gedung Dewan dan aparat Kepolisian memasuki ruang Paripurna untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan dari massa pengunjuk rasa yang tampaknya sudah kehilangan kesabaran, akibat Pansus terus melakukan gerakan politik menghempang pembentukan Propinsi Tapanuli.

Setelah para wakil rakyat berhasil ‘dievakuasi’ dari kerumunan massa, pengunjuk rasa akhirnya memanjat atap depan gedung DPRD Sumut dan ‘menancapkan’ bendera Merah Putih serta membentangkan spanduk yang intinya ‘Segera Keluarkan Rekomendasi Pembentukan Propinsi Tapanuli dan Bubarkan Pansus yang Tidak Memihak Aspirasi Rakyat.

Sebelumnya massa pengunjukrasa menggelar aksi di tangga gedung dewan dan depan pintu ruang paripurna yang sedang menggelar rapat, sembari melakukan orasi dan meneriakkan yel-yel Propinsi….Tapanuli! Tapanuli ….. Propinsi yes..! Pansus….Kami tidak peduli! Pansus….Bubarkan Diri! Sembari massa menyampaikan puisi berjudul Tapanuli Indah.

Koordinator aksi Junjungan Manullang menyebutkan, massa mendesak DPRD Sumut melalui Ketua DPRD Sumut segera menandatangani dan mengeluarkan surat rekomendasi persetujuan pembentukan Propinsi Tapanuli, karena segala persyaratan baik administrasi maupun teknis sudah layak dibentuk.

Disebutkan, PP 29 tahun 2003 dan UU otonomi daerah no 32 tahun 2004 telah memberi semangat bagi daerah-daerah di tanah air untuk mengejar ketertinggalan dari daerah lain. Pemerataan pembangunan yang dibarengi dengan kondisi perekonomian dan taraf hidup masyarakat yang jauh dari harapan mendorong masyarakat untuk keluar dari kondisi yang sering disebut dengan peta kemiskinan tersebut.

Hal inilah yang memberi semangat bagi masyarakat yang berada di kawasan pantai barat Sumut untuk memekarkan diri dengan membentuk sebuah propinsi baru nantinya akan dikenal dengan nama Propinsi Tapanuli.

Sesungguhnya aspirasi ini bukanlah aspirasi yang muncul setelah era reformasi di NKRI, tapi jauh sebelumnya bahwa aspirasi untuk memekarkan diri sudah bergema sejak era orde baru masih berkuasa.

Setelah bersabar menunggu beberapa lama dan sejak dikeluarkannya UU otonomi daerah, saat inilah waktu yang sangat tepat untuk melahirkan Propinsi Tapanuli mampu menjawab perubahan dan merubah wajah peta kemiskinan menjadi surga kesejehteraan, surga adil dan merata serta kemakmuran bagi masyarakatnya.

Berdasarkan hal itu, pengunjuk rasa menilai Pansus yang dibentuk hanya persekongkolan, maka mendesak anggota dewan dari Dapem Tapanuli tetap konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat yang menitipkan Propinsi Tapanuli agar segera terbentuk.

Selain itu, massa juga mendesak pihak-pihak tertentu yang berusaha menghalang-halangi proses pembentukan Propinsi Tapanuli jangan memperkeruh suasana dan menodai perjuangan. “Siapa yang berani menodai perjuangan dan aspirasi masyarakat, berarti Anda bukan orang yang menginginkan adanya perubahan lebih baik di Tapanuli. Siapa yang coba menghalangi, dia akan tergilas. Hanya orang bodoh yang menyangsikan pemekaran Propinsi Tapanuli dari segala aspek, Tapanuli punya potensi,” seru massa disambut yel Hidup Propinsi Tapanuli.

Massa juga mengingatkan semua pihak bahwa Propinsi Tapanuli bukan tembok Berlin atau Tepi Gaza, tapi merupakan tangga menuju surga masyarakat adil, makmur dan sejahtera. Desakan ini murni aspirasi masyarakat, orang tua kami di daerah Tapanuli sudah bosan dan tidak tahan lagi menanggung beban Tapanuli sebagai peta kemiskinan.

“Kami minta Ketua DPRD Sumut segera keluarkan tiket kami agar kunci rumah yang dinantikan dapat dibuka menuju Propinsi Tapanuli yang makmur dan sejahtera,” ujar Junjungan Manullang sembari mengajak rekan-rekannya meninggalkan gedung dewan dan menitip pesan kepada legislatif, bahwa aksi ini baru pemanasan dan jika tidak disahuti tuntutannya akan datang lagi dengan jumlah massa yang lebih besar. (A13/RT/u)

Sumber: www.hariansib.com
Tanggal: 29 Maret 2007

Facebook Comments