Medan (SIB)

Selama 2006-2007 UNDP (United Nations Development Programme) telah mengeluarkan anggaran sebesar 6,7 juta dolar AS atau Rp60 miliar lebih untuk pemulihan dan pembangunan kembali Nias pasca tsunami dan gempa. Sedangkan untuk anggaran 2008-2009, UNDP yang merupakan salah satu lembaga sdari PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) ini masih mempersiapkannya.

Demikian dipaparkan Simon Field (UNDP Team Leader) Banda Aceh dan Christian Usfinit (Officer Indonesia Charger UNDP Nias), Senin (26/3) di Hotel Tiara Medan.

Simon menjelaskan, dari keseluruhan anggaran itu 70 persen digunakan untuk pembangunan perekonomian masyarakat dan lain-lain, sedangkan 30 persen lainnya untuk pembangunan fisik. “Dibandingkan dengan organisasi lain jumlah rumah bantuan UNDP tidaklah seberapa banyak. UNDP bekerjasama dengan UN Habitat dalam proyek ANSSP (Aceh Nias Shelter Support Program) membangun 110 rumah bagi 110 keluarga di Kecamatan Tuhemberua khususnya Desa Awai-Hilimbosi dan 60 rumah di Teluk Dalam di Lingkungan dua di sekitar pasar Teluk Dalam,” katanya.

UN Habitat, katanya, dengan menggunakan pendekatan Commununity Managed Project berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk membangun rumahnya sendiri sesuai kebutuhan dan keinginannya sendiri. “Biaya pembangunan rumah satu unit rumah sederhana di Nias dan Nisel adalah sebesar Rp 42 juta. UNDP juga bekerjasama dengan 16 NGO lokal dan kelompok masyarakat di Nias dan Nias Seletan untuk memberikan bantuan berskala kecil. Program ini untuk membantu masyarakat khususnya para korban gempa, untuk memulai usaha mereka kembali yang hancur akibat gempa,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, 964 keluarga telah merasakan manfaat dari dana hibah UNDP untuk bisnis keluarga. Dalam usaha ini ada 162 keluarga yang dibantu oleh UNDP dengan pemberian modal usaha sebesar Rp 1 juta-Rp 3 juta/keluarga dan keluarga yang dibantu sampai saat ini masih menggeluti usaha tersebut dan sudah memperoleh hasil. Untuk keberlangsungan program, seluruh penerima bantuan setuju untuk mencicil. Cicilan dibayarkan kepada kelompok, dan digulirkan ke anggotanya.

Untuk sektor pertanian, kata dia, UNDP membantu 149 keluarga dengan membantu aktivitas pertanian mereka. Tiap keluarga mendapat Rp 1 juta-Rp 2 juta, dan menggunakan dana tersebut untuk membayar pekerja dan membelikan bibit dan pupuk. Bisnis ini telah memperlihatkan manfaatnya karena petani tersebut telah panen dan menjualnya ke pasar dan uangnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Sedangkan sektor lain, tambahnya, seperti perikanan dan kerajinan juga menerima bantuan dana dan peralatan dari UNDP. Bantuan UNDP juga termasuk proyek irigasi berskala kecil untuk meningkatkan hasil pertanian para kelompok tani dengan lahan seluas 100 hektar. Sekitar 4.000 kepala keluarga diharapkan dapat menerima manfaat dari proyek ini. “UNDP bersama ILO juga membangun akses jalan kabupaten. Program ini dilaksanakan di Kecamatan Tuhembeura dan di Nias Selatan. Saat ini 4881 meter telah selesai, sementara 2330 meter lainnya sedang diselesaikan, dan 1675 meter sedang dalam persiapan. Panjang seluruh pembangunan jalan tersebut mencapai 9 Km,” terangnya.

Hasil dari semua ini, ujarnya, diharapkan akan menjadi pendukung bagi sumber pendapatan masyarakat, serta untuk program pemulihan lainnya bagi para korban gempa dan tsunami di Aceh dan Nias. Program ini diharapkan dapat segera selesai dan akhirnya dapat sebagai landasan untuk program PBB lainnya yang lebih besar di Aceh dan Nias. (RT/u)

Sumber: www.hariansib.com
Tanggal:27 Maret 2007

Facebook Comments