Yogyakarta (Yaahowu)

Rumah Sakit Umum (RSU) Gunungsitoli yang hancur akibat bencana, dibangun kembali dengan konsep revitalisasi. Diharapkan RSU Gunungsitoli bisa menjadi rumah sakit referal (rujukan) bagi sekitar 700.000 jiwa penduduk kepulauan Nias. Juga menjadi referensi apabila terjadi bencana. Hal ini diungkapkan Fence Lase dari BRR-Nias kepada Victor Zebua dari Yaahowu, di sela-sela acara serah-terima mahasiswa program beasiswa BRR, minggu lalu di Yogyakarta.

Hal yang telah dilakukan, lanjut Fence Lase, adalah rekonstruksi fisik, yaitu rencana desain bangunan, membangun temporary hospital (rumah sakit sementara), dan alur sistem pelayanan. Dalam upaya mitigasi bencana, di tengah-tengah bangunan rumah sakit disediakan space (ruang) yang cukup luas guna penampungan korban dan calon lokasi pendaratan helikopter. Kegiatan tahap pertama bernilai US $ 1 juta, bantuan Mercy Malaysia lewat BRR. Pada tahap kedua, dibangun wing (sayap) rumah sakit senilai US $ 1,5 juta, bantuan Pemerintah Cina yang dikelola RANTF (Recovery Aceh Nias Trans Fund). Tahap kedua telah berjalan 70%.

Selanjutnya, kegiatan tahap ketiga dimulai April 2007, bantuan JICS (Jepang) senilai US $ 5 juta, dengan proporsi: sekitar US $ 3 juta untuk bangunan fisik dan sisanya untuk equipment (peralatan). Di tahap finishing (akhir), akan dihancurkan bangunan yang selama ini dipakai tapi sudah tidak layak. Dana untuk tahap akhir diharapkan dari donor.

Dalam kesempatan sama, Kepala RSU Gunungsitoli dr. Yulianus Mendröfa, MARS mengatakan bahwa rekonstruksi fisik diperkirakan selesai tahun 2008. Seluruhnya menelan biaya Rp. 60 M. Dari biaya itu, masih kurang sekitar Rp. 16 M yang sedang dalam tahap negosiasi dengan pihak donor.

Persoalannya sekarang, dana untuk equipment masih belum memadai. Agar sesuai standar RSU klas C-plus dibutuhkan peralatan yang biayanya mencapai 3-4 kali nilai bangunan fisik. ”Dananya dari mana?”, tanya Yulianus Mendröfa. Memang ada dana yang tersedia, namun relatif kecil. Selain dana dari JICS sekitar US $ 2 juta, menurut Fence Lase, dari APBN ada anggaran peralatan sekitar Rp. 4 M, dan Rp. 200 juta dari APBD Provinsi untuk peralatan penunjang (seperti AC).

Lebih jauh, RSU Gunungsitoli juga kekurangan tenaga (medis, perawatan, non-perawatan, staf manajemen). Saat ini hanya ada 3 dokter umum dan 2 dokter spesialis (penyakit dalam, anak), ditambah seorang spesialis bedah bantuan Depkes. Masalah ini untuk sementara ditanggulangi dengan bantuan dokter spesialis dan residen (calon dokter spesialis) senior dari FK-UGM, RSUP Dr. Sarjito, dan Depkes. Selain mengaktifkan fungsi pelayanan medik, mereka juga bertugas melatih dan membina staf paramedis yang ada di RSU Gunungsitoli.

RSU Gunungsitoli baru punya tim handal sekitar 3-4 tahun lagi. Anggota tim itu kini mengikuti pendidikan dokter spesialis di FK-UGM, yaitu: dr. Albertinus F. Daeli (penyakit dalam), dr. Vincensius Kurniel Nazara (penyakit dalam), dr. Yamoguna Zega (bedah), dr. Hönazaro Marundruri (kebidanan), dr. Fatolosa Panjaitan (kebidanan), dr. Tatik K. Ziliwu (anak), dr. Fany Grace Hondrö (anak), dr. Desriyata Hia (anestesi), dr. Sayangi Halawa (THT), dr. James Batalya Gaho (radiologi), dr. Joice (mata), dr. Yuliani Zalukhu (patologi klinik), dr. Leo Ganumba (patologi klinik). Ditambah dua mahasiswa Magister Manajemen Rumah Sakit, yaitu: Oktavianus Hulu, SKM dan dr. Contesa Maruhawa.

Revitalisasi RSU Gunungsitoli dilakukan sistematis. Pusat Manajemen Kesehatan FK-UGM merancang 4 aspek revitalisasi, yaitu: Facility Planning (building/construction, medical equipment), Human Resources Development (scholarship for quantity, capacity building for quality), Hospital Management Development (operational management, services management, assets management), System Development (information-medical record, drug management, waste management).

Bila sudah terpenuhi semua, menurut Yulianus Mendröfa, RSU Gunungsitoli akan menjadi RSU klas C-plus, dan seterusnya menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Selama ini penghasilan RSU Gunungsitoli masuk PAD Kabupaten Nias, yaitu: Rp. 800 juta (2005), Rp. 1,1 M (2006), dan tahun 2007 ini ditarget Rp. 2 M. Dengan pelayanan yang prima dan efisiensi administrasi, Yulianus Mendröfa yakin RSU Gunungsitoli mampu menjadi BLU.

Ketua DPRD Nias M. Ingati Nazara mengingatkan, sebelum gempa dan ada BRR, anggaran rutin (gaji dan operasional) RSU Gunungsitoli sebesar Rp. 8 M dipenuhi dari APBD Nias. Karena pelayanan publik akan lebih prima, Ingati Nazara sepenuhnya mendukung revitalisasi RSU Gunungsitoli. Namun, mengingat kemampuan membayar (ability to pay) masyarakat Nias yang masih lemah, sistem retribusi rumah sakit perlu dibicarakan para stake-holder.

Ketiga tokoh (BRR, Kepala RSU, Ketua DPRD) menyadari, keberadaan RSU Gunungsitoli sebagai rumah sakit klas C-plus dan BLU memerlukan regulasi (peraturan daerah) dan penguatan ekonomi (daya beli) masyarakat di kawasan kepulauan Nias.

Regulasi dan penguatan ekonomi masyarakat, tampaknya menjadi pekerjaan rumah yang tidak enteng bagi eksekutif, legislatif, dan sektor terkait, termasuk BRR, di Kabupaten Nias dan Nias Selatan. Demikian dilaporkan Victor Zebua dari kota pelajar Yogyakarta. (wypj)

Facebook Comments