Oleh: E. Nehe

Daya Tarik yang Suram
Pulau Nias, gempa bumi, penderitaan dan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR).Kesimpulan sederhana, sekilas ataupun spontan apakah yang dapat diungkapkan mengenai keempatnya. Mungkin ada aspek positifnya, tapi salah satu yang dapat disebut adalah kenyataan daya tarik yang suram.

Gempa Nias telah genap dua tahun
Pulau Nias, gempa dan penderitaan adalah pergulatan tiada akhir tanpa bentuk yang jelas, kecuali kegelisahan yang membatin: Adakah masa depan itu nyata? Kalau ya, seperti apa dan apakah generasi yang akan datang benar-benar akan menikmatinya? BRR-Nias ‘nongol’ dalam dan di tengah pergulatan batin tak bertepi masyarakat Nias. Pada saat seluruh harapan untuk hidup terasa hanya ada pada pertolongan orang-orang yang bermurah hati. Pada mereka yang dermawan, mereka yang tidak tahan melihat penderitaan. Masa depan suram. Dalam konteks itulah BRR hadir sebagai representasi para dermawan, para penolong sementara itu.

Ini sangat penting untuk diingat setiap orang, terutama para pengurus BRR dan masyarakat Nias, khususnya mereka yang terlibat dalam menangani proyek-proyek R-R di Nias. Semuanya hanya bersifat ad hoc – sementara dan insidentil. Lalu, ada apa dengan BRR-Nias, adakah kesuraman juga di sana?

Bila mengacu pada fenomena atau terbatas pada apa yang kelihatan melalui publisitas ‘fantastis’ oleh BRR sendiri, maka di sana ada harapan untuk masa depan cerah, seolah-olah. Tapi, walau terasa jauh, namun sebenarnya sangat dekat, yaitu di balik setiap motivasi, estimasi, kesempatan, kemungkinan dan semacamnya, teronggok seumpama ‘darah beku’ yang berpotensi menjadi kanker kekecewaan pada masa datang. Kanker itu akan merambat perlahan dan pada akhirnya memicu pertanyaan lirih-retoris. “Bukankah kita punya banyak? Bukankah BRR-Nias sudah ada di sana (di Nias)? Bukankah …” dan masih banyak lagi.

Tentu, bukan cerita baru lagi ketika berbicara mengenai masalah-masalah proyek BRR-Nias. Termasuk sejumlah kasus dugaan korupsi yang berhasil ditangkis dengan manis dan cantik. BRR-Nias pun ternyata dengan berani melaju ‘membangun Nias tanpa master plan’ seperti pernah diakui oleh Ketua BRR Kuntoro Mangkusubroto dalam acara “Nias Island Stakeholders Meeting/NISM di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (8/3). Pada saat yang sama baru dinyatakan bahwa Nias akan dibangun dengan masterplan. Ini sekaligus menggambarkan apa dan bagaimana BRR-Nias selama ini bekerja. (Baca: BRR akui membangun Nias tanpa masterplan).

Itu baru satu hal namun sangat mendasar. Hal lainnya adalah, kabar pilu yang seolah menjadi pernak-pernik natural kegiatan BRR-Nias. Di sana-sini dikabarkan bahwa bangunan dibangun tidak sesuai standar alias kualitasnya tidak terjamin. Warga di beberapa kampung pun mengeluh, rumah mereka yang hancur karena gempa ternyata jauh lebih kuat dibanding ‘rumah baru’ a la BRR. Belum lagi kabar dimana banyak orang yang tidak layak mendapat bantuan justru mendapatkan ‘bonus rumah baru’ tepat pada saat sejumlah besar orang harus tertatih menahan trauma, getir, kedinginan dan keputusasaan di balik dinding rapuh barak-barak pengungsian.

Kehadiran BRR-Nias ternyata menjadi berkah tak terhingga bagi segelintir orang. Saat ini, tidak sedikit orang yang tiba-tiba menjadi pemborong. Sejumlah orang bahkan tiba-tiba menjadi semacam tuan tanah dengan membeli dan menguasai lahan yang sangat luas. Entah dari mana mereka mendapatkan dana sebesar itu pada saat kehidupan semua orang di Nias sangat sulit. Tapi yang jelas, demikian beberapa sumber, orang-orang itu menjadi seperti sekarang ini sejak mereka berada dan terlibat dalam kegiatan BRR-Nias. Ironisnya, saat yang sama, BRR-Nias mengeluh karena terbatas dan semakin terkurasnya dana yang dimiliki karena banyak donatur tidak merealisasikan bantuannya. [Sebenarnya, dari banyak info yang penulis dapatkan, sebagiannya kecewa melihat pengelolaan keuangan bantuan di sana yang banyak disalahgunakan).

Sejujurnya, berbicara tentang BRR-Nias hingga saat ini (entah setelah ini) adalah sesuatu yang suram. Ini bukan pesimisme kosong atau buta. Saya tidak hendak menebar ketiadaan pengharapan (the hopelessness) atas kinerja BRR-Nias. Sekaligus, juga tidak hendak menebar optimisme palsu melalui sebaran dan tebaran ‘angin sorga’ yang memencar sporadis melalui sejumlah impian terselubung atau melalui basa-basi dan retorika praktis, politis dan kadang-kadang sentimentil oleh segelintir orang ‘bertopeng ganda’ yang menyelinap di balik kehadiran BRR-Nias di Pulau Nias.Mungkin, dan saya sangat yakin bahwa membicarakan BRR-Nias baru akan menarik lagi, dan bahwa benar ada masalah di sana bila suatu hari BRR-Nias di’urus’ oleh lembaga terkait semacam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kecuali kenyataan bisa dibelokkan alias berbicara lain.

Hitung-hitungan
26 Desember 2004 dan 28 Maret 2005. Keduanya hari kengerian bagi masyarakat Pulau Nias dan Aceh, akibat dihajar gempa berkekuatan 8,9 SR dan 8,7 SR. Tentu saja dengan korban yang ‘setimpal’ dengan kekuatan kedua gempat itu. Berdasarkan perhitungan BRR dan World Bank, kerugian total sekitar Rp 5 triliun. Butuh waktu sekitar 4 tahun dan dana sekitar Rp 10 triliun untuk pemulihannya. Itupun bila dilakukan secara konsisten dan konsekuen. Semuanya lumpuh, tidak bisa berbuat apa-apa. Baik pemerintah pusat, apalagi pemerintah daerah.

Luluhlantaknya segala sesuatu menjadi semacam blessing in disguise bagi Pulau Nias. Setelah tidak lagi dilirik dari sisi pariwisata karena image yang terlanjur rusak, justru kali ini, hampir seluruh dunia mengarahkan mata kepadanya. Sekali lagi, untuk memediasi keinginan tulus para donatur itulah, BRR hadir dan setiap orang yang ada di sana dan atau bekerja sama dengannya mendapatkan kesempatan untuk bekerja memperbaiki diri dan daerahnya sendiri. Rilis BRR-Nias tentang perkembangan rekonstruksi tahun 2005-2006 menunjukkan lambannya pembangunan ulang Pulau Nias.

Dalam suatu kesempatan, Ketua Koentoro Mangkusubroto telah mengakui hal itu. Pada 2005, BRR-Nias mengelola dana sebesar Rp. 412,5 milyar sedangkan pada tahun 2006 sebanyak Rp. 1,19 trilyun. Dengan demikian total dana yang dikelola BRR Perwakilan Nias sampai saat ini sekitar Rp. 1,6 trilyun. Sedangkan penyerapan anggaran 2005 per April 2005 sebesar 56% atau sebesar Rp. 298 milyar, dengan kemajuan fisik pekerjaan mencapai 68%. Penyerapan anggaran tahun 2006 per minggu kedua Desember 2006 sebesar 41,71 persen. Sedangkan realisasi fisik melampaui realisasi keuangan, yaitu sebesar 55,98 persen.[1] Tentu saja, itu bukan jumlah dan dengan dampak yang sedikit. Asumsinya, bila dana itu dikelola dengan jujur dan tepat [waktu], akan menciptakan sebuah suasana yang benar-benar baru dan mempersingkat masa-masa sulit serta mengurangi dampak psikologis akibat gempa tersebut. Selanjutnya, bila mengacu pada asumsi kebutuhan dana RR sebesar Rp 10 triliun, maka proses RR-Nias masih membutuhkan dana sekitar Rp 7 triliun untuk tiga tahun ke depan agar BRR-Nias bisa menyelesaikan tugasnya.

Empat Pilar
BRR-Nias (dan BRR-Aceh) dirancang dengan landas-pijak yang luhur, tulus, humanistik, dan bahkan futuristik, yang dikenal dengan istilah Empat Pilar. Keempat pilar itu adalah (1) perumahan dan permukiman; (2) infrastruktur yang kuat; (3) ekonomi yang bersaing; (4) kelembagaan yang kuat. Entah apakah benar di lapangan demikian adanya, fakta-fakta akan berbicara dengan sendirinya.

Merujuk pada empat pilar yang menjadi visi kelangsungan fungsi BRR tersebut, sebenarnya tidak diragukan lagi, BRR itu baik adanya, termasuk manfaat/dampaknya. Keempat pilar itu sangat kontekstual dengan kondisi terkini Pulau Nias, bahkan sebelum tsunami dan gempa terjadi. Sebab, sebelum gempa dan tsunami melanda, Pulau Nias telah berada pada titik nadir dimana keempat pilar itu diperlukan, terlebih lagi setelah bencana meluluhlantakannya. “Build Nias back better” adalah semboyan prestisius BRR-Nias. Entah di lapangan semangat itu nyata atau tidak, hanya masyarakat korban (sejatinya bukan BRR yang bisa menilainya).

Pilar Perumahan dan Permukiman Jauh sebelum gempa, sangat susah menemukan sebuah desa atau perkampungan yang bersih dari rumah dengan kondisi yang ‘seadanya,’ terutama di pelosok. Rumah-rumah yang tergolong layak pun semakin hari semakin tidak terperbarui karena lemahnya daya beli (ekonomi) masyarakat. Kalau pun ada yang disebut kemajuan, sangat sedikit dan tidak signifikan. Untuk hal itu, BRR-Nias datang dengan slogan ‘build Nias back better.’

Pilar infrastruktur. Sampai gempa ‘berkunjung’, hampir tidak ada ruas jalan dalam kondisi 100 % layak. Bahkan sejumlah ruas jalan terpaksa ditutup atau dialihkan. Sudah menjadi rahasia umum, kalaupun ada perbaikan, biasanya hanya pemolesan dan terutama kalau ada pejabat tinggi negara yang mau berkunjung. Paling lama sebulan, wajah bopeng sebenarnya jalan raya itu sudah kelihatan lagi. Pelabuhan pun demikian. Kecuali pelabuhan di Gunung Sitoli yang kapasitasnya pun terbatas, tidak ada lagi pelabuhan yang layak yang memungkinkan pembangunan Pulau Nias diakselerasi. Termasuk di Teluk Dalam yang merupakan daerah kunjungan wisata mancanegara. Memang, di sana pernah ada proyek pembangunan pelabuhan yang memungkinkan disandari kapal-kapal besar, termasuk kapal pesiar asing. Tapi, karena pengerjaan yang asal-asalan, akhirnya kesempatan untuk maju itu hilang begitu saja, sekalipun sudah di depan mata. Bisa dibayangkan, besarnya keuntungan yang didapatkan Kabupaten Nias Selatan saat ini, andai saja pelabuhan itu dulu dikerjakan baik-baik. BRR-Nias bak dewi fortuna, datang dengan komitmen untuk merehabilitasi dan meningkatkan infrastruktur transportasi, kelistrikan, telekomunikasi, irigasi dan pengamanan pantai.

Pilar ekonomi yang bersaing. Dengan pilar ini, BRR-Nias berkomitmen untuk pengembangan ekonomi dan usaha melalui penciptaan iklim investasi, sistem lembaga keuangan dan pasar yang sehat, dengan fokus pada perikanan dan pertanian (perikanan, coklat dan karet). Terus terang, bagi saya komitmen itu kedengaran klise. Berdasarkan percakapan dengan orang-orang dari Nias yang sedang ‘berkunjung’ di Jakarta dan juga berita di berbagai media, indikasi itu begitu jelas. Klise. Kalau secara geografis Pulau Nias relatif ‘terisolir’ dan pada sisi yang lain infrastruktur tidak memadai, sungguh sebuah mimpi berharap adanya kondisi ekonomi yang bersaing. Belum lagi bila faktor keterbatasan pendidikan dan pengalaman masyarakat Nias pada umumnya tentang ekonomi yang sehat, apalagi ekonomi yang bersaing. Mengatasi persoalan yang sistemik inilah – jikalau benar demikian – yang merupakan visi BRR-Nias.

Pilar kelembagaan yang kuat Dalam hal ini, BRR-Nias memrogramkan revitalisasi rumah sakit umum (RSU) dan pengembangan sistem pelayanan kesehatan berjenjang, revitalisasi pendidikan, dan penguatan kelembagaan pemerintah daerah termasuk R-R sarana dan prasarana pemerintahan, serta revitalisasi kebudayaan Nias. Terus terang, untuk tiga hal pertama di atas, walau akan terseok-seok, BRR-Nias bisa diharapkan. Tapi, terkait penguatan kelembagaan, melihat kondisi ril di lapangan selama dua tahun terakhir, kelihatannya BRR-Nias over optimis. Semoga tidak untuk gagah-gagahan.

Pilar hati [?]
Ada banyak seloroh tentang eksistensi BRR-Nias. Salah satunya adalah bahwa BRR semacam tempat penampungan penggangguran. Tentu saja hal itu positif karena memang BRR-Nias harus dan memiliki potensi menyediakan lapangan kerja. Itu sah-sah saja. Tetapi, juga ada seloroh yang berkonotasi negatif. “Di BRR banyak duit!” Terbukti, tidak sedikit para pengangguran termasuk yang sebenarnya sudah bekerja di Jakarta dan kota-kota lain datang ke Nias. Banyak diterima di BRR-Nias. Banyak yang jadi pemborong/pengusaha mendadak. Termasuk banyak yang kaya mendadak. Gaji minimal, bahkan rata-rata setara dengan UMR DKI Jakarta. Belum lagi seloroh pada awal-awal BRR lahir yang langsung dibekali dengan fasilitas yang mengagetkan masyarakat Nias yang sedang dirundung duka mendalam. Semuanya serba ‘wah.’ Para pengungsi pun menyimpulkan, ‘mereka kayak raja.’

Jadi, pada satu sisi ada lowongan pekerjaan (walau paling lama empat tahun), namun di sisi lain, di sana-sini terpampang kesemarakan yang hanya dinikmati oleh segelintir orang. Saat terjadi gempa, hampir setiap hari kita menyaksikan pemandangan yang memilukan hati, jauh sebelum BRR-Nias terbentuk. Ada yang berebut makanan bantuan, berkelahi dengan petugas pembagi bantuan, menggedor dan menghancurkan gudang bantuan sembako, memaki-maki karena ketidakpuasan, ‘menyandera’ heli militer pengangkut bantuan, dan masih banyak lagi.

Tiba-tiba BRR datang dengan personil yang dibekali dengan segala hal yang menyejahterakan mereka dan membuat masyarakat Nias hanya ‘ngiler’ melihatnya. Saat yang sama, tidak sedikit yang sempat-sempatnya menumpuk bantuan di rumah sendiri maupun sanak keluarganya, kemudian menjualnya. Anehnya, bantuan itu dijual lagi kepada para korban. Ada yang sebenarnya tidak layak dibantu (bahkan sanggup membantu orang lain), justru menumpuk banyak bantuan. Yang lebih aneh lagi, bencana dan bantuan dieksploitir sedemikian rupa untuk suksesi kepemimpinan pada Pilkada lalu.

Singkatnya, ada yang senang bahkan berlimpah-limpah di tengah dan atau melalui penderitaan orang lain. Sebaliknya, para korban mendapat [bonus] penderitaan ganda menyaksikan orang-orang bermental jahat itu dengan enteng melenggang memanfaatkan kelemahan, ketidaktahuan bahkan kelaparan mereka atas nama ‘masyarakat korban bencana.’ Para korban pun terbiasa mengelus dada dan menelan ludah menyaksikan [kendaraan] bantuan berseliweran di depan mata, namun tidak pernah mendapatkannya. Kalau pun kebagian, biasanya hanya ‘basa-basi’ setelah disunat di sana-sini. (Untuk hal ini, saya mendengar langsung dari banyak korban). Sangat ironis. Krisis. Semuanya seperti telah ‘kehilangan’ hati nurani.

Kini, BRR-Nias, sebenarnya apa yang diharapkan daripadanya? Jawaban atas pertanyaan itu ditentukan oleh tujuan dan semangat di balik urgensi kehadirannya di bumi Nias. Sedangkan untuk mengetahui seperti apa kondisi BRR saat ini, tidak ada cara terbaik selain mengetahui beberapa indikator sederhana. Misalnya, berapa anggaran yang terserap tiap tahun, berapa rumah yang terbangun, berapa jalan yang diperbaiki/dibangun kembali, berapa gedung sekolah, rumah ibadah dan fasilitas pemerintah/umum yang dapat difungsikan kembali. Dan, tentu saja, sejauh mana masyarakat di-empowering melalui kehadiran BRR-Nias.

Yang lebih praktis namun rumit adalah seberapa sejahtera masyarakat Pulau Nias setelah dua tahun pasca gempa bersama BRR. Itu adalah ukuran standar, tapi sebenarnya sangat minimal. Semuanya dalam kategori wujud fisik. Itu hanya sesuai ‘sedikit’ dengan empat pilar landas-pijak gerak BRR. Very physical oriented. Tidak heran bila setiap laporan tahunan BRR-Nias, apakah di Aceh atau di Nias, hanya didominasi dengan tebaran angka-angka atau persentase. Padahal kalau dibalik, angka-angka itu dengan mudah dibantah. Mungkin benar bahwa dana telah keluar ‘sedemikian rupa’ sesuai perhitungan. Tapi perhatikan beberapa indikator berikut. Mengapa sampai saat ini masih banyak orang ‘dibetahkan’ tinggal di tenda-tenda hingga memasuki tahun ke-2 pasca bencana? Mengapa banyak bangunan rumah yang ditolak masyarakat karena dianggap tidak layak ditempati karena kualitas bahan bangunannya sangat rendah, bahkan, asal ada dan asal jadi. Mengapa dalam kenyataannya BRR-Nias mengalami kemacetan di sana-sini karena ke’tidakoperatif’an masyarakat? Mengapa kehadiran BRR-Nias menjadikan banyak orang menjadi kaya mendadak, dan masih banyak lagi hal yang sifatnya ‘tiba-tiba’? Ah, melelahkan mengulang-ulang menceritakan hal itu. (Sebagai contoh, baca: 15 Persen Pembangunan Perumahan di Nias Ditelantarkan)

BRR-Nias merasa sudah melakukan tugasnya. Tapi, sebenarnya BRR-Nias kehilangan banyak hal yang sangat mendasar, yaitu pilar hati atau pilar pembangunan manusia, pilar budaya berpikir sehat, kompetitif, dan mandiri. Mungkin saja BRR-Nias akan berkelit bahwa itu bukan tanggungjawabnya, itu tugas masing-masing orang. Tapi, argumentasi itu tidaklah berdasar. Sebab, ketika pembangunan fisik tidak dilandasi oleh penegakan pilar hati, itu hanya seumpama orang bodoh yang berlagak hebat karena ‘berhasil’ membangun rumah di atas pasir.

Apakah benar, pilar hati telah hilang dan semakin dihilangkan dari BRR-Nias? Setidaknya ada dua indikator. Pertama, seperti apakah perbaikan yang dilakukan dirasakan secara ril menyejahterakan masyarakat Nias. Dan kedua, apa yang sekarang ini bermain dengan gemulai di benak setiap mereka yang terlibat dalam proyek-proyek BRR. Walau indikatornya dua, namun hasilnya sama. Manfaat dan oportunisme.

Sampai saat ini BRR belum berhasil membersihkan diri dari dugaan korupsi. Media massa telah berulangkali membeberkannya, bahkan sampai kini. Selanjutnya, banyaknya kontraktor yang mengerjakan proyek asal jadi yang ditandai dengan banyaknya bangunan yang bahkan sebelum diserahkan kepada yang berhak menerima, sudah rusak duluan. Tidak heran bila masyarakat menolaknya.

BRR-Nias, manfaat dan oportunisme
Apa sebenarnya yang terjadi di dalam BRR-Nias sendiri? Dan seberapa parah sebenarnya kondisi mentalitas di balik setiap kegiatan BRR-Nias dan para kontraktor yang konon sebagian besar justru putra daerah Nias sendiri? “Sangat parah,” ungkap salah satu sumber di BRR-Nias. Masing-masing berusaha mendapatkan bagian dari roti raksasa bernama budget BRR-Nias. ‘Bocoran’ dari orang dalam BRR-Nias tersebut, bukanlah kabar baru sama sekali. Hanyalah penegasan dari apa yang selama ini begitu terang di depan mata semua orang, yang awam sekalipun.

Seorang teman lain dengan seloroh sinis berkata, “Bahkan mereka bingung mau makan yang mana lebih dulu” terkait gesitnya ‘setiap orang’ memanfaatkan kesempatan mendapat untung sebanyak-banyaknya dari dan melalui proyek BRR-Nias. Semua orang harus [selalu] menyadari bahwa BRR hanyalah semacam lembaga ad-hoc, sementara. Hanya untuk kepentingan jangka pendek. Karena itu, semestinya, sangat masuk akal jikalau setiap orang berharap mendapatkan dampak atau keuntungan jangka panjang bagi pembangunan Pulau Nias secara menyeluruh. Idealnya, setiap orang berpikir ‘mumpung ada program BRR-Nias, kita manfaatkan untuk memajukan Pulau Nias, walau selangkah.’ Tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Mentalitas ‘mumpungisme’ yang berujung pada “bagaimana mendapatkan kesempatan dan keuntungan sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya dari proyek-proyek BRR-Nias” justru merajalela. Rata-rata memikirkan kepentingan diri sendiri, kepentingan berbasis bisnis. Bukan berbasis motivasi untuk membangun tempat kelahirannya sendiri dengan ‘memanfaatkan’ kehadiran BRR. Anehnya, setiap kali, hampir setiap kita mengeluh mengenai ketiadaan dana untuk membuat Pulau Nias sedikit lebih baik, setapak beranjak dari ketertinggalan. Tetapi, ketika dana itu sudah di depan mata, semua lupa begitu saja.

Seandainya ada sedikit saja pemikiran yang jernih, ketika ada proyek pembangunan jalan, maka setiap orang (terutama para pemborong) harus berpikir bagaimana jalan raya itu dibangun sebaik-baiknya dengan kualitas terbaik yang mungkin dicapai. Dengan demikian, infrastruktur transportasi yang merupakan urat nadi pergerakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang akan dimiliki untuk puluhan tahun ke depan. Demikian juga ketika membangun irigasi, gedung sekolah, perkantoran dan perumahan penduduk. Itu artinya, lima tahun yang akan datang, BRR masih ada atau sudah bubar, dana pemerintah pusat dan asing (juga dari NGO-NGO) ada atau tidak ada, bergabung dengan calon Provinsi Tapanuli atau membentuk Provinsi Nias, masyarakat Pulau Nias sudah memiliki modal infrastruktur yang kuat dan memadai.

Hal yang menyedihkan adalah, apabila BRR sudah ‘terbang’, dan pemulihan Pulau Nias belum kelar. Tidak lama kemudian, jalan raya, irigasi, gedung-gedung sekolah, kantor-kantor pemerintah, dan rumah-rumah penduduk yang sempat terbangun, satu demi satu hancur dan tidak lagi berbekas. Berarti, harus memulai lagi dari awal. Dan itu akan jauh lebih sukar.

Apakah kita tega menciptakan kesedihan seperti ini untuk beberapa tahun yang akan datang? Masih segar diingatan kita, beberapa waktu lalu, BRR mengeluhkan kurangnya realisasi komitmen bantuan untuk gedung-gedung sekolah dari NGO-NGO atau pemerintah asing. Hal itu diperburuk oleh berbagai cerita yang merusak citra kita oleh ulah segelintir orang demi kepuasan sesaat. Bila tidak ada yang berpikir ke arah sana (memanfaatkan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya dana BRR untuk pembangunan infrastruktur dan kehidupan Pulau Nias dengan kualitas terbaik), kita semua dalam masalah besar. Kita menjadi troublemaker bagi diri kita sendiri. Bila sudah seperti ini, omong kosong semua slogan ‘mari membangun daerah sendiri’ atau semacamnya. Dan lama-kelamaan, kebiasaan yang merusak diri sendiri seperti itu akan menjadi sebuah kebiasan buruk yang menjalar secara sistemik. Sudah banyak bukti kebiasaan buruk itu di depan mata kita saat ini.

Harus diakui, masih ada segelintir orang yang bermotivasi baik dan berpikir jangka panjang demi masa depan Pulau Nias yang lebih baik. Mungkin saja itu ada di antara personil utama BRR-Nias termasuk sejumlah personil di NGO yang ada di Pulau Nias. Tetapi, yang paling bertanggungjawab dalam hal ini adalah saudara-saudara kita sesama orang Nias yang menjadi partner kerja BRR-Nias. Seharusnya kita, dan bukan BRR-Nias yang jadi andalan. Terlepas dari Pulau Nias itu telah menjadi korban bencana, Pulau Nias harus dibangun. BRR-Nias ada atau tidak, membangun Pulau Nias adalah tanggungjawab kita. Bila ada kekompakan seperti ini, maka dengan berani kita bisa ‘menghalau’ orang-orang luar Nias yang hanya memanfaatkan proyek-proyek yang sedang dikerjakan di Pulau Nias dan tidak mau tahu apakah kerjanya berkualitas atau tidak.

Yahumalö Khöu Sanau Bölökha
Tidak dapat dipungkiri, baik dari kesaksian masyarakat awam maupun mereka yang kebagian proyek, BRR-Nias semacam padang rumput hijau sekaligus sebagai ‘mata air’ fulus. Sudah banyak cerita bertebaran mengenai kecurangan yang dilakukan oleh oknum personil BRR-Nias, Kepala Satker, pimpro, pemborong bahkan sejumlah oknum ‘pejabat tinggi’ Pemda terkait dana proyek.

Sebaliknya, tidak sedikit warga yang telah dibuat miris dan hanya menelan ludah melihat kegelimangan para oknum itu di atas penderitaan mereka. Pada saat yang sama mereka tidak mampu berbicara dan menuntut haknya. Sebab, selain sering ditakut-takuti dan sesekali diintimidasi, mereka merasa sia-sia mempertanyakannya karena mereka pasti akan ‘dikalahkan.’

Ada banyak bukti di lapangan, dimana banyak orang menikmati apa yang bukan ‘jatah’nya. Itu sudah pemandangan biasa. Untuk orang-orang seperti itu, sebaiknya merenungkan dan mengingat sebuah ungkapan khas Nias ini: Yahumalö Khöu Sanau Bölökha. Akan diambil daripadamu oleh Yang tangannya lebih panjang. Itu terjemahan literalnya. Ungkapan itu (semoga tidak salah) khas masyarakat Teluk Dalam. Secara simbolik, itu berarti sesuatu yang lain, yang lebih besar/lebih kuat daripadamu [suatu waktu/kali] akan mengambilnya. Biasanya hal itu dikonotasikan dengan Tuhan yang [akan] menuntut balas. Biasanya diungkapkan oleh mereka yang telah diperlakukan tidak adil, dirampas haknya, diperlakukan semena-mena namun tidak bisa melakukan sesuatu untuk membela diri atau memperjuangkan hak-haknya. Biasanya, ‘pengambilan kembali’ itu dalam konotasi negatif. Bisa berupa bencana, kematian, kesakitan, kemiskinan, tersangkut kasus, misalnya pidana, dan sebagainya. Tapi sebenarnya lebih sering bernuansa ‘mangelifi’ (literal: mengutuki). Tentu saja ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi berbicara mengenai adanya konsekuensi dari setiap tindakan.

Juga bahwa setiap orang harus sadar, ada Kuasa yang lebih tinggi daripadanya, yang akan meminta pertanggungjawabannya. Akan membela orang lemah. Mari kita renungkan. Luruskan hati, tegakkan pilar. Atau, tegakkan pilar (pembangunan) dengan hati yang lurus. Demi kebenaran dan demi Pulau Nias tercinta. Berilah kepada rakyat Nias apa yang menjadi bagiannya, sepenuhnya. Jangan biarkan sampai Yang Kuasa yang mengambilnya sendiri. God Bless Nias Island.

[1] Kemajuan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nias Tahun 2005-2006 oleh Emanuel Migo Manager Komunikasi dan Informasi Publik BRR Perwakilan Nias, 26 Desember 2006.

Facebook Comments