Menjadi Relawan di Tanah Kelahiran

Wednesday, March 28, 2007
By nias

Oleh Postinus Gulö

Teolog dan sekaligus filsuf tersohor, Thomas Aquinas pernah berkata: “non sibi vivere, sed at aliis proficere” (hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk menjadi berkat bagi orang lain). Tesis Thomas Aquinas ini ternyata terbukti. Tatkala Nias dilanda gempa (28 Maret 2005), banyak orang dari penjuru dunia datang ke Nias dengan satu komitmen: menjadi berkat bagi orang Nias, menolong masyarakat Nias. Sebagai orang Nias, kita patut bersyukur. Di tengah kegalauan, ternyata di sana masih tersisa harapan. Banyak orang yang tadinya kita tidak pernah kenal menjadi sahabat sejati kita, teman kita, tumpuan harapan kita bahkan menjadi orang yang mendesain masa depan kita. Ada banyak orang yang tidak hanya menebar senyum tetapi langsung turun-tangan membagikan bantuan kepada para korban. Batas-batas Negara diterobos demi kemanusiaan. Banyak orang yang bahu-membahu mengulurkan tangan untuk meringankan beban masyarakat Nias. Semuanya itu berkat, hadiah yang patut kita syukuri.

Kahlil Gibran pernah menulis sebuah buku yang kiranya melukiskan bagaimana suasana hati kita, masyarakat Nias dan juga para relawan. Buku itu berjudul: “A Tear and a Smile” (Air Mata dan Senyum). Azab dan duka masyarakat Nias bergaung ke seluruh penjuru dunia. Dan, ternyata banyak orang yang menyendengkan telinga bahkan mau turun dari “kesenangannya, kemapanannnya” demi membantu masyarakat Nias. Alhasil, duka itu kini bercampur dengan senyum sesama kita yang siap berkorban demi kita, masyarakat Nias. Dua tahun gempa Nias telah berlalu. Namun derita dan pilu sampai kini masih terasa. Banyak anak yang menjadi sebatang kara. Banyak keluarga yang kehilangan anak kesayangan, saudara, orangtua dan handaitaulan. Semuanya seolah telah berlalu. Namun, kepedihan dan bayangan gempa dahsyat itu takkan pernah berlalu. Ia adalah sejarah Nias. Ia adalah cerita nyata.

Diutus Menjadi “Relawan’’
Sekitar pukul 11.30 malam (malam 28 Maret 2005) saya terjaga dari tidur. Perasaan gamang menyelimuti hatiku. Mengapa? Karena anak-anak SMU dan SMP yang sedang retret di tempat saya tinggal sangat ribut. Ada yang berteriak-teriak: gempa-gempa! (karena kebetulan banyak di antara mereka yang mendengarkan berita). Malam itu saya tidak tenang. Karena saya berpikir: jangan-jangan gempa itu terjadi di Nias. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Mau telpon ke Nias tapi sudah larut malam.

Dugaan saya memang tidak meleset. Besok harinya, Magister saya, Pastor Rosa, OSC memberitahu kepada saya bahwa di Pulau Nias sudah terjadi gempa dahsyat tadi malam.

Lantas saya buru-buru menelpon ke Nias tetapi apa daya tak tersambung. Listrik padam. Walaupun demikian, informasi terus mengalir dari Nias. Para pastor OSC yang berkarya di Pulau Nias selalu memberitahu informasi gempa kepada kami di Bandung (baik melalui telpon juga melalui e-mail).

Saya tetap mencari informasi tentang kepastian bagaimana kondisi keluarga dan rumah orangtua saya di Pulau Nias. Tanggal 30 Maret saya coba telpon lagi. Ternyata di seberang sana ada yang mengangkat. Ia adalah A. Tetty Gulö, Amagu Talu sitoröi ba Gunungsitoli. Beliau pun bercerita. Gempa yang terjadi Nias sangat luar biasa. Hampir semua rumah dan bangunan lainnya di Gunungsitoli roboh, rata dengan tanah. Alhamdullillah rumah beliau tidak hancur, hanya retak. Rumah orangtua saya di Desa Dangagari juga tidak roboh.

Walau keluarga saya tidak ada yang menjadi korban namun saya diselimuti pilu tangis dan juga kecemasan. Apalagi berita yang kian berkembang adalah Pulau Nias akan tenggelam. Berita-berita semacam itu terus saya ikuti, baik di channel TV, koran maupun di channel radio. Suara hati saya terus bergejolak dan terus memaksa saya untuk harus pulang kampung melihat situasi di sana. Saya ingin membantu korban gempa. Saya ingin menyelamatkan saudara-saudari saya yang terperangkap di dalam rumah. Saya mau menghibur mereka. Saya mau hadir bersama mereka. Itulah suara-suara yang selalu berdering di hati ini. Tetapi apa daya. Harapan itu baru terkabul pada bulan Mei 2005.

Propinsial OSC Sang Kristus Indonesia, Pastor Agus Rachmat Widyanto OSC, Magister Frater Skolastikat OSC, Pastor Th. Maman, OSC, Rektor Seminari Tinggi Fermentum, Bandung, Pst. Hilman Pr, Rektor Seminari Tinggi Damian, Pastor Deddy Riberu SSCC dan Rektor Seminari Tinggi St. Petrus-Paulus Bogor, Pastor Mardi Pr serta Dekan Fakultas Filsafat Unpar, Pastor Sebastian Fabianus Heatubun Pr memutuskan bahwa kami para frater akan menjadi relawan ke Nias selama satu bulan lebih (27 Mei s/d 2 Juli). Tim kami ini diberi nama: Tim Relawan Keuskupan Bandung Untuk Nias. Kami berjumlah 48 orang (22 orang frater OSC, 11 orang frater Projo Bogor, 4 orang frater Projo Bandung, 4 orang frater SSCC, 2 orang suster Ordo Santa Ursula, Bandung, 2 orang pastor OSC, 3 orang awam: Mas Andi, Ito Susi br Sitanggang, dan Miguel).

Kehadiran orang lain dirasa bak hadiah ketika ia hadir ditengah kepiluan. Tadinya, dalam hati ini terus bergemuruh suara untuk pulang ke Nias demi menolong saudara-saudari saya, ternyata Tuhan menjawab dengan penuh kasih: Ia menurunkan Roh-Nya untuk mengetuk hati banyak orang sehingga saya tidak sendiri. Rupanya banyak orang yang sepikiran dengan saya: ingin membantu para korban, mau hadir di tengah penderitaan orang lain. Sebagai orang Nias, saya sangat bersyukur karena banyak orang yang peduli dengan Nias. Walau berstatus frater (dan wilayah kerasulannya pun bukan Nias) dan sedang aktif kuliah toh tetap bersedia diutus ke Nias demi misi kemanusiaan: meringankan beban masyarakat Pulau Nias. Komitmen ini luar biasa. Saya berterima kasih kepada teman-teman saya frater, terutama Projo Bandung dan Projo Bogor serta Kongregasi SSCC yang memang tidak berkarya di Nias, tetapi punya niat baik untuk meringankan beban masyarakat Nias. Selain itu, saya juga berterima kasih kepada Sdr. Miguel K. Soares. Ia adalah awam yang ikut kru kami. Beliau ini berasal dari Negara Timor Leste dan sekarang masih mendalami filsafat di fakultas filsafat Unpar. Terima kasih kawan atas kemurahan hatimu. Semoga Tuhan membalas segala budi yang telah Anda tanam.

Tanggal 24 Mei kami berangkat dari Bandung menuju Jakarta menumpangi mobil TNI Wilayah Cimahi. Di Jakarta kami bermalam. Besok harinya kami naik pesawat dan sampai di Medan tanggal 25 Mei dan bermalam di sana juga. Besok harinya barulah kami menuju Sibolga. Kami mampir sebentar di Wisma Keuskupan (Christoforus). Di sana kami disambut oleh beberapa Pastor kapusin dan juga beberapa Pastor Projo Sibolga. Malam itu langsung kami berlayar menuju Nias. Tanggal 27 Mei kami sampai di pelabuhan Gunungsitoli. Di pelabuhan ini, kami telah ditunggu oleh beberapa pastor. Yang masih saya ingat adalah Pastor Dominikus Doni OSC dan Pastor Eko OSC. Pastor Uus, demikian beliau biasa dipanggil membawa truck dan truck itulah yang kami tumpangi untuk sampai di Paroki Santa Maria Gunungsitoli. Di sana kami disambut Pastor Mikael to Pr, Pastor Alfons Pr, Pastor Frans Sinaga, Pator Rantinus Manalu Pr, Pastor Raymond La’ia OFMCap, para suster, para relawan dari Jogyakarta dan dari Jakarta.

Pekerjaan Fisik: Bukan Tantangan Berat Bagi Para Frater
Kami dibagi dalam beberapa group karena kami disebar ke beberapa daerah: Idano Gawo, Amandraya, Sirombu, Mandrehe, Lahewa, Gunungsitoli. Selama satu bulan lebih, kami melakukan pekerjaan fisik. Uraiannya sebagai berikut:

Pertama, Di Sirombu, pekerjaan yang kami lakukan adalah mengantar dan menurunkan batako, meruntuhkan bangunan, menimbun jalan-jalan yang retak dan rusak, memperbaiki jembatan, menggali sumur, mengambil batu dan pasir untuk membangun rumah para korban bencana.

Kedua, Di Mandrehe, ada kelompok yang ditugaskan di bidang pelayanan kesehatan, mendata barang-barang (bantuan) yang ada, mengantar dan menyalurkan sembako kepada masyarakat.

Ketiga, Di Idanö Gawo, kami meruntuhkan sisa bangunan Susteran OSF, membangun rumah darurat bagi para suster dan pastor yang tinggal di sana.

Keempat, di Gunungsitoli. Yang menjadi relawan di Gunungsitoli adalah para frater yang memiliki SIM baik SIM A maupun SIM C. Mereka bertugas sebagai supir yang mengantar maupun menjemput tamu atau relawan baik di Pelabuhan Laut Gunungsitoli maupun di Bandara Binaka. Namun pada kenyataannya tidak setiap hari posko Gunungsitoli kedatangan tamu. Walaupun demikian, mereka tidak kehilangan akal, mereka malah kreatif. Salah seorang frater ada yang menjadi supir Perdhaki mengantar tim medis ke pelosok-pelosok yang belum terjangkau oleh pihak Depkes. Ada juga yang mengantar Pastor Alfons ke stasi-stasi dari Paroki KGB. Satu orang frater pernah juga mewakili Pastor Paroki (Pst. Mikael To Pr.) untuk melantik pejabat yang beragama Katolik di salah satu departemen. Satu frater yang lainnya pernah mengantar paket bantuan ke Gomo. Itu gambaran kerja relawan di Kota Gunungsitoli. Selebihnya para frater ini membantu memasak di dapur. Sehingga tidak heran bila salah seorang relawan dari Atmajaya Yogya mengatakan:”Jauh-jauh dari Bandung hanya jadi tukang cuci piring dan memasak!” Begitulah gambaran relawan di Gunungsitoli. Tidak persis jelas apa yang harus dikerjakan. Namun dari fenomena semacam itu, justru memancing daya kreatif dan proaktif setiap frater yang ditempatkan di Gunungsitoli. Selain itu, para frater pun bisa mengenal situasi daerah-daerah di P. Nias. Baik para penduduk, maupun infrastruktur berupa jalan, sekolah, gereja, pastoran-pastoran, biara susteran dan rumah-rumah yang hancur akibat gempa. Tidak semuanya rusak ada juga beberapa yang tetap kokoh utuh. Pekerjaan baru menjadi jelas dan pasti ketika di Gunungsitoli ada proyek membangun rumah tahan gempa yang teknologinya berasal dari ATMI Solo. Di bawah komando Bp. Mul dan Mas Yatno, kami pun menjadi “tukang bangunan”. Lumayan, kata Fr. Freddy OSC.

Kelima, di Lahewa. Kendati tidak separah daerah lain, beberapa bangunan Lahewa seperti Gereja, rumah, toko-toko, aula dan banyak gedung lain mengalami kehancuran. Para relawan Tim Bantuan untuk Nias Keuskupan Bandung yang dipersiapkan untuk daerah ini seluruhnya terdiri dari 3 kelompok secara bergilir. Selama 3 minggu, para frater melayani masyarakat Lahewa dalam 2 tugas besar. Yang pertama, kerja fisik. Para frater sebagai relawan membantu menghancurkan puing-puing bangunan, membagi bahan kayu untuk rumah penduduk dan mendirikan gudang sementara. Yang kedua, pendataan. Para frater menyusun data kerusakan rumah dengan lengkap dan detail. Selain itu, pada hari Minggu para frater diberi kesempatan untuk memimpin ibadat dan memberi renungan. Di tengah-tengah tanggung jawab dan tugas pelayanan, para frater juga menikmati rekreasi di pantai Toyolawa, berenang bersama para Pastor, Suster dan beberapa mudika. Hidup bersama sebagai saudara dan sharing kelompok menjadi modal dan kekuatan bagi kami selama menjadi relawan di daerah Lahewa.

Ketika sampai di Bandung, kru Lahewa ini mengaku: “sebagai tim relawan yang dikirim ke daerah gempa, kami dituntut agar berempati dengan penduduk yang mengalami trauma. Mentalitas petualang, daya inisiatif, visi missioner dan sikap gratuit sangat dibutuhkan. Sikap seperti ini diperlukan terutama dalam menghadapi penduduk sewaktu mendata. Dalam waktu lima hari, pendataan kelurahan Lahewa yang terdiri dari 6.000 kepala keluarga dapat diselesaikan”.

Berbagai kesulitan (khususnya bagi frater yang bukan orang Nias) seperti bahasa dan mentalitas penduduk tidak menjadi halangan untuk membuat laporan kerusakan secara detail (maklum di antara para frater ini hanya tiga orang frater yang berasal dari Nias: Saya sendiri/Fr. Postinus Gulö OSC, Fr. Ollianus Zebua OSC dan Fr. Felix Halawa OSC). Beberapa hari berikutnya, kami, para frater dikirim ke desa-desa untuk mendata dan menginap di salah satu rumah seorang lektor. Kesulitan jarak tempuh yang jauh sekitar 8 km, daerah perbukitan, hutan dan jalan yang hancur menyelingi perjalanan kami untuk melihat kerusakan secara langsung. Berbagai rumah seperti rumah permanent (RP), rumah semi permanent atau rumah beton-kayu (RSP), rumah kayu (RK), dan rumah pondok(P) menjadi kategori pembagian rumah di sana. Pendataan dimaksudkan agar penduduk yang mengalami kerusakan total dan yang sangat membutuhkan dapat segera dibantu.

Di samping itu, kami juga mengalami persaudaraan/ fraternitas yang akrab dengan para pastor kapusin dan suster-suster SCMM. Bersama mereka, kami melakukan ritme doa yang teratur terutama dalam Perayaan Ekaristi setiap hari. Bagi mereka, kehadiran kami di saat yang demikian sungguh bak siraman air di tengah gurun. Singkatnya, ada banyak manfaat bagi mereka dan bagi kami sendiri juga. Bagi kami, semangat misionaris, sikap memberi tanpa balas, tanpa pamrih, gratuit, kerendahan hati sebagai frater di Lahewa diuji. Kami belajar membentuk sikap rendah hati, siap sedia diutus dan secara implisit menghadirkan wajah krosier di sana. Lebih jauh, berusaha menghadirkan Allah di tanah Lahewa.

Teman-teman frater (terutama yang baru menginjakkan kaki ke Nias) sangat bersyukur karena diutus menjadi relawan ke Nias. Mengapa? Karena mereka banyak menimba pengalaman dari masyarakat Nias yang walaupun telah kehilangan keluarga, harta benda tetapi banyak masyarakat Nias yang tidak putus asa. Tentu kita berharap bahwa bencana semacam ini tidak terulang lagi. Marilah kita berdoa semoga apa yang kita harapkan dapat menjadi kenyataan. In Cruce Salus!

Ya’ahowu Fefu.

Foto-foto Kenangan di Nias

Tanggal 26 Mei 2005 kami sampai di Idanö Gawo dan foto bersama. Yang duduk paling kiri dan memakai kaca mata serta bawa tas adalah Pastor Thomas Maman OSC. Beliau mendampingi kami selama di Nias.

Setelah merayakan ekaristi bersama umat (di tenda), di rumah adat Bawö Mataluo yang masih kokoh ini kami disambut meriah. Kami dijamu khas Nias. Simbi nono mbawi pun mereka kasih kepada kami. Maklum saat itu, Pastor Paulinus Manaö OFMCap (yang notabene keturunan Satua Mbanua) yang mengajak kami di sini.

Kru Amandraya kerja keras merubuhkan bangunan, yakni Gereja Katolik Amandraya (Kepala Parokinya Pastor Paulinus Manaö OFMCap) dan Asrama Putri. Selain itu, kru Amandraya juga membersihkan puing-puing bangunan.

Kerja sambil bercanda pertanda bahwa kami enjoy di Nias. Ki-ka: Fr. Wahyu Pr dan Fr. Postinus Gulö OSC

Selama kami di Idanö Gawo suasana makan bersama kayak gini. Walau sudah lelah toh tetap bercanda ria bersama para Suster OSF Sibolga yang berkarya di Paroki ini.

Fr. Lerry OSC (tengah) dan Fr. Wahyu Pr (kanan) sedang membongkar seng bangunan Susteran Idanö Gawo. Di atas seng ini pernah ada karyawan yang terjatuh karena konstruksi bangunan yang rapuh (tetapi tidak terluka, alias tidak apa-apa).

Pastor Thomas Maman OSC (kiri) sedang mengamati kayu yang akan dibagikan kepada penduduk di Idanö Gawo. Sedangkan dua orang frater sedang menghitung kayu tersebut berdasarkan banyaknya jatah setiap kepala keluarga.

Pastor Uus OSC (ketiga dari kanan) tidak kenal lelah. Beliau juga selalu ikut bareng para frater dan melakukan apa saja yang dilakukan oleh para frater. Inilah barangkali contoh gembala yang tidak hanya di altar tetapi juga mau pergi ke pasar.

Para frater juga manusia: butuh istirahat. Kru ini sedang merubuhkan sisa bangunan Paroki Santo Petrus Sirombu, Nias Barat. Pastor C. Budiman OSC (berdiri paling belakang, baju lengan panjang). Walau baru pulang studi dari Roma, tetapi Pastor Budiman siap sedia menjadi relawan di Nias. Luar biasa!

Setelah beberapa hari menjadi relawan, kami dikumpulkan di Gunungsitoli untuk mrngadakan evaluasi kerja. Pada evaluasi ini, hadir juga Pastor Mikael To Pr. Beliau adalah kepala Paroki Gunungsitoli

Kondisi Panti Asuhan Idanö Gawo rusak parah. Gunung di belakangnya juga hampir longsor. Alhamdullillah pas gempa semua anak Panti Asuhan selamat. Dan, mereka dievakuasi ke Susteran OSF Gidö.

Batu ini, digunakan untuk membangun beberapa rumah korban gempa di Sirombu.

Kami sedang membersihkan reruntuhan bangunan Gereja Katolik Amandraya

Walau di tenda, Pastor Paulinus Manaö OFMCap tetap semangat mempersembahkan Ekaristi. Dalam foto ini, beliau sedang mempersiapkan buku-buku Misa.

Tanggal 4 Juli kami meninggalkan Nias dan pulang ke Bandung. Tanggal 6 Juli kami sampai di Padang dan foto bareng disalah satu paroki di sana.

13 Responses to “Menjadi Relawan di Tanah Kelahiran”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 11
    M. J. Daeli Says:

    Saudara David Signor, pengkategorian “relawan” seperti itu saya kira bukan hal aneh. Contohnya dari pengalaman Saudara Autha itu.

    Seandainya teman-teman Saudara Autha (atau kita – termasuk Saudara Autha) datang ke daerah bencana (misalnya : Nias, Sumbar, Aceh, Jogayakarta, dan sebagainya)dengan menggunakan predikat “relawan”, maka seharusnya yang dilakukan adalah berusaha membantu memulihkan situasi dan kondisi para korban – terutama dari segi psikologis.

    Para korban bencana itu jelas dalam kondisi “mental down”. “Para relawan hendaknya menyadari bahwa yang paling dibutuhkan korban adalah rehab kejiwaan. Adalah luhur dan mulia, apabila para relawan berusaha menanamkan kepercayaan diri kembali kepada para korban yang sedang menderita itu bahwa “yang utama dan terutama adalah menolong diri sendiri”. Yang dari luar diri sendiri “hanyalah bantuan”. Karenanya janganlah para relawan “menepuk dada” setelah membantu tenaga (fisik)dan atau materi.

    Juga tidak wajar dan tidak etis kalau relawan datang ke daerah bencana mengutamakan kegiatan penelitian sosiologi, antropologi, etnologi, kultur, sumberdaya alam, dan sebagainya. Lebih tidak etis kalau si relawan langsung mempublikasikan kesimpulan peribadinya yang berkonotasi negatif dan belum tentu benar.

    Semoga menyadarkan kita semua.

  2. 12
    tanpo namo Says:

    Aihmak, rancak lah nyang dibilang udo Daeli tu. Korban bencano mentalnyo “daun”. Kek mano lah, bencano bikin luluh-lantak samuanyo, jiwo, rago, dan inprastruktur.

    Tempo hari waktu gempo tu, awak jadi kuli angkut sembako dan tendo ke Nias sanan. Awak pun basamo relawan nyah. Orang tu bilang, kalok jadi relawan musti pande-pande pulak… sabanta awak liat catatan awak… hah ni… pande “psychosocial support”. Samo lah maksudnyo nyang dibilang udo Daeli tu.

  3. 13
    Susi Bate'e Says:

    Diskusi menarik dan inspiratif.. yg menyadarkan kita makna, hakekat, eksistensi relawan.. bravo relawan/relawati! Tuhan Yesus memberkati!

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita