Oleh: Yudhykana Laia

Sekilas Gempa
Tidak terbayangkan bahwa pulau Nias dilanda gempa pada 28 Maret 2005. Kejadiannya dua tahun lalu, terjadi menjelang tengah malam. Menurut kesaksian dari beberapa masyarakat Nias bahwa gempa dasyat tersebut terjadi tiga kali.

Beberapa hari setelah terjadinya gempa, penulis melakukan perjalanan menuju ke Nias untuk melihat keluarga. Dari kota Medan menuju Sibolga terlihat berbagai kesibukan bantuan diarahkan menuju pulau Nias. Tiba di Sibolga getaran-getaran gempa masih terus dirasakan. Tidur dimalam hari disarankan hanya tidur-tidur ayam saja. Sewaktu-waktu bila ada gempa harus cepat lari keluar dari rumah atau penginapan.

Pengungsi
Tiba di Sibolga dini hari, langsung pergi melihat daerah pelabuhan dan melihat para pengungsi dari Nias yang tidur dipinggir jalan dan didepan rumah-rumah penduduk yang hanya beralaskan tikar atau seadanya. Para pengungsi juga banyak ditempatkan dilapangan bola Sibolga. Dan ada banyak yang terluka ditampung di rumah sakit di Sibolga atau dibawah ke rumah sakit di Medan.

Akibat Gempa

Gempa yang terjadi mengakibatkan trauma yang sangat mendalam bagi masyarakat yang berada di pulau Nias saat itu. Nyawa melayang dan harta benda ludes dalam sekejap. Orang-orang pedatang atau yang bekerja di pulau Nias banyak yang pergi keluar pulau Nias dengan hanya membawa keperluan seadanya. Perasaan orang-orang pada saat itu mereka harus meninggalkan pulau Nias dengan segera untuk menyelamatkan diri.

Ketika saya berada di Sibolga dan bertemu dengan seorang pria yang bekerja di Nias yang baru tiba di Sibolga, dengan membawa bungkusan indomie yang berisi pakaian yang masih bisa diambilnya, sambil menunggu mobilnya berangkat, kami sempat berbicara dan dia bercerita bagaimana waktu dia berada dalam situasi gempa tersebut. Dan sungguh mengerikan ceritanya. Dia berpikir bahwa sudah kiamat!

Istilah dimana hartamu berada disitu juga hatimu berada merupakan kejadian yang terjadi pada saat gempa tersebut. Pada saat gempa pertama terjadi orang-orang masih sempat lari keluar rumah akan tetapi ketika gempa pertama reda, ada yang kembali kedalam rumah untuk mengambil barang keperluan, dan pada saat sudah berada dalam rumah maka gempa ke dua datang dan membuat rumah rubuh sehingga terjadi korban jiwa tertimpa bangunan rumah.

Setiba di pulau Nias saya melakukan perjalan dari Gunung Sitoli menuju Teluk Dalam lewat jalan tengah (Lölöwau). Dan yang menjadi perhatian saya selama dalam perjalanan adalah 90% bangunan gereja semua hancur dan tidak dapat dipergunakan untuk beribadah. Beribadah terpaksa dilakukan dibawah tenda.

Sedikit Perenungan
Walaupun gempa telah dua tahun berlalu tetapi akibat gempa tersebut masih kita rasakan sampai saat ini. Dan gempa masih sering terjadi hingga saat ini walaupun tidak sebesar dua tahun lalu.

Bukan lagi gempa yang menyakitkan masyarakat di pulau Nias. Tetapi sesama. Ada banyak kita dengar bahwa banyak bantuan tidak sampai atau bantuan sengaja menyalahi sasaran dengan tujuan satu pihak mendapatkan keuntungan sedangkan yang seharusnya mendapat pertolongan atau yang jadi korban hanya gigit jari saja.

Barangkali dengan kejadian terjadinya gempa ini, ada hikmat yang harus renungkan oleh masyarakat Nias. Memperbaiki diri dan lebih dekat kepada Pencipta. Tidak larut dalam kesedihan tetapi berjuang terus karena hari esok masih ada untuk dijalani (YL).

Facebook Comments