Tuhan dan Penderitaan

Saturday, March 24, 2007
By nias

*Renungan pribadi, mengenang Gempa Bumi di Nias; 28 Maret 2005

Oleh: Tety Novriyanti Telaumbanua, S.Th.

Bacaan: LUKAS 13:1-5

Malam itu saya sedang berbincang-bincang dengan mama sudah hampir sebulan bersama saya di Bandung. Rencananya, mama akan pulang ke Nias minggu berikutnya. Tapi tiba-tiba tengah malam, telpon berbunyi; kakak saya memberitahu sedang terjadi gempa dahsyat di Nias, semua orang sedang mencari tempat berlindung. Berikutnya, kami kehilangan kontak. Memang keluarga saya selamat dalam peristiwa gempa itu. Tapi sampai sekarang saya terus merenungkan mengapa semua ini terjadi?

Ada yang mengatakan orang Nias sudah jauh dari Tuhan. Mungkin ada benarnya. Ketika pulang Januari kemarin, saya takjub dengan banyaknya kasus-kasus di pulau Nias. Seharusnya itu tidak terjadi karena menurut statistik orang Nias mayoritas ’beragama Kristen Protestan dan Katolik’, juga ada Muslim, Budha, dll (saya tidak tahu perkembangan terakhir). Yang saya yakin semua ’beragama’. Tapi inilah masalahnya. Beragama sering dianggap percaya pada Tuhan. Sesungguhnya itu tidak sama!

Agama adalah usaha manusia untuk mencari ’tuhan’ atau sesuatu yang dianggap lebih berkuasa dari padanya. ’tuhan’ ini bisa saja ada; tetapi apa dan seperti apa, itu terserah hasil penemuan manusia yang mencarinya. Ini pendapat saya. Bagaimanapun; kalau hanya ’beragama’ tidak menjamin saya mengenal ’TUHAN’ yang sesungguhnya.

Kembali ke pandangan, orang Nias jauh dari Tuhan, berdosa. Saya mengikuti perkembangan pulau Nias hanya melalui media dan kabar dari keluarga saya. Ya, benar dalam banyak hal kita sudah jauh dari Tuhan. Di mana-mana, dalam segala aspek kehidupan terjadi penyimpangan, termasuk di dalam organisasi Gereja. Singkatnya, penderitaan akibat dosa. Pandangan ini bukan hal yang baru.

Perhatikan Lukas 13:1-5.
Ay.1. Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.

Ay. 2.Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?

Bandingkan dengan Yoh. 9:2 “Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” ”

Ingat ketika Ayub diijinkan Tuhan untuk dicobai iblis. Apa pandangan ’teman-teman dekatnya’? Intinya: Ayub sudah berdosa besar terhadap Tuhan. Dalam satu hal mereka benar: ”Ayub sebagai manusia pasti melakukan kesalahan”.

Betapa mudah dan menariknya untuk menghakimi orang lain sebagai orang berdosa ketika satu penderitaan menimpanya. Ketika keluarga kami mengalami berbagai persoalan, maka dengan mudahnya ’yang dulunya mengaku saudara dan kerabat/ kenalan’ menunjukkan bahwa kami berdosa, keluarga kami layak untuk itu. Saya tidak menyatakan keluarga kami baik. Kami sudah banyak melakukan hal yang tidak benar, menjauh dari Tuhan.

Lalu bagaimana tanggapan Tuhan?
Ay. 3. Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.

Tuhan menerangkan siapa yang berdosa. Ini juga yang terjadi ketika orang-orang menanyakan tentang orang yang buta sejak lahirnya. Tuhan menunjukkan siapa yang berdosa. Siapa? SEMUA ORANG!!! Tanpa batasan usia, jenis kelamin, status, suku, dll. Roma 3:10 ” seperti ada tertulis: “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. ” baca juga Roma 3:23 ” Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah …”.

Artinya, tidak ada perbedaan. Sebagai manusia, keturunan Adam secara lahiriah; setiap kita berdosa. Jabatan di gereja tidak menjamin kebebasan dari dosa!

Lalu, kalau setiap kita berdosa; apa yang selayaknya terjadi/ kita alami? Upah dosa ialah ’maut’ (Roma 6:23).

Artinya, seharusnya setiap orang binasa, menerima murka Allah. Mungkin dengan cara seperti dalam Lukas 13, atau melalui bencana alam, kecelakaan,…dll. Seharusnya tidak ada yang terbebas. Itu yang selayaknya kita terima.

Tapi, mengapa tidak semua orang binasa? Mengapa saya masih hidup dan dapat bekerja? Bukan karena saya lebih baik dari mereka yang sudah dipanggil Tuhan dalam bencana itu. Mungkin saya lebih berdosa dari mereka.

Perhatikan ay. 4. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?

Jelas Tuhan menegaskan tidak. Bukan masalah besarnya kesalahan. Ketika berhadapan dengan orang yang buta sejak lahirnya dalam Yoh.9 Yesus menyatakan tujuan Allah yang hendak dinyatakan melalui kebutaannya, bukan masalah besarnya dosa.

Lalu ada apa?
Baca ay.5. Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”

Disini terlihat jelas ’kasih Allah’ kepada kita. Saya tidak dapat menjelaskan kasih Allah terhadap mereka yang sudah meninggal dalam bencana itu. Yang saya yakin Tuhan mengasihi mereka dengan cara dan tujuan yang tidak dapat kita pahami saat ini. Tetapi terhadap kita yang masih hidup dan diberi kesempatan meneruskan karya di dunia ini; jelas ada kasih Allah. Kita masih diberi ’KESEMPATAN’. Kesempatan apa? Jelas,” kesempatan untuk berbalik kepada Allah.” Tuhan sangat mengasihi kita. Seperti seorang kekasih yang ’cemburu’ ketika kekasihnya berpaling, melupakan apalagi meninggalkannya; Tuhan juga ’cemburu’ kepada ’hal-hal yang mengalihkan kita dariNya’. Tetapi tidak mudah bagi kita untuk peka.

Saudara pernah memikirkan bagaimana kalau Tuhan membiarkan seseorang dalam dosanya? Baca Roma 1:18-32. Hukuman yang terbesar justru ketika Tuhan ’membiarkan’ orang hidup dalam dosa-dosanya, tidak ada kesempatan untuk berbalik. Tapi Tuhan tidak membiarkan kita. Tuhan mengingatkan kita, meskipun caraNya sulit kita pahami. Bencana alam…tsunami dan gempa bumi yang meluluhlantakkan pulau Nias.

Saya mendengar kesaksian seorang anggota jemaat yang sekarang menjadi aktivis di gereja. Sebelumnya nyaris tidak peduli tentang Tuhan. Ke gereja, kadang-kadang. Baca Alkitab dan berdoa? Nyaris tidak pernah. Tetapi hanya karena gangguan tidur (Imsomnia) selama beberapa hari, dia bisa menyadari keadaannya yang jauh dari Tuhan. Sekarang mereka sekeluarga bukan hanya aktif di gereja, tetapi secara pribadi menjalin hubungan erat dengan Tuhan. Indahnya kalau semua orang peka seperti itu. Saya ingat Samuel dalam I Samuel, masih sangat muda, sedang tidur; dapat mendengar suara Tuhan yang memanggilnya.

Saya? Saya seorang yang ’agak’(sebenarnya ’sangat’) keras kepala. Kalau belum ‘nabrak/ tersandung atau jatuh apalagi luka’, saya tidak mau berbalik/taat. Tetapi syukur, bagaimanapun sesudah keadaan ’parah’, saya bisa berbalik.

Maksud saya, keadaan yang ’parah/ menyakitkan’ seperti bencana alam, dsb Tuhan pakai untuk mengingatkan kita, ”datang/ balik pada Tuhan.” Mengapa harus berat/bahkan mengerikan cara Tuhan untuk mengingatkan kita? Karena mungkin kita memang ’sulit’ peka terhadap ’bisikan/ sentuhanNya’.

Saya justru melihat kasih.

Ada waktu, ada kesempatan.

Kehilangan. Tidak mudah untuk menerimanya. Tetapi sesudah mengalami kehilangan, saya dapat memahami hal yang lebih berharga; lebih menghargai hidup daripada sebelumnya. Mungkin ada yang akan berkata, ”tapi keluargamu kan tidak ada yang meninggal dunia dalam gempa bumi itu. Kamu tidak tahu beratnya kehilangan anggota keluarga.” Betul, keluarga saya hidup, meskipun ada beberapa sanak saudara yang meninggal dunia pada hari dan beberapa hari kemudian. Saya tidak bisa merasakan duka saudara. Tetapi saya, keluarga kami sudah mengalami ’bencana’ dalam waktu yang sangat lama; sebagian sampai sekarang belum dipulihkan. Yang jelas, saya dapat memahami kehilangan; kehilangan harta benda, status, orang yang dikasihi, dsb. Saya masih ingat ketika mama sudah tidak punya uang untuk membeli makanan karena beratnya dan lamanya persoalan keluarga kami. Saya masih merasakan meskipun sebagai ”ngaötö Tuha…”, ketika keluarga kami hancur; sanak-saudara menjauh, kenalan menganggap kami ’terkutuk’, bahkan ada yang meludahi. Saya masih ingat tahun baru tanpa adanya tamu yang ’berani’ bertamu ke rumah. Saya juga rasakan beratnya ketika papa saya meninggal dunia, saya tidak dapat pulang melihatnya dikuburkan. Saya anak bungsu yang sudah beberapa tahun tinggal di luar pulau, dan sekarang tinggal di luar negeri. Saya memahami kehilangan orang-orang dekat. Saudara, mungkin persoalan kita berbeda. Tetapi, saya hanya mau menyatakan; kehilangan, apa dan bagaimanapun itu menyakitkan. Tetapi itu menyadarkan kita akan hal yang ’lebih berharga’. Kalau keluarga kami dan saya secara pribadi baik-baik saja, saya tidak percaya/membutuhkan Tuhan, apalagi serahkan diri melayani Tuhan. Kalau saya bisa mengandalkan keluarga saya dan segala talenta yang Tuhan beri pada saya; untuk apa saya hidup seperti sekarang ini? Mengapa saya melayani Tuhan? Karena saya tidak punya yang lebih berharga selain ‘DIA’.

Ketika tsunami dan gempa bumi atau persoalan besar terjadi, dalam sekejap semua yang dikumpulkan selama bertahun-tahun ’habis/hancur’. Kenyataan ini tidak mudah, tetapi kita diingatkan tidak ada yang kekal di dunia ini. Tidak ada yang bisa diandalkan. Pengkhotbah dalam beberapa bagian kitabnya menyatakan ’semua sia-sia’. Bukan tidak berarti, tetapi semua hanya sementara. Betapa malangnya diri saya kalau bergantung pada hal-hal duniawi.

Saudara, bukankah ini kasih Tuhan? Ia mengingatkan ada tempat bersandar yang sesungguhnya. Ada Tuhan yang bisa diandalkan kapan saja.

Tuhan menyatakan, kalau kamu tidak bertobat,… Tujuan Tuhan jelas, pertobatan dari setiap kita. Tuhan tunggu setiap kita datang lagi, dekat pada Tuhan. Ini bukan menunjukkan kehadiran saya yang sering di gereja, atau pelayanan saya yang menyaingi pendeta, atau persembahan saya yang menjadi penunjang utama aktivitas gereja; tetapi ’pertobatan hati’. Kalau hanya sekadar persembahan atau aktivitas di gereja, saya dan saudara jauh ketinggalan dibanding orang Yahudi atau saudara-saudara yang beragama lain. Dalam kitab Amos 5:21-27 Tuhan jelas menyatakan, pertobatan yang Tuhan rindukan adalah dari dalam hati yang mengalir keluar, tindakan-tindakan yang memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama.

Bagian terakhir perenungan ini, saya melihat dibalik bencana ada rencana Tuhan yang indah. Baca Roma 8:28. Memang kita tidak dapat memahami semua saat ini. Tetapi, saya melihat setidaknya ada beberapa kemajuan positif yang terjadi sesudah gempa di pulau Nias. Pertama, terlihat beberapa orang/ kelompok orang Nias yang peduli tentang Nias. Mereka mengupayakan banyak hal untuk pemulihan Nias. Kedua, kemajuan dalam pembangunan. Saya masih ingat kondisi jalan, bangunan, kendaraan, dll sebelum gempa. Tapi sekarang; saudara yang tinggal di Nias dapat merasakannya. Ketiga, yayasan dan badan-badan dari dalam dan luar negeri yang memperhatikan Nias. Saya tahu ’posisi’ pulau Nias yang tidak mudah sebelumnya. Siapa yang peduli pembangunan di pulau Nias sebelumnya? Berapa besar bagian/jatah pembangunan yang diterima pulau Nias dari daerah lainnya? Tapi, sekarang banyak yang memperhatikan. Terlepas dari kebenaran proses kerja, faktanya Nias sedang/ masih menjadi perhatian. Tentu perkembangan ini juga ada dalam bidang politik. Saya senang sekali membaca dan mendengar kabupaten – kabupaten di Nias. Mungkin saya bermimpi, suatu kali kita menjadi propinsi.

Tapi apa gunanya semua kemajuan, kalau kita tetap jauh bahkan semakin jauh dari Tuhan?

Tuhan mengasihi, sayang pada setiap kita. Tuhan tidak ingin seorang pun menjauh dariNya. Pukulan atau hal yang berat kadang Tuhan pakai supaya saya datang berbalik, berdiam lagi di dekatNya. Tuhan menantikan setiap kita. Amin.

Salam dalam kasih Kristus,

* Penulis sedang melanjutkan studi di Tübingen-Germany.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita