Irrasionalitas dan Kemampuan Berpikir

Friday, March 23, 2007
By nias

*Tanggapan Atas Tulisan E. Halawa “Irrasioanlitas dalam Keseharian Kita”

Oleh: Ollyanus Yarman Zebua

Suatu ketika dalam pelajaran matematika, saya menemukan yang disebut dengan bilangan irrasional. Biasanya bilangan ini ditandai dengan tanda minus di depan sebuah angka [sebuah hasil akhir dari perhitungan]. Lalu apakah ini merujuk pada ketidakmampuan berpikir, memahami atau mengajukan pendapat yang logis?

Contoh yang diangkat dalam ”Irrasionalitas dalam Keseharian kita” tatkala keadaan melimpah dari hasil nilam dengan membeli banyak barang dan harga yang dinaikkan secara irasional. Lalu apakah ini berarti ketidakmampuan atau ketidakmauan berpikir, memahami atau mengajukan pendapat yang logis?

Jika seorang salesman datang kepada anda dengan segala persuasi [gaya berjualan] yang dilontarkan kepada anda dan akhirnya anda membeli barang itu. Lalu apakah ini merujuk pada ketidakmampuan berpikir, memahami atau mengajukan pendapat yang logis dari anda?

Dari ketiga hal di atas pertanyaannya adalah ”benarkah ini disebut dengan irrasionalitas ataukah ada sesuatu yang lain?” Lalu ”apakah ini langsung berhubungan dengan daya pikir yang diperlemah?”

Saya pernah mengenal dua istilah libido profendi dan libido dominandi. Kedua istilah ini merupakan banalitas manusia. Keinginan untuk memiliki dan keinginan untuk menguasai adalah hal dasar dalam hidup manusia yang kerap membawanya pada mengingkari diri untuk berpikir terlalu lama. Maka, tanpa persuasi dari siapapun setiap orang memiliki kecenderungan ini.

Jika irrasionalitas diartikan sebagai ketidakmampuan atau ketidakmauan bersikap dan bertindak dengan nalar, – nalar adalah kemampuan memikir, memahami atau mengajukan pertanyaan yang logis – benarkah orang-orang ini tidak melakukan hal itu? Di saat kejadian itu [sales dan konsumen]? Ataukah terjadi daya pikir yang diperlemah? Sekarang mana yang benar? Yang pertama atau yang kedua?

Tatkala sales menawarkan barang kepada konsumen dengan segala cara yang sangat mujarab menurutnya dan konsumen melihat dan mendengar, bukankah di sana terjadi dualitas pola pikir. Orang yang pertama akan mengeluarkan semua kata-kata dan ilmu yang ia punya dengan tujuan orang kedua bisa membeli barangnya. Orang yang pertama ini kerap akan berbicara dengan sopan, kerap bernada memaksa dengan harapan orang kedua bisa terpengaruh pada omongannya. Sedangkan apa yang terjadi di orang yang kedua? Orang kedua membolak-balik, melihat dan mendengar pemaparan orang pertama. Ia berpikir apakah barang ini benar-benar bagus ataukah sales ini yang pintar bicara? Mungkin orang kedua akan berpikir lagi, ”jika saya beli ntar saya letakkan di mana yah?” lalu ”ntar saya pakai untuk apa yah?”. Membeli atau tidak membeli pada akhirnya bukan menjadi soal. Tapi yang terjadi adalah kedua orang ini berpikir dalam sudut pandang masing-masing dan kerap bisa mengerucut. Lalu apakah ini, sekali lagi, hal ini merupakan ketidakmampuan atau ketidakmauan bersikap dan bertindak dengan nalar?

Ataukah ketika kita membeli karena kita melimpah menandai bahwa daya pikir kita diperlemah oleh bujukan sales? Lalu apakah ini irrasional?

Manusia dan keinginan
Ada orang mengatakan manusia adalah homo economicus. Manusia selalu terlahir dengan banyak keinginan dalam dirinya sekaligus banyak kemampuan. Dan ketika manusia masuk dalam histeria [mengutip kata-kata Pak E. Halawa] kebutuhan, ia akan melakukan apapun. Keinginan dan kemampuan merupakan dua hal dalam diri manusia yang selalu berjalan serentak. Dan dalam memuaskan banalitas, orang enggan untuk mempertimbangkan terlalu lama. Mereka cenderung mengambil keputusan sesaat dalam banyak hal. Namun, ini bukanlah memperlemah cara berpikir. Mereka hanya mempersingkat segala hal menjadi simple dan cepat. Sedangkan mereka tetap berpikir, apalagi jika mereka harus membagi waktu buat kepentingan yang lain.

Irrasional sama dengan Ketidakmampuan atau ketidakmauan?
Tatkala kita membuat keputusan yang cepat atas suatu hal entah itu karena cara penjual yang berbicara begitu menarik atau hal lain, di saat itu kita tetap berpikir. Kita tetap masuk dalam wilayah rasio dengan mempertimbangkan suatu hal dalam waktu yang singkat. Lalu dimanakah lahirnya irrasionalitas? Jangan-jangan kita sedikit melenceng ke suatu hal yang lain tapi kita menyebutnya irrasional. Ketika kita membeli sesuatu karena terpengaruh oleh untaian kata sales, rasa-rasanya ini bukanlah irrasional. Irrasional adalah sesuatu yang berada di luar rasio pada saat itu. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh kita pada saat yang sama. Saya ingin memikirkan sesuatu itu pada saat itu, tapi sesuatu itu tidak ternyatakan sehingga tidak terpikirkan pada saat itu. Jadi, irrasionalitas bukanlah semata-mata ketidakmampuan atau ketidakmauan saya untuk memikirkan atau menggunakan nalar saya. Namun, lebih pada karena sesuatu itu tidak ter-pikirkan atau ter-nyatakan pada saya.

Pertanyaan selanjutnya adalah ”kenapa sampai tidak terpikirkan oleh kita?” di awal tulisan ini telah saya sebutkan ada dua hal yang selalu meng-genjot keseharian kita yakni keinginan untuk memiliki dan keinginan untuk menguasai. Saat keinginan sudah sedemikian menguasai diri kita, kita akan dengan cepat membeli apa saja. Apalagi jika hal ini telah didorong oleh hasrat dan gengsi. Jika saya memiliki barang ini saya akan semakin dilirik orang. Bayangkan saja, jika anda pergi ke suatu pesta pernikahan dan anda menggunakan sandal atau kaos oblong, apa yang terjadi? Tapi bedakanlah jika anda menggunakan stelan jas yang bagus dan sepatu yang mengkilap dan bagus?

Menurut saya, irrasionalitas hanyalah kesalah-kaprahan kita untuk menamai sesuatu yang terbalik lurus dengan kemampuan berpikir. Rasio dan sesuatu yang tidak sesuai dengan rasio. Karena kerap kita tidak menemukan nama yang pas untuk itu. Saya yakin, pada saat yang sama tatkala kita mengambil keputusan yang ridiculous sekalipun, kita pastinya berpikir. Mungkin buat orang lain, itu tidak mungkin [lagi-lagi (i)-rasio] tapi buat kita, itu yang kita lakukan. Bagaimana menurut anda?

2 Responses to “Irrasionalitas dan Kemampuan Berpikir”

  1. 1
    Jenk Iskhan Says:

    Manusia zaman kini cenderung kehilangan dimensi fisik, diambil alih dimensi virtual, sehingga ia menjadi dasamuka.

    1. Homo-economicus. Hubungan antarmanusia adalah fungsional, bukan sosial; profesional bukan kekerabatan. Segala sesuatu diukur berdasarkan kalkulasi ekonomi (waktu, ruang, jabatan adalah uang). Nilai manusia jadi exchange value. Prinsip tolong-menolong terdeviasi jadi komersial, hospitality berubah jadi keramahan komersial.

    2. Homo-individualis. Manusia ekonomi jadi manusia yang melihat economic interest di atas kepentingan sosial, ia jadi manusia yang mengutamakan ego (ego-philia) ketimbang kolektivitas (socio-philia).

    3. Homo-dromos (manusia kecepatan). Pertumbuhan sains, teknologi, moneter, produksi, dan konsumsi yang makin cepat meningkatkan tempo kehidupan manusia. Manusia jadi bagian dari kecepatan, terbawa arus kecepatan produksi, konsumsi, industri. Ia kehilangan tempat dan ruang untuk refleksi, perenungan, meditasi, atau spiritualitas.

    4. Manusia Tipe-A. Tekanan kecepatan dan tempo kehidupan yang makin tinggi membuat manusia menggabung beberapa unsur jadi satu (mis: nyetir sambil nelpon, nonton sambil makan). Manusia cenderung bekerja ganda.

    5. Homo-digital. Komunikasi face-to-face berganti jadi elektronis dan digital. Dalam teknologi digital, ruang yang dekat jadi jauh, sementara ruang yang jauh jadi dekat, karena manusia digiring ke bentuk virtual: jauh secara spasial, namun dekat secara virtual.

    6. Homo-solitarius (manusia penyendiri). Model kehidupan individualisme dan ekonomisme menciptakan sebuah model kehidupan yang sepi di tengah keramaian.

    7. Homo-materialis. Manusia menunjukkan eksistensinya lewat kepemilikan objek-objek (status, prestise, kelas).

    8. Homo-semioticus (manusia tanda). Dunia objek menjadi penentu relasi sosial, di dalamnya kepemilikan objek sebagai tanda (sign) mendefinisikan status sosial seseorang.

    9. Homo-imagis (manusia citraan). Eksistensi manusia didominasi citra atas realitas kehidupan sosial.

    10. Homo-informationis. Manusia sangat tergantung pada keberadaan informasi (mis. media cetak, televisi, internet), tanpa informasi ia “mati”.

    Narasi ini sekedar sebuah warming-up buat Pak Ollyanus Yarman Zebua.

  2. 2
    Deivine Signor Says:

    Terimakasih anda memberi narasi yang sangat bagus. Tapi bisakah anda mengatakan sesuatu tentang hal itu. Sesuatu secara sederhana dari sekian banyak rentetan situasi tersebut.

    Again, thank you.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita