Irasionalitas Yang Selalu Mengikuti Gerak Kita

Friday, March 23, 2007
By nias

*Jawaban atas tulisan Ollyanus: “Irrasionalitas dan Kemampuan Berpikir”

Oleh: E. Halawa

Kalau kita melihat sejumlah kamus, maka ada sejumlah pengertian (definisi) irasionalitas*: (1). tanpa kemampuan nalar (without the faculty of reason); (2). tanpa, kekurangan atau tidak bisa menggunakan nalar (deprived of reason). (3). tanpa atau kurangnya kejernihan mental yang normal atau kurangnya pertimbangan matang atau jernih (without or deprived of normal mental clarity or sound judgment)., (4). tak sesudai dengan nalar, tak logis: contoh argumen irasional (not in accordance with reason; utterly illogical: irrational arguments). (lihat: www.http://dictionary.reference.com).

Dalam tanggapan singkat saya terhadap Signor (lihat komentar no. 2 terhadap tulisan “Irasionaliats dan Keseharian Kita”, irasional saya artikan sebagai “ketidakmampuan” atau “ketidakmauan” (atau hal yang terkait dengan “ketidakmampuan” atau “ketidakmaun”) bersikap dan bertindak dengan nalar. Pengertian irasional dalam tanggapan singkat tersebut sejalan dengan pengertian- pengertian di atas.

Saya baru saja membuka sebuah kamus (The Cambridge Dictionary of Philosophy – CDP) yang mengartikan irasionalitas sebagai: “unreasonableness“: yang dapat kita artikan sebagai: ke-tidaksesuai-an dengan penalaran yang sehat, keterlaluan (berlebihan).

Dalam konteks pencapaian tujuan, CDP menjelaskan irasionalitas sebagai berikut:

Irrationality is often explained in instrumenal, or goal-oriented, terms. Your are irrational if you (knowingly) fail to do your best, or at least to do what you appropriately think adequate, to achieve your goals.”

Dari berbagai pengertian di atas terlihat jelas bahwa irasionalitas berkaitan dengan kealpaan penalaran yang sehat atau ketidakmampuan atau ketidakmauan menggunakan nalar dalam: berpikir, bertindak, bersikap, memandang, dst.

Irasionalitas dalam pengertian terakhir ini, terlihat dalam usaha Bung Ollyanus memberi tanggapan terhadap tulisan saya “Irasionalitas Dalam Keseharian Kita“.

Bung Ollyanus berkisah: “Suatu ketika dalam pelajaran matematika, saya menemukan yang disebut dengan bilangan irrasional. Biasanya bilangan ini ditandai dengan tanda minus di depan sebuah angka [sebuah hasil akhir dari perhitungan]. Lalu apakah ini merujuk pada ketidakmampuan berpikir, memahami atau mengajukan pendapat yang logis?

Dalam matematika, bilangan rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan sebagai “rasio” (perbandingan) dua bilangan bulat atau integer. Bilangan irasional adalah bilangan yang tidak dapat dinyatakan sebagai “rasio” (perbandingan) dua bilangan bulat atau integer.

Ini salah satu bentuk irasionalitas yang saya maksud. Ketika Bung Ollyanus saya ajak untuk memperjelas keberatannya terhadap pengertian “irasionalitas” yang saya tuliskan, Bung Ollyanus terkesan “terburu-buru” untuk menjawab segera, tanpa mencoba mencari sumber yang kompeten untuk memperkuat argumennya. Pernyataan dalam kalimat pertama dari paragraf Bung Ollyanus jelaslah keliru (ini hampir pasti bukan kesalahan guru matematikanya).

Jadi kita bisa mengubah sedikit beberapa kata dari The Cambridge Dictionary of Philosophy tadi untuk menunjukkan irasionalitas Bung Ollyanus: “Ollyanus is irrational because he (knowingly) failed to do his best, or at least to do what he appropriately thought adequate, to achieve his goal: to attack Halawa’s explanation of the term “irrationality“. (Ollyanus irasional karena dia gagal berusaha secara maksimal untuk mencapai tujuannya: menyerang penjelasan istilah “irasionalitas” yang digunakan Halawa).

Di mana letak irasionalitas Bung Ollyanus ? Irasionalitasnya terletak pada keinginan untuk segera menggempur, keinginan untuk segera masuk dalam “medan perang”; ingin menyerang “kesalah-kaprahan” pelabelan irasionalitas pada kondisi-kondisi tertentu yang ada dalam tulisan saya (lihat paragraf terakhir tulisan Bung Ollyanus). Bung Ollyanus mengandalkan pengetahuan yang dimilikinya saat itu tanpa mau bertanya sedikit pada diri sendiri: apa ini benar ? Bung Ollyanus tidak mau kritis sedikit pada diri sendiri. “Kelengahan” semacam itu termasuk irasionalitas (menurut pengertian dari The Cambridge Dictionary of Philosophy tadi).

Saya juga tidak menduga bahwa Bung Ollyanus mau mengaitkan “rasio” dalam matematika (seperti yang diuraikan di atas) dengan”rasio” dalam tulisan saya. Hal ini kiranya tak memerlukan penjelasan lebih lanjut.

“Matematisasi” Bahasa
Bung Ollyanus menulis: “Contoh yang diangkat dalam ”Irrasionalitas dalam Keseharian kita” tatkala keadaan melimpah dari hasil nilam dengan membeli banyak barang dan harga yang dinaikkan secara irasional. Lalu apakah ini berarti ketidakmampuan atau ketidakmauan berpikir, memahami atau mengajukan pendapat yang logis?

Terus terang, saya sulit memahami pengertian kalimat pertama dalam paragraf di atas, jadi saya tidak bisa menanggapinya.

Akan halnya kalimat kedua, saya mendapat kesan Bung Ollyanus terjebak ke dalam “matematisasi” bahasa. “Matematisasi” di sini saya artikan sebagai usaha menerapkan aturan-aturan yang berlaku dalam bidang matematik ke dalam bahasa manusia (ingat, matematika juga bahasa, tetapi dengan “tata bahasa” khusus yang sangat ketat. Dalam tanggapan saya terhadap Signor di ruang komentar, saya menulis:
[1] Dalam rangkaian tulisan saya, irasionalitas saya artikan sebagai “ketidakmampuan” atau “ketidakmauan” (atau hal yang terkait dengan “ketidakmampuan” atau “ketidakmaun”) bersikap dan bertindak dengan nalar. [2] Nalar (reason) adalah kemampuan memikir, memahami atau mengajukan pendapat yang logis.

Dengan proses “matematisasi” bahasa yang diterapkan Bung Ollyanus, penjelasan atas kalimat: “Menaikkan harga barang secara berlebihan” sebagai tindakan irasional adalah: “ketidakmampuan atau ketidakmauan berpikir, memahami atau mengajukan pendapat yang logis“. Hal itu terjadi karena Bung Ollyanus mensubstitusikan pengertian “nalar” (lihat definisi “nalar” dalam butir ke dua paragraf di atas) ke dalam kalimat yang digarisbawahi: “ketidakmampuan” atau “ketidakmauan” (atau hal yang terkait dengan “ketidakmampuan” atau “ketidakmaun”) bersikap dan bertindak dengan nalar. Sayangnya, proses susbtitusi ketat seperti dalam matematika (x = y + z; z = q + r maka x = y + q + r) juga tidak sepenuhnya diterapkan oleh Bung Ollyanus. Dan, seandainya Bung Ollyanus menerapkan secara ketat proses substitusi tadi, maka kalimat yang akan terbentuk tidak dapat lagi kita fahami.

Dalam kasus “hasil nilam yang melimpah”, kondisi “melimpah” menyeret yang bersangkutan ke dalam irasionalitas: tak mau berpikir lagi secara logis dan bertanya: “bukankah uang nilam ini pada akhirnya habis juga ?” Kalau saja yang bersangkutan mau atau mampu berpikir secara jernih, maka sikap “memborong segala macam barang” tidak akan dilakukannya. Di Nias waktu itu, ada juga yang bersikap rasional, menggunakan uang hasil penjualan nilam untuk membangun rumah beton.

Dalam artikel berjudul “Kesadaran” diberikan sejumlah situasi di mana kesadaran kita sangat rentan terhadap “serangan” irasionalitas. Dalam artikel itu belum dimasukkan kondisi “melimpah” seperti diuraikan di depan. Daftar yang disebut dalam artikel itu dapat diperpanjang terus. Apa artinya ? Kita memang selalu diintai oleh irasionalitas. Menyadari keberadaan kondisi-kondisi itu sangat menolong kita menekan gempuran irasionalitas.

Bung Ollyanus: “Jika seorang salesman datang kepada anda dengan segala persuasi [gaya berjualan] yang dilontarkan kepada anda dan akhirnya anda membeli barang itu. Lalu apakah ini merujuk pada ketidakmampuan berpikir, memahami atau mengajukan pendapat yang logis dari anda?

Penjelasan saya di depan masih relevan untuk menanggapi pragraf ini. Selanjutnya: bukan hanya salesman yang melakukan persuasi yang gencar, kita juga melihat persuasi dari para pemimpin politik, tokoh masyarakat, tokoh agama dan sebagainya. Nah, di saat-saat inilah seseorang bisa kehilangan keseimbangan kesadarannya, dan tidak lagi berpikir secara logis. Orang yang rasional (artinya kadar rasionalitasnya lebih tinggi daripada kadar irasionalitasnya) bisa juga akhirnya “terpengaruh” oleh persuasi itu: membeli barang, memasuki partai politik tertentu, dst. Perbedaannya adalah: orang yang rasional mengambil keputusan secara sadar dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk faktor persuasi tadi. Orang yang irasional mengambil keputusan juga, tetapi bukan keputusan yang rasional, melainkan keputusan yang “dimasukkan” ke dalam pikiranya oleh si pembujuk.

Dalam kasus munculnya tulisan “Irrasionalitas dan Kemampuan Berpikir”, Ollyanus mendapat “persuasi” dari komentar saya terhadap Signor: “Kritik itu indah”. Secara tak sadar, Bung Ollyanus terjebak ke dalam irasionalitas yang disebutkan di depan karena merasa ada peluang (berupa ajakan) dan tantangan.

Bung Ollyanus melanjutkan: Dari ketiga hal di atas pertanyaannya adalah ”benarkah ini disebut dengan irrasionalitas ataukah ada sesuatu yang lain?” Lalu ”apakah ini langsung berhubungan dengan daya pikir yang diperlemah?

Lihat penjelasan saya di bawah.

Bung Ollyanus melanjutkan: Saya pernah mengenal dua istilah libido profendi dan libido dominandi. Kedua istilah ini merupakan banalitas manusia. Keinginan untuk memiliki dan keinginan untuk menguasai adalah hal dasar dalam hidup manusia yang kerap membawanya pada mengingkari diri untuk berpikir terlalu lama. Maka, tanpa persuasi dari siapapun setiap orang memiliki kecenderungan ini.

Baik libido profendi maupun libido dominandi merupakan banalitas manusia yang bisa memicu irasionalitas. Akan tetapi di situlah bedanya kita dengan makhluk irasional: makhluk irasional tidak menyadari banalitasnya. Sebaliknya, kita sebagai makhluk rasional telah diberi akal untuk (1) mampu menyadari berbagai banalitas kita, dan (2) berusaha agar banalitas itu tidak “merajai” kehidupan kita.

Benar, seperti kata Bung Ollyanus, tanpa persuasi setiap orang memiliki kecenderungan ini (baca: libido profendi dan libido dominandi). Akan tetapi si pembujuk dengan gaya persuasinya memanfaatkan kecenderungan ini untuk mencapai tujuannya: menjual barang, memperluas pengaruh politik, dan sebagainya. Orang yang memiliki kadar irasionalitas yang tinggi mudah tunduk pada persuasi dan provokasi. Libido profendi dan libido dominandi sebagai banalitas barulah berupa “potensi”. Kitalah yang pada akhirnya membuka jalan kepada “potensi” untuk mewujud dalam bentuk tindakan irasional; atau, sebaliknya: kita mengendalikannya sehingga dia tetap tinggal sebagai “potensi”.

Dalam kasus salesman dan calon pembeli HP, bisa saja pembeli HP membuat keputusan yang irasional: keputusan yang sebenarnya “dimasukkan” ke dalam pikirannya oleh salesman tadi melalui kegencarannya melakukan persuasi. Tidak mudah memastikan apakah pembeli HP tadi mengambil keputusan secara irasional saat membeli HP itu. Kita baru bisa melihatnya beberapa saat kemudian: ketika dalam kenyataannya, segala macam “bualan” salesman tadi tidak menjadi kenyataan: si pembeli HP tetap saja “kuper” tidak banyak teman, bahkan mulai mengeluh karena kini setiap bulan dia harus menyisihkan sejumlah rupiah untuk mengisi ulang pulsa HP-nya. Singkat kata, dia tidak mengeruk banyak manfaat dari HP yang baru dibelinya. Hal ini wajar saja, keinginannya untuk membeli baru muncul ketika datang “persuasi” dari salesman. (Catatan: kalau si pembeli tadi mengeluh pada akhirnya, maka hal ini merupakan pertanda awal bangkitnya kesadarannya untuk keluar dari irasionalitas).

Dalam kasus yang sama, pembeli HP yang (mengambil keputusan yang) rasional, justru menyaring berbagai informasi dari salesman tadi untuk memperkuat alasannya untuk membeli HP. Bisa jadi, dia bahkan tidak membeli HP dari salesman tadi, tapi di tempat atau toko lain, karena berdasarkan informasi yang disaringnya tadi dia kini lebih tahu bahwa di toko tertentu ada HP yang lebih murah dan berbagai jenis HP ditawarkan di sana. Orang yang memiliki kadar rasionalitas yang tinggi bisa membaca dengan jeli (read between the lines) mana “bualan” sang salesman dan mana informasi yang berharga.

Singkat kata: orang yang irasional terpesona dengan “bualan” salesman tentang “enaknya” memiliki HP (makin banyak teman, dsb); sebaliknya, orang yang rasional menyaring semua informasi yang diterimanya dan memanfaatkan informasi itu untuk mengantarnya kepada keputusan rasional.

Bung Ollyanus melanjutkan: Jika irrasionalitas diartikan sebagai ketidakmampuan atau ketidakmauan bersikap dan bertindak dengan nalar, – nalar adalah kemampuan memikir, memahami atau mengajukan pertanyaan yang logis – benarkah orang-orang ini tidak melakukan hal itu? Di saat kejadian itu [sales dan konsumen]? Ataukah terjadi daya pikir yang diperlemah? Sekarang mana yang benar? Yang pertama atau yang kedua?

Kita bisa melihat kembali pada kasus Bung Ollyanus sendiri. Apakah daya pikir Bung Ollyaus “diperlemah” ketika menuliskan kalimat pertama tulisannya (yang ternyata keliru) sebagai akibat ajakan (baca persuasi) saya pada Signor agar Signor menguraikan keberatannya ? Saya cenderung berpendapat: daya pikir Bung Ollyanus tetap pada tingkat yang normal (tidak diperlemah) pada saat itu; yang terjadi adalah “ketidakmauan” (bukan ketidakmampuan) Bung Ollyanus untuk mencari sumber yang lebih kompeten untuk memperkuat argumenya. Biasanya tantangan yang datang membuat kita lebih siap; jadi, alih-alih diperlemah, daya pikir Bung Ollyanus seharusnya justru berada pada tingkat yang “lebih siap” ketika tantangan itu datang.

Dalam kondisi tertentu, bisa juga daya pikir (yang mewujud dalam sikap kritis) itu di perlemah; misalnya, ketika seseorang baru saja memiliki uang banyak, atau mendapat peluang tertentu … Butir pertama paragraf pertama tulisan saya sebenarnya sudah menyinggung hal ini.

Bung Ollyanus: “Tatkala sales menawarkan barang kepada konsumen dengan segala cara yang sangat mujarab menurutnya dan konsumen melihat dan mendengar, bukankah di sana terjadi dualitas pola pikir. Orang yang pertama akan mengeluarkan semua kata-kata dan ilmu yang ia punya dengan tujuan orang kedua bisa membeli barangnya. Orang yang pertama ini kerap akan berbicara dengan sopan, kerap bernada memaksa dengan harapan orang kedua bisa terpengaruh pada omongannya.”

Daya bujuk dari seorang salesman, sebuah iklan di layar televisi, seorang politisi ulung sewaktu sedang berkampanye, bahkan juga “pengkhotbah religius” yang bisa membuat pendengarnya meneteskan air mata atau tertawa terpingkal-pingkal, tiada lain berusaha untuk “mengganggu keseimbangan kesadaran” sasarannya. Hal yang sama kita saksikan pada praktek para praktisi paranormal (yang dalam rangkaian tulisan saya akan banyak saya singgung). Dan kalau “keseimbagan kesadaran” itu telah terganggu, irasionalitas mudah mengepung sang sasaran. (Perlu saya tekankan: pernyataan ini sama sekali tidak berkonotasi negatif (saya tidak menuduh atau menggeneralisir bahwa segala bentuk persuasi macam itu adalah bentuk kebohongan, bukan ini yang saya maksud) – pernyataan ini bersifat netral tetapi kritis, untuk mengingatkan bahwa dalam usaha kita menanamkan pengaruh dan merebut pasar (modal, politik, sosial, dst) kita juga selalu dibayang-bayangi oleh irasionalitas.

Bung Ollyanus: Sedangkan apa yang terjadi di orang yang kedua? Orang kedua membolak-balik, melihat dan mendengar pemaparan orang pertama. Ia berpikir apakah barang ini benar-benar bagus ataukah sales ini yang pintar bicara? Mungkin orang kedua akan berpikir lagi, ”jika saya beli ntar saya letakkan di mana yah?” lalu ”ntar saya pakai untuk apa yah?”. Membeli atau tidak membeli pada akhirnya bukan menjadi soal. Tapi yang terjadi adalah kedua orang ini berpikir dalam sudut pandang masing-masing dan kerap bisa mengerucut. Lalu apakah ini, sekali lagi, hal ini merupakan ketidakmampuan atau ketidakmauan bersikap dan bertindak dengan nalar? Ataukah ketika kita membeli karena kita melimpah menandai bahwa daya pikir kita diperlemah oleh bujukan sales? Lalu apakah ini irrasional?”

Kalau calon pembeli berpikir “apakah barang ini benar-benar bagus ataukah sales ini yang pintar bicara”, maka dia termasuk dalam kelompok dengan kadar rasionalitas yang tinggi. Akan tetapi kalau dia bertanya: “jika saya beli ntar saya letakkan di mana yah?”, persoalan menjadi lain. Pertanyaan semacam itu tidak otomatis masuk dalam kategori pertimbangan rasional. Mengapa ? Karena, dengan pertanyaan itu sebenarnya yang bersangkutan barangkali secara tak sadar telah memutuskan untuk membeli, persoalan tinggal: “di mana saya letakkan nanti ?” Dan kalau persoalan hanyalah sekedar “di mana diletakkan nanti?” dan tidak ada faktor-faktor lain yang lebih lebih mendasar daripada itu, maka yang bersangkutan telah terperangkap ke dalam irasionalitas.

Bung Ollyanus melanjutkan: Ada orang mengatakan manusia adalah homo economicus. Manusia selalu terlahir dengan banyak keinginan dalam dirinya sekaligus banyak kemampuan. Dan ketika manusia masuk dalam histeria [mengutip kata-kata Pak E. Halawa] kebutuhan, ia akan melakukan apapun. Keinginan dan kemampuan merupakan dua hal dalam diri manusia yang selalu berjalan serentak. Dan dalam memuaskan banalitas, orang enggan untuk mempertimbangkan terlalu lama. Mereka cenderung mengambil keputusan sesaat dalam banyak hal. Namun, ini bukanlah memperlemah cara berpikir. Mereka hanya mempersingkat segala hal menjadi simple dan cepat. Sedangkan mereka tetap berpikir, apalagi jika mereka harus membagi waktu buat kepentingan yang lain.

Keinginan dan kemampuan barulah merupakan “potensi” yang ada dalam diri manusia. Kegagalan mengelola potensi-potensi inilah yang bisa melahirkan irasionalitas.

Sejauh saya mampu menangkap, di depan (dalam paragraf ke 6 tulisannya), Bung Ollyanus cenderung mengasosiasikan gejala-gejala atau kondisi-kondisi yang saya sebut “irasional” sebagai “daya pikir yang diperlemah”. Akan tetapi dalam paragraf ini, Bung Ollyanus menulis: “Namun, ini bukanlah memperlemah cara berpikir.” Saya menjadi sulit menangapi, karena ke-tak-konsisten-an Bung Ollyanus sendiri.

Bung Ollyanus: “Tatkala kita membuat keputusan yang cepat atas suatu hal entah itu karena cara penjual yang berbicara begitu menarik atau hal lain, di saat itu kita tetap berpikir.”

Saya tidak pernah menulis atau berpendapat bahwa kita akan berhenti berpikir ketika “kita membuat keputusan yang cepat ..” Yang saya ingatkan, dalam kondisi tertentu kita tidak berpikir dan bertindak secara rasional, artinya melalui pertimbangan pemikiran yang sehat. Bung Ollyanus cenderung menyimpulkan bahwa dengan berpikir segalanya menjadi beres, padahal tidak demikian halnya. Hanya dengan menggunakan secara optimal atau mendekati optimal kemampuan kita bernalar, kita boleh berharap bahwa keputusan-keputusan kita bisa menghasilkan hal yang baik.

Bung Ollyanus: “Kita tetap masuk dalam wilayah rasio dengan mempertimbangkan suatu hal dalam waktu yang singkat. Lalu dimanakah lahirnya irrasionalitas? Jangan-jangan kita sedikit melenceng ke suatu hal yang lain tapi kita menyebutnya irrasional. Ketika kita membeli sesuatu karena terpengaruh oleh untaian kata sales, rasa-rasanya ini bukanlah irrasional. Irrasional adalah sesuatu yang berada di luar rasio pada saat itu. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh kita pada saat yang sama. Saya ingin memikirkan sesuatu itu pada saat itu, tapi sesuatu itu tidak ternyatakan sehingga tidak terpikirkan pada saat itu. Jadi, irrasionalitas bukanlah semata-mata ketidakmampuan atau ketidakmauan saya untuk memikirkan atau menggunakan nalar saya. Namun, lebih pada karena sesuatu itu tidak ter-pikirkan atau ter-nyatakan pada saya.

Dari berbagai pengertian irasionalitas yang saya himpun dan sajikan pada awal tulisan ini, saya belum menemukan pengertian “irasionalitas” yang mendekati pengertian yang diberikan Bung Ollyanus: “Irrasional adalah sesuatu yang berada di luar rasio pada saat itu. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh kita pada saat yang sama.” Yang terjadi ketika kita membuat keputusan irasional adalah kita membiarkan sejumlah faktor “keluar” dari pertimbangan kita dalam memutuskan. Faktor eksternal (persuasi, provokasi, dsb) dan faktor internal (tidak terlatihnya kesadaran kita) bisa menggiring kita kepada keputusan irasional.

Perlu diingat juga bahwa “irasional” adalah kata sifat, bukan “sesuatu” melainkan “sifat” dari sesuatu itu.

Izinkan saya bertanya pada Bung Ollyanus: “Bagaimana mungkin Anda memikirkan ‘sesuatu’ tetapi pada saat yang sama ‘sesuatu’ itu tak terpikirkan ? Bukankah dengan memberi label “sesuatu” pada yang ingin Anda pikirkan, Anda telah menempatkannya dalam ruang kesadaran Anda ?

Bung Ollyanus: Pertanyaan selanjutnya adalah ”kenapa sampai tidak terpikirkan oleh kita?” di awal tulisan ini telah saya sebutkan ada dua hal yang selalu meng-genjot keseharian kita yakni keinginan untuk memiliki dan keinginan untuk menguasai. Saat keinginan sudah sedemikian menguasai diri kita, kita akan dengan cepat membeli apa saja. Apalagi jika hal ini telah didorong oleh hasrat dan gengsi. Jika saya memiliki barang ini saya akan semakin dilirik orang. Bayangkan saja, jika anda pergi ke suatu pesta pernikahan dan anda menggunakan sandal atau kaos oblong, apa yang terjadi? Tapi bedakanlah jika anda menggunakan stelan jas yang bagus dan sepatu yang mengkilap dan bagus?

Saya tidak melihat irasionalitas dalam kasus seseorang yang menggunakan stelan jas pada sebuah sebuah pesta. Mengapa harus dipermasalahkan ? Mengapa harus dikait-kaitkan dengan “hasrat dan gengsi” ? Bukankah pesta merupakan situasi di mana kita umumnya diharapkan menggunakan pakaian dan perhiasan pesta ? Irasionalitas bisa juga muncul, misalnya kalau hanya “demi gengsi” seseorang menghabiskan uang belanja rumah tangganya untuk membeli pakaian dan perhiasan baru buat dirinya pribadi, anak dan istri agar pada pesta nanti keluarganya kelihatan “lain sendiri” (padahal belum tentu “dilirik” atau menjadi perhatian orang :)).

Bung Ollyanus mengakhiri: Menurut saya, irrasionalitas hanyalah kesalah-kaprahan kita untuk menamai sesuatu yang terbalik lurus dengan kemampuan berpikir. Rasio dan sesuatu yang tidak sesuai dengan rasio. Karena kerap kita tidak menemukan nama yang pas untuk itu. Saya yakin, pada saat yang sama tatkala kita mengambil keputusan yang ridiculous sekalipun, kita pastinya berpikir. Mungkin buat orang lain, itu tidak mungkin [lagi-lagi (i)-rasio] tapi buat kita, itu yang kita lakukan. Bagaimana menurut anda?

Kalau kalimat pertama dalam paragraf di atas merupakan pengertian irrasionalitas dari Bung Ollyanus, maka kita semakin jauh dari pengertian “irasionalitas”. Akan tetapi kalau kalimat Bung Ollyanus ini dimaksudkan sebagai kritiknya terhadap pengertian irasionalitas yang saya pakai dalam berbagai tulisan saya, maka kalimat tersebut barangkali jauh lebih mudah difahami sebagai kritik bila ditulis sebagai berikut: “Menurut saya, pengertian irasionalitas dalam tulisan E. Halawa hanyalah kesalah-kaprahan E. Halawa untuk menamai sesuatu yang “terbalik lurus” dengan kemampuan berpikir.” (Saya sengaja menempatkan “terbalik lurus” di antara tanda kutip karena saya tidak memahami artinya.)

Penutup
Rangkaian tulisan saya tentang (i)rasionalitas diawali dengan tulisan pertama berjudul: Bergumul Dengan Irasionalitas. Tulisan pertama ini sengaja diberi judul demikian karena saya bermaksud menekankan bahwa memang pada kenyataannya keseharian kita selalu diwarnai dengan pergumulan dengan irasionalitas. Judul itu juga menyiratkan bahwa irasionalitas tidaklah mungkin kita singkirkan secara total dari kehidupan kita; yang dapat kita lakukan adalah meminimalkan pengaruh irasionalitas dalam kehidupan. Kita memiliki kemampuan untuk itu: kita bisa memanfaatkan “potensi” kesadaran kita untuk menekan irasionalitas.

Catatan akhir:

  • Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “irasional” ditulis dengan satu “r”, hal ini tentulah ada kaitannya dengan aturan pengindonesiaan kata-kata asing.
  • Silahkan dibaca juga tulisan Mudji Sutrisno berjudul: Mati Lemasnya Kesadaran Kritis! (Suara Pembaruan: 26 Oktober 2006) dan Tulisan Andi Suruji: “Mad Bull …” (Kompas, 29 Desember 2003) – lihat dalam topik: Rasionalitas.

Tags:

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita