Cinta kasih bukan saja sebuah perintah dari Tuhan kepada umat Kristen melainkan juga merupakan sebuah hukum dasar. Dari sini umat Kristen mempunyai satu hukum kehidupan yakni hidup dalam cinta kasih seperti Kristus. Cinta kasih menjadi dasar dan ukuran dari segala perbuatan untuk menghadirkan kebaikan Allah dan cinta-Nya kepada sesama.

Yesus Kristus sendiri telah menyatakan cinta kasih Allah kepada umat manusia dengan kata-kata dan perbuatan-Nya yang nyata dan memberi daya hidup bagi yang menerimanya. Sejalan dengan itu Ia pun memerintahkan supaya umat kristiani hidup saling mengasihi, melakukan perbuatan-perbuatan kasih, bahkan mendorong supaya tidak takut berkorban demi cinta kasih seperti Ia sendiri telah perbuat. Cinta kasih bersumber dari Allah dan dikonritkan oleh Putera-Nya dalam kebersamaannya dengan orang-orang miskin. Setiap orang yang melanjutkan kasih itu dalam kehidupannya, ia lahir dari Allah dan mengenal Allah.

Atas dasar ini, Tuhan mengajak kita untuk senantiasa membangun suatu relasi kasih dengan sesama sebagaimana kita dapat membangun relasi kasih dengan Allah. Dari sebab itu pula tidak mesti ditanya lagi “mengapa kita mesti hidup saling mengasihi?” karena orang-orang Kristen bukan saja mau menyembah Allah sebagai Tuhannya tetapi juga mau menjadikan-Nya pusat hidup dan perjuangannya; tidak saja mau mengagumi perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib, melainkan pula mau meneladani karya-karya penyelamatan-Nya sebagaimana telah dinyatakan oleh putera-Nya Yesus Kristus. Orang Kristen mau hidup sebagai umat Allah yang memperhatikan bimbingan Tuhan ini “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef 4:32).

Dalam situasi dan kondisi hidup dewasa ini memang masih relefan bila ditandaskan lagi bahwa umat Kristen akan berhasil mengasihi secara benar kalau dia mampu menghindari dirinya dari “dendam kesumat, kemarahan, dan pertikaian” (Ef 4:30-31) dan dari “cinta diri sendiri” sebab butirßbutir ini dapat menjadi penghalang dan perusak kesatuan antara manusia dengan manusia, bahkan antara manusia dengan Allah. Kasih yang benar tidak mengenal batas waktu, tempat dan orang. Kasih yang benar adalah merupakan wujud keikhlasan untuk mentaati, setia meneladani Kristus yang telah memberikan teladan cinta kasih dengan “mendokan mereka yang telah menyakitinya”, “menyembuhkan orang-orang sakit”, “menghibur orang-orang yang berduka”, “memberi makan kepada orang-orang yang lapar”.

Cinta kasih kristiani tidak tertutup dalam dirinya sendiri, melainkan terbuka untuk semua tanpa membeda-bedakan suku, daerah, warna kulit dan status sosial. Kasih kristiani mau berjumpa dengan siapa saja, bahkan dengan Tuhan sendiri. Cinta kasihlah yang memberikan kita kegembiraan dalam berbagai kegiatan pewartaan ataupun pelayanan. Cinta kasih juga memberi kita keberanian untuk mengampuni, menerima orang lain apa adanya mereka. Cinta kasih memelihara semuanya.

Mungkin Anda saat ini sedang menghadapi sebuah tantangan besar bagaimana mewujudkan cinta kasih di dalam keluarga, di lingkungan kerja atau dalam kehidupan sehari-hari? Itulah sebuah kenyataan dalam hidup bersama yang sering kali hanya bisa di atasi dengan keberanian mewujudkan “hidup dalam cinta kasih seperti Kristus sendiri” dan berdoa. Dengan sikap dan cara yang demikian maka kita dapat berharap bahwa akhirnya situasi dan kondisi hidup yang dihadapi akan menjadi baru. Semoga engkau dan aku, dan kita semua menjadi penyaksi hidup dalam cinta kasih.

P. Metodius Sarumaha, Ofm Cap.

Facebook Comments