Medan (SIB)

Kalangan anggota DPRD Sumut Dapem (daerah pemilihan) Nias dan Nisel (Nias Selatan) mendesak Kepala Perwakilan BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) Nias – NAD untuk bersikap tegas dengan ‘memblacklist’ para kontraktor yang nakal di Nias dan Nisel, karena kinerjanya sangat amburadul bahkan ada yang menelantarkan pekerjaannya.

Desakan itu diungkapkan anggota DPRD Sumut Dapem Nias dan Nisel Aliozisokhi Fau SPd kepada wartawan, Selasa (13/3) di DPRD Sumut menanggapi banyaknya proyek BRR di Nias dan Nisel amburadul dan diterlantarkan para kontraktor yang mengerjakannya.

“Kita menemukan sejumlah proyek BRR di Nias dan Nisel yang dikerjakan para kontraktor ‘nakal’ sangat tidak memuaskan, bahkan ada yang menelantarkan proyeknya (mengabaikan pekerjaannya). Begitu juga kualitas bangunan, sangat diragukan karena bahan-bahannya diduga tidak sesuai dengan spesifikasi,” ujar Alio yang mengaku baru pulang dari Nias dan Nisel.

Bahkan rumah-rumah yang dibangun masih ada terlihat sangat tidak layak huni dan ada juga terancam runtuh akibat bahan-bahannya terbuat dari kayu lapuk dan papan sembarang, sehingga masyarakat korban gempa tsunami tahun lalu enggan menempatinya dan ini merupakan hasil kerja kontraktor nakal.

Kontraktor ‘nakal’ seperti itu, kata Alio, harus diberikan pelajaran ‘pahit’ dengan ‘memblaklist’ perusahaannya sekaligus tidak melakukan pembayaran borongannya, karena dianggap telah melakukan pelanggaran, sebab mengerjakan proyek tidak serius dan tidak sesuai bestek.

Tapi sebaliknya, ujar anggota FP Demokrat DPRD Sumut itu, bagi kontraktor yang serius melaksanakan pekerjaannya, pihak BRR seharusnya memberikan insentif serta memprioritaskan dalam pelaksanaan tender proyek berikutnya, agar hasil kerjanya dapat maksimal.

Dalam kesempatan itu, Alio juga mengajak seluruh putra/putri Nias dan Nisel untuk tetap ‘mengkawal’ atau mengawasi para kontraktor yang melakukan pekerjaan proyek BRR, guna menghindari terjadinya ‘penyelewengan’ agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

‘Kita sangat sepakat dengan gerakan yang dilakukan LSM Gransi yang tetap mengkawal pelaksanaan proyek BRR di Nias, karena dengan cara melibatkan semua pihak, termasuk LSM, masyarakat dan para ahli yang peduli terhadap keberadaan Niaslah yang bisa ikut berperan menjadikan daerah terpencil itu menjadi maju,” tuturnya. (A13/t)

Sumber: www.hariansib.com
Tanggal: Mar 14, 2007 at 08:12 AM

Facebook Comments