Kalau seorang salesman menawarkan berbagai macam barang yang menarik kepada Anda, maka keputusan Anda untuk membeli atau tidak membeli barang-barang itu akan sangat tergantung dari berbagai faktor, antara lain:

  1. Kondisi keuangan Anda. Apabila Anda memliki uang yang banyak (bahkan berlebih) maka Anda akan cenderung “membeli”, ketimbang kalau uang Anda sangat terbatas. Kondisi “melimpah” cenderung menekan atau memperlemah sikap kritis Anda dalam mengambil keputusan. Anda akan cenderung ingin memiliki kalau belum memiliki, dan Anda akan cenderung ingin memiliki lebih banyaklagi kalau Anda telah memiliki. Biasanya baru belakangan Anda mulai menyadari: “Untuk apa ini bubeli ? Kok bisa-bisanya aku membeli barang ini ?
  2. Kegencaran “promosi / persuasi”. Keputusan Anda juga akan sangat dipengaruhi oleh kegencaran promosi barang-barang itu, baik melalui iklan atau melalui promosi langsung dari orang yang mendatangi Anda di rumah. Faktor ini biasanya sangat gencar memojokkan daya kritis, kerjernihan berpikir dan memperlemah kesadaran Anda. Dia akan menggiring Anda kepada situasi di mana dia pada akhirnya yang mengambil keputusan buat Anda, dan bukan Anda sendiri. Akan tetapi melalui daya bujuk yang dahsyat, pada saat rasionalitas Anda telah begitu diperlemah, seakan-akan keputusn itu Anda buat sendiri. (Jangan lupa juga, tidak jarang “promosi” itu dipergencar secara irasional dengan “penglaris” yang akan dibahas secara terpisah dalam artikel lain).
  3. Tingkat kesiagaan kesadaran. Pada akhirnya memang Andalah yang memutuskan: membeli atau tidak membeli. Tetapi keputusan itu seharusnya dengar jenrih diambil oleh Anda sendiri, ketika tingkat keasiagaan kesadaran Anda masih cukup tinggi.

Barangkali contoh sederhana ini bisa Anda simak. Sebenarnya Anda tidak terlalu membutuhhkan sebuah telefon genggam (handphone). Anda bukan seorang yang membutuhkan komunikasi yang padat, instan dan di mana saja. Akan tetapi daya bujuk sang penjual HP bisa menciptakan kebutuhan-kebutuhan maya atau khayalan atau artifisial melalui “persuasi” berikut: bahwa dengan memiliki HP Anda akan membangun jaringan yang lebih luas dengan rekan sekerja atau dengan orang lain yang bisa jadi membuka peluang-peluang baru. Apabila Anda terbujuk dengan “persuasi” itu maka mungkin Anda akan membeli HP itu dengan penuh gairah. “Khayalan” itu merasuk pikiran Anda, memperlemah daya kritis Anda, sampai pada akhirnya Anda memutuskan: “kubeli !”, sebuah keputusan yang diambil di bawah lemahnya rasionalitas. Para penjaja barang di pinggir jalan sering memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual barang-barangnya, karena rasionalitas si pembeli berada dalam tingkat minimum. (Ini bisa dicek: ketika sampai di rumah, si pembeli baru sadar bahwa barang itu tidak berarti apa-apa baginya. Akan tetapi mekanisme pembelaan / pembenaran diri muncul secara tak sadar: “Sudahlah, kasihan dia, dia butuh uang.”).

Beberapa tahun lalu masyarakat Nias di pedesaan pernah merasakan bagaiamana rasanya memiliki uang yang “melimpah”. Dari rejeki “nomplok” nilam banyak orang Nias yang “kaya mendadak”. Rejeki nilam ini melahirkan hingar bingar dan kegoncangan keadaan dan cara hidup. Orang-orang tidak lagi “menghargai” uang atau lebih tepat: tidak lagi bertindak rasional. Ada yang hanya membeli sebungkus rokok dan meminum segelas susu di harimbale lalu melemparkan uang lembaran Rp 50 ribuan bergambar Suharto kepada pemilik warung tanpa mau mengambil “kembalian”. Ada yang menghancurkan cabe yang sudah tinggal dipanen di kebunnya untuk diganti dengan tunas-tunas baru nilam, karena: “Berapalah aku dapat dari sekian kilo cabe ?”. Ada yang membeli kulkas untuk kemudian dijadikan lemari pakaian. Ada yang membeli sepeda motor di pagi hari untuk kemudian mengantarkannya ke alam maut di sore hari karena kecelakaan yang muncul dari irasionalitas: mengendarai sepeda motor tanpa pernah belajar atau membawa sepeda motor sebelumnya.

Di daerah-daerah industri baru, di mana kegiatan ekonomi tiba-tiba meningkat tajam, kenaikan harga barang-barang seakan tak terelakkan. Masyarakat setempat tiba-tiba memiliki daya beli yang tinggi sehingga permintaan akan barang-barang meningkat. Lalu penjelasan umum atas gejala tersebut adalah harga-harga naik karena sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, artinya, karena permintaan akan barang-barang meningkat, sisi penyediaan terganggu, terjadi kelangkaan barang. Padahal barangkali tidak “sesederhana” itu pernjelasannya.

Kalau kita kembali ke kasus “rejeki nilam” di atas tadi, kita akan melihat bahwa bukan kelangkaan barang yang terjadi. Televisi, radio dan barang-barang lain yang “digempur” saat itu tersedia cukup di gudang para penjual. Yang terjadi adalah: para pedagang memanfaatkan “histeria” orang-orang desa untuk memiliki barang-barang itu dengan menaikkan harga secara irasional. Jadi, kedua belah pihak akhirnya terperosok ke dalam kepungan irasionalitas. Kita bisa menganggap tindakan para penjual untuk menaikkan harga barang secara tak wajar sebagai sesuatu tindakan irasional juga. Tindakan irasional ini juga terkoreksi sendiri di kemudian hari: lemahnya daya beli masyarakat desa karena hancurnya uang dalam waktu sangat singkat mengakibatkan permintaan akan barang – barang menurun drastis: keuntungan para penjual jatuh kembali.

E. Halawa, 18 Mei 2004

Facebook Comments