“Orang Nias”, Tahun 1150 Masehi Masih Hidup di Dalam Gua

Monday, March 12, 2007
By nias

Catatan Reaksi: Artikel berikut muncul di Harian SIB, Minggu 14 Mai 2006. Isinya, yang berkaitan dengan perbincangan tentang asal-usul masyarakat Nias, kiranya masih relevan untuk diikuti.

Oleh: K Wiradnyana (Balai Arkeologi Medan)

PENDAHULUAN
Tiga faktor utama dalam perkembangan sejarah adalah faktor alam, manusia dan kebudayaan beserta bentuknya. Kelangsungan hidup manusia secara langsung dipengaruhi oleh lingkungan alam dan fisik tempat tinggal. Usaha manusia dalam memanfaatkan lingkungan hidup dilakukan dengan cara mengolah secara berkelanjutan untuk memenuhi kehidupannya baik kehidupan jasmani seperti pangan dan papan maupun rohani seperti religi, dari tingkat sederhana sampai kepada tingkatan yang lebih kompleks.

Manusia, sebagai bagian dari sistem kehidupan turut menciptakan corak dan bentuk pada lingkungannya. Hal tersebut dikarenakan manusia dibekali oleh akal fikiran yang memungkinkan berkembangnya suatu teknologi. Teknologi merupakan salah satu unsur yang dapat menentukan tingkat kebudayaan manusia apabila mencermati perkembangan kehidupan manusia melalui tinggalan arkeologi, terlihat bahwa manusia melalui kebudayaannya akan berusaha merespon lingkungan alam dimana ia merupakan salah satu unsurnya.

Perkembangan budaya pada kala Plestosen berjalan lambat. Hal ini mencerminkan kesulitan manusia pada masa ini dalam menghadapi tantangan alam. Pada kala Holosen lingkungan alam mengalami perubahan yang drastis sehingga lingkungan semakin stabil dan alternatif pemenuhan kebudayaan semakin banyak. Dengan gejala tersebut maka kebudayaan pada kala ini berjalan lebih cepat dibandingkan dengan masa sebelumnya. Kebudayaan pada kala Holosen di Indonesia ditandai dengan munculnya kelompok budaya baru melalui inovasi di bidang teknologi maupun sosial ekonomi. Contoh kebudayaan tersebut meliputi budaya Hoabinian, kelompok industri serpih bilah, kelompok industri tulang Sampungian, dan kelompok budaya lukisan gua.

Keterkaitan manusia dengan lingkungan alam akan terlihat dari pemanfaatan bentang alam dan sumberdaya batuan, selain pemanfaatan binatang dan tumbuhan. Pemilihan tempat hunian secara tidak langsung dipengaruhi oleh beberapa pertimbangan, diantaranya ketersediaannya sumber daya alam, keamanan, akses yang mudah pada lokasi sumber daya, efektifitas dan efisiensi energi operasional dalam pengelolaan sumber daya.

Pada tahap awal, karakter hunian lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan dari pada kecerdasan. Gua sebagai tempat tinggal merupakan satu tahap sebelum kehidupan yang lebih menetap. Kehidupan pada tahap ini masih bersifat sementara (semi-permanen) yang dipengaruhi keberadaan sumber daya di lingkungan sekitar. Pada tahap berikutnya, manusia hidup secara permanen (menetap) di suatu tempat dengan kehidupan dan kebutuhan yang lebih kompleks, termasuk kebutuhan dalam kehidupan religi. Pada masa ini mulai muncul monumen-monumen yang ditujukan sebagai kepentingan religi (megalitik).

PENELITIAN DI GUA TOGI NDRAWA
Gua Togi Ndrawa di Dusun II, Desa Lolowonu Niko’otano, Kecamatan Gunung Sitoli, Kabupaten Nias. Terletak antara 010 16.960’ LU dan 970 35.675’ BT dengan ketinggian 175 dpl dan berjarak sekitar 3 km dari Gunung Sitoli. Situs ini terletak pada lereng perbukitan dengan karakter terjal dan sedang. Memiliki empat mulut gua yang memanjang dari arah Selatan ke Utara. Mulut gua menghadap ke Timur dan Tenggara dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi atap gua yang berbeda-beda.

Penelitian arkeologi di Gua Togi Ndrawa oleh Balai Arkeologi Medan secara bertahap dimulai sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2002. Rangkaian penelitian tersebut menghasilkan data mengenai kehadiran manusia di situs tersebut. Adapun temuan yang dihasilkan berupa alat-alat batu yang berkarakter mesolitik, diantaranya serpih batu, batu pukul dan pipisan. Temuan lain berupa sisa-sisa vertebrata yang terdiri dari ikan (Pisces), ular (Ophodia), buaya (Squamosa), kura-kura (Testudinidae), hewan pemakan daging (Carnivora), Hewan pengerat (Rodentia), kelelawar (Chiroptera), hewan berkuku genap (Artiodactyla) dan Primata cangkang moluska yang terdiri dari kelas Gastropoda dan Pelecypoda. Kemudian penelitian dilanjutkan bekerja sama dengan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta dan Institu de Recherche pour de Developpment, Perancis.

Kehadiran manusia di dalam gua ini tercermin dari temuan-temuan arkeologis yang ditemukan seperti cangkang moluska, sisa-sisa vertebrata (tulang dan gigi), batu yang memiliki indikasi sebagai alat, arang sebagai sisa pembakaran, oker dan temuan lainnya. Selain itu pada lapisan ini ditemukan alat dari tanduk, beberapa batu pukul, dan batu andesit lonjong. Selain dari temuan artefaktual, kegiatan manusia tercermin pada sisipan abu berwarna keputihan yang merupakan abu sisa pembakaran tersebut.

Indikasi kehidupan manusia sampai pada kedalaman kurang lebih 400 cm. Hal ini tercermin dari data artefaktual yang masih ditemukan sampai kedalaman ini. Temuan yang cukup menarik pada salah satu kotak gali yaitu batu andesit lonjong dengan karakter sebagai alat pemukul, batu pukul dan alat (spatula) dari tanduk. Selain itu pada kotak ini ditemukan juga sisa-sisa vertebrata berupa rahang bawah (mandibula) dari macaca.sp dan fragmen rahang Suidae, canin Suidae dan beberapa gigi yang kemungkinan dari famili Suidae pula.

Dari beberapa temuan tulang, terdapat lima artefak, yaitu : dua lancipan berbahan tulang, dua spatula dari tulang panjang dan satu spatula dari tanduk rusa (Cervidae). Determinasi terhadap lancipan tulang didasari atas adanya jejak reduksi dari anggota tulang panjang sehingga menghasilkan satu fragmen memanjang, bidang yang dihaluskan dan usaha peruncingan pada bagian ventral fragmen. Pada spatula tulang dan tanduk pengamatan terfokus pada adanya jejak penghalusan pada bagian ventral dan jejak peretusan pada wilayah tersebut. Beberapa cangkang moluska menunjukkan adanya modifikasi lebih lanjut sebagai peralatan sehari-hari (artefak). Tipelogi artefak cangkang hasil temuan penggalian ini, berdasarkan satuan analisis terdiri dari: serut, serut penusuk, penggosok dan penusuk.

Analisis yang dilakukan, artefak litik dari situs Togi Ndrawa berasal dari bahan batu gamping, andesit dan batuan kuarsa. Secara tipologi artefak litik dari situs Togi Ndrawa terdiri dari chopper, chopping tool, pipisan, serut samping, serut gerigi, serut berpunggung, serut ujung, serut cembung dan gurdi. Hasil analisis dengan menggunakan metode radio carbon atas sampel moluska yang ditemukan di dalam tanah serta sampel abu pembakaran dihasilkan kronologi absolut yaitu berturut-turut dari kedalam 15 cm sampai 400 cm di bawah permukaan tanah menghasilkan : 850±90 BP (Before Present), 1330±80 BP, 1540±90 BP, 3540±100 BP, 5540±110 BP, 7890±120 BP, 8590±140 BP, 9180±150 BP, 9540±210 BP, 11.010±250 BP, 12.170±400 BP.

INTERPRETASI
Dari hasil analisis tersebut diketahui bahwa sudah ada manusia yang tinggal di Nias khususnya di Gua Togi Ndrawa. Hunian dimaksud sudah ada sejak sekitar 12.000 tahun yang lalu dan berlangsung secara terus menerus sampai berkisar tahun 1.150 Masehi. Mereka yang tinggal di gua tersebut memanfaatkan biota marin khususnya yang berada pada kawasan mangrove. Pada sekitar 12.000 tahun yang lalu tersebut di Pesisir Timur Pantai Sumatera yaitu dari daerah Deli Serdang sampai ke Aceh Utara juga berlangsung aktivitas kehidupan yang juga memanfaatkan biota marin khusus pada kawasan mangrove. Budaya yang ada padanya biasa disebut budaya Hoabinh dengan teknologi dan morfologi peralatan batu yang disebut Sumatralith memiliki persamaan dengan budaya prasejarah di wilayah Vietnam (Hoabinh).

Menilik bentuk budaya matrial Nias secara keseluruhan sama, hanya beberapa komponennya saja yang berbeda yang lebih diakibatkan oleh local genius masyarakatnya, maka dapat dikatakan bahwa seluruh masyarakat Nias mengalami pembabakan masa Megalitik pada waktu yang sama. Hal tersebut juga memberi indikasi bahwa pembabakan masa sebelum relatif sama. Dapat dijabarkan bahwa pada masa paleolitik (pendukungnya berbeda dengan Pithecanthropus) kemungkinan sudah ada migrasi ke Pulau Nias, dimana kelompok-kelompok masyarakatnya hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Perpindahan kelompok masyarakat masa itu kemungkinan dapat menjangkau seluruh daerah di Pulau Nias, sehingga pembabakan masa Paleolitik di Nias dapat berlaku bagi seluruh wilayah tersebut. Kelompok-kelompok masyarakat itu kemudian mulai hidup menetap dengan memanfaatkan gua maupun ceruk dengan kecenderungan lokasi yang menjadi hunian dekat dengan sumber makanan dan air.

Pada masa Mesolitik, terjadi juga migrasi ke daerah Sumatera dan hal ini mungkin juga sampai ke Pulau Nias. Kemungkinan masyarakat masa Paleolitik yang hidup dan berkembang di Nias juga mengalami kontak budaya dengan masayarakat pendatang. Meskipun belum dapat dibuktikan, namun indikasinya ditemukan pada sampah makanan berupa kulit kerang, dimana pola makan seperti tersebut ditemukan juga di pesisir timur Pulau Sumatera yang disebut bukit kerang. Data tersebut jelas menunjukkan bahwa ruang jelajah masyarakat masa Paleolitik dan Mesolitik kemungkinannya dapat menjangkau seluruh wilayah di Pulau Nias, sehingga penyebaran manusia masa lampau sudah ada dalam bentuk kelompok di sebagian besar wilayah di Pulau Nias. Data masa Neolitik belum ditemukan di wilayah ini.

Dari beberapa data yang ditemukan di Indonesia menunjukkan bahwa budaya masa Neolitik berkembang dari Asia Tengah ke Indonesia melalui Pulau Sulawesi, yang sebagian berkembang ke Timur sampai Irian dan sebagian ke barat, dari Kalimantan terus ke Sumatera. Penyebaran berdasarkan kapak lonjong tersebut tentu diikuti dengan manusia pendukungnya, sehingga dapat dikatakan bahwa masa Neolitik migrasi masih berlangsung ke Indonesia (Sumatera).

Dengan adanya bukti-bukti migrasi pada masing-masing pembabakan masa, maka kemungkinan migrasi dimasa selanjutnya (Megalitik ataupun setelahnya) masih berlangsung, hal tersebut dapat dibandingkan dengan budaya yang berkembang di Indonesia (termasuk di Pulau Nias) memiliki persamaan dengan budaya Megalitik di Asia Tengah maupun di Asia Pasifik. Mengingat hal tersebut maka tentunya migrasi masa Megalitik yang terjadi di Pulau Nias mengalami kontak dengan masyarakat beserta budaya yang sudah ada. Keberadaan migrasi yang terjadi di Pulau Nias juga dapat dilihat dari folk lore yang berkembang di masyarakat bahwa nenek moyang yang datang di Pulau Nias menggunakan perahu, sudah mengenal teknik bertani. Ini mengansumsikan bahwa migrasi pernah terjadi pada saat Pulau Nias sudah berpisah dengan Pulau Sumatera yang berarti bahwa migrasi berlangsung pada saat masyarakat sudah mengenal tranportasi air.

Hal tersebut tentu terjadi setelah masa-masa Neolitik, dimana masyarakatnya sudah memiliki budaya yang lebih maju, bercocok tanam serta kemungkinan sudah mengenal religi yang lebih kompleks, sehingga folk lore yang berkembang di masyarakat hanya dimungkinkan terjadi pada masa-masa kemudian dengan jangkauan pada masa Neolitik ini dan sesudahnya. Jika kita bandingkan hunian terakhir di GuaTogi Ndrawa yaitu sekitar tahun 1150 Masehi dengan silsilah yang dimungkinkan tercapai pada masyarakat Nias yaitu sekitar 46 generasi (satu generasi disetarakan dengan 25 tahun), maka dimungkinkan migrasi yang terjadi di Nias setelah Masehi mengingat rata-rata silsilah generasi yang ada pada masyarakat baru berlangsung hingga 20-an generasi yang setara dengan 500 tahun yang lalu.

PENUTUP
Jadi keberadaan masyarakat Nias sudah ada sejak 12.000 tahun yang lalu dan dimungkinkan keberadaannya sebelum itu. Hunian di Gua Togi Ndrawa menunjukkan hunian yang berlangsung terus menerus hingga tahun 1150 Masehi. Keberadaan Megalitik di Nias diasumsikan berasal dari awal-awal Masehi, dalam perjalanan budaya Megalitik tersebut mengalami perkembangan. Budaya Megalitik yang kita lihat sekarang di Nias merupakan tradisi Megalitik yang berlanjut yang diasumsikan bahwa ada masyarakat Nias yang hidup dengan budaya Megalitik tua yang berdifusi dengan kelompok migrasi baru dengan membawa budaya Megalitik yang muda setelah Masehi, sehingga budaya Megalitik yang ada sekarang tidak seluruhnya berkaitan dengan religi. Begitu juga dengan folk lore awal kedatangan manusia pertama di Boronadu dianggap sudah mengenal teknik bercocok tanam. Hal ini memunculkan asumsi bahwa migrasi yang terjadi atau cikal-bakal leluhur Nias sudah mengenal teknik bercocok tanam dalam melangsungkan kehidupannya. Jika pada tahun 1150 Masehi masyarakat “Nias” masih hidup di gua maka dapat dibandingkan dengan kondisi di daerah lainnya yaitu pada masa sekitar abad ke-12 Masehi di Tapanuli Selatan, di kawasan Percandian Portibi (Gunung Tua) sudah ada aktivitas perdagangan dan bangunan candi dengan latar belakang kehidupan religi Hindu/Budha. Begitu juga dengan di Tapanuli Tengah yaitu sekitar abad ke-9 Masehi sudah ada aktivitas perdagangan dengan China, Timur Tengah, India dan lainnya di daerah Barus, bahkan pada abad ke-12 Masehi sudah ada orang-orang Tamil mendirikan serikat perdagangan di daerah tersebut. Begitu juga dengan di Kota China, Belawan pada sekitar abad ke-12 sudah ada aktivitas perdagangan dengan daerah luar (China). (g/w)

Sumber: Harian SIB, Minggu, 14 Mei 2006

13 Responses to ““Orang Nias”, Tahun 1150 Masehi Masih Hidup di Dalam Gua”

Pages: [1] 2 » Show All

  1. 1
    Ribkah Says:

    K Wiradnyana (Balai Arkeologi Medan): “… Jika pada tahun 1150 Masehi masyarakat “Nias” masih hidup di gua maka dapat dibandingkan dengan kondisi di daerah lainnya yaitu pada masa sekitar abad ke-12 Masehi di Tapanuli Selatan, di kawasan Percandian Portibi (Gunung Tua) sudah ada aktivitas perdagangan dan bangunan candi dengan latar belakang kehidupan religi Hindu/Budha. Begitu juga dengan di Tapanuli Tengah yaitu sekitar abad ke-9 Masehi sudah ada aktivitas perdagangan dengan China, Timur Tengah, India dan lainnya di daerah Barus, bahkan pada abad ke-12 Masehi sudah ada orang-orang Tamil mendirikan serikat perdagangan di daerah tersebut. Begitu juga dengan di Kota China, Belawan pada sekitar abad ke-12 sudah ada aktivitas perdagangan dengan daerah luar (China).

    Berita Sulayman tentang Nias di tahun 851 M (diterjemahkan Gabriel Ferrand, dikutip Schröder, lalu dialihbahasakan dan dirangkum P. Johannes): “… pulau-pulau itu memiliki emas secara berlimpah; makanan dari buah-buah pohon kelapa; dari pohon kelapa dihasilkan juga tuak; mereka dikelilingi oleh musuh; laki-laki tidak boleh kawin kalau belum memenggal kepala musuh; sebanyak kepala manusia dijarah, begitu banyak wanita boleh dikawin” (“Asal Usul Masyarakat Nias”, P. Johannes Maria Harmmerle, OFMCap, 2001, hal. 18).

    Adanya berita Sulayman ini, maka tafsir temuan arkeologis Wiradnyana (pada tahun 1150 Masehi masyarakat “Nias” masih hidup di gua) perlu dikritisi, dengan pertimbangan:
    1. Sekitar 1150 M di Nias mungkin ada kelompok orang yang hidup di gua (yang memanfaatkan biota marin). Namun, tentu jauh lebih banyak orang yang hidup di luar gua (yang makan buah kelapa dan minum tuak), bahkan sejak 3 abad sebelumnya (sekitar 851 M).

    2. Wiradnyana tergesa-gesa menggeneralisir temuan arkeologis Tögi Ndrawa itu pada populasi masyarakat Nias. Padahal, keberadaan “manusia gua” di Tögi Ndrawa adalah partikular dan masih bertaraf hipotetis.

    3. Apa motif Wiradnyana membubuhkan judul yang terkesan sensasional? (“Orang Nias”, Tahun 1150 Masehi Masih Hidup di Dalam Gua). Barangkali untuk menarik perhatian dunia intelektual, publik awam, atau pemerintah ke situs Tögi Ndrawa. Namun judul itu potensial menimbulkan persepsi yang bias, bahwa pada tahun 1150 M semua orang Nias “masih hidup terisolir di gua” (dibanding saudara mereka di daratan Sumatera yang telah aktif berdagang).

    Tidakkah Wiradnyana memprediksi “perasaan orang Nias”, saat mereka dengan teliti membaca judul yang relatif “ngawur” itu? 🙁

  2. 2
    Donz Says:

    Dating “1150 Masehi” ditentukan lewat analisis artefak litik di situs Tögi Ndrawa. Artefak berasal dari bahan batu gamping, andesit dan batuan kuarsa. Dengan metode radio carbon atas sampel moluska dan sampel abu pembakaran, ditentukan pada lapisan teratas mulai dari kedalaman 15 cm di bawah permukaan tanah: 850±90 BP (Before Present).

    Agaknya Wiradnyana (disadari atau tidak) mau mensejajarkan tafsirnya tentang “masyarakat Nias di tahun 1150 M” itu dengan publikasi Edrisi tahun 1154 M (tahunnya hampir sama). Edrisi mengatakan bahwa pulau Niyan telah padat penduduknya (mereka gagah perkasa), makanannya buah kelapa, terdiri dari sejumlah besar suku-suku, di sana terdapat satu kota besar.

    🙂 Jangankan Sulayman yang disebut-sebut Ribkah, Edrisi pun tidak berkisah tentang “manusia gua” (mungkin mereka ada, tapi saat itu tidak ketemu Edrisi). Berita Edrisi menunjuk masyarakat Nias yang berbeda dibanding masyarakat yang ditafsir dan digeneralisir Wiradnyana. Bahkan, kota besar yang disebut Edrisi boleh jadi sebuah pelabuhan niaga (mungkin titik masuknya garam dan emas ke Nias).

  3. 3
    Saro Z Says:

    K Wiradnyana: “Penelitian arkeologi di Gua Togi Ndrawa oleh Balai Arkeologi Medan secara bertahap dimulai sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2002. Rangkaian penelitian tersebut menghasilkan data mengenai kehadiran manusia di situs tersebut. Adapun temuan yang dihasilkan berupa alat-alat batu yang berkarakter mesolitik, diantaranya serpih batu, batu pukul dan pipisan. Temuan lain berupa sisa-sisa vertebrata yang terdiri dari ikan (Pisces), ular (Ophodia), buaya (Squamosa), kura-kura (Testudinidae), hewan pemakan daging (Carnivora), Hewan pengerat (Rodentia), kelelawar (Chiroptera), hewan berkuku genap (Artiodactyla) dan Primata cangkang moluska yang terdiri dari kelas Gastropoda dan Pelecypoda…”

    Di Tögi Ndrawa (gua Pelita) ditemukan data lapisan budaya berbagai artefak yang diduga sebagai “sisa pendukung keberadaan manusia”. Penelitian ini belum menemukan fosil tengkorak atau kerangka. Kehadiran manusia di Tögi Ndrawa masih bersifat interpretatif (hipotetis). Adanya manusia purba masih perlu bukti melalui ekskavasi sistematis dan riset panjang. Diharapkan, di Tögi Ndrawa ditemukan fosil yang mungkin dapat dinamakan “homo sapiens niasiensis”. Bahkan kalau beruntung bisa ketemu fosil “homo erectus”, tentu jauh lebih spektakuler.

  4. 4
    Johan Baene Says:

    Keberadaan migrasi yang terjadi di Pulau Nias, menurut Wiradnyana, juga dapat dilihat dari folklor yang berkembang di masyarakat bahwa nenek moyang yang datang di Pulau Nias menggunakan perahu.

    🙂 Folklor bergenre myth yang berkembang di Nias umumnya bermotif “first man descens from sky” (A.1321) atau manusia turun dari langit, bukan turun dari perahu. Folklor belum dapat menjelaskan dengan tuntas perihal migrasi ke Nias pada zaman baheula.

  5. 5
    Yeremia Tel. Says:

    K. Wiradnyana: “… Jika kita bandingkan hunian terakhir di Gua Togi Ndrawa yaitu sekitar tahun 1150 Masehi dengan silsilah yang dimungkinkan tercapai pada masyarakat Nias yaitu sekitar 46 generasi (satu generasi disetarakan dengan 25 tahun), maka dimungkinkan migrasi yang terjadi di Nias setelah Masehi mengingat rata-rata silsilah generasi yang ada pada masyarakat baru berlangsung hingga 20-an generasi yang setara dengan 500 tahun yang lalu.”

    Buat Pak Wiradnyana: Angka silsilah orang Nias saat ini kayaknya telah lewat 20-an, yah… sekitar 40 lah. Menurut catatan Teuku Wira Alam, keturunan leluhur Polem telah 11 generasi di Nias. Victor Zebua (penulis Hojenk) adalah generasi ke-38 dari Silögu.

    Jangan-jangan angka 20-an itu didapat dari “rerata angka tertingi dan terendah” silsilah orang Nias. Kalau demikian, ya… kurang pas, Pak. Kita tentu perlu menengok dengan seksama zura nga’ötö (tambo, tarombo) Nono Niha terlebih dahulu.

    🙂 Yaahowu, Om Swastiastu !!!

  6. 6
    Sudirman Says:

    Dari beberapa data yang ditemukan di Indonesia, menurut K. Wiradnyana, menunjukkan bahwa budaya masa Neolitik berkembang dari Asia Tengah ke Indonesia melalui Pulau Sulawesi, yang sebagian berkembang ke Timur sampai Irian dan sebagian ke barat, dari Kalimantan terus ke Sumatera. Penyebaran berdasarkan kapak lonjong tersebut tentu diikuti dengan manusia pendukungnya, sehingga dapat dikatakan bahwa masa Neolitik migrasi masih berlangsung ke Indonesia (Sumatera).

    Dalam operasi “Yala Sengara I” (1968), setelah menanyakan banyak penduduk Nias di berbagai kawasan (utara, barat, timur, tengah, selatan) tentang kapak batu neolitik, James Dananjaya tidak menemukan indikasi jaman neolitik di Nias. Menurut Dananjaya, sewaktu leluhur orang Nias sekarang tiba di Nias kebudayaan mereka sudah berada dalam taraf jaman perunggu (megalitik). Memang beliau mengatakan: “Pendapat ini harus diperkuat lagi dengan penggalian-penggalian dari pihak ahli purbakala”.

    Kesimpulan sementara (menurut saya): orang di luar gua di Nias dan di dalam gua (kalau terbukti dengan fosil) tentu pernah hidup berdampingan (terjadi atau tidak terjadi kontak di antara mereka).

  7. 7
    Laso Says:

    Di bagian Interpretasi ditulis: “Menilik bentuk budaya matrial Nias secara keseluruhan sama, hanya beberapa komponennya saja yang berbeda yang lebih diakibatkan oleh local genius masyarakatnya, maka dapat dikatakan bahwa seluruh masyarakat Nias mengalami pembabakan masa Megalitik pada waktu yang sama…”

    🙂 Apa yang dimaksud dengan: “bentuk budaya matrial Nias secara keseluruhan sama”?, dan “pembabakan masa Megalitik pada waktu yang sama”?
    Bila megalitik tua terdifusi dengan megalitik muda, tentunya budaya material Nias menjadi heterogen. Arkeologi Dominik Bonatz (“Nicht von Gestern”, 2002) justru melihat megalitisme di Nias adalah suatu fenomena multidimensional. Di Nias, bentuk-bentuk megalit sangat berbeda dari daerah satu dibanding daerah lainnya.

    Di bagian Penutup ditulis: “… Keberadaan Megalitik di Nias diasumsikan berasal dari awal-awal Masehi, dalam perjalanan budaya Megalitik tersebut mengalami perkembangan. Budaya Megalitik yang kita lihat sekarang di Nias merupakan tradisi Megalitik yang berlanjut yang diasumsikan bahwa ada masyarakat Nias yang hidup dengan budaya Megalitik tua yang berdifusi dengan kelompok migrasi baru dengan membawa budaya Megalitik yang muda setelah Masehi, sehingga budaya Megalitik yang ada sekarang tidak seluruhnya berkaitan dengan religi…”

    🙂 Benarkah keberadaan megalitik di Nias dapat diasumsi berasal dari awal-awal Masehi?
    Menurut Thomsen (1976) megalit Nias paling tua 500 tahun, bahkan Bonatz (2002) menaksir usinya hanya 200-an tahun.

  8. 8
    Jenk Iskhan Says:

    Semua respon teman-teman di atas dikutip oleh Jajang A. Sonjaya ke dalam bukunya “Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya Nias” (2008), sebagai wacana mengenai asal-usul manusia Nias hal. 44-47). Di buku itu komentar Sonjaya sendiri senafas dengan komentar bang Saro Z. (resp. # 3): “Sayangnya, sampai naskah ini ditulis belum ditemukan bukti rangka manusia yang dapat dijadikan bahan untuk mengidentifikasi siapa manusia gua yang sebenarnya.” (hal. 48).

    Upaya Sonjaya mencantumkan berbagai pendapat teman-teman patut diapresiasi. Ini menunjukkan pula, pendapat publik yang ada di situs Yaahowu cukup memadai, relevan, berbobot, serta dapat dijadikan sebagai salah satu sumber penelitian dan dapat dibukukan. Salut pula buat teman-teman dan pengelola situs Yaahowu. Kiranya pengalaman ini dapat dijadikan ‘pemicu’ bagi para pengelola situs Yaahowu untuk mulai berpikir mengkompilasi berbagai pendapat publik yang ada di situs ini menjadi buku.

    Dalam bukunya Sonjaya menulis sumber kutipan dari “salah satu website Nias”. Alangkah indahnya bila nama website tersebut dieksplisitkan; selain kehormatan bagi situs Yaahowu, juga memudahkan bagi pembacanya menelusuri website dimaksud.

  9. 9
    Ribkah Says:

    Ya… syukurlah. Saya setuju saja komentar para netters dibukukan sebagai bunga rampai. Paling tidak, itu merupakan sejarah pemikiran kita semua. Selamat bekerja buat seluruh tim redaksi Yaahowu.

  10. 10
    aris Says:

    god
    bless
    for
    us

Pages: [1] 2 » Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita