DI halaman depan bursa saham Frankfurt, Jerman, terdapat patung besar sapi jantan (bull) dan beruang (bear) dalam posisi berhadapan. Si sapi mendongak, sementara si beruang merunduk. Seorang teman saya, wartawan yang tidak tahu makna kedua simbol itu, menyesal tidak berfoto ketika kemudian saya ceritakan bahwa dua binatang yang “hobi” berlaga itu sangat bermakna bagi pelaku pasar saham.

Pelaku bursa sejagad memakai kedua binatang itu untuk menggambarkan kondisi pasar. Jika harga saham melonjak, mereka mengatakan pasar lagi bullish. Sapi jantan mengamuk, mendongak. Sebaliknya, jika kondisi pasar memburuk, harga saham berguguran, mereka menyatakan pasar lagi bearish, ya seperti beruang yang kesal, menggerutu, berjalan merunduk.

MENJELANG akhir tahun, Si Bull biasanya datang ke bursa. Harga saham seolah berlomba naik. Pada saat yang sama, pelaku pasar pun menunggu Santa Claus. “Orang” baik yang selalu datang membagi-bagikan hadiah. Ya, hadiah dari kenaikan harga saham, sehingga mereka mendapatkan keuntungan modal (capital gain).

Bagi fund manager, kenaikan harga saham berarti “buku” mereka menjadi bagus, disayang dan dipuja orang-orang yang dikelola uangnya. Pemimpin perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa pun, ramai-ramai membeli saham, memperbaiki portofolionya. Dengan demikian, pemegang saham, investor, akan memberinya “hadiah” berupa bonus.

Jadi, siapa sebenarnya Santa Claus yang selalu ditunggu pelaku pasar itu? Ya, investor juga. Padahal, mereka juga tahu, angkat-mengangkat harga saham dengan “goreng-menggoreng”, jual yang ini beli yang itu, sehingga permintaan terlihat besar lalu harga naik, adalah permainan para fund manager, para emiten sendiri. Termasuk pula investor yang ikut-ikutan, dan spekulan.

Inilah kadang-kadang irasionalitas pasar. Tak bisa dikalkulasi secara matematis dengan alat hitungan apa pun. Pelaku pasar melakukan sesuatu-sepertinya tradisi-yang hanya untuk kesenangan sesaat. Kenapa sesaat? Karena mereka senang sesaat, tersenyum lebar melihat harga sahamnya naik. Padahal, setelah pertengahan Januari harga saham biasanya rontok lagi. Antara lain karena fund manager yang berlomba melakukan pembelian, mengumpulkan saham di akhir tahun, akan melakukan penataan kembali isi portofolionya. Saham yang tak berprospek bagus dibuang. Namanya juga saham dibuang, ya harganya jatuh. Sama di pasar tradisional, penjual ikan pasti menjual murah ikan yang tidak segar lagi. Pedagang tomat akan mencampakkan tomatnya kalau sudah mulai bonyok.

Investor, kadang sama juga dengan tidak rasionalnya ibu-ibu mengejar produk berharga diskon besar-besaran sampai ke seluruh penjuru kota. Padahal diskonnya mungkin tidak seberapa. Bahkan, kalau dipikir, jauhnya lokasi penjualan produk berdiskon plus besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bahan bakar, bayar tol, dan bayar parkir, jatuhnya lebih mahal. Belum lagi tenaga yang harus dikorbankan untuk antre berjam-jam. Itulah irasionalitas konsumen dan hebatnya para ahli strategi pemasaran, memanfaatkan psikologis konsumen, untuk menciptakan pasar, bertemunya permintaan dan penawaran, berjumpanya kebutuhan dan ketersediaan produk.

SI Bull sedang mendongak di berbagai bursa belahan dunia. Juga di Frankfurt, termasuk di bursa Jakarta. Indeks-indeks Wall Street terus naik, harga saham mencapai posisi tertinggi dalam 20 bulan terakhir, meski dollar kian jebol.

Santa Claus datang membagi-bagikan “bonus” kenaikan harga saham bagi pelaku pasar. Ya, investor, spekulan, broker, emiten, semuanya dapat hadiah. Cuma ketika Santa Claus sedang asyik membagikan bonus hadiahnya, ternyata di belakang Si Bull mengekor juga Si Cow, sama-sama sapi. Hanya saja, sapi yang terakhir itu bukan Si Bull yang ditunggu-tunggu kedatangannya, tetapi Si Cow. Gila pula, “Mad Cow”. Keruan saja investor panik. Karena itu jatuhlah indeks harga saham, sehari menjelang Natal. Untung kepanikan itu sesaat saja.

Jadi di Wall Street, Santa Claus berpesta bersama Si Bull, dan Si Cow yang mabuk. Kondisi pasar saham di sana merupakan perpaduan bull dan cow yang gila. “Mad Bull”. (andi suruji)

Sumber: Kompas – Senin, 29 Desember 2003

Facebook Comments