Kompas, 6 Maret 2007
Hampir seluruh wilayah Sumatera rawan gempa karena dilalui patahan aktif sesar Semangko yang memanjang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga Selat Sunda. Meski demikian, Kota Banda Aceh, Padang, dan Mandailing Natal merupakan daerah yang saat ini paling rawan.

“Di wilayah-wilayah tersebut sudah lama tidak terjadi gempa besar sehingga tengah terjadi penumpukan energi yang siap dilepaskan kapan saja,” kata Dr. Danny Hilman Natawijaya, pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat dihubungi KCM , Selasa (6/3) sore. Berdasarkan catatan yang ada selama ini, besar gempa bervariasi antara 5 hingga di atas 7 skala Richter (SR).

Gempa besar punya kecenderungan berulang di jalur patahan Sumatera sebagai hasil pelepasan energi yang menumpuk di patahan. Untuk memprediksi terjadinya gempa besar di wilayah Sumatera dilakukan dengan pengukuran pergerakan tanah menggunakan alat berbasis global positioning system (GPS) dan catatan kegempaan.

Danny memperkirakan, gempa yang mengguncang Padang dan sekitarnya pagi dan siang tadi, merupakan akumulasi energi yang terkumpul selama 60 tahunan mengingat gempa besar pernah melanda wilayah tersebut tahun 1926 dan 1943. Namun, ia mengingatkan, perlu dicatat bahwa gempa yang terjadi saat itu diperkirakan mencapai lebih dari 7,5 SR karena hingga menimbulkan korban jiwa hingga ratusan orang. Sementara itu, korban jiwa akibat gempa yang terjadi tadi siang saat ini sampai saat ini tercatat 69 orang.

Sedangkan Kota Banda Aceh sudah hampir 200 tahunan tidak dilanda gempa besar. Rangkaian gempa yang mengguncang wilayah tersebut selama ini, termasuk yang menimbulkan tsunami besar pada tahun 2004, lebih banyak berpusat di zona subduksi (tumbukan) dan bukan di zona patahan. “Banda Aceh termasuk wilayah yang masih harus diwaspadai,” ungkapnya.

Begitu pula dengan wilayah Mandailing Natal, Sumatera Utara. Rangkaian gempa yang merobohkan lebih dari 200 rumah dan menewaskan puluhan orang akhir Desember 2006 menurutnya baru pendahuluan saja. Hal tersebut juga pernah diungkapkan Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Utara, Jonathan Tarigan, beberapa waktu lalu.

Meski demikian, bukan berarti wilayah lainnya tidak rawan. Akumulasi energi terjadi di sepanjang patahan Sumatera yang sangat aktif dengan tingkat pergeseran sekitar 1 centimeter setiap tahun. Jadi tidak ada salahnya bila kita waspada.

Sumber: KOMPAS CYBERMEDIA (6 MARET 2007)

Facebook Comments