Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen
Pengantar Redaksi: Artikel berikut muncul di Nias Portal pada tanggal 19 Februari 2004. Isinya masih cukup aktual.
Sebuah wawancara dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht dari Universitas Münster, Jerman September 2002 Prof. Dr. med. Kennerknecht dari Universitas Münster mengunjungi Nias dengan proyek khusus. Dalam rangka proyek itu pula ia akan mengunjungi Nias bulan Maret 2003 depan. Prof. Kennerknecht mencoba menelusuri asal-usul orang Nias dengan memakai methode penelitian DNA/gen yang mutakhir.
Mungkin kebetulan saja, tetapi penyelidikan ini berlangsung hampir 100 tahun setelah penelitian Dr. J. P. Kleiweg de Zwaan, dari Universitas Amsterdam. Pada awal abad lalu, 1910, Kleiweg de Zwaan mengadakan penelitian menyeluruh di Nias, bukan hanya antropologis melainkan juga psikis dan fisik, dan telah diterbitkan dalam buku tiga jilid berjudul “Die Insel Nias bei Sumatra. Untersuchungen“, Den Haag, 1913-1915. Salah satu pertanyaan yang ingin dijawab oleh Kleiweg de Zwaan adalah tentang asal-usul orang Nias.
Ada banyak mitos tentang asal-usul orang Nias. Tentu saja mitos-mitos tsb. tidak akan dinihilkan oleh hasil penelitian ilmiah Prof. Dr. med. Kennerknecht, yang sedang berlangsung sekarang ini. Sebaliknya mitos-mitos tsb. kini bisa dibaca dalam cahaya dan bahasa ilmiah modern.
Berikut ini adalah wawancara singkat dengan Prof. Kennerknecht, yang diadakan via email. Pertanyaan diajukan oleh Raymond Laia, Jerman. Teks asli dalam bahasa Jerman juga tersedia. Selamat menikmati!
TENTANG PROYEK DNA ORANG NIAS
Herr Kennerknecht, tahun lalu Anda berada di Nias dengan sebuah “misi khusus”. Kapankah itu dan misi apa yang Anda emban di sana?
Pada bulan September 2002 saya berada di Nias selama tiga minggu. Tujuan utama adalah mengadakan penelitian tentang asal-usul orang Nias dan sejarah penyebarannya di seluruh Pulau.
Bisakah Anda ceritakan latarbelakang proyek ini? Bagaimana kisahnya, sehingga proyek ini muncul?
Keinginan untuk mengadakan penelitian itu disampaikan kepada saya oleh P. Johannes Hämmerle dalam rangka Yayasan Pusaka Nias, yang ingin mengdokumentasikan warisan budaya Pulau Nias secara menyeluruh. Secara mengagumkan P. Johannes Hämmerle telah mengumpul tradisi lisan dalam jumlah besar, menuliskannya dan sebagian diterbitkan. Ia lalu datang ke Institut kami dan menanyakan sejauh mana penelitian populasi genetis manusia berhubungan dengan tradisi lisan tentang penghunian Pulau Nias. Kebetulan akhir-akhir ini ada kemajuan besar secara metodis, sehingga nampaknya mungkin untuk menelusuri asal usul orang Nias berdasarkan penelitian genotip (penelitian sampel DNA).
Bagaimana pelaksanaan proyek ini? Bagaiman Anda menilai kerjasama dengan orang Nias?
Sebelum saya datang P. Johannes telah menghubungi Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, dan para kepala desa dari berbagai desa di Pulau Nias dan menginformasikan rencana kami kepada mereka. Kami membutuhkan banyak sukarelawan, yang bersedia menyumbangkan darah. Dengan teliti dicatat, dari keturunan mana setiap mereka yang diambil darahnya. Kemudian di Institut Genotip Manusia, Universitas Münster, akan diambil DNA dari darah itu untuk penelitian lebih lanjut. Untuk itu kami telah menjalani berbagai tempat di daerah Gunungsitoli, Lahewa, Sifalagö Gomo dan Teluk Dalam. Setelah kami memaparkan proyek ini secara rinci, akhirnya 620 orang Nias menyatakan kesediaannya. Itu berarti seperseribu dari seluruh penduduk Nias. Karena itu kami yakin sampel yang kami ambil cukup mewakili.
Adakah kesulitan dalam pelaksanaan proyek ini?
Pengambilan darah merupakan masalah bagi orang. Tetapi karena proyek ini bertujuan penelitian kebudayaan sendiri, secara mengejutkan banyak yang menyatakan diri bersedia bekerja sama. Yang sering dikhawatirkan adalah, siapa tahu “Profesor Orang Jerman” itu menjual darah yang akan diambil itu. Selain itu kebanyakan menganggap darah yang diambil itu banyak. Dalam kenyataannya isi botol berisi darah itu paling banyak 1/100 banyaknya darah manusia. Kadang sangat sulit menerangkan kepada mereka, bahwa proyek ini dijalankan atas dasar cinta terhadap kebudayaan orang lain, dan bahwa sebagai orang Jerman pertanyaan seperti: dari mana dan dari siapa orang Nias berasal? adalah menarik. Pertanyaan lain yang sering diajukan adalah, mengapa penelitian tsb. tidak diadakan di Indonesia, misalnya di Bandung. Saat ini ada dua alasan, mengapa hal itu di sana belum mungkin. Pertama adalah penelitian lebih lanjut tentang gen-molekular akan menjadi mahal dan kedua, untuk penelitan ini perlu metode khusus dan ilmu, yang mengandaikan personal yang terlatih dan terdidik serta dana.
Apa yang Anda harapkan sebagai hasil dari proyek ini? Sejauh mana perkembangannya sekarang?
Yang menarik dalam proyek ini adalah kombinasi memperbandingkan antara warisan tradisi dan data populasi genetis manusia. Setiap manusia itu unik, juga secara genetis. Orang-orang dalam satu klan memang berbeda satu sama lain, tetapi mereka lebih mirip satu sama lain daripada dengan orang dari klan lain. Dengan usaha dan keberuntungan dapat ditemukan kelompok-kelompok berdasarkan gen, dan membandingkannya dengan tradisi lisan. Bila hal itu berhasil, langkah demi langkah bisa dirunut asal-usul klan, yang kemudian bisa menunjuk kepada penyebaran orang Nias. Satu pertanyaan kunci misalnya adalah apakah Sifalagö Gomo asal orang Nias. Lalu direncanakan juga menyelidiki asal usul kelompok, yang pada zaman dahulu datang dari daerah Asia.
Kapan hasil penyelidikan ini tersedia?
Penyelidikan sangatlah menguras tenaga dan biaya, sehingga hasilnya lama kemudian baru akan ada.
Adakah sesuatu dalam rangka proyek ini, yang belum dapat diwujudkan?
Bekerja sama dengan Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, kami telah mulai dengan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan. Tetapi tidak cukup waktu untuk mengadakan penelitian rinci. Yang ingin dicapai adalah meneliti penyebab cacat tsb., artinya mengetahui genotip bawaan dan perobahannya (mutation). Untuk itu dibutuhkan penyeledikan terhadap keluarga yang banyak anak.
TENTANG LATAR BELAKANG
Bagaimana Anda menilai arti proyek ini untuk penelitian ilmiah?
Publikasi, yang menyelidiki penghunian Asia berdasarkan studi perbandingan bahasa dan akhir-akhir ini gen-molekular, makin banyak. Bahwa hal ini mungkin dengan memakai metode populasi genetis telah dibuktikan secara meyakinkan oleh penyelidikan tentang penghunian Pasifik dari Taiwan. Nias berada pada tempat yang menarik, menjadi di satu pihak penghubung antara rangkaian kepulauan Nikobar dan Andaman ke Asia Selatan dan di lain pihak melalui kepulauan Indonesia ke Asia Tenggara.
Apa yang mau Anda bilang kepada orang Nias berdasarkan hasil penyelidikan ini?
Kami masih pada tahap awal, sehingga saat ini kami belum bisa memberi pernyataan apa pun. Tapi direncanakan untuk menyerahkan segala hasil penyelidikan ini nantinya kepada Yayasan Pusaka Nias. Hal yang sama berlaku juga untuk hasil penelitian tentang penyakit bawaan. Data-data ini akan dikomunikasikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias. Bulan Maret ini saya akan ke Nias untuk mengumpul sampel lebih lanjut dari daerah Nias Tengah, yang belum saya punya. Lalu penyelidikan terhadap keluarga-keluarga dengan cacat bawaa masih akan berlangsung. Saya mengharapkan kerja sama dan kesediaan lebih banyak keluarga.
KESAN
Apa kesan Anda secara keseluruhan berhubung pelaksanaan proyek ini?
Sejak awal saya sadar, bahwa di Nias, seperti juga pada semua penelitian di mana pun di dunia ini, akan ada beberapa kelompok yang sulit diyakinkan mengenai proyek ini. Saya mempunyai pengertian terhadap hal ini. Tetapi secara keseluruhan saya senang, bahwa begitu banyak orang yang memiliki motivasi tinggi dan sangat menolong ikut bekerja sama dalam proyek ini. Awalnya saya tidak mengharapkan mengumpulkan begitu banyak sampel darah dalam waktu sesingkat itu. Dalam hal ini sangat menentukan persiapan luar biasa dari P. Johannes Hämmerle, yang telah lebih dahulu memberi informasi terrinci kepada para calon penyumbang darah, baik itu lisan melalui dia secara pribadi dan para rekan kerja dari Museum maupun melalui informasi tertulis. Pada pengambilan darah turut ambil bagian juga orang dari Dinas Kesehatan. Dari banyak orang yang menolong dalam proyek ini saya ingin menyebut nama Katharina Zai dari Hiliweto, Gidö. Dia telah menemani kami dalam sebagian besar turne dan menolong dalam pengorganisasian serta pengambilan darah.
Adakah pengalaman di Nias, yang Anda suka kenang?
Saya sangat terkesan dengan atmosfer di Sifalagö Gomo. Tanpa mendahului hasil penyelidikan ini nanti, saya pribadi berpendapat, bahwa di daerah ini yang dilindungi oleh gunung-gunung terasa adanya roh khusus, yang mengundang setiap orang yang baru berkunjung untuk menghuninya. Daerah ini seolah-olah diciptakan untuk menjadi “kampung nenek moyang”.
TENTANG KUNJUNGAN KE NIAS
Kunjungan Anda di bulan September 2002 bukanlah kunjungan pertama ke Nias. Kapan Anda pertama sekali mengunjungi Nias? Bukan hanya sebagai turis atau?
Bersama isteri saya telah berada di Nias 1978 sebagai turis. Kala itu kami mengadakan perjalanan selama tiga bulan menjelajahi Indonesia dan mengalami kultur megalit yang unik di Nias. Perjalanan sangatlah melelahkan. Tak ada kapal teratur ke Nias, sehingga kami berlayar ke Gunungsitoli naik kapal barang. Kami merupakan tamu pertama di hotel pemerintah di sana, dewasa ini disebut “Mess” atau “Pasanggrahan”, yang belum siap dibangun kala itu. Untuk kami dicari kasur khusus dan semua bau cat. Dalam perjalanan ke kapal kecil yang berlayar ke Teluk Dalam di Nias Selatan kami diantar ke pelabuhan oleh mobil tangki pemerintah. Belum ada jalan darat ke Selatan masa itu.
Bila Anda membandingkan kunjungan pertama dan kunjungan terakhir di Nias, perobahan apa yang paling menonjol?
Tak ada perobahan fundamental di Nias sejak kunjungan kami yang terakhir. Dengan pantai-pantainya yang putih dihiasi pohon-pohon kelapa dan budaya yang unik Nias masih merupakan pulau impian. Tentu saja, Gunungsitoli misalnya lebih besar, kini ada (lagi) jalan darat ke Selatan dan ke Utara. Kendati demikian infrakstruktur merupakan masalah bagi turis. Sayang, bahwa atap-atap daun rumbia semakin diganti dengan seng, yang cepat berkarat. Dulu di Bawömataluo kami masih melihat atap alami. Sangat sayang melihatnya telah berubah sekarang ini. Saya harap, menguatnya turisme bisa membawa pengertian dan uang demi “pengalamian” kembali dan terutama mempertahankan rumah-rumah tradisional.
TENTANG PUBLIKASI
Sudah adakah publikasi Anda tentang Nias?
Tentang Nias saya belum punya publikasi apa pun, tetapi saya harap akan ada beberapa dalam waktu dekat. Saya terutama gembira, bahwa secara mencengangkan saya kembali mempunyai kontak dengan Pulau ini, yang tinggal indah dalam ingatan saya, dan bahwa saya mempergunakan fak keahlian saya untuk itu.
Bisakah Anda menyebutkan beberapa data tentang diri Anda?
Secara paralel saya telah kuliah ilmu Biologi dan Kedokteran di Jerman dengan titik berat Genetik. Agar mendapat hubungan klinik, saya membuat spesialisasi dalam ilmu penyakit anak, sehingga lebih baik dapat menilai penyakit bawaan. Setelah kuliah ini saya meneruskan ke ilmu genetik manusia dan membuat habilitasi (setelah S3, catatan penerjemah) di fak ini.
Asia selalu merupakan kerinduan saya dan sudah sebagai anak saya ingin pergi ke Sumatera, karena harimaunya.
Terima kasih, bahwa saya berkesempatan, memperkenalkan proyek bersama ini dengan P. Johannes Hämmerle dari Yayasan Pusaka Nias dan Dr. Idaman Zega dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nias.
Terima kasih atas wawancara.
March 6th, 2007 at 4:01 pm
Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht: “… Setelah kami memaparkan proyek ini secara rinci, akhirnya 620 orang Nias menyatakan kesediaannya. Itu berarti seperseribu dari seluruh penduduk Nias. Karena itu kami yakin sampel yang kami ambil cukup mewakili.”
P. Johannes Hammerle OFMCap. (dalam artikel wawancara “Tentang Tese Ilmiah Baru Tentang Asal Usul Orang Nias”): Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht dari Westfälische-Wilhelms-Universität, Münster, Jerman, dengan bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias, Gunungsitoli, telah mengumpulkan sampel DNA dari 785 orang Nias. Karena jumlah penduduk Nias sekitar 700.000 orang, itu berarti per 1.000 orang Nias sudah terdapat satu sampel DNA.
Sesungguhnya, berapa kah besar sampel (sample size) dalam penelitian DNA ini? (620 atau 785). Mengapa bisa berubah-ubah?
March 6th, 2007 at 4:23 pm
Penentuan besar sampel (sample size) dalam suatu penelitian tidak lah sesederhana menyatakan “seperseratus (persen) atau seperseribu (permil) dari populasi”.
Ada 4 faktor yang harus dipertimbangkan dalam penentuan “sample size”:
1. Derajad keseragaman (degree of homogenity) dari populasi. Makin seragam populasi, makin kecil jumlah sampelnya.
2. Ketepatan (precision) yang dikehendaki (lih. keterangan di bawah).
3. Rencana analisa. Dalam merancang penelitian, sejak awal peneliti harus sudah tahu tentang hipotesa yang akan diuji dan rencana analisanya (mis. dengan Analisa Tabel Silang, Analisa Statistik non-parametrik, Analisa Statistik parametrik). Daripadanya, baru dapat ditentukan jumlah sampel yang dibutuhkan.
4. Tenaga, biaya, dan waktu.
Agar tingkat statistik yang bermakna (signifiance) tercapai, perlu dipertimbangkan beberapa unsur ketepatan:
1. Berapa angka perkiraan yang masuk akal dari proporsi-proporsi yang akan diukur? Bila tak dapat diperkirakan, paling aman memakai angka 0.50, sehingga diperoleh variance yang maksimal dan sampel cukup mewakili.
2. Berapa tingkat ketepatan yang diinginkan? Makin tinggi tingkat ketepatan (mis. 0.10), jumlah sampel makin besar.
3. Berapa derajad kepercayaan (confidence level) agar estimasi sampel akurat? (umumnya 91% atau 95%).
4. Berapa jumlah populasi yang harus diwakili sampel?
March 7th, 2007 at 5:24 am
Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht: “… Setelah kami memaparkan proyek ini secara rinci, akhirnya 620 orang Nias menyatakan kesediaannya. Itu berarti seperseribu dari seluruh penduduk Nias. Karena itu kami yakin sampel yang kami ambil cukup mewakili.”
Pernyataan Prof. Ingo menunjukkan, “populasi penelitian” dari proyek ini adalah “seluruh penduduk Nias”. Tepatkah data demografis (penduduk Nias dan Nisel) dijadikan populasi?
Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Atau, kelompok subyek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian.
Kelompok subyek itu harus memiliki ciri atau karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subyek yang lain. Semakin sedikit karakteristik populasi yang diidentifikasikan, maka semakin heterogen populasi itu (berbagai ciri subyek terdapat dalam populasi).
Dalam setiap penelitian, populasi yang dipilih erat hubungan dengan masalah yang dipelajari (disebut “populasi sampling” atau “populasi penelitian”).
Populasi dalam penelitian “asal-usul orang Nias berdasarkan penelitian genotip (penelitian sampel DNA)” ini adalah “penduduk Nias” (berisi: orang Nias dan non-Nias yang merupakan penduduk Nias). Penelitian ini mengabaikan “orang Nias” yang “bukan penduduk Nias” (orang Nias perantau).
Sampel mungkin mewakili, namun apakah populasi telah representatif?
Jika cakupan dari populasi penelitian tidak lengkap dan tepat, ada kemungkinan terjadi bias, dan boleh jadi sulit menerapkan dan membuat generalisasi hasil (penemuan) penelitian kepada populasi orang Nias yang diduga multienis itu.
March 7th, 2007 at 11:16 pm
Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht: “Yang menarik dalam proyek ini adalah kombinasi memperbandingkan antara warisan tradisi dan data populasi genetis manusia. Setiap manusia itu unik, juga secara genetis. Orang-orang dalam satu klan memang berbeda satu sama lain, tetapi mereka lebih mirip satu sama lain daripada dengan orang dari klan lain. Dengan usaha dan keberuntungan dapat ditemukan kelompok-kelompok berdasarkan gen, dan membandingkannya dengan tradisi lisan…”.
Dari pernyataan di atas, diketahui adanya 2 konstruk (construct) dalam penelitian ini, yaitu: “tradisi lisan” dan “populasi genetis”
Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht: “Sebelum saya datang P. Johannes telah menghubungi Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, dan para kepala desa dari berbagai desa di Pulau Nias dan menginformasikan rencana kami kepada mereka. Kami membutuhkan banyak sukarelawan, yang bersedia menyumbangkan darah. Dengan teliti dicatat, dari keturunan mana setiap mereka yang diambil darahnya…”.
Dari pernyataan di atas, diketahui adanya satu konstruk lagi, yaitu “kelompok keturunan”. Sehingga kita temukan 3 konstruk, yaitu: tradisi lisan, populasi genetis, dan kelompok keturunan.
Konstruk “populasi genetis” akan (sedang) diteliti berdasarkan dua konstruk lainnya (tradisi lisan, populasi genetis) oleh Prof. Ingo. Sedangkan konstruk “tradisi lisan” mengacu pada penelitian P. Johannes.
Akan halnya konstruk “kelompok keturunan”, didasarkan pada penelitian apa (siapa)?
Apa variabel (karakteristik yang diukur) dari konstruk “kelompok keturunan”? Apakah variabelnya adalah “klan (mado) orang Nias”?
Sepanjang pengamatan saya, sejauh ini belum ada studi yang membandingkan atau menghubungkan studi “tradisi lisan” P. Johannes dengan variabel “mado-mado orang Nias”.
Sebagai sebuah studi tunggal (yang luas dan mendalam) tentang variabel ini pun belum ada.
Bila variabel antara (intervening variable) penelitian ini (yaitu “mado orang Nias”) belum jelas hubungannya dengan studi “tradisi lisan” P. Johannes, bagaimana mungkin Prof. Ingo mencuplik (mengambil sampel) darah orang Nias secara “cross-sectional”?
March 8th, 2007 at 12:56 am
Proyek penelitian Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht ini perlu didahului dengan studi yang mendalam tentang klan (mado) yang bersumber pada zura-ngaötö Nono Niha.
Agar sampel darah yang diambil representatif (bukan hanya besar sampelnya, tapi juga karakteristik sampelnya). Serta temuan DNA Prof. Ingo ini kelak dapat secara akurat diinterpretasi dan digeneralisasikan pada populasi Nono Niha .
March 8th, 2007 at 3:35 am
Di artikel “Tentang Tese Ilmiah Baru Tentang Asal Usul Orang Nias” Jenk Iskhan merespons:
“… Teori merupakan alat yang terpenting dari suatu ilmu pengetahuan. Tanpa teori hanya ada pengetahuan tentang serangkaian fakta saja, tetapi tidak ada ilmu pengetahuan. Teori sebagai rangka pemikiran memberi batasan pada apa yang dianggap penting. Hanyalah orang yang justru tak banyak berpengetahuan yang tidak berusaha menggunakan teori dalam pengamatannya. Tanpa menggunakan rangka pemikiran (yang bersumber dari teori), seorang peneliti sering tertarik pada fenomena atau peristiwa yang seolah-olah menonjol, sehingga pengamatannya cenderung bias.”
Karenanya, siapa bilang teori tidak berguna?
Dalam proyek penelitian “raksasa” semacam ini, diperlukan pengetahuan yang memadai tentang teori “metodologi penelitian” dan teori “manajemen penelitian”.
Shalom, Yaahowu!
March 8th, 2007 at 5:16 pm
Menurut Helen M. Kingston (”ABC of Clinical Genetics 2/E, 1994):
Sejumlah gen penyakit telah ditentukan letaknya dengan penemuan individu sakit yang mengalami anomali kromosom. Dengan “analisis titik patah kromosom” dimungkinkan pembuatan klon dari gen, dan ditentukan urutan basanya (mis. pada penyakit neurofibromatosis, kanker usus besar familial).
Langkah pertama penentuan letak gen adalah mengkaji rangkaian gen (linkage) pada keluarga individu yang sakit, dengan menggunakan penanda DNA polimorfik. Dengan strategi ini, dimungkinkan penentuan letak gen penyakit, asal terdapat jumlah anggota keluarga yang cukup banyak untuk kajian ini.
Anggota keluarga (baik sakit maupun sehat) harus diuji untuk memperoleh satu penanda DNA yang bersifat informatif di dalam keluarga. Juga untuk mengidentifikasi alel mana yang berhubungan dengan gen penyakit pada saudara-saudara kandung individu tertentu.
Menurut Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht: “Bekerja sama dengan Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, kami telah mulai dengan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan. Tetapi tidak cukup waktu untuk mengadakan penelitian rinci. Yang ingin dicapai adalah meneliti penyebab cacat tsb., artinya mengetahui genotip bawaan dan perobahannya (mutation). Untuk itu dibutuhkan penyeledikan terhadap keluarga yang banyak anak.”
Pertanyaan:
1. Apa “unit analisis” dari riset Prof. Ingo ini? Apakah individu atau keluarga (nuclear family)? Hal ini berhubungan erat dengan sample size yang 620 unit darah itu. Bila unit analisis adalah keluarga, tentu berdampak pada jumlah sampel yang 620 itu (karena ada sebagian sampel darah berasal dari satu keluarga, sehingga dibutuhkan sampel yang lebih banyak).
2. Bagaimana posisi dan hubungan riset “penyakit fisik bawaan” terhadap riset “populasi genetis”? Dua riset ini punya unit analisis yang berbeda. Mungkin sebagian sampel dapat overlapping, namun perlakuan terhadap sampel dan jumlah sampel tentu berbeda.
3. Bagaimana kiat mengumpulkan data retrospektif dari penyakit fisik bawaan (fenotip-nya) pada pohon genealogi (pedigree) orang Nias?
March 8th, 2007 at 10:23 pm
Yaahowu Prof. Ingo!
Representasi “populasi dan sampel” dalam proyek Anda dipertanyakan orang-orang Nias nih…
Apa yang ditulis bang Saro (#7) di atas cukup menarik.
Kalau dua riset(populasi genetis dan penyakit fisik bawaan) Anda gabungkan, mengakibatkan jumlah sampel untuk riset “populasi genetis” jauh berkurang dari 620. Karena, ada sampel dari kelompok-kelompok keluarga (nuclear family) untuk riset “penyakit fisik bawaan”. Ada pula sampel dari kelompok-kelompok keturunan (mado?) untuk riset “populasi genetik”. Sampel dari kelompok keluarga tentu hanya satu yang dapat diperlakukan sebagai sampel, ketika “populasi genetis” dikaji.
Saya jadi pengen tau, bagaimana sampling (metode pengambilan sampel) darah orang Nias dalam proyek ini (?)
Saohagölö sebelumnya Prof., atas jawabannya.
Auf Wiedersehen!
March 13th, 2007 at 4:53 pm
Tahun 2001 Lembaga Eijkmann dan PAU Bioteknologi UGM mengadakan riset “phylogenetic tree” (pohon filogenetik) berdasarkan keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria) berbagai populasi (etnis) di Indonesia.
Populasi awal yang mendiami Indonesia, menurut Prof. Dr. Sangkot Marzuki (Direktur Eijkmann), kemungkinan besar berkerabat dengan populasi Papua dan Aborigin Australia yang berciri-fisik Austro-melanosid. Namun, ada kelompok lain (sekitar 500 etnis) punya karakteristik budaya dan bahasa yang berciri-fisik Mongoloid, disebut kelompok Austronesia (berbahasa Austronesia).
Riset ini menyimpulkan bahwa manusia Indonesia terbagi atas berbagai kelompok gen yang strukturnya berbeda. Temuan ini menolak hipotesa Taiwan Homeland (populasi Austronesia menyebar dari pulau Formosa Taiwan) yang jadi kiblat para ilmuwan antropologi linguistik.
Pada kelompok Austronesia ada pula pengelompokan tambahan. Indonesia barat (Melayu, Batak, Minang, Jawa) membentuk satu kelompok, sedang Indonesia timur (Sasak, Waingapu, Bugis) merupakan kelompok lain. Beberapa populasi, terutama populasi Nias, ternyata membentuk cabang sendiri pada pohon filogenetik itu.
March 13th, 2007 at 5:37 pm
Riset phylogenetic tree yang berdasarkan mtDNA pernah dilakukan Kashyap et al (2004) terhadap populasi Negrito di Andaman dan populasi Mongoloid di Nicobar. Selanjutnya, Kumarasamy Thangaraj et al (2005) menemukan afinitas genetis yang erat: (1) kelompok Negrito orang Andaman dengan populasi Asia dan Afrika; (2) orang Nicobar dengan populasi Mongoloid Asia Tenggara.
Tentang riset Prof. Ingo ini, apakah: (1) merupakan studi afinitas genetis orang Nias yang mengacu pada kelompok agregat (seperti: Mongoloid, Negrito, Austro-melanosid), atau (2) didesain untuk pengelompokan yang lebih rinci dari “phylogenetic tree” intern multietnis populasi Nias?
March 15th, 2007 at 3:54 pm
Buat Dinar (#10): bila alternatif-1 (studi afinitas orang Nias ke kelompok agregat) jadi pilihan, kayaknya proyek Prof. Ingo kurang relevan untuk sebuah hal yang simpel. Orang Nias fenotip-nya kan mongoloid; Eijkaman dan UGM juga sudah menelitinya lewat DNA mitokondria (lih. Otomend #9).
Hemat saya, proyek ini sebaiknya untuk menjelaskan alternatif-2, yaitu: “phylogenetic tree” intern multietnis Nias, yang oleh Eijkman dan UGM dinyatakan “membentuk cabang sendiri pada phylogenetic tree populasi Indonesia”. Bila demikian adanya, maka studi clan (pedigree) dalam populasi Nias menjadi hal yang imperatif dan strategis.
Sejauh ini kita hanya mengamati riset Prof. Ingo, belum baca proposal riset DNA ini (apakah pernah disosialisasikan?). Mungkin Dr. Idaman Zega (Kepala DKK Nias) yang sudah baca, dan dapat berbagi kepada kita. Kita tunggu informasi dari pihak Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Nias.
March 20th, 2007 at 2:35 am
Uchi Bate’e: “Mudah-mudahan riset ini (karena kerjasama dengan pihak luar negeri) telah pula diketahui oleh pihak Pemerintah RI, sehingga kemajuan risetnya secara berkala dapat dilaporkan dan diketahui oleh publik (ilmiah dan awam) maupun otoritas yang kompeten.”
Menarik juga sinyalemen Uchi Bate’e, untuk meninjau dan mengetahui aspek legal dari riset Prof. Ingo ini.
Pemberian izin penelitian bagi orang asing diatur dalam Keppres No. 100 Tahun 1993 tentang Izin Penelitian Bagi Orang Asing, dan SK Ketua LIPI No. 3550/A/1998 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Ijin Penelitian Bagi Orang Asing. Berdasarkan dua peraturan ini, diwajibkan bagi setiap orang asing (warga negara asing) yang akan melakukan penelitian di Indonesia harus mendapat izin tertulis dari Ketua LIPI.
Ada 12 butir dokumen aplikasi riset yang harus diajukan oleh peneliti asing, antara lain:
1. Enam kopi proposal penelitian yang mencantumkan judul, tujuan penelitian, deskripsi metodologi dan konsep serta lokasi dan durasi penelitiannya di Indonesia.
2. Dua surat rekomendasi, satu dari professor atau supervisor peneliti asing yang bersangkutan, dan lainnya dari pejabat atau kepala instansi/perguruan tinggi asal orang asing itu.
3. Surat kesediaan sebagai mitra kerja (counterpart) dari pimpinan instansi atau perguruan tinggi Indonesia yang kompeten di bidang ilmu pengetahuan yang akan diteliti oleh orang asing yang bersangkutan.
4. Surat rekomendasi dari pejabat Perwakilan RI di luar negeri di mana peneliti asing itu tinggal.
Izin penelitian diberikan paling lama untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, dan dapat diperpanjang sebanyak 2 (dua) kali berturut-turut masing-masing paling lama 6 (enam) bulan. Peneliti asing harus menyerahkan laporan triwulan yang berisi kemajuan penelitiannya dan laporan akhir segera setelah penelitiannya selesai kepada Ketua LIPI.
Dalam perkembangannya, Pemerintah RI telah menerbitkan UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan,dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Selanjutnya, Peraturan Pemerintah RI No. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Melakukan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Bagi Perguruan Tinggi Asing, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing, Badan Usaha Asing, dan Orang Asing.
Pasal 17 (4) UU 18/2002 menegaskan: “Perguruan tinggi asing, lembaga litbang asing, badan usaha asing, dan orang asing yang tidak berdomisili di Indonesia yang akan melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia harus mendapatkan izin tertulis dari instansi pemerintah yang berwenang”.
Kalau sebelumnya pejabat yang berwenang memberi izin adalah Ketua LIPI, maka menurut PP 41/2006 izin diberikan oleh Menristek (Menteri Negara Riset dan Teknologi) RI.
March 20th, 2007 at 2:16 pm
Penelitian “Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen” dimulai bulan September 2002. Sekarang telah melampaui jangka waktu yang diatur Keppres 100/1993. Bagaimana tanggung jawab Prof. Ingo dalam hal: laporan penelitian (triwulan atau akhir), dan perpanjangan durasi waktu penelitian? Sebagai ilmuwan, tentu Prof. Ingo dapat menghormati aturan yang berlaku di Indonesia.
Prof. Ingo: “Bekerja sama dengan Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, kami telah mulai dengan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan…”.
Counterpart Prof. Ingo ternyata adalah Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Nias, bukan dari universitas di Indonesia yang kompeten dalam studi genetika. Secara legal, Dr. Idaman Zega (Kepala DKK Nias) tidak punya otoritas sebagai counterpart dalam penelitian ini.
Bupati Nias juga tidak punya wewenang mengeluarkan izin penelitian. Saat itu (tahun 2002) izin tertulis dikeluarkan oleh Ketua LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) berdasarkan Keppres 100/1993. Sekarang (tahun 2007) izin tertulis dikeluarkan oleh Menristek berdasarkan UU 18/2002.
Mengamati bahwa penelitian ini telah berjalan lebih dari 2 tahun tanpa laporan (publikasi), dan counterpart-nya tidak kompeten, “jangan-jangan” penelitian ini berjalan “tanpa izin tertulis resmi” (bersifat praduga). Seyogyanya sejak semula, Dr. Idaman Zega dan Bupati Nias menanyakan perihal izin tertulis dari Ketua LIPI, kalau mereka adalah pejabat pemerintah yang tahu aturan perundang-undangan.
Agaknya tidak hanya kita orang Nias, juga Pemerintah RI telah kecolongan, bila praduga bahwa “penelitian Prof. Ingo tanpa izin tertulis resmi” ini merupakan sesuatu yang benar.
March 20th, 2007 at 5:06 pm
Perguruan tinggi asing, lembaga Litbang asing, badan usaha asing, dan orang asing akan diberikan sanksi apabila prosedur perolehan izin yang ditetapkan dalam PP 41/2006 tidak dipenuhi yang dapat berupa teguran lisan, tertulis, pemberhentian sementara sampai dengan pembatalan dan/atau pencabutan izin.
Pelanggaran tersebut bisa terjadi dalam bentuk: (1) tidak adanya lembaga penjamin dan mitra kerja; (2) lalai melaporkan kepada gubernur, walikota-bupati dan Polri sebelum melaksanakan kegiatan; (3) tidak melaporkan secara berkala pelaksanaan kegiatan Litbang kepada Menteri; (4) melakukan kegiatan tidak sesuai izin yang diperoleh; (5) tidak menghormati adat-istiadat dan norma-norma kebudayaan yang berlaku di tempat pelaksanaan kegiatan Litbang.
Tentu saja, pengawasan terhadap kegiatan ini bukan melulu menjadi tugas pemerintah, melainkan juga harus di dukung oleh kalangan masyarakat, termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Masyarakat yang bermukim atau berdekatan dengan lokasi pelaksanaan kegiatan Litbang asing, bahkan harus menjadi pihak yang proaktif melakukan pengawasan, karena merekalah yang langsung merasakan dampak negatif dengan terjadinya disharmoni, apabila misalnya terjadi pelanggaran adat-istiadat dan norma-norma setempat.
Sumber: Sabartua Tampubolon (pekerja di Kementerian Negara Ristek RI), “Izin Litbang Asing oleh Menristek” (www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=1638), 27 Februari 2007.
Ini sebagai tambahan info.
March 29th, 2007 at 9:30 pm
Dalam konteks teori migrasi dan persebaran kebudayaan, merunut asal-usul Ono Niha berdasarkan DNA tidak perlu diragukan nilai pentingnya. Jadi, saya pikir tidak perlu mempermasalahkan soal legalitas segala. Siapa pun selama dia mempublikasikan hasilnya dan bermanfaat untuk kita, kenapa tidak?
April 6th, 2007 at 2:47 am
Alamak, rupanyo ado pulak orang intelek nyang basipat “manghalalkan sagalo caro”. Paraturan pun dilanggarnyo pulak. Semak kali pikiran orang tu. Mana aci lah bagitu, undang-undang bukan koyok-koyok nyah. Awak tengok, kek koruptor lah orang nyang lempang sajo malanggar peraturan.
Mangkanyo udah awak bilang samo anak si Alang, jangan lah kau malanggar paraturan yang dibikin pamarentah, biso kualat kau nanti. Sempat kau masuk panjaro, hajab lah bapak kau ni. Ditarok kamano muka bapak kau nyang jelek ni!
awaklah ini apalah,
Pak Alang - bantaran Sei Deli
May 19th, 2007 at 4:54 am
Steve Olson dalam “Mapping Human History: Discovery the Past Through Our Genes” (2003) menulis: “Kita semua menerima mitokondria dari ibu kita. Sel-sel sperma hanya memiliki satu tujuan dalam benaknya: mengirimkan paket kromosom mereka ke sel telur. Sel-sel sperma memiliki sedikit mitokondria, dan mitokondria ini terbuang seperti daun-daun bunga yang rontok saat pembuahan. Oleh karenanya, hanya sel-sel telurlah yang memberi mitokondria pada generasi berikutnya.”
Steve Olson adalah peneliti pada The National Academy of Sciences, The White House Office of Science and Technology, dan The Institute for Genomic Research. Kutipan kecil di atas mengisyaratkan bahwa dalam sampel penelitian DNA mitokondria (mtDNA) perlu diperhitungkan variabel demografis, yaitu: wanita dan pria. Karena mitokondria yang diwariskan ternyata terjadi dari ibu (wanita).
Akan menjadi rumit bila sampel darah DNA diambil berdasarkan klan (mado) dalam masyarakat patriarkal seperti Nias. Biasnya juga menjadi besar ketika penelitian ini digeneralisasikan dalam populasi masyarakat Nias.
May 19th, 2007 at 7:21 pm
Dalam pertanyaan ketiga (wawancara), Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht menjawab: ”… Dengan teliti dicatat, dari keturunan mana setiap mereka yang diambil darahnya. Kemudian di Institut Genotip Manusia, Universitas Münster, akan diambil DNA dari darah itu untuk penelitian lebih lanjut…”.
Adanya info tambahan dari Andraha (resp. # 17), diketahui bahwa mitokondria DNA diwariskan lewat ibu (wanita). Maka sampel darah yang diambil dalam penelitian dapat dipertanyakan, yaitu: keturunan yang diambil darahnya itu berdasarkan apa? Garis keturunan ayah atau kah garis keturunan ibu?
Kembali lagi soal-soal ”sampel, populasi, dan sampling” menjadi titik kritis penelitian ini. Dan, ini memicu hasrat kita untuk mengetahui lebih jauh, apakah telah dilakukan secara ilmiah? Ini pun telah saya sampaikan di resp. # 8.
May 21st, 2007 at 4:37 pm
Saya sangat diperkaya dengan berbagai penjelasan dari saudara-saudara di atas. Ketika saya membaca setiap tanggapan dengan seksama, saya makin tahu, bahwa saya tidak tahu apa-apa. Setidaknya, dibidang terkait, misalnya perkembangan terbaru mengenai metode riset dan perundangang-undangan terkait riset.
Cuma, yang menjadi pertanyaan saya (walau sebuah metode dan asumsi dasar dari sebuah penelitian ’selalu bisa’ debatable karena ‘ramai’nya dinamika metode riset itu sendiri), adalah, apakah Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht tidak mengerti/tahu apa yang dianggap sebagai ‘persoalan’ seperti yang dibicarakan di atas?
Sebagai ahli dari salah satu universitas terkemuka di Jerman (Universitas Muenster, dan tentu saja dengan relasi internasional yang tidak bisa diabaikan begitu saja), mungkinkah beliau akan melakukan penelitian itu tanpa persiapan sebagaimana layaknya standar sebuah penelitian? Belum lagi kalau bicara mengenai pendanaan penelitian, seandainya meminta dana dari donatur atau pemerintah di sana, yang tentu saja, menuntut apa yang saudara-saudari di atas ‘tuntut’. Saya yakin, Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht akan melakukannya sesuai standar. Kecuali dia mau merusak reputasinya.
Ok, mungkin saja penjelasannya mengenai teknik sampling bisa diperdebatkan. Tapi, yang saya tangkap dari wawancara di atas, itu hanyalah sekelumit dari rentetan penelitian yang dilakukan, yang tidak akan muat/dikemukakan seluruhnya hanya dalam sebuah wawancara dengan space media terbatas.
Jadi, walau ada banyak hal yang mungkin juga akan saya debat pada metodenya, dan mungkin saja juga pada hasilnya, apa yang dilakukan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht adalah sesuatu yang layak diapresiasi. Demi Nias.
Saohagolo
May 21st, 2007 at 5:26 pm
Untuk menindaklanjuti hasil-hasil diskusi tentang ini, Redaksi akan mencoba berkomunikasi dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht, yang juga merupakan salah seorang deklarator “Nias Island Research Network”. Mohon kesabaran kalau prosesnya agak lambat, karena keterbatasan sumber daya kami.
Terima kasih atas segala masukan melalui tanggapan dalam situs ini. Ini tidak berarti bahwa diskusi akan ditutup; silahkan terus memberikan tanggapan dan masukan.
Redaksi.
May 21st, 2007 at 9:26 pm
Kalau itu, berkomunikasi dengan Prof. Dr.med. Ingo Kennerknecht, merupakan upaya Redaksi untuk memfasilitasi diskusi kita ini, maka layak diapresiasi. Dan, kita semua menunggu dengan penuh harapan. Sebagaimana juga harapan (harap-harap cemas?) kita terhadap diskusi di artikel terdahulu [Mari Memahami Hoho “Fomböi Tanö Awö Mbanua”] yang telah pula dikomunikasikan Redaksi kepada Pastor Johannes M. Hämmerle, OFMCap. Semua itu, baik diskusi maupun komunikasi, tentu juga demi Nias.
Ehh… dengar-dengar akhir bulan ini akan ada semiloka budaya Nias di Jogja. Apakah Redaksi mengirim tim peliput ke sana? Kalau tidak mengingat “keterbatasan sumber daya Redaksi”, kiranya hati ini ingin agar acara tersebut di-“on-line”-kan oleh situs Yaahowu. Sehingga kita bisa mengikutinya “real-time”.
Terimakasih atas segala perhatian, dan selamat berkarya buat Redaksi.
Yaahowu!
June 22nd, 2007 at 1:27 pm
Sekedar informasi, Prof. Dr.med. Ingo Kennerknecht telah menyatakan kesediaannya untuk wawancara lanjutan berkaitan dengan projek DNA ini, hal yang patut kita hargai. Redaksi masih memerlukan waktu untuk menyusun pertanyaan wawancara, jadi harap sabar.
(We are pleased to inform that Prof. Dr.med. Ingo Kennerknecht has accepted the invitation for a follow-up interview on the Nias DNA project, which we very much appreciate. We are still compiling the interview questions, so please be patient).
Redaksi
July 12th, 2007 at 2:22 pm
Saat ini Redaksi tengah menyusun daftar pertanyaan dalam rangka wawancara dengan Prof. Dr.med. Ingo Kennerknecht.
Redaksi mengharapkan relawan, terutama dari para pemberi komentar pada artikel di atas, untuk membantu menyusun pertanyaan-pertanyaan tersebut dari berbagai komentar yang telah masuk.
Jika tidak ada yang bersedia, maka mari kita menerima pertanyaan susunan Redaksi yang tidak begitu familiar dengan masalah-masalah yang terkait.
Relawan yang bersedia, akan dicantumkan namanya dalam anggota tim pewawancara.
Atas kesediaan, diucapkan terima kasih.
Redaksi
July 14th, 2007 at 4:28 pm
Sebagai orang Nias, kita bersyukur karena orang luar negeri peduli pada Nias: meneliti asal usul orang Nias.
Secara khusus saya salut komentar-komentar netters di atas. Bukan hanya memperkaya saya melainkan juga semakin menyadarkan saya bahwa saya tidak mengerti apa yang Anda uraikan. Maklum pengetahuan saya akan hal ini terbatas.
Pengetahuan Prof. Dr.med. Ingo Kennerknecht tentang Gen atau DNA tentu tak dapat diragukan. Latar belakang pendidikan beliau memang khusus bidang itu. Oleh karenanya, bisa jadi, apa yang para netters tulis di atas, beliau malah lebih tahu.
Soal ilmu pengetahuan, orang Barat lebih kaya, lebih ada greget untuk mendalami. Mereka juga disiplin dan teratur membaca buku. Sedang kita, orang Indonesia menurut penelitian, hanya 2% yang suka baca. Jadi, pyoyek penelitian beliau tak usah diperdebatkan. Kalau kita meragukannya, ayo kita teliti juga dan kita buktikan bahwa nanti akan berbeda dengan pendapat beliau. Proyek ini masih belum selesai, jadi marilah kita saling mendukung.
Saya sendiri, sudah punya rencana untuk menulis Skripsi saya tentang Nias (bahkan sedang saya cari sumber -sumber pustaka). Karena saya melihat bahwa publikasi tentang Nias sangat sedikit dibanding daerah lain. Nias kurang terekspos, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Padahal, Nias kaya akan budaya, filosofis hidup, dll.
Saya kira, orang Nias berpotensi menulis tentang Nias. Buktinya, para netters (yang notabene kebanyakan orang Nias) mampu “berkata-kata” tentang Nias bahkan tentang ilmu mutakhir serta metode penelitian. Trims
Ya’ahowu
July 16th, 2007 at 4:44 pm
Batas waktu untuk pengiriman pertanyaan dalam rangka wawancara Yaahowu dengan Prof. Dr.med. Ingo Kennerknecht adalah Jumat, 20 Juli 2007. Terima kasih kepada Bapak M.J. Daeli atas sejumlah pertanyaan yang sangat relevan.
Redaksi
July 17th, 2007 at 4:16 am
Kata Bang Postinus Gulö: “… Karena saya melihat bahwa publikasi tentang Nias sangat sedikit dibanding daerah lain. Nias kurang terekspos, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Padahal, Nias kaya akan budaya, filosofis hidup, dll.”
Ah yang bener ajah Bang Gulö…..! Tahun 1996 seorang Doktor asal Rumania (bernama Traian Popescu) menghitung ada 1072 judul tulisan (ilmiah) tentang Nias. Nah loh…, setelah lebih dari satu dekade hingga 2007 ini, tentu kuantitas judul itu telah bertambah. Buuuanyaak nian… kan Bang? Kalok semua dijadikan bahan skripsi Bang Gulö… bisa tebel banget nih skripsinya…! Hehe-heee…
July 17th, 2007 at 10:54 am
Kalau tak salah, Traian Popescu adalah seorang dokter medis (bukan doktor). Daftar publikasi tentang Nias hasil kompilasi dr. Popescu telah dikirim ke Redaksi beberapa bulan yang lalu, namun Redaksi belum memuatnya dalam topik Publikasi. Yang berminat bisa memintanya kepada Redaksi. Beberapa bulan lalu, Redaksi juga telah meminta kesediaan dr. Popescu untuk sebuah wawancara. Sampai saat ini, karena keterbatasan waktu, wawancara itu belum terealisasikan.
Redaksi
July 17th, 2007 at 12:57 pm
Informatif banget komentar Anda Adinda Z, trim’s.
Nah, soalnya di toko-toko buku di Bandung buku-buku tentang Nias tidak ada satupun yang saya temukan. Padahal, buku-buku tentang daerah lain, banyak banget. Jadi, belum terekspos kan?
Redaksi terhormat,
Saya berminat membaca publikasi tentang Nias hasil kompilasi dr. Popescu. Semoga bisa di publikasikan di web ini.
Ya’ahowu
July 17th, 2007 at 3:03 pm
Postinus Gulo mengatakan: “Pengetahuan Prof. Dr.med. Ingo Kennerknecht tentang Gen atau DNA tentu tak dapat diragukan”. Selanjutnya ” Soal ilmu pengetahuan, orang Barat lebih kaya, lebih ada greget untuk mendalami”.
Pendapat itu dalam batas kebebasan berpendapat. Hanya yang pasti bahwa yang : “tak dapat diragukan” bagi orang Barat, belum tentu dipahami tentang kebaikannya oleh masyrakat Ono Niha. Lagi pula, Postinus selama ini dalam tulisan-tulisan yang saya ikuti - tidak hanya sekedar memuji-muji pendapat orang Barat melainkan Postinus ingin agar masyarakat Nias lebih mengetahui dan memahami tentang keunikan termasuk problema hidupnya. Dengan perkataan lain, Pos ingin agar Ono Niha lebih sadar pada identitasnya. Iyaaaaa….’kan ?
Saya sangat bangga kalau Postinus sungguh bertekad menulis tentang Nias.
Saya berdo’a (sungguh) semoga berhasil.
Pos sampai sekarang belum jelas pada saya “hubungan populasi genetis dengan tradisi lisan” sehingga menarik perhatian penjelasan Prof. Kennerknecht untuk diteliti, khususnya di Nias. Apakah dipengaruhi oleh aliran filsafat “strukturalisme” yang dipelopori oleh Claude Levi - Straus dengan ide fundamentalnya: objek linguistik dan objek antropologi bersifat homolog. Kalau demikian maka sungguh memerlukan penjelasan (setidaknya buat saya). Dapatkah Postinus atau teman-teman lain membantu ?
Saohagolo.
Yaahowu
Dekha
July 17th, 2007 at 10:39 pm
Yaahowu ,
Saya bisa memahami pendapat Saudara Postinus Gulo dan juga pendapat Saudara Dekha. Keduanya calon pemikir.
Tentu yang diharapkan adalah jangan terjadi mimesis, dorongan meniru secara alamiah dan primitif, lewat sikap rasional dalam berpikir. Artinya : yang menganggap irasional jika orang menolak atau mau melebihi realitas yang dihadapinya.
Semoga.
M. J. Daeli
July 18th, 2007 at 5:04 pm
Semuanya kembali kepada penggunaan (unsur) “akal sehat” dalam pengertian rasional(itas). Kalau saya tidak bisa memahami rumus Einstein (karena keterbatasan pengetahuan saya tentang hal itu) lalu saya mengatakan Einstein irasional, maka saya lupa menggunakan “akal sehat” dalam mengambil kesimpulan itu.
Di pihak lain, kalau saya menganggap Einstein mengetahui segalanya maka saya juga telah terjebak dalam irasionalitas. Sama halnya ketika saya misalnya mengatakan “orang barat lebih hebat dari orang timur”, “kepakarannya jangan kita ragukan lagi”, dst, pernyataan itu mengandung unsur irasionalitas yang berbahaya.
Lalu bagaimana seterusnya ? Lebih baik kita “mengendapkan debu-debu kesadaran” setiap kali sebelum kita membuat suatu statemen yang bersifat umum.
Saya kurang tahu apakah istilah “mengendapkan debu-debu” kesadaran ini paralel dengan “metode reduksi” Husserl yang sempat ramai dibicarakan oleh teman-teman beberapa waktu yang lalu di situs ini. Saya sendiri masih belum mengerti apa sesungguhnya metode reduksi Husserl meski telah banyak teman mencoba memberikan pencerahan.
Ketika seorang teman bercerita tentang anak kecil yang menangis karena dihukum orang tuanya, lalu akhirnya keluar dari segala gempuran emosinya dan berhasil melakukan refleksi, hal yang lantas kemudian disebutkan sebagai proses Reduksi Husserl …. mula-mula saya iyakan.
Akan tetapi sesudah saya berefleksi atas kisah anak itu, saya bertanya kembali: benarkah ini yang disebut: proses reduksi Husserl ?
Kalau iya .. bagus sekali.. ternyata hampir semua kita pernah mengalaminya, dan sebaiknya kita sering-sering melalui proses refleksi macam itu.
Akan tetapi, apakah Husserl tidak bermaksud lebih dari “sekedar” itu ? Atau, bahkan, dia memaksudkan “metode reduksi”-nya sebagai hal yang sama sekali lain dari yang pernah kita bahas sebelumnya ?
Saya sedang mencari jawaban dan pencerahan.
ehalawa
July 19th, 2007 at 6:53 am
Pokok-soalnya, Husserl menolak deduksi dan induksi. Semua fenomena direduksi ke intuisi. Bila pisau analisis yang kita pakai adalah deduksi maupun induksi, sementara dalam konklusi malah intuisi kita yang bicara… apa gak semrawut tuh…! Barangkali mindset kita sudah perlu di re-install… biar sinkron gitu loh… Tul gak Pak Ehalawa? Ato bagaimana menurut Anda?
July 19th, 2007 at 9:57 am
Di toko-toko buku di Bandung buku-buku tentang Nias tidak ada satupun.
Di toko-toko buku di Bandung buku-buku tentang daerah lain banyak banget.
Jadi: Nias kurang terekspos, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Dalam model penalaran di atas kita temukan bahwa kedua premisnya (mungkin sekali) benar, akan tetapi konklusinya salah. Penarikan konklusi yang salah dari premis yang benar (seperti yang di atas itu) lazim disebut ”kesesatan non sequitur”. Atau lengkapnya “non sequitur conclusio premissos”, konklusinya tidak menurut premis-premisnya.
July 20th, 2007 at 9:45 am
Kesesatan non sequitur yang disinyalir Jenk Iskhan di atas, berlatar-belakang individual atau populasi? Klo individual, kita maklumi aja. Tapi klo populasi, barangkali ada penyebab genetisnya. Mumpung ini hari deadline penyusunan daftar pertanyaan ke Prof. Dr.med. Ingo Kennerknecht belum terlampaui, bisa ditimbang-timbang Redaksi Yaahowu untuk jadi bahan wawancara tuh…! Demikian pula, anggapan inferioritas orang timur terhadap orang barat, apakah ada etiologi genetisnya? Kan… mungkin aja dalam susunan DNA orang timur telah terjadi mutasi genetik, sehingga orang timur selalu minder aja pada orang barat… Mari kita tanya tuntas… [hehehe... bolehlah aku dianggap cuman becanda].
July 20th, 2007 at 4:09 pm
Jika pendapat Sinumana kita ikuti, penelitian DNA ini mangkin menarik hati. Artinya, variabel dependen DNA akan dihubungkan tidak hanya dengan tiga konstruk yang sudah ada, yaitu: tradisi lisan, populasi genetis, dan kelompok keturunan (mado). Tapi ditambah dua konstruk (variabel) lagi, yaitu: ”kesesatan berpikir” (non sequitur) dan ”inferiotas orang timur” (dengan sampel spesifik: orang Nias).
Wah… penelitian DNA ini menjadi sebuah proyek riset yang mega-raksasa bo…! (hehehehe…)
July 20th, 2007 at 5:25 pm
Redaksi tidak akan memasukkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat sangat teknis karena hal itu kemungknan tidak akan ditanggapi. Hal-hal teknis semacam itu bisa jadi merupakan bahan yang dipublikasikan untuk jurnal ilmiah.
Apabila itu yang terjadi, maka jalur yang tepat bagi sejumlah pertanyaan teman-teman adalah kolom “Letter to the Editor” dari jurnal ilmiah yang terkait. Melalui kolom ini, pembca tulisan ilmiah itu bisa mengajukan keberatan, koreksi, kritik dan berbagai pertanyaan kepada pembuat tulisan.
Alternatif lain, pertanyaan-pertanyaan teknis itu bisa diramu menjadi sebuah tulisan ilmiah dan dikirim ke jurnal ilmiah tempat di mana tulisan yang dipertanyakan itu diterbitkan. Oemuatan tulisan kritik itu tentu akan membuat ramai.
Alternatif lain lagi: mengirim pertanyaan-pertanyaan itu langsung kepada penulis makalah tersebut. Ini juga sangat normal dalam bidang ilmiah.
Redaksi
July 21st, 2007 at 5:18 pm
Karl Raimund Popper menawarkan alternatif dari cara kerja tradisional ilmu pengetahuan yang berdasarkan ”asas verifiabilitas” (bahwa suatu pernyataan dapat dibenarkan berdasarkan bukti-bukti pengamatan empiris). Popper mengutarakan ”asas falsifiabilitas” (bahwa suatu pernyataan dapat dibuktikan salah).
Kalau ”kesesatan berpikir” dan ”inferioritas orang timur” belum ingin diverifikasi maupun difalsifikasi, meskipun hal ini menarik hati, namun tidaklah terlalu merisaukan hati.
Menurut Popper, ciri khas segala pengetahuan adalah ”kesementaraan, kesediaan untuk terus-menerus diperbaiki, serta pengarahan yang tetap terbuka”. Pengarahan terbuka dari Redaksi Yaahowu pun menjadi salah satu pengetahuan. Selamat wawancara buat Redaksi…!
July 23rd, 2007 at 9:51 pm
Nias memerlukan bangunan tahan gempa berskala 8.9 SR (gempa Maret 2005). Dua orang pakar bangunan tahan gempa mengajukan teori membangun rumah tahan gempa. Pakar A adalah orang Nias yang membangun Omo Sebua di Bawömataluo. Omo sebua tadi telah mengalami goncangan gempa 28 Maret 2005 dan masih utuh sampai sekarang (konfirmasi – verifikasi). Pakar B adalah “pakar-pakaran” alias si “pandai berkelakar” dan tak pernah membangun rumah sederhana sekalipun, apalagi Omo Sebua.
Pakar A dan Pakar B diundang BRR menjelaskan teori mereka dan diminta menceritakan pengalaman masing-masing dalam hal pembuatan bangunan tahan gempa.
Walau dalam hal pengalaman Pakar A lebih unggul dibanding “Pakar” B, teori kedua pakar di mata Popper bernilai sama, karena sama-sama belum tersanggahkan (falsified).
Gara-gara Popper, BRR tak berani memutuskan memilih Pakar A (orang Nias) walau Omo Sebua hasil karyanya luput dari kehancuran akibat gempa. Mengapa ? Karena bagi Popper, konfirmasi tak memiliki nilai apapun
Tapi dunia ilmiah “memaafkan” Popper karena, menurut Popper, ciri khas segala pengetahuan adalah ”kesementaraan, kesediaan untuk terus-menerus diperbaiki, serta pengarahan yang tetap terbuka”.
Pemerhati
July 25th, 2007 at 1:05 am
“BRR” tampaknya rasional dalam ambil keputusan. Karena Pakar A yang bangun arsitektur vernacular di Bawömataluo itu… yang hadir hanya lumö-lumönya, beliau sudah lama wafat. Sedang Pakar B hanya tampil penuh kelakar saja. Setelah difalsifikasi, keduanya sama-sama irasional, yang satu gak ada orangnya dan yang lainnya gak ada isinya. Keputusan BRR cukup rasional lah… (heheheee)
Kata Popper, cukup ditemukan satu saja angsa berwarna hitam, maka boleh disanggah pendapat “semua angsa berwarna putih”. Analoginya, cukup satu saja rumah adat Nias runtuh, maka boleh disanggah pendapat “semua rumah adat Nias tahan banting (entah karena gempa atau ulah manusia)”.
Yang perlu diperhatikan BRR (barangkali) bukan hanya tahan-gempanya saja, tapi juga realita bahwa arsitektur vernacular Nias ada yang sedang rubuh. Bukan kah begitu Bang Pemerhati?
July 26th, 2007 at 8:54 pm
“Tampaknya” aja BRR rasional dalam keputusannya. Sebenarnya tidak. Kalau BRR mengambil keputusan menolak Pakar A karena Pakar A “yang hadir lumö-lumönya”, maka BRR justru terjebak dalam irasionalitas: dia memfalsifikasi pakarnya dan bukan teorinya
“Lumö-lumö” Pakar A justru bisa mewujud dalam berbagai bentuk, misalnya saja konsultan yang menggunakan teorinya.
Dan kalau BRR mefalsifikasi Pakar B karena pakar B “hanya tampil penuh kelakar saja”, maka BRR bisa kena marah Popper lagi. Kok hanya gara-gara Pakar B “hanya tampil penuh kelakar saja” BRR sudah menyimpulkan teorinya gak bener ? Dalam kasus Pakar B, BRR boleh saja “memfalsifikasi” orangnya (ini pun bisa membuat dahi Popper berkerut), namun teorinya tetap saja berkibar
Sebuah teori tidak bisa difalsifikasi hanya karena orang yang membuatnya “seorang yang hanya tampil penuh kelakar saja”
Dibalik, kebenaran sebuah teori tidak bisa dikonfirmasi hanya karena pembuatnya “seorang yang sangat amat luar biasa ahli”. Kira-kira gitu lho, dari Pemerhati 
July 27th, 2007 at 5:50 pm
Klo menurutku… Pakar A perlu hadir, gak bisa diwakili karena hanya dia yang tau tentang narasi teorinya… tradisi saat itu kan lisan (oral)… jadi dia perlu meng-”orasi”-kannya … dalam bentuk hoho [hoho mamasindro omo] diiringi pukulan fondrahi… he-he-heee… klo gak pas hohonya, ntar salah tafsir kan berabe bo…!
Ato… gini Bang Pemerhati, diundang aja mökö-mökö Pakar A yang ada di adu nuwu itu… nah… kan berarti dia masih mungkin hadir secara fisik. Tapi… untuk itu perlu upacara ritual… dan perlu ada dua butir binu… ha-ha-ha… siapa yang mau jadi volunteer… ???
July 28th, 2007 at 9:45 pm
Menurut James Frazer, ide kayak Bang Sinumana itu “pseudo ilmiah” (ritual dilakukan dengan maksud tertentu secara rasional, namun secara keliru didasarkan pada kepercayaan akan adanya daya impersonal yang supranatural). Bila ada alat (misal binu), ada upacara (ritual), ditambah jampi-jampi (mantra), maka Mariasusai Dhavamony menyebutnya “magi”.
Beda antara ilmu dan magi, menurut Frazer, adalah bahwa ahli magi menggunakan konsepsi yang keliru tentang alam, tentang hukum-hukum khusus yang mengatur alam. Menghadirkan Pakar A secara fisik berbentuk “mökö-mökö”, andai pun itu bisa, toh tidak membuat Pakar A dapat melantunkan syair hoho diiringi pukulan fondrahi, karena dia sudah kehilangan mulut dan tangannya.
Magi… bisa pula melanda BRR bila percaya pada mantra amarah Popper, andai Popper marah seperti kata Bang Pemerhati. BRR kan bisa jawab: “Baik Tuan Popper, teori Pakar B emang oke punya. Namun kami sulit memahaminya… kos disampaiin secara kelakar yang berbau non sequitur. Maaf Tuan, terpaksa kami tolak.” Nahh… di sini BRR rasional. Bahaya juga bila gaya non sequitur masuk milleu BRR. Bisa-bisa kinerja dan budget BRR… dimenej a la “non sequitur” semua…!
August 2nd, 2007 at 3:42 pm
Nerusin Jenk nih…
Bila ada “darah” (alat penelitian DNA), ada acara pemeriksaan laboratorium (ritual “ilmiah” riset DNA), kemudian ditambahin mantra-mantra [seperti: "dia lebih ahli", "dia yang menguasai hal DNA itu", "kita blo-on", "dia udah keluar banyak gefe", "orang barat superior", "gak mungkin lah dipatenkan sama dia", "gak perlu bantah-bantahan", "percaya aja lah"... dst, dst...], bukan kah itu juga cara bertpikir “magi”?
Yang kutangkap, “percaya mantra, tanpa penalaran sehat”… itulah karakter “magi”… Saohagölö Jenk atas pencerahan tentang magi…
December 10th, 2007 at 3:33 am
Yaahowu ononiha