Oleh Pdt. Em. HADA ANDRIATA

LALU Ia (Yesus) naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil (Markus 6 : 51-52).

KEDUA ayat di atas merupakan kesimpulan dari kisah dalam Injil Markus 6 : 45-52. Situasi yang dialami oleh para murid Tuhan Yesus amat menegangkan. Betapa tidak mereka mengalami angin sakal dalam pelayaran di tengah danau pada pukul tiga pagi, tanpa kehadiran Tuhan Yesus. Dengan susah payah mereka mendayung perahu mereka yang diombang-ambingkan oleh gelombang yang besar.

Ternyata pergumulan mereka di tengah danau diketahui oleh Tuhan Yesus yang datang menjumpai mereka dengan cara berjalan di atas air. Kenyataan ini menambah ketakutan di kalangan para murid, sebab mereka menyangka Dia itu hantu. Mereka tidak memercayai-Nya mampu berjalan di atas air untuk menjumpai mereka pada saat mereka menghadapi gelombang besar itu.

Kemudian, Tuhan Yesus mengungkapkan jati diri-Nya dengan berseru :”Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ayat 50). Lalu naiklah Ia ke dalam perahu bergabung dengan para murid-Nya. Ajaib, seketika redalah angin dan gelombang itu di bawah kuasa-Nya, sehingga membuat para murid sangat tercengang dan bingung. Kenyataan ini membuat mereka bertanya-tanya : Siapa gerangan Guru mereka itu?

Tercatat dalam kedua ayat tersebut dengan kalimat “sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil”. Apa yang dimaksudkan dengan “peristiwa roti”? Tak lain ketika mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri, saat Tuhan Yesus memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki, dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Ditambah lagi dengan berita, bahwa orang-orang sebanyak itu, makan sampai kenyang, bahkan ada sisanya berupa dua belas bakul roti dan ikan.

Sebuah mukjizat yang tak mungkin dilakukan oleh manusia biasa, karena memang Tuhan Yesus memiliki kuasa ilahi untuk mewujudkannya. Maka peristiwa roti yang dimaksudkan itu merupakan patokan untuk menyadarkan dan membuat manusia mengerti, termasuk para murid-Nya, bahwa yang mereka alami bukan kuasa manusia, melainkan kuasa Tuhan sendiri.

Berikutnya, para murid mengalami, bahwa Guru mereka berjalan di atas air untuk bergabung dengan mereka. Itu pun merupakan mukjizat, sebab tak mungkin ada manusia yang dapat berjalan di atas air. Disusul lagi dengan angin sakal dan gelombang air danau yang besar itu menjadi reda, karena kuasa-Nya atas alam. Para murid tetap belum mengerti tentang kuasa apa yang dimiliki oleh Guru mereka. Seharusnya, dengan semua peristiwa yang mereka alami dan hadapi, mereka percaya bahwa Guru mereka adalah Tuhan. Sayang, mereka belum sampai kepada keyakinan itu, sehingga mereka masih sebatas tercengang dan bingung, bahkan hati mereka masih tetap degil.

Apa artinya, jika hati mereka degil? Degil berarti membangkang, keras kepala dan mbalelo. Para murid bersikap membangkang dan keras kepala terhadap apa saja yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus kepada mereka. Padahal pernyataan Tuhan Yesus adalah pernyataan kuasa dan kasih-Nya kepada mereka, yang diharapkan memberikan rasa aman dan rasa terlindung bagi para murid-Nya. Namun ternyata, mereka mendasarkan penglihatan dan pengalaman mereka pada akal mereka.

Mereka tidak memahami, bahwa pikiran dan cara Tuhan, berbeda dengan pikiran dan cara manusia. Akibatnya, karya Tuhan yang begitu besar dan ajaib, tak dapat mereka terima dengan mata iman sebagai karunia dari surga kepada umat manusia. Padahal, dalam segala keterbatasan sebagai manusia, para murid itu dapat memperoleh kuasa ilahi yang justru mereka butuhkan. Sekarang, ketika kuasa ilahi itu dinyatakan, mereka tidak mengerti.

Ada tiga pelajaran berharga yang dapat kita peroleh dengan peristiwa di atas :

Pertama, tindakan Tuhan Yesus pada dasarnya merupakan wujud kasih, kepedulian dan perhatian-Nya kepada manusia, terutama pada saat manusia mengalami keadaan yang tidak dapat diatasi oleh manusia sendiri. Sama sebagaimana dinyatakan oleh Daud dalam kitab Mazmur 40 : 18 a “Aku ini sengsara dan miskin, tetapi Tuhan memerhatikan aku”. Alangkah indahnya jika kita, yang pada akhir-akhir ini mengalami pelbagai bencana alam dan musibah memiliki keyakinan, bahwa Tuhan sebenarnya memerhatikan bangsa kita dengan kasih dan anugerah-Nya. Tinggal kitalah yang harus berseru untuk memohon pertolongan-Nya.

Kedua, kita diperingatkan, agar jangan bersandar kepada akal dan pikiran kita sendiri. Hal ini perlu dikemukakan, karena kepandaian kita setinggi apa pun tetap berada di bawah kuasa Tuhan. Jangan sampai terjadi, bahwa kepandaian kita menjadi penghalang dan benteng, yang membuat hati kita degil dan keras kepala untuk menantikan pertolongan Tuhan.

Sebagai contoh, ketika Petrus menyatakan kesombongannya, bahwa ia tidak akan menyangkali Tuhan Yesus, Ia memperingatkan, agar iman Petrus tidak gugur. Banyak orang di negeri kita, akibat tekanan ekonomi yang berat menjadi mata gelap. Mereka melakukan tindakan melanggar hukum dengan cara merampok dan menjarah, berlaku kasar, tidak adil, dan jahat terhadap orang-orang lain.

Sebaliknya, kekuatan ekonomi yang unggul, kemampuan fisik yang kuat, dan kekuasaan yang besar, sering dipakai orang untuk menyingkirkan Tuhan dan menganggap Tuhan tidak mereka perlukan. Karenanya, datanglah peringatan dan nasihat, agar orang jangan degil, tetapi bersikaplah rendah hati untuk menerima pemberitaan yang baik dengan memandang Tuhan, jauh lebih berkuasa ketimbang dirinya.

Ketiga, keagamaan manusia sering diselimuti oleh kesombongan hatinya. Banyak orang merasa mampu memahami Tuhan, sehingga menganggap dapat bertindak seperti Tuhan dan atas nama-Nya. Sayang bukan kasih sebagaimana Tuhan nyatakan kepada manusia, melainkan kebencian dan penghakiman yang dilakukan terhadap sesamanya. Akibatnya, sesamanya justru diliputi oleh rasa takut dan cemas. Ini pun bentuk lain dari hati yang degil.

Kiranya kita semua perlu menjaga dengan penuh kewaspadaan, agar hati kita jangan degil, melainkan terbuka untuk menerima teguran dan peringatan, nasihat dan anjuran dari mana pun asalnya, sehingga kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita, menjadi lebih baik lagi. Amin.***

* Penulis, pendeta emeritus Gereja Kristen Pasundan Jemaat Awiligar Bandung

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu 3 Maret 2007

Facebook Comments