Medan (SIB)
Anggota DPRD dari Dapem VII (daerah pemilihan Nias-Nisel) menilai, terjadinya kontra atau penolakan sebagian warga Nias bergabung ke Protap (Propinsi Tapanuli) bukan dari lubuk hati yang paling dalam, tapi hanya dipermainkan elite tertentu, sehingga Kabupaten Nias menjadi sangat rugi besar, jika tidak ikut bergabung ke Propinsi Tapanuli.

Penilaian itu dikemukakan salah seorang anggota dewan dari dapem VII (Nias-Nisel) Aliozisokhi Fau Spd kepada wartawan, Kamis (22/2) di gedung DPRD Sumut, terkait masih adanya masyarakat Nias pro-kontra terhadap Nias bergabung ke Propinsi Tapanuli.

Menurut Aliozisokhi, masih terjadinya pro kontra soal bergabung ke Propinsi Tapanuli di kalangan masyarakat termasuk Nias merupakan hal yang wajar dan positif. Tapi penolakan yang dilakukan Nias diyakini bukan dari hati yang dalam, karena masalah bergabung atau tidaknya Nias ke Propinsi Tapanuli hingga saat ini belum final, tapi sebatas wacana.

“Kalaupun ada keputusan itu, bisa diamandemen, karena melihat kepentingan Nias secara substansial. Saya tahu, yang menyatakan penolakan, orang-orang yang cinta rakyat, mencintai proses peningkatan pembangunan dan kader jabatan politis. Intinya, penolakan yang dilakukan jelas untuk bargaining position, agar Nias benar-benar diperhitungkan kelak,” tegas Alio.

Alio yang politisi Partai Demokrat melihat, ada dua hal permintaan rakyat Nias selama ini terkait pembentukan Propinsi Tapanuli, di antaranya masalah ibukota nantinya di Sibolga-Tapteng dan hal ini telah terjawab dengan diajukannya 2 calon ibukota yaitu Sibolga dan Siborong-borong.

Selain itu, kata Alio kini anggota Komisi E DPRD Sumut, adanya kekhawatiran bahwa setelah terbentuk Propinsi Tapanuli, jabatan-jabatan yang akan diberikan kepada putra Nias dalam jabatan karir adalah jabatan kurang populer, seperti di dinas jalan dan jembatan, dinas pengairan, dinas pendidikan, dinas kesehatan dan lainnya.
“Persoalan ini, justru bisa terjawab, jika panitia pembentukan Propinsi Tapanuli dan masyarakat Nias membuat semacam MoU, dimana pembagian jabatan kelak secara proporsional. Kalau orang Nias Kadis, wakilnya dari Taput dan sebaliknya. Masalah ini sudah sering dibicarakan dalam rapat-rapat kepanitiaan dan Ketua Dewan Penasihat sangat setuju,” ungkap Alio.

Menurut Alio lagi, jika Nias bergabung ke Propinsi Tapanuli, peluang orang Nias menjadi Gubernur atau wakil gubernur sangat besar, meski pemilihan Gubernur/wakil gubernur dilakukan melalui Pilkadasung, karena dari jumlah penduduk, Nias lebih besar dibanding penduduk Tapanuli. Contohnya di Sibolga, sekitar 30 persen orang Nias.
“Untuk masalah ini, orang Nias akan bertarung dan berjuang agar bisa duduk pada jabatan penting pada Propinsi Tapanuli nantinya. Apalagi, antara Nias dan Tapanuli sudah memiliki hubungan kekerabatan sejak lama melalui perkawinan silang,” ungkap Alio seraya berharap, masyarakat Nias dan eleit-elit politik serta pejabat Nias terus melakukan komunikasi, sehingga benang merah yang diinginkan bisa ketemu. (A13/u)

Sumber dari: www.hariansib.com
Tanggal: Mar 01, 2007 at 08:52 AM

Facebook Comments