Para pendatang di Pulau Nias sering mendapat kesulitan ketika mencoba belajar Li Niha. Cara paling umum yang mereka tempuh untuk belajar Li Niha adalah menanyakan arti kata-kata Li Niha satu per satu dan menghafalnya. Lalu berbekalkan kata-kata lepas itu, mereka mulai ‘memperlihatkan’ kemampuannya berbahasa Nias.

Jadi, dengan mengetahui bahwa: saya = ya’odo, engkau = ya’ugö, pergi = möi, ke = ba, sekolah = sekola, tidak = lö / lö’ö, baik = sökhi, kelakuan = amuata, mereka memunculkan sebuah struktur kalimat Li Niha ala anak kecil yang baru belajar berkata-kata, sebagai berikut:
Ya’odo möi ba sekola – (maksudnya: Saya pergi ke sekolah)
Lö sökhi amuata ya’ugö – (maksudnya: Kelakuanmu tidak baik).

Meskipun ‘kalimat’ di atas dapat dimengerti oleh orang Nias, namun kalimat itu menimbulkan rasa ‘lucu’. Kalimat semacam itu adalah kalimat anak kecil (berumur 3 – 5 tahun) di Nias yang baru belajar berkata-kata. Lucunya, atau yang menyedihkan, orang-orang Nias pada umumnya tidak peduli dengan hal itu, membiarkannya, dan bahkan pada akhirnya mengikutinya, sehingga struktur yang ‘salah’ itu diterima begitu saja. Sayang sakali, kalau ciri-ciri khas Li Niha menghilang hanya karena ketidak-pedulian kita, Ono Niha.

Salah satu ciri khas Bahasa Nias, dan karenanya harus dipertahankan adalah struktur kalimatnya yang tidak mengikuti susunan Subjek (S) + Predikat (P) + Objek (O) + Keterangan (K) sebagaimana kita jumpai dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan banyak bahasa lain di dunia.

Jadi dalam Li Niha, kalimat “Saya pergi ke sekolah” tidak biasa (bukan tidak bisa …) diterjemahkan sebagai: “Ya’odo möi ba sekola”, tetapi “Möido ba zekola”. Perhatikanlah bahwa kata kerja möi (pergi) mendahului subjek ya’odo (saya) yang dirangkaikan pada kata möi dan mengalami pemendekan menjadi tinggal do saja. Perhatikan juga bahwa kata sekola telah mengalami perubahan huruf awal sehingga menjadi zekola. Gejala ini disebut mutasi awal (baca wawancara dengan Dr. Lea Brown). Aturan pemakaian mutasi awal dapat dilihat dalam artikel Turia si Tobali Duria.

Contoh lain, kalimat “Saya menyalakan lampu” akan diterjemahkan “Utunu wandu” dari pada “Ya’odo manunu fandru” (saya = ya’odo, menyalakan = manunu, lampu = fandru). Dalam contoh ini, kata ganti orang pertama ya’odo telah berubah bentuknya menjadi u dan dirangkaikan pada kata kerja imperatif tunu. Lihat juga, huruf awal kata fandru telah berubah dari f menjadi w dalam kalimat.

Kata ganti orang – KGODalam bahasa Nias, sebagaimana dalam bahasa-bahasa lain, dikenal juga kata ganti orang sebagai berikut:

KATA GANTI IND. ING. KET./FUNGSI
Ya’o / Ya’odo Saya I KGO I Tunggal
Ya’ugö Kamu You KGO II Tunggal
Ya’ia Dia He/She KGO III Tunggal
Ya’aga Kami We – excl. KGO I Jamak
Ya’ita Kita We – incl. KGO I Jamak
Ya’ami Kamu You KGO II Jamak
Ya’ira Mereka They KGO III Jamak

Sebagaimana terlihat, kata ganti orang pertama jamak dalam Li Niha ada dua jenis, yaitu: Ya’aga (kami, we – eksklusif) yang melibatkan pihak pertama saja, tidak termasuk lawan bicara mereka, dan Ya’ita (kita, we – inklusif) yang melibatkan pihak pertama dan juga lawan mereka berbicara.

Dalam pemakaian dalam kalimat, kata-kata ganti orang yang tercantum dalam tabel di atas seringkali muncul dalam bentuk yang telah berubah. Perubahan itu tergantung dari struktur kalimat yang digunakan.

Pertanyaan: Mengapa kalimat pertama “Pengakuan Iman Rasuli“(Protestan) atau Syahadat Para Rasul (Katolik) menggunakan struktur: Ya’odo mamati khö Lowalangi .. dan bukan “Mamatido khö Lowalangi … “? (Aku percaya akan Allah ..)
E. Halawa*

Catatan: Artikel ini pertama kali muncul di Nias Portal tgl 18 September 2004, dengan judul “Mari Belajar Bahasa Nias (1).

Facebook Comments